WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Berubah


__ADS_3

"Jadi kamu pekerja baru juga nak?" tanya nenek tua yang usianya mungkin sudah menginjak tujuh puluhan itu.


"Kau tinggal bersama siapa nak?"


"Sendirian nek, di mes sebelah itu." tunjuk Vio pada rumah kecil yang terletak diujung, tak jauh dari pandangan mereka.


Kini Vio memiliki aktivitas baru, karena sejatinya dirinya suka berkebun, sehingga membuatnya sangat bersemangat berkebun memetik buah anggur.


Tidak terasa sudah satu bulan berlalu Vio tinggal di mes kebun anggur itu, setiap pagi dirinya jalan-jalan mengelilingi kebun, pikirannya akan menjadi lebih baik jika dirinya melihat tanaman berwarna hijau.


Baru juga jalan beberapa langkah, tubuhnya sudah gemetaran dan sangat lelah. "Ada apa denganku, biasanya aku kuat jika hanya berjalan-jalan saja." gumam Vio pada dirinya sendiri.


Vio berhenti untuk mencari pegangan,"Kau kenapa nak?" tanya nenek yang kemaren biasanya berkeliling hanya untuk menghirup udara pagi.


"Ehh nenek, aku tidak apa-apa nek." Vio tersenyum canggung.


"Tapi wajah kamu terlihat pucat sekali nak, ayo nenek bantu jalan kesana." menunjuk sebuah rumah kecil yang jauh dari mereka berdiri.


"Baiklah nek." awalnya Vio ingin menolak bantuan nenek itu, karena tak enak. Tapi karena kondisinya saat ini yang tidak memungkinkan membuatnya menuruti apa kata-kata nenek yang telah menolongnya ini.


"Ini minumlah." menyodorkan segelas air putih di depan Vio.


"Terima kasih nek."


"Sebaiknya kamu tinggal saja disini dulu nak, aku lihat kondisimu kurang sehat hari ini, nanti aku akan mengijinkanmu tidak masuk pada mandoran."


"Tidak usah nek, aku baik-baik saja kok, mungkin aku masuk angin."


"Baiklah, nenek tak memaksa kalau begitu."


Nenek Sam pergi ke belakang untuk mengambil sesuatu, dan kembali lagi dengan sepiring cemilan ditangannya.


"Ini kue buatan nenek, ayo dimakan."


"Ehmmm terima kasih nek, aku jadi merepotkan seperti ini." Vio tersenyum canggung.


"Kau tak usah merasa tak enak seperti itu nak, nenek tak apa direpotkan seperti ini, malah nenek senang karena memiliki teman mengobrol." ucap nenek Sam mengulas senyum dibibirnya.


"Ini ayo dicicipi."

__ADS_1


Vio mengangguk dan mengambil satu buah kue berwarna merah, "Ini sepertinya kue red velvet iya nek."


"Kau benar sekali nak."


Vio yang biasanya kurang menyukai kudapan yang rasanya manis-manis, entah kenapa satu piring red velvet dimeja hampir ia habiskan.


"Nek maafkan aku, aku seperti orang yang kelaparan saja, menghabiskan kue nenek." Vio berbicara dengan mulut yang masih penuh.


"Tak apa nak, kau habiskan saja di dalam masih ada sisa adonannya, nanti nenek akan buatkan yang lebih banyak lagi."


Vio mengangguk dan bersemangat untuk memakan potongan kue berikutnya. "Kenapa dengan diriku."


Setelah menghabiskan satu piring penuh kue red velvet buatan nenek Sam, Vio tertidur di tempatnya. Entahlah mungkin karena kekenyangan akibat terlalu rakus makan kue yang sangat banyak.


"Dia tertidur," nenek Sam mengambilkan selimut, dan menutupkan ke tubuh Vio, kemudian dirinya keluar rumah sederhananya untuk memulai aktivitas paginya.


***


.


.


"Sabarlah tuan, semuanya butuh proses."


"Jika Angel meninggalkan kami, bagaimana dengan Chris, aku tak sampai hati berbicara padanya."


"Tapi tuan, lambat laun tuan kecil juga harus menerima kenyataan, bahwa memang keadaan ibunya seperti ini."


Sudah satu bulan penuh Angel dirawat dirumah sakit terbaik di Tokyo. Namun bukannya membaik malah semakin hari semakin lemah.


"Pada akhirnya semua orang akan meninggalkanku." saat ini Rey sedang duduk bersandar dikantornya yang terletak dipusat kota Tokyo.


"Kemaren Vio, sekarang Angel," Rey menutup kedua matanya. Kedua tangannya bertumpu diatas meja kerjanya.


"Saya akan setia menemani anda tuan."


Beberapa kali Adit menemui Fani untuk menanyakan kabar Vio, namun hasilnya nihil, malah perdebatan diantara mereka yang terjadi.


Sedangkan Adit harus bisa menemukan Vio, hal itu membuatnya mengeluarkan sisi kejamnya keluar. Karena tekanan dari Rey, namun untungnya tuannya ini sedang tersandung masalah, sehingga dirinya sedikit melupakan mengenai Vio.

__ADS_1


***


.


.


Lima bulam sudah berjalan Adit dan juga Rey tinggal dikota Tokyo, untuk merawat Angel. Ternyata Tuhan berkata lain, Angel menghembuskan nafas terakhirnya kala putranya sedang mengunjungi dirinya.


Pada bulan kelima ini Rey dirundung duka yang mendalam, ditinggal orang terkasihnya, dia harus mengurus putra semata wayangnya sendirian, andai saja masih ada Vio, mungkin masih ada tempat bersandar untuknya.


"Kau bahkan meninggalkanku juga." Vio melihat foto Angel dan juga Vio bergantian. Tidak terasa setetes air matanya jatuh diatas foto Vio.


Tetapi ia tak mau dibilang lelaki yang lemah, sehingga hal itu mendorongnya lebih kuat, padahal Vio pergi bukan karena apa-apa. Hanya dia yang merasa bersalah pada keluarga bahagia itu.


Vio merasa jahat, karena telah merusak rumah tangga keluarga harmonis, dirinya juga ingin menjadi perempuan yang di ratukan, sama ketika dirinya melihat Angel yang di ratukan Rey. Ia merasa menjadi perempuan serakah. Sehingga mendorongnya ingin memiliki Rey seorang.


Surat didalam amplop berwarna putih yang dimasukkan di dalam map coklat itu belum sempat Rey buka.


Ketika dirinya membuka tas kerjanya, Rey menemukan kembali amplop putih itu. "Apa ini?" Rey merogoh dari dalam tasnya, karena penasaran dengan isinya.


"Dear Suami terbaikku."


Terimakasih sudah menjadikan aku orang istimewa dalam hidupmu, aku merasa menjadi perempuan paling bahagia saat itu, dan juga sekarang, namun aku sadar dengan posisiku sekarang, aku hanyalah istri simpananmu, sampai kapan pun akan menjadi istri simpanan yang tidak diketahui banyak orang, disisi lain aku tak mempermasalahkan hal ini. Namun ada perasaan yang harus ku jaga, aku sudah menganggap Angel seperti kakakku sendiri, tak sepatutnya aku menyakitinya dengan perbuatan kita kali ini, sungguh aku sangat bahagia melihat keluarga harmonis kalian bahagia. Maafkan aku jika aku salah selama menjadi istrimu. Untuk itu aku mengirim surat perceraian ini, dan kita sudah bukan suami istri lagi, aku pamit, dan semua barang pemberianmu aku kembalikan, semuanya aku simpan rapi di lemari kamar kita paling ujung."


By: Vio


Membaca surat itu membuat Rey semakin membuat tubuhnya terasa lemah, "Ternyata kamu sudah merencanakan ini sejak lama."


Terlihat Rey menghubungi seseorang, "Pencarian tetap dilakukan, jangan hentikan." perintahnya.


"....."


Adit memperhatikan bosnya itu terlihat lebih kejam dari biasanya, jika ada sedikit kesalahan saja maka akan memecat karyawan tersebut.


"Jika terus-terusan seperti ini, akan kehilangan banyak karyawan terbaik." gumam Adit sangat pelan.


Saat ini mereka sedang meeting, entah berapa kali Rey menggebrak meja didepannya, membuat senam jantung orang-orang yang berada disana.


Begitu pun dengan Adit, dirinya juga merasa hawa dingin di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2