
"Baiklah tuan akan saya pikirkan nanti."
Perjalanan kali ini berbeda dari sebelum-sebelumnya. Ini pertama kali tuan Rey membawa istrinya pergi jalan-jalan keluar negeri.
Tentu saja di sini Adit yang direpotkan, jalan kaki saja Angel harus menggunakan kursi roda, agar menghindari kelelahan pada ibu hamil.
Tuan Rey juga membawa serta pengawalnya beberapa orang yang ikut bersamanya. Sudah saatnya boarding pass dan menunggu pesawat take off saja masih di ributkan dengan permintaan tuan Rey.
"Apa ada lagi yang nyonya butuhkan tuan."
"Tak ada, diamlah kamu jangan banyak bicara."
Seketika itu Adit diam dan tak bicara lagi. Disana sudah ada Dokter Rica yang menunggunya sejam yang lalu.
"Tuan, nyonya."
Sapa Dokter Rica sopan dan menunduk hormat, sedangkam Angel menjawab dengan senyuman manisnya dan tuan Rey hanya mengangguk datar ekspresi wajahnya.
"Tampan sih tampan, bisa mati kebosanan aku punya suami kayak gini, memiliki wajah datar dan bahkan seperti tak pernah tersenyum" Batin Rica dalam hatinya.
"Ahh tidak, bisa-bisa serangan jantung aku nanti."
Dokter Rica tersenyum cerah dengan mereka, tetapi hanya mendapatkan balasan dari Angel saja.
Selama perjalanan Angel memejamkan matanya di pelukan suaminya, Sedangkan Rica mendengarkan musik lewat headset yang terpasang di telinganya.
Tuan Rey sendiri duduk dengan tenang, dan posisinya sedang memeluk istrinya. Berbeda dengan asisten Adit. dirinya bingung.
Mungkin untuk saat ini masih aman, karena Vio entah kemana. Tetapi jika Vio ketemu dan kembali ke rumah itu bagaimana. Apakah akan ada perang dunia ke tiga atau bahkan sebaliknya. Dalam hati Adit terus merapalkan doa agar mereka bisa damai.
"Yang punya dua istri kan bukan aku, kenapa jadi aku yang di buat pusing olehnya." Gumam Adit pelan.
Dirinya melirik ke arah bosnya yang sedang berpelukan mesra, detik berikutnya dirinya ikut memejamkan matanya, dari pada mata sucinya ikut ternoda oleh bosnya sendiri.
Pesat pribadi tuan Rey itu sebentar lagi landing di bandara Ngurah Rai Bali. Pesawat dengan memiliki nama inisial RV yang membawa mereka, kurang lebih lima belas orang. Termasuk pramugari yang melayani mereka selama di dalam pesawat.
Di sana sudah ada mobil jemputan yang akan membawa ke kediaman tuan Rey. Angel hanya diam saja tak berani bersuara menanyakan hal mengenai tempat tinggal dan yang lainnya.
"Ayo."
Tangan tuan Rey menengadah menandakan Angel agar menggandeng tangannya ketika berjalan yang jaraknya sudah tidak jauh lagi dari mobil jemputan mereka.
__ADS_1
Adit sudah mengabari kepala pelayan yang berada di tempat tinggalnya di Bali. Seluruh karyawan di buat sibuk yang sebentar lagi akan kedatangan nyonya besar mereka.
"Aku bingung, sebenarnya bos kita ini memiliki istri berapa iya." Nyinyir salah satu karyawan.
"Iya kamu mewakili apa yang ada di dalam pikiranku, aku pikir nyonya Vio satu-satunya nyonya di rumah ini, eh taunya." Pelayan yang satunya lagi menjawab.
"Yah wajarlah, namanya juga orang kaya, memiliki banyak istri itu juga hal yang tak heran."
"Sudah jangan banyak membicarakan orang lain jika tak ingin di pecat tanpa pesangon." Tiba-tiba saja kepala pelayan muncul dengan wajah garangnya.
"Kalian semua, kumpul di sana, dan tunggu aku sebentar."
Kepala pelayan yang bernama pak Sun itu mengumpulkan karyawan yang suka bergosip tadi. Dirinya masih sibuk mengatur beberapa furnitur, lalu kembali lagi.
"Apa yang kalian bicarakan tadi?"
Mereka terdiam tidak berani bersuara, padahal sudah di tetapkan aturan di rumah ini. Pelayan tidak boleh bergosip atau membicarakan orang lain di rumah ini, termasuk sesama pelayan.
"Apa kalian sudah membaca peraturan dirumah ini."
Mereka hanya mengangguk lemah sebagai jawabannya.
Pak Sun terdiam, lalu melihat mereka bergantian. "Gaji kalian akan di potong sepuluh persen pada bulan kalian bergosip."
Mereka keluar dari sana dan kembali bekerja tanpa ada lagi yang berani bergosip tentang tuan rumah ini atau membicarakan yang lainnya. Mereka bekerja untuk mendapatkan gaji, dan gaji mereka tentu saja tidak sedikit, sehingga pada saat masuk saja melalui seleksi ketat oleh pak Sun yang menjadi pemilihnya. Karena besaran gaji yang mereka terima nanti.
Suara mobil datang dari arah luar, pak Sun kepala pelayan mengecek siapa yang datang, ternyata tuan Rey dan rombongan sudah tiba.
Seketika seluruh karyawan yang berada di sana mengumpul dan membentuk barisan kanan kiri. Lalu mereka menyapa tuan Rey dan nyonya Angel dengan menunduk hormat dan mengucapkan selamat datang.
Tuan Rey berjalan dengan wajah datarnya, melewati orang-orang pegawai rumahnya hanya melirik sekilas.
"Selamat datang tuan, nyonya."
Angel melihat seluruh karyawan di rumah ini terlihat ramah dan murah senyum. Tentu saja Angel membalas senyuman mereka dengan hangat.
"Karyawan di rumah ini orangnya ramah-ramah iya." Bisik Angel di telinga suaminya.
Tuan Rey yang mendengarkan bisikan Angel hanya diam saja tak berniat menjawab obrolan Angel.
Kamar utama kali ini akan di tempati oleh tuan Rey dan juga istrinya Angel, sebelum mereka datang tadi. Seluruh pakaian Vio dan barang-barangnya sudah di pindahkan di kamar sebelah.
__ADS_1
Adit sudah memberikan instruksinya pada pak Sun, agar di keluarkan barang-barang Vio dan di tata lagi sedemikian rupa.
"Selamat beristirahat tuan, nyonya, saya akan menunggu anda di ruang kerja."
"Jangan lupa tugasmu."
Hanya kalimat singkat, tetapi Adit sudah mampu memahaminya, apa kemauan tuan Rey.
Di dalam ruang kerja sana, Adit kembali lagi menghubungi orang suruhannya.
"Nona Vio sudah di temukan tuan. Dia berada dalam masalah sekarang."
Seketika Adit menjadi bingung sekarang, bagaimana caranya memberitahu taun Rey, jika dirinya yang bertindak sendiri tanpa sepengetahuannya takut disalahkan.
Tetapi saat ini mereka baru saja tiba, bahkan mungkin saja mereka sedang tidur di kamarnya dan berpelukan mesra, pikir Adit.
Adit bahkan berjalan mondar mandir bagaikan setrikaan kusut.
Tok....tok...
Suara ketukan pintu dari luar, tuan Rey yang saat ini sedang melayani Angel, mengambil baskom mengisinya dengan air hangat dan memasukkan telapak kaki Angel di sana.
"Biar aku saja yang buka."
Tuan Rey bangkit, berjalan ke arah pintu dan membukanya perlahan.
"Maaf tuan sudah mengganggu waktu anda."
"Ada hal penting yang harus saya bicarakan pada anda."
"Baiklah tunggu aku di ruang kerja."
Adit kembali lagi ke ruang kerjanya, dan tuan Rey berpamitan pada Angel.
"Jika kamu ingin sesuatu, kamu pencetlah tombol di ujung sana, aku akan ke ruang kerjaku dulu."
Angel mengangguk mengerti.
dan
Bersambung
__ADS_1