WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Situasi Genting


__ADS_3

Malam itu Adit pulang kerja begitu larut, akibat dirinya menyelesaikan banyak pekerjaan dan menemui klien, bahkan beberapa kali dirinya menemani Rey yang sedang rapat dengan klien baru.


Waktu hampir tengah malam, setelah dirinya membersihkan diri, Adit masih membuka email masuk lewat PC yang ada di dalam kamarnya, merasakan jenuh dan lelah dengan matanya. Adit membuka pintu kamar balkon kamarnya, kota Tokyo begitu indah jika dilihat dimalam hari, ini musim dingin, namun dirinya merasa haru membutuhkan udara segar untuk merefresh otaknya merasa kelelahan. Apa lagi matanya jangan ditanya lagi.


Cukup lama Adit membuka tutup file-file yang ia bawa pulang dari kantor tadi, agar selesai lebih cepat, tujuannya agar dirinya bisa bersantai sejenak.


Satu jam dua jam dirinya duduk di kursi balkon kamarnya, merasakan tenggorokannya kering, Adit berdiri dari duduknya, lalu berjalan menuju ke arah dapur untuk mengambil air yang dapat membasahi tenggorokannya.


"Seperti ada suara rintihan." ketika Adit berjalan melewati kamar Vio, tempat itu memang sengaja tidak di desain kedap suara, memang tidak ada hal yang membuatnya perlu di privasikan kan, pikir Adit.


"Tapi ini sudah lewat tengah malam, tidak mungkin itu suara Vio kan." Adit meneruskan kembali langkahnya, menuju dapur dan membuka lemari pendingin, lalu menenggaknya hingga habis hampir separuh dari botol ukuran sedang.


Ketika Adit kembali dari dapur, suara itu semakin nyata,"Tapi aku tidak sedang mabuk, aku rasa aku tidak berhalusinasi." gumam Adit berhenti sejenak di depan kamar Vio.


Hingga suara itu terdengar semakin melemah ditelinga Adit, membuatnya memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Vio yang masih tertutup.


"Vio...Vi."


Tokk...tok...


"Vio.., apa kamu baik baik saja." Adit tidak lagi kembali mendengarkan suara rintihan dari dalam sana, membuatnya reflek membuka pintu.


"Tidak dikunci," ketika pintu berhasil ia buka, dan betapa terkejutnya Adit ketika melihat Vio yang terduduk dilantai dengan mandi darah sepanjang Vio merangkak.


"Adit tolong anakku." tangis Vio tak mampu lagi ia bersuara.


Seketika Adit berlari sekuat tenaga, mengangkat tubuh lemah Vio dan membawanya berlari memasuki lift, tubuh Adit terlihat menegang, pikirannya tidak bisa diajak berfikir jernih lagi.


"Tuan kenapa nona Vio?" tanya satpam yang ikutan panik.


"Cepat bawa aku dan dia ke rumah sakit."


"Jangan banyak tanya." bentaknya pada satpam yang bekerja padanya.


Satpam yang berkebangsaan Tokyo itu, lari tergopoh-gopoh, menuju dimana parkir mobilnya milik Adit berada, untung saja Adit memiliki inisiatif membuat tempat khusus buat kunci-kunci mobilnya.


"Ke rumah sakit mana tuan?"


"Terdekat sini, kamu bisa lebih cepat lagi." teriaknya.

__ADS_1


Sang Satpam tak lagi mengajaknya berbicara, mengetahui Adit yang kalut saat ini.


Perjalanan hanya memakan waktu lima belas menit, jalanan kota tidak begitu ramai, ketika telah sampai, suster bagian IGD telah siap dengan tugasnya, menyambut pasien yang gawat darurat.


"Suster tolong cepat tangani dia suster, selamatkan dia dan bayinya." teriak Adit, nafasnya memburu, akibat rasa paniknya yang berlebihan.


"Maaf tuan anda tidak boleh masuk."


Vio dibawa masuk ke dalam ruangan khusus, untuk ditangani suster dan dokter, Adit yang tidak di ijinkan masuk, membuat pikirannya kalut. Dalam situasi seperti ini ia bingung langkah apa yang harus ia ambil.


Tidak mungkin jika dirinya memberitahu Rey, karena dirinya sudah berjanji dengan Vio, agar tak memberitahu dimana keberadaanya sekarang.


Adit mendudukkan tubuhnya di kursi ruang tunggu, terdiam sejenak, memikirkan apa yang terjadi dengan Vio, kenapa semua diluar ekspektasinya.


Bukan seperti ini harapannya, andaikan Vio sudah berpisah dengan Rey, dan mau menikah dengannya, mungkin dirinya akan lebih berhak mengatur Vio. Tapi ini apa, istri bukan, tapi statusnya Vio bahkan saat ini masih istri orang.


"Tuhan selamatkanlah mereka berdua." mengusap wajahnya kasar. Bahkan beberapa kali terlihat menekan ujung hidungnya.


"Tenanglah tuan, nona Vio pasti akan melahirkan dengan selamat." walaupun satpam itu sendiri tidak tahu apa hubungan Vio dan Adit.


"Kamu masih disini?" tanya Adit, setelah bisa menguasai dirinya, menoleh pada satpam yang ikut duduk disampingnya.


"Bagaimana aku akan meninggalkan majikanku yang sedang membutuhkan pertolongan." jawab satpam itu bijak.


"Maksud anda tuan?"


"Aku harus mengambil keputusan apa?"


"Maaf tuan, saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan." ulang satpam itu.


"Kau tau, dia itu adalah istri bosku di kantor."


Mendengar penuturan Adit, satpam itu begitu terkejut, mengira jika Adit telah menyembunyikan istri bosnya dan membuatnya hingga hamil seperti ini.


"Kau jangan berburuk sangka dulu, dia anaknya bosku."


"Dia sedang kabur, berbulan-bulan lalu kami mencarinya, tahu-tahu dia sudah hamil, dan itu artinya anak itu anaknya bosku."


"Kau tahu itu,"

__ADS_1


Mendengarkan penjelasan Adit baru saja membuat pandangan Adit kembali ke awal, "Pasti kau mengira jika aku membawa kabur istri bosku kan."


"Hah kenapa anda tahu apa yang saya pikirkan tuan?"


"Tentu saja, isi otakmu bahkan sudah terbaca." jawab Adit datar.


"Tapi itu tadi, sebelum saya mengetahui hal yang sebenarnya terjadi tuan."


"Lalu kenapa nona Vio tidak kembali lagi."


"Dia sudah memutuskan bercerai dengan suaminya, namun bos aku tidak bisa melepasnya begitu saja."


"Apa karena sering di siksa atau tekanan batin tuan?"


Adit kembali menoleh pada lelaki berkulit putih, berbadan tegap yang terlihat masih polos dalam hal percintaan itu.


"Kalau itu masalah internal antara bosku dengan istrinya."


"Lalu hal apa yang membuat anda bingung tuan?"


"Kenapa anda tidak mengatakan keberadaan nona Vio pada bos anda saja tuan."


"Tak semudah itu, semuanya akan menjadi rumit, kau tahu jika aku sudah berjanji padanya, jika aku akan merahasiakan semuanya ini."


"Tapi disisi lain, terkadang aku juga tidak tega jika melihat bosku melakukan apa pun seorang diri."


"Aku akan merasa bersalah jika telah terjadi hal lain pada Vio, apa yang harus aku jelaskan pada tuan Rey nanti." Adit kembali menyugar rambutnya kasar.


Pikirannya benar benar kalut, "Dengan suami nyonya Vio." tiba-tiba saja dokter keluar dari ruangan Vio.


"Saya dok."


"Saya ingin berbicara berdua dengan anda tuan."


"Ini akan sangat berbahaya dengan istri anda tuan, jadi bayinya harus segera dilakukan operasi, tapi kami tidak bisa menjamin keduanya akan selamat, mengingat air ketubannya sudah pecah lebih dulu, dan ibunya kehilangan banyak darah."


Mendengarkan penuturan dokter membuat aliran darah Adit seolah berhenti, kakinya terasa lemas, detak jantungnya tidak berjalan normal.


"Tolong selamatkan keduanya dokter, berikan penanganan yang terbaik untuk keduanya dokter. Aku mohon aku akan membayar berapa pun jumlahnya."

__ADS_1


"Akan kami usahakan tuan, mohon doanya, untuk mengenai suplai darah, tolong anda bersiap-siap mencarikan baru, pendonor sewaktu waktu jika bang darah habis tuan."


"Baiklah, yang terpenting selamatkan mereka berdua dokter" suara tegas Adit terdengar tak mau dibantah, tangannya mengatup merapalkan doa doa yang ia bisa.


__ADS_2