WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Perjalanan


__ADS_3

Sampai dirumah, Adit memberitahu kepala pelayan dirumah itu yang bernama Afon, untuk memerintahkan dua orang pelayan yang bertugas mengemas pakaian tuan Rey dan istrinya.


"Perintahkan dua pelayan untuk mengemas barang-barang tuan Rey dan nyonya Angel."


"Baik tuan Adit,"


Adit mengisyaratkan dengan bahasa tubuhnya jika perintahnya bisa di laksanakan sekarang.


Adit juga menghubungi dokter Rica, dokter kandungan yang memeriksa Angel. Dokter Rica di tempatkan pada pasien VIP karena sudah memiliki sertifikasi kelayakan penanganan pasien.


Sehingga Adit merekomendasikan dokter Rica yang bertugas menangani Angel dari beberapa bulan lalu, semenjak Angel di ketahui sedang mengandung.


"Aku sedang banyak pasien."


"Apa di Bali tidak ada dokter lagi selain membawa dokter dari sini." Bantah dokter Rica.


"Tak ada bantahan, jika kau masih ingin bekerja di rumah sakit milik keluarga Faras, maka turuti semua perintahku."


Sambungan telepon dimatikan sepihak. Hal itu membuat Rica mengumpat sendiri.


"Dasar tuh mulut asisten Adit, mintak di olesi sambel mulutnya, bicaranya sangat pedas sekali."


Namun tak urung jua akhirnya dengan terpaksa Dokter Rica ikut terbang bersama mereka.


Sementara di rumah besar yang bagaikan istana itu dua orang pelayan sedang di buat sibuk oleh barang-barang Angel dan juga tuan Rey.


"Dirimu bersiaplah."


Angel yang saat itu baru bangun dari tidur siangnya di kejutkan oleh suaminya yang pulang lebih cepat dari biasannya.


"Kamu akan mengajakku kemana?"


"Kenapa menata koper segala " Angel bertanya karena melihat dua buah koper yang sudah siap itu.


"Nanti saja aku ceritakan, sekarang tak ada waktu."


Tuan Rey lebih dulu berganti pakaian setelah mandi dan hanya menggunakan handuknya saja yang ia gunakan sebatas pinggang, hingga memperlihatkan dada bidangnya.


Sementara asisten Adit sedang menunggu di dalam ruang kerja tuan Rey, dalam situasi seperti ini tentu dirinya juga akan kena imbasnya.


Bagaimana tidak, Adit akan di buat bingung oleh tuannya, karena kepergian Vio.


***


"Apa semuanya sudah siap?" Tanya tuan Rey memandang Adit dengan wajah datarnya tanpa ekspresi.


"Semua sudah siap, Dokter Rica juga sudah menunggu di bandara."


"Bagaimana dengan dokumen-dokumen yang perlu di bawa?"


"Saya rasa sudah tak ada yang tertinggal tuan, karena sudah saya simpan di hardisk file nya."

__ADS_1


"Baiklah, kita berangkat sekarang."


Adit di buat bingung setengah mati, dirinya mau menanyakan hal mengenai tempat tinggal Angel dan juga dirinya. Namun ia masih ragu untuk menanyakannya. Bagaimana mungkin dirinya menanyakan hal ini, sementara saat ini tuannya sedang bersama istri pertamanya.


"Tidurlah jika dirimu lelah."


"Tidak, ini pertama kalinya kau mengajakku jalan ke tempat yang jauh."


"Aku akan menikmati perjalanan ini." Angel sangat antusias pada perjalanan kali ini. Pasalnya suaminya ini sangat sibuk, hingga tak sempat mengajaknya jalan berdua ke suatu tempat, atau mengunjungi negara lainnya.


"Baiklah, Adit mampir di mini market, belanjakan beberapa snack."


"Baik tuan."


Mereka pergi menuju bandara di antar oleh sopir pribadi tuan Rey. Adit sudah tahu kenapa dirinya diminta berbelanja mengenai ini.


Tentu saja tuannya ini tak akan membiarkan istrinya kelaparan saat perjalanan nanti, dirinya juga tahu apa saja yang akan ia beli nanti.


"Apa tak ada yang lain lagi tuan, pesanan anda, atau nyonya Angel mungkin."


"Tidak, aku rasa tak membutuhkan apa pun." Seru Angel.


"Baiklah kalau begitu saya akan masuk sebentar tuan, nyonya." Adit keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki mini market itu.


"Apa kamu merasa tak nyaman?" Tanya tuan Rey pada Angel, sepertinya raut wajahnya menunjukkan ke khawatiran pada istrinya.


"Aku tidak apa-apa, kamu jangan berlebihan." Perdebatan-perdebatan kecil seperti ini selalu saja terjadi pada mereka berdua. Bahkan tidak mengenal waktu dan tidak mengenal tempat. Tuan Rey yang banyak aturan dan posesif dan Angel yang merasakan perhatian suaminya ini terlalu berlebihan.


"Aku hanya mau memastikan calon anakku nyaman saja."


Seketika mata tajam Angel menyorotnya, "Tak usah memandangku seperti itu."


Niat hati Angel akan protes pada suaminya, namun malah nyalinya sendiri yang menciut melihat ekspresi suaminya ini.


Tuan Rey memasangkan bantal di sisi pinggir kaca di sebelah Angel, agar Angel merasa nyaman saat perjalanan jauh.


"Perjalanan masih jauh, posisikan dirimu dengan nyaman." Ucapnya datar tak ingin di bantah.


Sementara Angel hanya diam saja menuruti kata-kata suaminya, dirinya hanya ingin sebuah ketenangan, dari pada berdebat soal hal-hal sepele lebih baik menurutinya saja kan. Begitulah pikir Angel yang simpel dan tak mau ribet.


Asisten Adit muncul dengan membawa kantong kresek di tangan kanan dan juga kirinya, terlihat sedang kesusahan membawa barang belanjaannya, dan menaruh di bagasi belakang.


"Sepertinya kamu membeli seluruh isi mini market itu." Sindir tuan Rey pedas, terdengar menjengkelkan. Setelah Adit memposisikan tubuhnya di kursi penumpang sebelah pengemudi itu.


"Saya hanya mengantisipasi kemungkinan hal lain terjadi tuan." Adit memandang tuan Rey dari arah spion.


Tuan Rey menyeringai tipis, dan mengangkat sebelah alisnya. Hingga keningnya membentuk sebuah kerutan.


"Jangan sampai kau merasa direpotkan oleh Angel."


Tau saja jika Adit khawatir direpotkan oleh permintaan istrinya itu, seperti cenayang saja bisa membaca pikiran orang.

__ADS_1


Adit hanya diam saja tak menjawab tebakan tuan Rey, dirinya harus menebalkan telinganya saat ini.


Angel yang duduk di sebelahnya hanya mendengarkan percakapan dua orang itu, "Apa aku akan banyak merepotkan kalian."


"Tidak nona, anda tak usah banyak berfikir banyak hal." Jawab Adit dari depan. Bisa berabe urusannya jika Angel ngambek nanti, menurutnya ngambeknya ibu hamil lebih seram dari pada menghadapi sepuluh klien yang sulit ia taklukan.


Adit berbicara demikian juga mencari aman untuk dirinya saja. Terserah dengan urusan tuannya ini.


"Apa aku akan merepotkan kamu?" Menoleh pada suaminya lalu detik berikutnya sudah mengeluarkan air matanya dengan deras.


Awalnya tuan Rey hanya melirik Angel sekilas. Namun setelah mendengarkan tiba-tiba saja Angel menangis dengan sesenggukan dirinya juga sama paniknya dengan Adit rupanya.


"Siapa yang bilang kau merepotkan aku."


"Sudah tidurlah, jangan banyak memikirkan hal yang tak penting." Mengambil kepala istrinya, mendekapnya lembut dan memberikan ketenangan di sana.


"Oh Tuhan benar-benar sensitif sekali wanita hamil ini." Batin Tuan Rey menenangkan dirinya sendiri. Baru kali ini dirinya seumur-umur takut dengan wanita. Yaitu wanita hamil yang sangat sensitif perasaanya.


"Huh rasain, punya istri satu saja tak cukup, begitulah jika memiliki banyak istri." Adit memandang tuannya dari spion dan mengumpatinya.


Pandangan tuan Rey ke arah spion itu berubah horor, dirinya tahu jika sedang ditertawakan Adit dalam hati.


"Kau tak usah mengumpatiku."


Suara itu mengagetkan Adit yang sedang berdiam diri di depan sana. Sopir yang berada di belakangnya merasa hawa dingin dan bulu kuduknya terasa berdiri semua.


Suasana tegang menyelimuti dua orang itu, untung saja Angel sudah memejamkan matanya. Tuan Rey berani bersuara seperti itu juga karena tadi dirinya mengintip Angel sekilas.


"Anda jangan salah paham tuan."


"Aku hanya sedang memikirkan anda dan nona Angel akan tinggal dimana." Elaknya berkilah.


"Benarkah, jika itu yang kamu pikirkan saat ini, maka aku akan tinggal di Mansionku."


Seketika Adit yang semula duduk bersandar menegakkan punggungnya, kaget sudah pasti. Tapi bagaimana bisa dua istri tinggal satu atap, Adit tak bisa membayangkan kemungkinan lain yang akan terjadi nanti.


"Apa anda tidak salah tuan."


"Memangnya kenapa." Tuan Rey menanggapi dengan santai. Dirinya menutup ke dua telinga Angel agar tak mendengarkan pembicaraan dirinya dan juga Adit saat ini.


"Lagi pula dia tak ada di rumah saat ini, jika dia kembali, aku rasa kami tahu apa tugasmu."


Oh Tuhan benar-benar sepertinya Adit akan mati muda dibuatnya oleh bosnya sendiri.


Dirinya saja pacar tak punya, tetapi sudah di buat pusing dua istri bosnya. Semakin tak ada cita-cita untuk menikah saja dirinya jika tahu keribetan dalam menjalani rumah tangga.


"Baiklah tuan, akan saya pikirkan nanti."


dan


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2