
Jam sudah menunjukkan waktu tengah malam, tetapi Rey masih juga belum mengantuk, setelah tadi putra semata wayangnya minta ditemani tidur sebentar, dirinya kembali meneruskan pekerjaannya.
Rey mengambil sebatang rokok di meja yang ada di dalam ruang kerjanya, dirinya teringat ketika pertama kali melakukan hubungan suami istri, tetapi bukan pada istrinya Angel melainkan pada wanita muda yang ranum. Terlihat seperti keponakannya.
Rey mengisap rokoknya dalam dalam, pikirannya menjadi kacau jika mengingat hal itu, bahkan sampai sekarang masih sangat jelas di ingatannya.
"Kau atur ulang jadwal meetingku besuk." perintahnya pada seseorang yang ada di dalam panggilan itu.
"...."
Setelahnya dirinya mematikan telepon sepihak, membuat seseorang yang ada di seberang sana sangat jengkel.
"Ck, menelpon di jam tengah malam hanya untuk memberi perintah sekata saja." Adit berdecak kesal, pasalnya panggilan telepon itu sangat menganggu indera pendengarannya.
***
.
"Kamu kenapa nak?" tanya nenek Sam pada Vio.
Saat ini mereka tinggal bersama atas permintaan nenek Sam, sehingga dengan berat hati Vio pindah di mes yang ditempati nenek Sam, letaknya juga tidak jauh dari mes tempat tinggalnya yang dulu.
"Aku tidak bisa tidur nek." Vio terlihat membolak balikan tubuhnya, susah memejamkan matanya, bahkan dirinya terlihat sangat gelisah.
"Semoga saja dugaanku tidak salah." gumam nenek Sam sangat pelan.
"Apanya yang salah nek?" Vio tak sengaja mendengarnya.
"Tidak ada nak, bolehkan nenek memijatmu."
"Siapa tahu nanti kamu bisa tidur setelah nenek pijat."
Vio terdiam sebentar, lalu mengangguk setuju,"Apa kamu tak memiliki keluarga nak sebelumnya?" tanya nenek Sam penasaran, di sela-sela kegiatan memijat kaki Vio.
"Dulu aku punya ayah dan ibu nek, tetapi mereka sudah meninggal."
"Lalu apa ibumu atau ayahmu tak ada saudara nak?"
"Kalau ayah tak ada saudara nek, ibu ada saudara, tapi mereka menganggapku tak ada, karena aku hanyalah anak angkat ayah dan juga ibuku."
"Kasian sekali hidupmu nak."
Mereka berbincang bincang banyak hal malam itu, hingga Vio tertidur dalam pijatan nenek Sam.
Vio merasa seluruh tubuhnya tak bertenaga dan sulit menelan makanan.
__ADS_1
Sudah dua minggu Vio pindah di mes nenek Sam, Vio setiap pagi melakukan tugasnya seperti biasa, yaitu membantu nenek Sam membersihkan rumah kecil itu, lalu setelahnya mereka berangkat bekerja bersama, namun beda wilayah pemetikan kebun anggur.
"Nenek..., kenapa kepalaku terasa berat sekali?" tanya Vio pada nenek Sam.
"Ini nenek bawakan air hangat, coba kamu minum dulu nak, siapa tahu bisa lebih baik."
Vio menuruti apa yang diperintahkan oleh nenek Sam. "Kalau kamu merasa masih sakit istirahat dulu saja di rumah nak, nanti biar nenek yang ijinkan nak Vio ke mandoran."
"Tidak nek, aku bahkan anak baru di sini, akan sangat tidak jika aku sering ijin nek."
"Tapi sepertinya kondisimu sangat lemah nak saat ini."
"Tidak nek, aku baik-baik saja." Vio masih tetap memaksa mau iku masuk berangkat bekerja memetik buah anggur.
"Baiklah kalau begitu, jika nak Vio merasa tidak enak badan bisa bilang pada mandoran disana iya, dan jangan ditahan tahan."
"Baiklah nek aku mengerti, tunggulah aku, aku akan bersiap sebentar."
Nenek Vio duduk di kursi depan mes nya, terdengar desas desus jika perwakilan dari pemilik kebun ini akan datang meninjau kebun anggur ini.
"Nek aku sudah siap." Vio berdiri di samping nenek Sam dengan pakaian training panjang dan kaos pendek, serta memakai caping di kepalanya.
"Ayo kita berangkat kalau begitu." ajak nenek Sam berdiri dari duduknya.
"Nek, apa yang mereka bicarakan?" tanya Vio kala mendengarkan orang bergosip.
"Perwakilan?" Vio membeo.
"Iya nak, jadi sebaiknya jangan ada karyawan yang membuat masalah, termasuk kita,"
"Bekerja disini memang memiliki gaji yang tinggi, tapi juga sangat ketat nak peraturannya, bahkan banyak bonusnya tiap menjelang akhir tahun." jelas nenek Sam pada Vio.
"Benarkah nek, tapi yang terpenting bukan itu nek, tapi menurut aku karena pekerjaan ini membuatku senang melakukannya dan tidak tertekan."
"Jika bekerja disini sangat ketat, tapi kenapa nenek masih bertahan?"
"Sama dengan apa yang nak Vio ucapkan tadi, bahwa kita melakukannya dengan senang hati, sehingga tidak menjadi beban saat kita melakukannya."
Vio mengangguk setuju, lalu mereka meneruskan perjalanannya kembali, dan berpisah menuju wilayahnya masing-masing.
Terik matahari siang itu lumayan menyengat, Rey hari ini ada janji temu dengan perusahaan lokal, tuan Yakuza.
"Bukankah saya harus bertemu dengan tuan Yakuza, lalu siapa anda?" tanya Rey memicingkan matanya melihat ke arah perempuan yang terlihat sangat seksi itu.
"Maaf tuan, tuan Yakuza ada keperluan mendadak, sehingga diwakilkan dengan saya, dan perkenalkan saya putrinya tuan Yakuza."
__ADS_1
Ayumi putri tuan Yakuza itu mengulurkan tangannya kearah Rey, namun Rey malah mengabaikannya dan duduk tanpa menghiraukan uluran tangan Ayumi.
"Sebaiknya pembahasan ini pada intinya saja, jika dari awal kita akan membangun proyek kerja sama mengenai produksi minuman anggur."
Rey berbicara panjang lebar, namun Ayumi bukannya mendengarnya tapi malah terpesona dengan cara Rey berbicara.
"Bagaimana? apa anda menyetujuinya nona?" tanya Rey datar.
"Baiklah, saya menyetujuinya tuan."
Kerjasama siang itu berjalan lancar, namun Adit yang mendampingi Rey meeting kali ini nampak tidak suka dengan bahasa tubuh Ayumi, pasalnya Ayumi seperti sengaja memperlihatkan bentuk tubuhnya yang seksi dan belahan dadanya yang rendah.
"Aku akan kembali ke kantor siang ini, sebaiknya sebelum kau adakan kunjungan di kebun kita, kau kunjungi lebih dulu kesana." perintah Rey tanpa mau dibantah dan diulang dua kali.
"Baiklah tuan, kalau begitu saya permisi dulu," setelah Adit mengantarkan Rey sampai pada kantornya, kini Adit putar balik menuju kebun anggur terbaik di kota Tokyo.
"Sepertinya hari-hariku akan sibuk, kemana anda perginya nona Vio, sepertinya aku membutuhkanmu." gumam Adit pada dirinya sendiri.
Adit mengemudikan mobilnya dengan pelan, memasuki area mes perumahan, kemudian turun dari mobilnya dan mengelilingi komplek perumahan mes itu.
"Kamu..., kemarilah." Adit melambaikan tangannya pada salah satu mandoran yang kebetulan berada tak jauh darinya.
"Saya tuan?" tunjuk mandoran itu pada dirinya sendiri.
"Siapa lagi jika bukan kamu."
"Katakan, ada berapa karyawan baru yang masuk akhir bulan ini?"
"Kemaren ada lima orang tuan, perempuan semuanya, dan salah seorang diantaranya masih sangat muda."
"Apa datanya sudah kamu cek semuanya?"
"Sudah tuan,"
"Baiklah, kamu bisa kembali bekerja."
Adit kembali berjalan menuju dataran tinggi, namun terlihat kerumunan disana, "Apa ada masalah disana?" tanya Adit pada salah seorang karyawan.
"Anu tuan, disana ada karyawan perempuan yang pingsan." jelasnya.
Tanpa menjawab Adit menyuruh salah seorang mandoran untuk segera menangani masalah ini.
Siang itu karena teriknya panas matahari membuat Vio kelelahan, dirinya mungkin butuh adaptasi dengan lingkungan sekitar, hal itu membuat tubuhnya lemah dan gemetaran, detik berikutnya tak merasakan apa-apa lagi.
dan
__ADS_1
Bersambung