
Ketika Angel terlelap dalam tidurnya, tuan Rey terbangun dan pergi menuju ruang kerjanya.
dirinya menyempatkan menghubungi Adit untuk menanyakan kabar Vio.
Dirinya sudah menunggu kabar namun tak kunjung datang. Sehingga tak bisa menunggu lebih lama lagi mengenai kabar tentang Vio.
"Baiklah berikan kabar padaku apa pun kondisinya, aku titipkan dia kepadamu untuk sementara waktu."
Angel ketika lelap dalam tidurnya terbangun, matanya menyipit, mengumpulkan kesadarannya. Dirinya menoleh ke sana kemari, dan mencari seseorang.
Perlahan berjalan keluar kamar dan turun kelantai dasar. Di sana ia berniat akan pergi ke dapur, tetapi langkahnya terhenti saat mendengarkan seseorang yang sedang berbincang.
Angel menghentikan langkah kakinya sebentar, dan mengintip pintu yang tidak tertutup dengan sempurna itu. Disana berdiri suaminya sedang berbicara dengan seseorang dibalik panggilan.
"Vio, siapa dia " Angel menerka-nerka mendengar nama itu. Mungkinkah suaminya ini memiliki wanita simpanan, tetapi tidak mungkin. Karena yang ia tahu suaminya ini tidak suka digoda oleh sembarang wanita, dan jarang menanggapi jika ada wanita yang datang sengaja menggoda suaminya.
"Ini tidak mungkin, aku datang kemari bahkan baru beberapa hari." Angel.
Angel menggelengkan kepalanya pelan, setelah tuan Rey menutup teleponnya dirinya segera menjauh dari sana. Tetap saja pikirannya terganggu. Dirinya mengamati seluruh pekerja yang lalu lalang dirumahnya dengan tatapan matanya yang kosong.
"Kenapa kamu terbangun?" Tanya tuan Rey tiba-tiba yang muncul bagaikan hantu dibelakangnya.
"Tidak, aku hanya haus."
"Apa kamu lapar?"
Angel menggelengkan kepalanya dan menatap mata dalam Rey. Tuan Rey mengantar Angel kembali ke dalam kamarnya dan di sana Angel ingin membaca buku.
"Ehmmm Rey," panggil Angel pelan.
"Ehmmm."
"Ck cuman bergumam saja, menyebalkan." Lirihnya.
"Aku ingin berbicara sesuatu padamu."
"Katakan," Rey masih fokus menatap layar MacBooknya.
"Jika suatu hari nanti aku melahirkan anak kita, dan aku tak bisa selamat karenanya, aku nitip dia padamu."
"Kamu ini berbicara apa, jangan menerka-nerka hal yang belum tentu terjadi." Tuan Rey mendongak menatap wajah Angel.
Posisi mereka saat ini duduk bersebrangan, tuan Rey berdiri pindah posisi tempat duduk di sebelah Angel yang saat ini duduk di sofa panjang.
"Apa ada hal lain yang membuatmu tak nyaman?"
Angel menggelengkan kepalanya, ia berusaha melupakan pembicaraan suaminya yang sepertinya menyebut nama wanita dalam obrolannya tadi.
Tetap saja pembicaraan tadi siang terngiang-ngiang di kepalanya mengenai suaminya yang mengkhawatirkan orang lain dari pada dirinya.
Rey duduk bersebelahan dengan Angel, merangkul pinggangnya dan memasukkan dalam dekapannya. "Tak usah memikirkan hal yang tak perlu kau pikirkan."
"Besuk jadwal kamu senam hamil kan?"
"Aku akan menemanimu senam hamil setelah meetingnya selesai."
Vio mendongak menatap wajah suaminya, mengamati bola matanya dengan seksama, untuk mencari kebohongan di sana. Tetapi ia tak menemukan adanya kebohongan. Sehingga dirinya merasa begitu di perhatikan oleh suaminya.
__ADS_1
Angel hanya mengangguk saja sebagai jawabannya, "Iya apa itu tak mengganggu waktumu?"
"Calon anakku adalah prioritas utamaku, aku tak akan melewatkan momen ini."
Sungguh Angel merasa tersanjung mendengar perkataan manis suaminya saat ini, "Benarkah, apa selain dia ada yang kamu prioritaskan?"
Tanya Angel pura-pura tidak tahu, insting wanita memang kuat tak bisa dibohongi. "Ada....yaitu kamu dan keluarga kita."
Perkataan itu nampak serius karena ekspresi tuan Rey yang sulit ditebak, tetapi kali ini Angel gak mau ambil pusing soal hal ini, dirinya akan menenangkan hati dan pikirannya, agar tidak terkontaminasi pikiran-pikiran negatif.
***
Malam hari, biasannya jika pulang malam begini terkadang tuan Rey menemukan Vio sedang memasak di dapur, lalu mereka makan berdua.
Vio suka dengan masakan ayam bakar bumbu rujak dan sambel lalapan. Tetapi karena tuan Rey tidak makan pedas sehingga dirinya membuatnya dengan bumbu yang manis.
Kali ini asisten rumah tangganya diminta untuk memasak makanan tersebut, seperti yang dimasak Vio ketika Vio sedang dirumah.
Angel yang baru saja turun ke bawah berjalan perlahan ke arah meja makan, di sana sudah tersaji berbagai menu makanan, namun ada yang menarik perhatiannya kali ini.
Ayam bakar lalapan. Seharusnya menggunakan sambal, tetapi sambalnya diganti dengan bahan yang terbuat dari kecap dan irisan bawang merah. Baru kali ini dirinya melihat menu itu dimeja makannya. "Menu apa ini." Mengambil sedikit dan memasukkan ke dalam mulutnya, rasanya cocok di lidahnya.
Tanpa berpikir panjang dirinya mengambil piring dan memakannya, hampir tiga perempat yang sudah ia makan, dan suaminya hanya kebagian sedikit.
"Kenapa tak menungguku."
Seketika senyum cerah Angel terbit di sana tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Ehmm maaf, aku sepertinya sudah sangat lapar."
"Apa kau menyukai menu itu?"
Angel mengangguk mantap, "Besuk dan seterusnya akan ada dimeja makan setiap hari." Lalu menyusul duduk didepan Angel.
"Kau teruskan saja makanmu,"
Duh Angel jadi merasa bersalah jika begini, tetapi mau bagaiman lagi, dirinya sudah tergoda setelah mencicipi ayam bakar itu.
Tuan Rey mengambil makanannya dengan elegan, lalu menyendok ayam bakar itu dan merasakan apakah cocok dengan lidahnya atau bukan.
Masih tidak seperti buatan Vio. Begitulah penilaiannya.
"Ini masih ada jika kau mau." Menyodorkan pirinya yang masih tersisa ayam bakar bagian sayap atas.
"Tidak aku sudah kenyang."
"Benarkah, bagaimana kalau aku suapi."
Tanpa mendengarkan jawaban Angel tuan Rey sudah mengangkat sendoknya ke arah mulut Angel.
Hal-hal kecil ini sering ia lakukan selama Angel hamil. Dirinya jadi berubah seratus delapan puluh derajat. Tetapi juga tak bisa melepaskan Vio juga.
Sehingga kasih sayangnya harus terbagi, tetapi mana ada suami yang bisa adil, tetap saja akan condong ke istri tua atau yang muda entah itu soal kasih sayang atau pun materi.
"Bacalah buku-buku di atas meja riasmu, tadi aku membelikan banyak buku seputar kehamilan dan mengasuh anak."
"Aku akan turun ke bawah meneruskan pekerjaanku."
__ADS_1
Setelah mereka makan dan kembali lagi ke kamarnya, kamar yang dulunya ditempatin oleh Vio dan dirinya.
Selama Angel berada disini dirinya belum pernah atau belum sempat menyentuh Angel. Mungkin saja juga masih sibuk.
"Apa kau tak bisa mengikuti aturanku." Setelah dirinya turun kebawah, didalam ruang kerjanya melakukan panggilan ke Adit.
"Maaf tuan, saya masih sangat sibuk menemani nona Vio untuk pemeriksaan lanjutan tadi." Sepertinya Adit mengambil jawaban yang menurutnya aman.
Dirinya kali ini menikmati waktu berdua saja dengan Vio, rasanya tak tega melihat penderitaan Vio yang terus menerus seperti ini.
"Bagaimana kabarnya."
"Nanti setelah ini saya akan mengirimkan fotonya pada anda tuan."
"Lalu kapan operasi dilakukan?"
"Menurut jadwal dari dokternya nona Vio sekita satu minggu lagi jika tak ada kendala apa pun."
"Baiklah, kabari aku sesering mungkin,"
"Jangan kau berani mencoba untuk mendekatinya."
Oh Tuhan, sepertinya tuan Rey mendengarkan isi hati Adit yang saat ini sedang memperhatikan dan mendekati Vio, "Kenapa seperti cenayang saja, tahu apa yang aku pikirkan." Batin Adit.
Sungguh malang nasib menjadi istri simpanan, diperhatikan juga setelah istri sahnya. Ingin kencan juga takut ada mata lain.
Sungguh serba salah menjadi istri simpanan, belum lagi di kata-katai orang. Padahal bukan ini keinginan Vio.
"Nona apakah anda sudah siap untuk melakukan operasi nanti?" Tanya Adit.
"Ehmm iya, kalau perlu dimajukan saja, karena aku tak ingin berlama-lama di sini."
"Kau tahu aku tak suka dengan bau rumah sakit "
"Ehmm tapi nona."
"Sudahlah, kau jangan banyak membatah, turuti saja apa yang ku mau."
Vio bangun dari berbaring nya, karena tak begitu memperhatikan tangannya yang sedang di infus, sehingga mengeluarkan banyak darah ditangannya.
"Nona anda berhati-hatilah."
Adit yang melihat gerakan Vio menjadi ngeri sendiri, "Sebentar nona saya akan memanggil dokter untuk memperbaiki selang infus anda."
Adit berlari keluar tanpa menunggu Vio melontarkan protes berikutnya.
"Ini tidak apa-apa tuan, istri anda harus banyak istirahat agar tak terjadi masalah dengan selang infus ditangannya." Kata dokter yang saat ini memperbaiki infus di tangan Vio.
Adit yang mendengarkan omongan dokter tadi akan menjelaskan jika dirinya bukanlah suaminya, tetapi sang dokter sudah keburu keluar ruangan Vio.
dan
Bersambung
Follow ig aku Eka Frido
Jangan lupa komen dikolom komentar iya. Kalau waktu luang aku suka lho baca komen-komen readernya tuan Rey
__ADS_1