
"Tuan kecil, saya ditugaskan oleh papa anda untuk menjemput anda tuan." ucap Adit datar pada anak majikannya itu.
"Papa..." ucap bocah kecil dengan tampang rupawan itu berlari kearahnya, ketika dirinya baru saja akan keluar dari mobilnya.
Kemudian memeluk erat sang ayah, seolah rasa rindu dihatinya sedang terobati,"Chris lain kali kau tak boleh seperti itu, itu berbahaya, kau bisa kenapa-kenapa."
"Apa kau mendengar papa?" tanya Chris yang kini memeluk dirinya erat, seolah ia tak mau lepas dari gendongan sang ayah.
Tadi Rey melihat putranya berlari, begitu melihat mobilnya memasuki pekarangan mansion tempat tinggalnya.
"Iya papa, Chris mendengar." ucapnya takut-takut.
"Baiklah, papa akan membersihkan diri dulu, Chris bermain bersama suster Ana dulu."
Rey menyerahkan Chris ke gendongan suster Ana, lalu dirinya melesat memasuki rumah besarnya untuk membersihkan diri.
"Papa besuk aku ada kegiatan baleng belsama kelualga,"
"Apa besuk papa bisa ikut menemani Chlis?" ucapnya yang masih cadel.
Setelah kini mereka bersantai sejenak, selepas Rey membersihkan tubuhnya, berganti pakaian santai dan duduk di sofa ruang tengah.
"Memangnya kegiatan apa sehingga membutuhkan pendampingan papa?" tanya Rey yang duduk di sofa tunggal dengan Chris berada di pangkuannya.
"Besuk ada kegiatan outbound di sekolah papa."
"Tapi kalau papa tidak bisa mendampingi Chlis tidak apa-apa kok."
Wajah Chris terlihat memelas, membuat siapa saja merasa iba jika melihatnya.
Rey tampak memandang wajah polos putra semata wayangnya ini, padahal besuk dirinya ada rapat penting.
"Papa tak bisa janji, tapi akan papa usahakan."
"Sekarang Chris belajar dulu iya."
"Papa..., kenapa papa tidak cali bunda?" tanya Chris malah mengalihkan pembicaraan.
"Soal itu tidak usah Chris pikirkan, papa sedang berusaha, hanya saja Tuhan belum mempertemukan kita, Chris bersabarlah,"
"Dan berdoalah semoga bunda cepat bertemu dengan papa." ucap Rey dengan suara merendah.
"Baiklah papa, mulai sekalang setiap hari Chlis akan rajin beldoa, supaya bunda bisa belkumpul lagi baleng kita."
***
.
.
Hari berlalu begitu cepat, Sudah tiga bulan sejak dipertemukannya Adit dan juga Vio, kini Vio sudah pulih, usia kandungannya bahkan sudah memasuki usia enam bulan, walaupun Vio tinggal bersama nenek Sam tetapi masih dalam pengawasan Adit, apa pun yang Vio inginkan Adit lah yang berusaha mengabulkannya.
"Ini aku membawakan bakpia pesananmu." Adit membawa paper bag berisi oleh-oleh khas makanan bali yang bernama bakpia itu. Lalu meletakkan diatas meja di samping Vio.
__ADS_1
"Oh Tuhan, ternyata kau terbang ke Bali hanya untuk mengabulkan permintaanku?" tanya Vio yang kini duduk menyelonjorkan kakinya.
"Menurutmu?" tanya balik Adit, menaik turunkan alisnya, memandang kearah Vio.
"Kau memang yang terbaik." puji Vio mengangkat ibu jarinya.
"Hemmm makanlah, agar aku tak merasa sia-sia tenagaku untuk mencari makanan yang sulit dicari ini."
"Ck, baru juga begitu saja sudah mengeluh,"
Tak urung juga Vio membuka paper bag berisi box bakpia khas vali itu.
"Ehmmm ini enak, kamu belinya dimana?"
"Sepertinya aku menyukai makanan jenis ini mulai sekarang."
Adit yang semula berdiri tak jauh dari Vio, mencari posisi ternyaman nya, duduk sofa tungga yang ada di seberang Vio.
"Jangan terburu-buru makannya, kau akan tersedak nanti."
"Baiklah, besuk-besuk aku boleh meminta yang seperti ini lagi?" tanya Vio memandang wajah Adit dengan mulut penuh, memelaskan wajahnya.
Tentu saja Adit merasa tak tega jika Vio sudah berekspresi menyebalkan seperti saat ini.
"Ehmmm aku tidak janji, jika aku tak banyak pekerjaan."
"Adit..., kenapa kamu mulai bersikap menyebalkan." Vio yang hampir saja keluar air matanya.
"Iya-iya..., tak usah menangis, akan aku usahakan."
"Kau memang yang terbaik Adit."
Segala perhatian Adit ia curahkan hanya untuk Vio, bahkan disaat-saat Vio sedang mengidam sesuatu, ia bela-belain mencari jika sedang jam istirahat kerjanya.
"Sekarang kamu mau kemana?" tatapan Vio menyelidik.
Adit yang sudah berdiri dari duduknya, bersiap akan pergi. "Tentu saja aku ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan."
"Kehamilanmu sudah membesar, apa kau tak berniat untuk berhenti bekerja?" tanya Adit.
"Nanti saja, jika aku sudah mau melahirkan, maka aku akan cuti bekerja."
"Aku membebaskanmu, untuk menjaga kandunganmu, apa tawaran ini tidak menarik bagimu?"
"Ck, kau pikir aku ini perempuan seperti apa, aku lebih suka bekerja dari pada harus berdiam diri dirumah, karena aku tidak tahu harus ngapain."
"Jadi itu yang kamu keluhkan?"
"Sepertinya."
"Aku ada pekerjaan lain untukmu, jika kau mau?"
"Apa?"
__ADS_1
"Jaga butik, aku sedang mendirikan butik disekitar sini."
"Bukankah itu menarik."
"Benarkah?" ungkap Vio antusias.
"Iya, jika kau mau, nanti sepulang aku kerja akan membawamu kesana."
"Baiklah aku mau."
"Tapi, ngomong-ngomong aku sekarang ini ingin ikut denganmu."
"Aku pergi bekerja, bukan untuk bermain."
"Kenapa kamu tak mau mengajakku, apa karena aku sudah tak cantik lagi, badanku gen..."
"Baiklah sana ganti baju, aku tunggu lima belas menit."
Adit memotong ucapan Vio yang membuatnya sangat kesal, pasalnya Vio sangat sensitif semenjak hamil, dirinya jadi sering berubah-ubah moodnya, terkadang menangis, setelahnya tertawa dalam waktu bersamaan.
"Baiklah tunggu aku, aku akan bersiap sebentar." Vio bangkit dari duduk santainya.
Ternyata waktu lima belas menit untuk berdandan saja tidak cukup, padahal Adit dalam waktu satu jam setengah harus sudah sampai di lokasi peninjauan.
"Ayoo..., aku sudah siap." Vio yang sudah berganti pakaian dengan baju model gaun biru berenda, yang panjangnya hanya sebatas lutut.
"Apa gaunmu itu tidak terlalu terbuka?" tanya Adit yang mengamati penampilan Vio dari atas kebawah, sampai beberapa kali.
"Tidak, kenapa?"
"Aku rasa hanya ini pakaian yang muat untukku ku pakai, karena aku tak punya gaun untuk ibu hamil."
Oh Tuhan, sepertinya Adit lupa jika selama ini Vio tidak pernah kemana-mana, sehingga dirinya tidak memiliki gaun untuk pergi keluar.
"Baiklah, ayo..., nanti aku keburu terlambat."
Vio berjalan mengekor di belakang Adit, dan kini mereka duduk bersebelahan.
Adit hari ini ada kunjungan ke proyek baru, setelahnya menjemput Chrish,"Mau kemana kita?" tanya Vio yang mengamati sepertinya mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sekolah taman kanak-kanak.
"Tentu saja mau menjemput tuan kecil," jawab Adit santai.
"Kenapa kau tak bilang padaku."
"Aduh, lama lama aku akan lebam semua tanganku, jika kau terus-terusan memukulku seperti ini."
"Itu salahmu sendiri, kenapa kau tak bilang dari tadi."
"Kamu kan tidak bertanya."
"Sudahlah, aku akan keluar, karena tuan kecil pasti sudah menungguku."
"Adit kamu..."
__ADS_1
Tapi sudah terlambat, Adit sudah keluar dari mobil yang mereka tumpangi,