WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Aturan Baru


__ADS_3

Adit hanya kawatir jika Angel mengetahui hal ini, tapi tidak dengan Rey. Pikirnya Angel akan baik-baik saja dan tak akan mengetahui tentang hal ini.


"Jika mulutmu tidak bocor, dia tak akan mengetahui tentang hal ini." ketusnya memberikan isyarat lewat mata tajamnya yang mengintimidasi Adit.


Mendapatkan tatapan yang mengisyaratkan dirinya diam, seketika ia tak lagi bersuara.


Perjalanan menuju pulau pribadi itu memakan waktu sekitar satu jam kurang lebih. Rey berjalan dengan mengangkat tubuh ramping Vio. Membawanya masuk ke dalam rumah yang lebih mirip villa itu.


"Selamat datang tuan, nyonya." ternyata disana tersedia juga beberapa pelayan yang di pekerjakan.


Rey hanya mengangguk tipis dan berjalan melewati mereka. "Siapkan makanan dan minuman, bawa ke kamar atas." perintahnya.


"Baik tuan."


Adit yang berjalan mengekor, menuju ke halaman belakang, yang ternyata disana terdapat hutan pinus yang masih sejuk dan alami. Bahkan udaranya masih terjaga. Belum tercemar apa pun.


🌷🌷🌷


"Ini tuan pesanan anda." seorang maid mengantarkan makanan dan minuman pesanan Rey yang sebelumnya telah mengetuk pintu terlebih dahulu. Maid itu terlihat takjub melihat ketampanan Rey.


Apalagi saat sedang serius menghadap layar laptop didepannya, dan wajahnya terlihat serius seperti ini.


"Hemmmm." jawabnya hanya gumaman tipis.


"Hah tampan sekali dia, seperti ini nih yang menjadi tipeku." dalam hati maid itu berkata demikian.


"Kau masih disini? tunggu apa lagi?"


"Kau tahu kan jalan pintu keluar?" bicara Rey terdengar ketus dan tak bersahabat indera pendengaran.


"Eh..i...iya tuan." perempuan itu lari terbirit-birit menuju pintu keluar.


"Tapi siapa yang tidur di ranjangnya tadi, tidak mungkin jika tuan Rey sudah memiliki istri." gumamnya pelan.


"Ahhh walaupun dia lelaki yang sudah beristri aku tak apa jika menjadi simpanannya." maid yang bernama Anita itu berkata demikian sambil membayangkan jika dirinya menjadi simpanan tuannya. Toh tuan Rey juga masih terlihat tampan, bentuk tubuh atletis dan yang pastinya sangat kaya.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya pelayan yang lainnya ketika melihat Anita tersenyum aneh. Seperti sedang menang undian lotre.


"Tidak, aku hanya senang saja hari ini."


"Kau tahu, kalau tuan Rey itu ternyata sangat tampan."


"Ohh rupanya itu yang membuatmu tersenyum tadi?" tanya temannya yang satunya lagi.


"Ehmmm iya, siapa perempuan beruntung yang akan menjadi istrinya nanti." teman Anita bertanya pada dirinya sendiri.


"Tentu saja perempuan seksi, dan cantik."

__ADS_1


"Contohnya saja seperti diriku ini." Anita berbicara dengan sangat percaya diri.


"Mimpi saja kau ini, bangun sana,"


"Mana mungkin tuan Rey yang terhormat akan mau dengan pembantu buluk kayak kamu." perempuan yang akrab di sapa Yayuk itu menimpali pembicaraan Anita yang sepertinya sudah mulai melantur.


"Heiii...., apa yang kalian ributkan, ayo cepat kemari semuanya,"


"Tuan Rey sedang memanggil kita semua." mbok Inah yang baru saja membersihkan halaman samping rumah itu berlari memasuki rumah dengan jalan tergopoh-gopoh kala sang asisten Adit memanggilnya.


"Tuan Rey memanggil kita semua?" tanya Yayuk pada mbok Inah.


"Iya ayo, cepetan tunggu apa lagi." mbok Inah menginstruksikan agar jangan sampai ada kesalahan atau pun membantah pembicaraan tuan Rey nanti.


Karena Rey di rumorkan lelaki tampan yang berhati dingin, ia tak segan-segan memecat pegawainya dengan tidak hormat jika ada yang melanggar perintahnya. Bahkan terkadang juga memberikan hukuman pribadi dengan memasukkan ke kandang jaguar kesayangannya jika ada yang berani mencoba berkhianat.


Sekitar sepuluh orang karyawan di rumah yang terpencil itu, di tengah-tengah pulau yang jika berjalan ke arah samping, sekitar dua kilo meter lagi terdapat pantai, di belakang rumah itu juga ditanami pohon pinus.


"Kalian semua, dengarkan baik-baik." Rey memandang mereka satu persatu.


"Kalian lihat perempuan yang terlelap itu." menunjuk ke arah Vio yang masih berkelana di alam mimpinya.


Rey berbicara dengan suara yang sangat pelan, takut membangunkan Vio jika dirinya bersuara kencang. "Iya tua kami melihatnya." mbok Inah yang lebih tua diantara mereka menjawab dengan menunduk hormat.


"Dia adalah istriku, apa pun yang dia minta ke kalian..." ucapannya terhenti sejenak.


"Kalian akan tahu akibatnya." suara terakhir yang keluar dari mulut Rey itu terdengar menakutkan.


"Hah ternyata sudah beristri, tak apa menjadi simpanan juga tak buruk." batin Anita bermonolog dalam hatinya.


"Kamu yang berada diujung sana." tunjuk Rey pada Anita yang hanya diam melamun.


"Apa kamu mendengarnya?"


"Oh sa...saya mendengarnya tuan," ucap Anita tergagap sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Apa yang menjadi keinginannya sama dengan apa yang menjadi keinginanku."


"Kalian bisa kembali bekerja."


Mengisyaratkan dengan matanya saja. "Apa ada lagi yang anda inginkan tuan?" tanya Adit pada Rey.


"Tunggu aku diruang kerja, aku akan menyusulmu."


"Baiklah saya permisi dulu tuan."


Rey hanya mengangguk tipis. Adit keluar dari dalam sana, menghembuskan nafasnya kasar. Seperti habis mengangkat benan berat dan melepaskannya.

__ADS_1


Di dalam kamar minimalis, yang pemandangannya terhubung langsung dengan hutan pinus itu Vio terbangun dari tidurnya, mengucek matanya perlahan dan menyipitkan matanya.


"Huahhh.... dimana aku."


Turun dari tempat tidurnya karena ingin buang air kecil, berjalan menuju kamar mandi dengan santainya. gerak geriknya telah diawasi oleh seseorang.


Baru saja dirinya melangkahkan kakinya di ruangan yang berdinding kaca transparan itu, sebagai pembatas tempat bilas dan juga bath up.


"Ehmmm.." Rey sengaja berdehem.


"Kamu, kamu kenapa ada di mari?" tanya Vio bingung.


"Kenapa, kemarilah..." tangannya menengadah mengisyaratkan Vio agar mendekatinya.


"Apa..." namun tak urung juga Vio mendekat kearah Rey.


"Kau tahu sekarang dirimu ada dimana?" tanya Rey.


"Ada dimana memangnya?"


"Kau sedang berada di pulau impianmu." Rey telah mengelabui Vio dengan banyak pertanyaan. Hingga tak sadar Vio telah ditarik masuk kedalam bath up.


"Ihh kenapa kau menarik tubuhku, kan jadi basah semua." mengerucutkan bibirnya kesal, namun karena hal ini malah membuat Vio semakin menggoda menurut Rey.


"Kau sendiri yang mendekatiku."


"Enak saja, kamu yang tadi memanggilku kemari."


"Tapi kamu mau kan."


"Apanya?" Vio menoleh ke belakang ke arah Rey.


"Apa kamu menyesal karena sudah memasuki ruangan ini." bisiknya pelan di telinga Vio, hingga membuat tubuh Vio terasa meremang.


"Kau mau apa?"


"Menurutmu?"


Detik berikutnya Rey sudah menyambar mulut manis Vio, menyesapnya perlahan, hingga Vio yang awalnya berontak menjadi ikut terhanyut dalam buaian Rey.


Ciuman itu semakin terasa ke seluruh tubuh, Vio meremas rambut Rey dengan perlahan, karena rasa nikmat yang dideranya.


"Ahhh kamu." kala ciuman itu turun ke lehernya dan membuat stempel di sana. Vio mendesah perlahan.


"Kamu memang suhu dalam hal ini?"


dan

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2