WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Hari yang Indah untuk Rey


__ADS_3

"Aku rasa sudah tak ada lagi yang ketinggalan." Angel kala bersiap-siap akan pulang sore itu.


Bayinya digendong oleh suster Ana, yang baru saja bekerja dengannya dua hari ini.


Rey mendorong kursi roda Angel, menuju lobby rumah sakit yang disana sudah di tunggu oleh mobil jemputan.


"Silahkan nyonya, tuan." sang sopir membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Rey dan juga Angel masuk.


"Hati-hati, lukamu masih belum sembuh." Rey memberikan peringatan pada Angel.


Suster Ana duduk di kursi dengan dengan baby Chris dalam dekapannya, bayi itu sedikit pun tak terusik walaupun kedua orang tuanya terus beradu mulut.


Hanya sekitar kurang lebih dua puluh lima menit saja mobil yang membawa mereka sudah memasuki pelataran rumah mewah itu.


Angel berjalan masih hati-hati dan di papah oleh Rey, memasuki rumah megahnya, disambut para asisten rumah tangganya.


"Kenapa, apa ada yang kau pikirkan?" tanya Rey kala melihat wajah pias Angel.


"Tidak, aku hanya kangen mom saja."


"Hemm lusa dia akan kemari dengan dad."


"Kau bersabarlah."


Angel mengangguk lagi, baru saja Angel duduk dengan posisi nyamannya, terdengar suara gaduh dari luar.


"Hallo, permisi nyonya Angel tuan Rey."


Mendengar suara cempreng itu, Rey sudah mengenalinya, suara milik siapa itu, walaupun batang hidungnya belum kelihatan. Tetapi sudah bisa di tebak siapa orangnya.


"Eh sayang kemarilah, ada tamu." teriak Angel pada Rey suaminya.


Rey yang habis membuatkan susu untuk ibu menyusui itu kembali lagi dengan satu gelas susu ditangannya.


"Ck, si datar ini bisa romantis juga rupanya pada istrinya." batin Vio tersenyum dalam hati.


Vio datang bersama Adit, karena kemaren Vio mengaku sebagai Adiknya Adit, akan sangat tidak enak jika dirinya tak menjenguk Angel yang habis persalinan.


"Mari silahkan duduk," jawab Angel ramah.


Rey hanya melirik mereka datar. Tanpa berniat menyapa Vio dan juga asistennya ini. Bahkan Adit pertama kali yang mendapatkan tatapan tajam dari tuannya itu.


Sedangkan Vio mencuri-curi pandang pada suaminya, yang saat ini sedang melayani istrinya.

__ADS_1


"Ehh Vio, maafkan suami saya iya,"


"Ehmm mari silahkan diminum."


Bertepatan dengan itu kepala pelayan menyajikan minuman pada mantan majikannya yang lama, menaruh minuman dingin di depan Vio dengan perasaan canggung. Tapi Vio biasa saja.


"Ehh iya nanti aku minum kak Angel." panggil Vio sambil memposisikan tubuhnya di depan Angel yang tadinya duduk dengan memanjangkan kakinya. Tetapi saat ini sudah di turunkan dari sofa panjang itu.


"Ehmm sejak kapan kak Angel melahirkannya?" tanya Vio berusaha mencairkan suasana yang mulai terasa kaku itu.


"Ehmm kemaren dua hari lalu, saat tengah malam,"


" Tapi saat itu suamiku tak ada dirumah, sehingga asisten rumah tangga dam beberapa pelayan yang membantuku pergi ke rumah sakit."


Vio kembali lagi melirik suaminya, Rey yang dilirik santai bagaikan tak memiliki dosa. Bahkan ia membuka ponselnya dan berpura-pura sibuk.


"Berarti saat dia sedang bermalam di tempatku." batin Vio bermonolog.


"Ehmm apa semuanya berjalan lancar?"


"Maksud aku, kakak melahirkan secara normal apa operasi?" tanya Vio hati-hati.


"Kau tak usah merasa canggung begitu, karena kau adiknya Adit, aku tak apa jika kau ingin bertanya-tanya."


"Aku melahirkannya operasi, karena air ketubannya sudah pecah duluan, dan harus segera diambil tindakan oleh dokter." Angel menjelaskan dengan senyum terbit dari kedua sudut bibirnya.


"Suster Ana, tolong baby Chris bawa kemari." perintah Angel kala suster Ana sedang melintas sehabis mencuci botol susu.


"Baik nyonya."


Selang beberapa menit saja, suster Ana kembali lagi dengan bayi mungil berada di gendongannya.


"Ini nyonya tuan muda." Ana menyerahkan baby Chris pada Angel.


Vio yang melihat itu menjadi sangat antusias sekali, rasanya dirinya ingin menggendong.


"Wahh dia sangat tampan, tapi wajahnya kenapa mirip dengan kak Angel semua." celetuk Vio tiba-tiba, ketika dirinya mengamati baby Chris.


"Kau benar, bahkan ayahnya seperti tak kebagian."


"Kak Angel boleh aku menggendongnya?" tanya Vio antusias.


"Tentu saja boleh, ini." Angel menyerahkan baby Chris pada Vio, dan Vio menerimanya dengan hati-hati.

__ADS_1


"Hati-hatilah jika menggendongnya, jangan sembarang bergerak." Rey menatap tajam pada Vio, seperti memandang musuhnya.


Vio yang ditatap seperti itu tak begitu menghiraukan ucapan serta pandangan Rey. Dirinya tetap bergerak menimang bayi mungil itu.


"Baby Chris, kau tampan sekali."


"Pasti nanti kalau sudah besar akan menjadi rebutan banyak wanita." celetuk Vio.


Rey yang melihat Vio menggendong dengan cara seperti itu tidak begitu menyukainya, dirinya mungkin saja kawatir terjadi sesuatu dengan anaknya.


Namun naas bayi itu menangis dengan kencang dalam dekapan Vio,"Cup ... cup, ... kau kenapa tampan, apa kamu sedang bersedih." Vio bergerak kesana kemari tak berhenti menimang.


Sebenarnya Angel tidak apa-apa anaknya digendong dengan Vio, tetapi Rey yang begitu berlebihan memberikan reaksi yang mengejutkan.


"Sini kemarikan bayiku, nanti bisa kau siksa jika terus menerus berada dalam dekapanmu." ketusnya sambil meraih bayi mungil itu.


Vio sungguh sangat terkejut dibuatnya, Adit apa lagi, dirinya menatap istri mudanya Rey itu dengan tatapan iba.


Merasa tak rela jika Vio dibentak didepan Angel dan di depannya.


"Maafkan aku tuan, aku tak ..."


"Aku tidak suka bayiku di gendong oleh orang yang tidak berpengalaman mengasuh bayi." menyela pembicaraan Vio yang belum sempat ia selesaikan.


Seketika itu hati Vio merasa tercabik-cabik, harga dirinya merasa direndahkan. Ia jadi yakin jika Rey menikahinya hanya karena sebagai tumbal nafsunya saja.


Sekuat tenaga ia tahan agar air mata berharganya tak keluar, bahkan Adit yang mendengarnya saja merasa ingin menonjok bosnya saat ini juga.


"Angel ini, bawa dia masuk, dam susui di dalam kamarnya."


"Baiklah," karena tak mau memperkeruh suasana, Angel menuruti perkataan suaminya. Angel jadi merasa bersalah dalam hal ini.


"Maafkan kami nyonya dan tuan, jika kedatangan saya dan adik saya tak diharapkan, kami permisi dulu." tanpa mendengarkan Rey dan Angel lagi berbicara. Adit sudah menyeret lengan ringkih Vio.


Berjalan dengan tergesa menuju dimana mobilnya tadi diparkirkan. "Masuklah," perintah Adit pada Vio, dirinya jadi ikut terbawa emosi mendengarkan kata-kata pedas Rey tadi.


Akhirnya tak tahan membendung sakit hatinya, Vio menjatuhkan buliran bening yang luruh di pipi halusnya.


"Menurutmu apa aku tak pantas jika menggendong bayi?" tanya Vio dengan nafas tersengal menahan suara tangisnya.


"Tak usah kau tahan, menangislah agar hatimu merasa baikan."


"Kamu belum menjawab pertanyaanku?" ucap Vio lagi, dirinya menerima sapu tangan yang diberikan oleh Adit, untuk mengusap air matanya.

__ADS_1


dan


bersambung


__ADS_2