WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Revi dan Chris


__ADS_3

"Baiklah iya, kau tinggal di Butik saja,"


"Biar bagaimana pun aku tak setuju jika kau pindah dari sana."


"Kenapa? bukankah aku memberatkanmu, jadi aku rasa perlu kerja dan mandiri."


"Aku tak bisa lagi terus-terusan bergantung padamu."


"Hemm iya, tapi aku sama sekali tidak merasa keberatan."


"Apa maksud kamu?"


"Apa mulai detik ini juga omongan kamu tak bisa dipercaya?" mata Vio mendongak, menatap tajam Adit bagaikan elang yang siap memangsa lawannya.


"Kau salah paham, niatku hanya nanti ketika Revi cepat besar, dia akan aktif berlari kesana kemari, dan akan lebih bagus pertumbuhannya jika suatu rumah memiliki halaman."


Vio terdiam sejenak, memikirkan ucapan Adit baru saja, jika dengan alasan demikian, maka Vio bisa menerimanya.


"Baiklah aku bisa menerimanya jika itu alasannya, tapi untuk saat ini aku masih belum siap."


"Hemm baiklah aku tak akan memaksamu lagi, tapi tolong jangan pindah dari Butik ku, nanti siapa yang akan mengurusnya, sementara aku sudah mempercayakannya penuh padamu."


"Ck, itu hanya alasanmu saja." Vio mendengus kesal.


Sore hari telah tiba, Vio sudah di diperbolehkan pulang, dan saat ini masih tinggal di Butik Adit, setelah tadi siang melewati perdebatan sengit, belum lagi jika Adit menghadapi tuan Rey dan juga tuan kecil yang apa-apa meminta pendapatnya.


"Iya tuan hallo?" tanya Adit kala saat ini sedang menemani Vio dan baby Revi.


Seketika Adit berjalan menjauh, karena takut mengganggu baby R yang sedang terlelap di alam mimpinya. Selain itu jika tuan Rey mendengarkan suara tangisan bayi akan membuatnya semakin curiga dan permasalahan akan menjadi semakin rumit.


"Kau tahu, jika Chris setiap hari selalu berceloteh kangen dengan sosok seorang ibu, sehingga dia berhalusinasi memiliki adik perempuan."


"Bahkan dalam mimpinya dia sedang bermain dan memanggil nama adik perempuannya."


Mendengar hal demikian membuat sekujur tubuh Adit menegang, aliran darahnya seakan berhenti berjalan, degup jantungnya semakin memburu. Namun berusaha ia tahan.


"Hah mungkin itu kode darinya tuan, jika anda harus segera mencari pengganti nyonya." jawab Adit setelah berhasil menguasai diri.


"Bisa tidak bicaramu itu tidak ngawur, ingin sekali aku menyumpal mulutmu." suara Rey dari seberang sana bersungut-sungut. Mungkin jika saat ini Adit berada dihadapannya entahlah apa yang terjadi.


"Hah..., saya hanya memberikan solusi saja tuan, itu pun juga jika anda berkenan."

__ADS_1


"Besuk apa kamu masih cuti? atau sudah masuk kantor?" tanya Rey mengalihkan pembicaraan yang tadi sempat menegang diantara keduanya.


"Saya tuan?"


"Tentu saja kamu, memangnya pada siapa lagi aku saat ini berbicara?" ketus Rey.


Padahal Adit saat ini masih menata detak jantungnya yang tadi sempat menegang, mengenai pembicaraan soal ibu baru untuk Chris.


***


.


.


"Siapa yang baru saja menelponmu?"


"Apa itu tuan Rey."


"Hemm..., sudahlah tak usah kau pikirkan, kau urus saja baby R." Adit tak ingin membuat Vio banyak pikiran, dan menjadikannya stres.


"Oh iya apa kau sudah mengabari Chris? jika adiknya sudah lahir?" tanya Vio.


"Belum, mungkin besuk saja jika sekalian aku menjemputnya pulang sekolah."


"Besuk aku akan membawanya kemari,"


"Baiklah, aku tunggu, semoga anak itu tidak keceplosan cerita ke ayahnya."


"Hemm."


"Sekarang kamu istirahatlah, aku akan meneruskan pekerjaanku."


"Iy iya iya sana pergilah, aku rasa kamu butuh sesekali healing kemana begitu, agar dalam otakmu itu isinya tidak bekerja bekerja dan bekerja."


"Aku tak pernah mengeluh soal hal itu, ini memang duniaku."


"Ehmm iya aku percaya."


Vio mengambil ponsel yang terletak di atas meja nakas di samping dirinya, lalu mengotak atik dan mengambil potert baby R. Berbagai gaya tidur baby R bahkan Vio potret dan ia dokumentasikan dalam bentuk sebuah album kenangan, khusus putri kecilnya, lengkap dengan tanggal pengambilan gambar dan juga cerita singkat disampingnya.


Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa baby R sudah berusia dua tahun setengah, bahkan kemana saja Adit membawanya, ia mengaku jika ini adalah anak dari saudaranya, namun Rey sendiri belum pernah melihatnya.

__ADS_1


"Jangan lupa weekend nanti ada pertemuan dengan tuan Aldo." kini Rey kembali mengingatkan.


"Apakah tidak bisa diganti harinya tuan?"


"Kenapa?" Rey mendongak, menatap wajah Adit yang sepertinya keberatan.


"Tidak, saya hanya butuh istirahat saja tuan." Adit berkilah.


"Hanya pertemuan biasa, aku rasa kau sudah biasa menghadapinya di akhir pekan seperti ini kan." Rey kembali beralih menatap dokumen dihadapannya dan tangannya tidak berhenti memberikan coretan-coretan yang sangat berharga, bahkan hanya dengan coretan tangannya saja semuanya akan berjalan mulus, dan bernilai miliaran hingga triliunan.


"Baiklah tuan."


Padahal Adit sudah ada janji dengan Revi putri kecil Vio, jika Adit akan mengajaknya ke taman bermain di akhir pekan nanti.


"Ini sudah siang, sebentar lagi waktunya Chris pulang."


Chris bahkan kini sudah kelas dua sekolah dasar. Hari-hari yang dilalui Chris pun masih sama seperti dulu, setelah pulang sekolah dirinya akan mampir ke rumah Vio.


Setelah kelahiran Revi, selang satu bulan Vio pindah dan memiliki tempat tinggal barunya, ia masih di percaya mengelola butiknya Adit. Namun rancangan rancangan yang ia buat, Vio kerjakan di rumah sambil mengurus putrinya, setelah selesai akan di kirim lewat email oleh pegawai Adit dan diteruskan menjadi bentuk pakaian yang indah.


"Kenapa om Adit lama sekali?" tanya Chris dengan mengerucutkan bibirnya.


"Tanyakan saja pada Papa anda tuan?"


"Dia yang memberikanku banyak pekerjaan."


Adit berjalan beriringan, menuju mobilnya, dan membukakan pintu untuk Chris. Lalu dirinya memutari mobilnya dan duduk di kursi kemudi.


"Semoga saja terus seperti ini." batin Adit, ia berharap tuan Rey tidak mengetahui kebiasaan kebiasaan dirinya dengan Chris. Karena jika sampai itu semua terjadi, maka semuanya akan terbongkar hal yang selama ini Vio rahasiakan, bahkan keadaan dirinya sekali pun. Sekarang ini masih aman mengenai data-data keberadaan Vio, karena tentu saja ada campur tangan Adit, yang menutupi identitas asli Vio.


Namun itu semua tidak menjamin selamanya Vio aman dalam jangkauan tuan Rey. "Om Adit, nanti aku ingin membelikan adik kecil es krim boleh?" tanya Chris menoleh pada Adit.


"Anda tanyakan saja pada Bunda Vio tuan." jawab Adit datar, matanya fokus melihat jalanan depan yang tidak begitu ramai. Karena orang pekerja kantoran rata-rata menaiki sepeda, bukan kendaraan bermotor atau mobil. Kalaupun ada juga jarang jarang.


"Baiklah, tapi nanti jadi kan, jalan-jalannya diakhir pekan?" tanya Chris lagi. Kini bicaranya sedikit demi sedikit sudah tidak cadel lagi.


Itu semua juga berkat bimbingan Vio, biasanya sepulang sekolah Chris akan mampir ke rumah Vio untuk makan siang dan juga tidur siang sebentar, dan Vio akan membacakan buku cerita hingga Chris terlelap dalam tidurnya.


"Sudah sampai, ayo tuan."


"Hallo adik Revi..., kakak pulang." seru Chris berlari mengejar adiknya yang berjalan tertatih tatih itu...

__ADS_1


Vio menyambut dengan senyuman hangat,


__ADS_2