WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Tuan Rey yang Panik


__ADS_3

Sebelum membaca tekan Like, komen dan klik love iya


Happy reading


Tuan Rey pulang ke rumah diantar oleh asisten Adit, dalam hati asisten Adit sudah merasa was-was, semoga tak ada perang dunia ke tiga setelah ini.


"Apa yang mereka lakukan." Tanya tuan Rey tiba-tiba.


"Anda bertanya pada saya tuan?" Adit.


"Tentu saja aku berbicara dengan kamu, memangnya dengan siapa lagi di dalam mobil ini." Tanya tuan Rey balik.


"Mereka hanya sedang berbelanja dan ke salon saja tuan."


"Apa tak ada hal lain yang mereka lakukan selain itu?"


Adit sudah merasa tak enak jika membohongi tuannya, Vio sepertinya bertemu dengan laki-laki tadi sewaktu berbelanja di dalam salah satu stand toko tas.


"Ehmmm itu tuan, tadi nona Vio sempat bertemu dengan lelaki sewaktu di dalam toko tas."


Seketika itu tuan Rey menegakkan punggungnya yang awalnya hanya bersandar.


"Cari tau siapa lelaki itu."


"Baik tuan."


Setelah itu tak ada lagi pembicaraan di antara mereka, beberapa menit kemudian sudah sampai di kediaman tuan Rey dan Vio tinggal.


Tuan Rey sudah siap akan bertanya banyak hal, namun sayang seribu sayang, ketika membuka pintu kamarnya, di sana Vio sudah tertidur dengan lelapnya.


Sepertinya marahnya di simpan buat besuk saja. Kali ini dirinya akan membersihkan tubuhnya dan ikut masuk ke dalam selimut istri mudanya ini. Beberapa menit berlalu setelah membersihkan diri tuan Rey memakai pakaian rumahan.


Terdengar notifikasi masuk di ponsel miliknya, banyak panggilan tak terjawab, mungkin itu terjadi ketika dirinya mandi tadi.


"Hallo ada apa?" Tanya tuan Rey pada kepala pelayan rumahnya di Moscow.


"Itu tuan, sepertinya telah terjadi sesuatu dengan kandungan nona Angel, apa anda bisa pulang sekarang tuan?" Belum sempat kepala pelayan itu meneruskan pembicaraannya tadi namun panggilan itu sudah dimatikan sepihak.


"Hallo Adit, persiapkan penerbanganku malam ini." Perintahnya pada Adit.


Dirinya bersiap-siap ganti pakaian dan keluar rumah dengan tergesa, sepertinya sudah melupakan tentang hukumannya pada Vio kali ini.


Adit yang baru saja akan berendam dengan santai sudah di ganggu lagi dengan bosnya ini, salahnya saja banyak istri, makanya jadi bingung kan. Begitulah umpat Adit.


"Pak tolong antarkan aku ke bandara sekarang juga." Perintahnya pada sopir pribadinya yang kebetulan sedang bersantai dengan satpam di depan rumahnya kala itu.


"Baik tuan." Sopir itu tak kalah paniknya melihat tuannya yang tak bisa tenang dengan dirinya sendiri.


"Mari tuan silahkan masuk." Tanpa banyak kata tuan Rey memasuki mobilnya, pikirannya saat ini tak karuan, tidak bisa berfikir jernih, ada sedikit rasa penyesalan dalam hatinya, jika tau seperti ini mungkin dirinya tak akan pulang ke Bali.


Berbagai hal buruk bersarang di dalam kepalanya, namun mulutnya tak henti-hentinya merapalkan segala doa yang dia bisa.


Sedangkan Vio tadi mendengarkan semua percakapan tuan Rey di dalam telepon, namun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan istri tuannya itu, dirinya sudah bersikap bodo amat dengan nasib rumah tangganya yang statusnya hanya menjadi simpanan pria kaya.


"Sebegitu khawatirnya tuan Rey dengan istri tua nya, apa jika terjadi sesuatu denganku, apa kamu juga akan sangat khawatir seperti ini." Gumam Vio pada dirinya sendiri, dirinya kembali terbangun, setelah tuan Rey keluar dari kamarnya tadi.


"Hallo iya ada apa lagi?" Tanya Fani di balik seberang telepon sana.


Vio sepertinya butuh teman bicara, dirinya walaupun terlihat kuat dari luar, namun juga rapuh hatinya.

__ADS_1


"Fani tak bisakah kamu mendengarkan aku bicara malam ini?"


"Hei sejak kapan kamu bertanya dulu jika ingin berbicara denganku." Fani.


"Apa telah terjadi sesuatu antara kamu dan suami kamu."


"Apa dia kdrt denganmu."


"Apa perlu aku ke sana untuk meluruskan pertikaian kalian." Tanya Fani bertubi-tubi tiada henti, hingga tak memberikan Vio memiliki kesempatan berbicara.


"Tidak semua dugaan kamu itu salah."


"Lalu apa yang terjadi dengan kamu saat ini, katakan."


"Ck..kamu ini, aku ini sedang butuh teman untuk bicara bukan mau mendengarkan omelan kamu saja." Vio berdecak malas yang saat ini mendengarkan ocehan Fani kesana kemari. Sepertinya butuh ketenangan buat suasana hati Vio.


"Baiklah aku akan diam dan mendengarkan kamu, bicaralah."


Vio terdiam sejenak, bingung harus memulai pembicaraan ini dari mana.


"Fani."


"Iya."


"Apa aku telah merebut kebahagiaan suami istri yang hidup bahagia?" Tanya Vio.


"Kenapa, aku rasa tak ada yang salah dengan dirimu." Kata Fani panjang lebar.


"Tapi Fan, aku merasa jika aku sudah merebut kebahagiaan suami istri yang hidup bahagia, aku ingin meminta pendapat kamu, bagaimana dengan masalahku ini jika menurut kamu?"


"Aku tak tahu apa maksud dari pembicaraan kamu, coba katakan saja dengan jelas, supaya aku bisa memberikan pandangan untuk ke depannya nanti."


"Iya lalu?"


"Aku rasa sebentar lagi akan di singkirkan olehnya, lalu aku akan menjadi janda muda, siapa yang mau dengan janda muda seperti aku?" Vio mengungkapkan keresahan hatinya, yang saat ini sedang merasakan gundah, dan tak bisa tenang. Tak terasa mengalir cristal bening dari matanya tanpa permisi.


"Iya aku tahu dengan keresahan hatimu."


"Kamu takut menjadi janda muda atau takut ditinggalkan olehnya?"


Vio sudah membentengi dirinya sendiri, agar tak jatuh cinta dengan tuan Rey yang memiliki sejuta pesona itu, dirinya bersikap cuek agar tak terbawa oleh perasaan, ketika dirinya mendapatkan perhatian darinya.


"Ak...aku tidak tahu." Jawab Vio tergagap.


"Aku hanya mau meminta pendapatmu saja, bagaiamana jika suatu hari nanti aku menjadi janda muda, aku tak siap dengan hal itu, semua orang pasti akan mencemoohku."


"Jika kamu takut menjadi janda muda, maka ikuti saja apa kata hatimu, sampai kamu benar-benar merasa tak kuat lagi menjalaninya menjadi istri ke dua, dan ketika kamu menyerah dengan pernikahan kalian, makan kamu bisa pergi menjauh darinya."


Tak ada jawaban apa pun dari Vio, saat ini dirinya masih mencerna ucapan Fani yang baru saja keluar dari mulutnya.


"Vio apa kamu masih berada di sana, apa kamu mendengarku?" Tanya Fani.


"Ehmm iya aku masih mendengarmu, lalu bagaiamana jika aku mundur lebih cepat, kira-kira apa yang akan terjadi denganku?". Tanya Vio lagi.


"Aku rasa jangan dulu, karena kamu belum memiliki apa pun darinya, realistis saja, jika kamu mundur sekarang, maka seluruh kekuatanmu akan hilang, dan kamu akan kehilangan pengaruhmu."


"Maksud kamu apa? aku tak mengerti."


"Kamu jangan bodoh, saat ini tanpa kamu sadari telah memiliki pengaruh besar dalam hidupmu, jika kamu mundur sekarang dari kehidupan tuan Rey, maka kamu tak ada bedanya dengan dulu."

__ADS_1


"Kamu akan selalu di dikucilkan oleh keluargamu itu."


"Jika mereka melihat kamu yang sekarang, maka setidaknya kamu memiliki kekuatan untuk melawan mereka dengan menggunakan nama suami kamu." Kata Fani.


"Baiklah, aku akan menjadi istri yang baik untuk tuan Rey, selama ini lagi pula dia selalu memberikan apa yang aku minta,"


"Itu benar, tetapi ingat satu hal, kamu jangan gunakan hatimu untuk berinteraksi dengannya."


"Apa kamu mengerti?".


"Ehmmm iya aku mengerti."


Vio kembali tenang setelah mendapatkan petuah-petuah dari Fani malam ini, dirinya harus menjadi wanita kuat meskipun hanya istri simpanan saja, tak apa toh seluruh asisten rumah tangga ini juga tak ada yang tahu jika dirinya ini hanya istri simpanan tuan Rey.


"Apa lagi saudara sepupumu yang membencimu itu masih bekerja dengan suami kamu."


"Setidaknya saat ini kamu menang satu langkah dari Mia."


"Dia bukan saudaraku sekarang."


"Hemm iya iya aku mengerti, orang sepertinya tak pantas di sebut saudara, terserah kamu mau menganggap dia apa, yang jelas kamu juga harus waspada dengan Mia dan keluarganya."


"Bukan apa-apa hanya berjaga-jaga saja jika suatu hari hal buruk telah terjadi denganmu."


"Hemm iya kamu benar, baiklah aku sekarang menjadi tenang setelah berbicara mengenai ini."


"Aku akan tidur lebih awal, besuk aku akan menginap di tempatmu, selama tuan Rey tak ada di rumah aku akan menginap di rumahmu."


"Kita akan menjalani hari dengan normal." Vio cekikikan sendiri.


"Baiklah terserah kamu saja."


"Jangan lupa masakan aku yang enak-enak."


Lalu panggilan mereka berakhir, sebelum Fani mengumpatinya. Vio kabur lebih dulu dan cekikikan sendirian, rupanya hal sederhana saja bisa membuatnya bahagia.


Vio menarik selimut sebatas dada, lalu memejamkan matanya, baru saja dirinya memejamkan matanya, namun dirinya kembali terbangun, sepertinya mimpi buruk telah terjadi padanya, hingga keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya.


"Siapa Aldo dan siapa Via." Aku tak mengerti dengan mimpi ini. Gumam Vio pelan. Lalu meminum air putih sampingnya.


Sedangkan di lain tempat tuan Rey sudah berada di dalam kabin pesawat pribadinya, beberapa kali dirinya mengalami Jet Lag hingga tak bisa tenang.


Ingin segera sampai dan mengetahui kondisi istrinya dan juga bayinya yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit ternama di kota Moscow.


Angel tak bisa makan, hal itu terjadi setelah kepergian tuan Rey, dirinya mengalami mual hebat hingga tak bisa makan apa pun, puncaknya saat tuan Rey dihubungi oleh kepala pelayan di rumahnya.


Angel mengalami lemas dan di larikan di rumah sakit, di sana mendapatkan perawatan terbaik dari dokter dan suster, sebagian besar saham pemilik rumah sakit ini juga milik tuan Rey, tentu saja seluruh keluarganya mendapatkan perawatan yang baik.


Saat ini Angel sedang di tunggu oleh ibu dan ayah mertuanya, sepertinya mereka sudah menyimpan banyak amarah yang siap meledak jika tuan Rey datang nantinya.


"Apa anak nakal itu sudah perjalanan pulang?" Tanya ibunya tuan Rey pada ayahnya.


"Sepertinya sudah, mengingat dirinya tak bisa dihubungi sama sekali." Jawab ayahnya.


"Benar-benar keterlaluan sama sekali, istri hamil bukannya di rawat dengan baik, malah di tinggal pergi,mana berhari-hari pula."


Ibunya tuan Rey terus saja mengomel sendirian, ini adalah cucu impiannya yang lahir dari rahim Angel, lalu setelah janin itu hadir, malah tuan Rey mengabaikannya.


dan

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2