WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Bertemu


__ADS_3

"Ini tuan silahkan anda periksa." sang bodyguard memberikan hasil jepretan foto dan juga keterangan di setiap kegiatan tuan kecilnya.


Alangkah terkejutnya Rey yang baru saja melihat isi dari file yang ada ditangannya saat ini, seketika wajahnya memerah, otaknya terasa mendidih terbakar api kemarahan.


"Antarkan aku ke alamat ini sekarang." pinta Rey.


"Tapi tuan ini sudah malam."


Rey mendongak, tatapannya mengintimidasi bodyguard dihadapannya seolah ingin menerkam mangsanya.


"Baiklah tuan, akan saya antarkan."


Sorot mata tajamnya yang bagaikan elang membidik mangsanya membuat nyali sang bodyguard menciut, lalu menuruti apa kata Rey.


Malam itu cuaca begitu dingin, memang musim dingin telah tiba, Rey mengenakan Coat yang melekat ditubuhnya, entahlah orang yang selama ini ia cari ternyata dekat dengan lingkungannya, namun kenapa malah dirinya bisa lengah dan tak membuatnya bertemu dengan Vio. Apa saking pintarnya Vio bersembunyi atau dirinya yang terlalu sulit.


Ahh rasanya tuan Rey sangat tidak sabar menantikan dirinya bertemu pujaan hatinya setelah sekian tahun tak bertemu. Mungkin ada perubahan pada wanita cantik berambut hitam lurus legam itu.


Hingga tidak menyadari jika mobil yang mereka tumpangi sudah sampai didepan rumah Vio yang bangunannya berdiri minimalis itu.


Tok...tok


Suara ketukan pintu terdengar sangat jelas, memang rumah yang Vio tempati itu tidak memiliki pagar, karena dirinya memilih perumahan yang bisa membuatnya bersosialisasi dengan tetangga kanan kiri.


Tok...tok


Rey mengulangi lagi tangan kekarnya mengetuk daun pintu untuk yang kedua kalinya, menunggu cukup lama itu bukan tipenya, ia adalah bos besar, dalam hal apa pun tidak ada yang pernah membuatnya menunggu, dimana pun dan dalam urusan apa pun. Menjadi orang penting membuatnya arogan dan sangat berpengaruh.


Tetapi lain urusan lain halnya, kali ini dirinya harus bersabar menunggu daun pintu minimalis itu dibuka pemiliknya.


"Iya tunggu sebentar," terdengar suara Vio dari dalam.


Knop pintu terdengar di putar, lalu terbuka lebar, "Maaf anda siapa tuan?" tanya Vio masih tidak menyadari, karena memang posisi Rey berdiri membelakangi daun pintu, kedua tangannya ia masukkan ke dalam mantelnya.


"Maaf tuan, saya rasa tuan semuanya salah alamat." berniat menutup pintunya kembali.


Belum sempat tertutup sempurna, pintu minimalis itu tertahan oleh tangan kekar, ada wajah terkejut Vio, bahkan sangat terlihat guratan kepanikan yang mendadak membuat kedua tangannya dingin.

__ADS_1


"Tuan anda?" Vio bersuara setelah berhasil menguasai dirinya.


"Apa begitu caramu menyambut tamu datang mengunjungimu?" Rey bersuara dengan ekspresi datar.


Bahkan kini wajahnya sulit ditebak, apakah sedang marah, sedang ingin mengatai kata-kata kasar, atau sedang ada hal lain yang menurut Vio belum selesai. Semua pemikiran pemikiran aneh begitu bermunculan dibenak Vio.


"Apa kau tak mempersilahkan tamu kamu duduk?"


Begitu Rey bertemu dengan Vio, seketika sang bodyguard yang tak ingin mencampuri urusan bosnya berjalan menjauh, bersandar di kav mobil.


"Ehmmm." Vio berdehem untuk menetralkan detak jantungnya yang sialnya tidak bisa diajak bekerja sama untuk saat ini.


"Maaf tuan, karena ini sudah jam delapan malam lewat, maka saya tidak bisa menerima tamu laki-laki, jadi silahkan duduk saja di sini." menunjuk kursi di teras rumahnya. yang kebetulan memang untuk tamu yang berkunjung sebentar saja.


Mereka duduk saling bersebrangan, saling terdiam, belum ada yang memulai percakapan, bahkan terlihat Vio sedang meremas kedua tangannya.


Rey memicingkan matanya, menunggu kata-kata apa yang akan keluar dari mulut Vio.


"Ehmm kalau boleh tahu ada urusan apa ya tuan anda datang kemari?"


"Tak usah berpura-pura lagi."


"Katakan, katakan kenapa kamu mengambil keputusan sebesar ini, dan sangat nekat?"


"Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu mudah?"


"Hah tidak nona." Rey mengucapkan dengan nada halus, namun menekan kata-katanya.


"Ap..apa maksud anda tuan, saya rasa saya sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan anda." Vio tergagap, membuang muka kearah yang lain.


"Jika sedang berbicara, tataplah lawan bicaranya." suara datar Rey membuat nyali Vio menciut.


"Jika tidak ada hal lain lagi anda bisa pergi dari sini tuan, saya masih banyak pekerjaan." tolak halus Vio memberanikan diri menatap mata Elang Rey.


"Hah..., lucu sekali, aku diusir oleh istriku sendiri."


"Katakan dengan benar, apa Adit ikut bersekongkol denganmu?" nada bicara Rey terdengar mengintimidasi.

__ADS_1


"Hah apa yang anda bicarakan tuan, saya rasa saya sudah tidak ada urusan apa-apa lagi dengan anda."


"Karena saya sudah bukan istri anda lagi."


"Apa kau bilang," Rey berdiri dari duduknya, melihat pergerakan Rey yang berdiri otomatis membuat tubuh Vio ikut berdiri, dan melihat pergerakan langkah kaki Rey yang berjalan mendekatinya.


"Jangan marah jangan marah jangan marah." dalam hati Vio komat kamit, namun tak mampu ia ucapkan dengan mulutnya, bahkan mata Vio terpejam takut menerima kemarahan lebih dari Rey, namun setelah dipikir-pikir, atas dasar apa Vio takut dengan Rey,"Ini sudah benar, iya keputusanmu sudah benar Vio, meninggalkan pria beristri, dan menjauh dari bayang-bayangnya." Vio perang dengan batinnya sendiri.


"Apa yang ingin anda lakukan tuan, sudah saya katakan jika saya sudah bukan tanggungjawab tuan lagi, saya sudah bercerai dengan anda tuan, dan saya tidak membawa harta kekayaan anda sepeser pun."


Rey tertawa hingga membuat bahunya terguncang, apa lagi kini langkah kakinya semakin mendekati dimana ia sedang berdiri.


"Sayangnya itu terjadi nyonya Rey yang terhormat, dan tidak akan pernah terjadi." bisiknya pelan ditelinga Vio membuatnya merinding hingga Vio memejamkan matanya.


"Maksud anda apa tuan?"


"Dio..." panggil Rey pada sang bodyguard berkebangsaan Jerman itu berjalan tergesa dengan membawa dokumen ditangannya, untung saja tadi Rey membawa benda berharganya jika Vio akan menyangkalnya.


Sepertinya hal ini sudah Rey prediksi sejak awal, hingga membuatnya mengantisipasi hal seperti ini telah terjadi.


"Ini bisa kau lihat nyonya Rey." Vio bahkan ingin sekali tertawa melihat wajah terkejut Vio.


Menerima file ditangannya yang berisi dokumen gugatan cerai, namun sama sekali tidak pernah ia tanda tangani, dan hingga saat ini masih tercatat disipil jika mereka masih berstatus suami istri.


Vio yang baru saja melihatnya begitu shock, hingga lutut kakinya terasa lemas, dan terduduk kembali, bahkan laporan uang bulanan Vio masih Rey transfer di setiap bulan, pada jam dan tanggal yang sama.


Tetapi sayangnya tidak pernah sekali oun Vio gunakan, hingga membuat dirinya tidak mengetahui akan hal itu. Begitu pun sama dengan Rey, Vio tidak bisa terlacak olehnya karena semua akses melalui ponsel, dan nomor sudah ia ganti, dan ATM pemberian Rey tidak pernah ia gunakan.


Ketegangan jelas terjadi diantara dua orang yang baru saja bertemu itu, Vio masih terdiam memikirkan apa yang baru saja terjadi.


"Jika sampai Adit terlibat dalam hal ini, maka kau tahu, aku akan mengirimnya ke negara Antartika."


"Tidak tidak, Adit sama sekali tidak terlibat dalam hal ini, kau jangan salah sangka." Vio menjadi gusar sendiri. Sekarang langkah apa yang akan ia ambil jika sudah begini.


Sayup sayup terdengar suara tangisan bayi berumur dua tahun itu, mencari dirinya.


Vio dan Rey saling pandang, hingga detik berikutnya Vio berlari masuk kedalam meninggalkan Rey sendirian di teras rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2