WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Buah Plum


__ADS_3

"Lumayan." Adit membeo, pasalnya sudah bersusah payah dirinya membuat makanan yang diminta oleh tuannya.


"Duduklah, jika kau berdiri seperti master Chef sedang tes masakan hasil olahannya sendiri."


"Hah baiklah tuan." Adit duduk di kursi tunggal di samping Rey.


"Kau tahu, besuk-besuk lagi kau buatkan aku makanan seperti ini," Rey menjeda ucapannya sejenak.


"Sepertinya mulai saat ini aku mulai menyukai makanan yang berasal dari Korea Selatan ini."


"Saya tidak janji tuan, namun akan saya usahakan."


Adit menatap Rey serius, bibirnya bergetar ingin mengatakan sesuatu. "Tuan..."


Rey menoleh setelah menyelesaikan acara makannya, mengambil tisu dan mengelap mulutnya.


"Apa yang mau kau katakan?"


"Bolehkan saya ijin ke tempat teman saya tuan?" tanya Adit.


"Memangnya dimana tempat teman kamu?"


Rey bertanya dengan suara datar, fokusnya kembali pada ponselnya.


"Tidak jauh dari sini tuan."


"Hemm baiklah, cepatlah kembali jika sudah selesai, dan jangan lupa tugasmu menjemput Chris."


"Baiklah tuan, kalau begitu saya pamit undur diri."


***


.


.


"Kau tahu, aku mencari buah yang kau inginkan ini harus berkeliling kota Tokyo baru dapat." Adit mengomel ketika baru saja datang membawa beberapa paper bag berisi buah pesanan Vio.


"Benarkah, lalu mana buahnya?"


"Ini lihatlah tanganku, kau harus membuatku senang."


"Bagaimana caranya membuatmu senang, sedangkan aku sendiri dalam suasana hati yang kurang baik."


"Itu sangat mudah, tinggal kau makan dan habiskan semua buah-buah pesananmu ini, maka itu sudah cukup membuatku senang." ucap Adit.


"Baiklah siniin." belum juga Adit menaruh paper bag itu, tapi sudah lebih dulu direbut oleh yang pesan.


"Aku jadi seperti memiliki anak kecil yang ketika sepulang kerja membelikan sesuatu untuk anaknya."


"Hah ngawur saja kau bicaranya."


Adit malah fokus melihat Vio yang sangat antusias ketika membuka satu persatu isi dari paper bag itu.


"Kau memang bisa diandalkan, sepertinya jika kau memiliki istri nanti kamu memang lelaki idaman."


"Makannya jadilah istriku, jika mau tidak hanya makanan saja yang kau minta, apa pun yang kau minta akan aku penuhi, walaupun aku tidak sekaya tuan Rey."


"Ck, kau mau mengkhianati tuanmu sendiri." cibir Vio mendongak menatap wajah Adit kesal.

__ADS_1


"Aku berbicara serius."


Namun Vio menatap mata Adit dengan pandangan intens, disana dirinya tidak menemukan kebohongan sedikit pun, yang ada hanya wajah serius Adit.


"Tidak aku tak mau."


"Kenapa?"


"Apa kamu takut ketahuan tuan Rey?"


"Tidak, misalnya aku tidak takut, bagaimana caranya kamu akan menikahiku?" tantang Vio, dirinya menaruh kembali paper bag diatas meja.


"Aku akan membuatnya dia mau menandatangani surat perceraian yang kau ajukan waktu itu."


"Lalu?"


"Lalu aku akan menikahimu diam-diam, dan membawamu pindah dari negara ini."


"Lalu apakah kamu akan selamanya silent, sementara kamu bekerja dengannya?"


"Aku akan mengajukan suray resign dan kita bisa memulai usaha kita sendiri."


"Kenapa kamu tertawa? memangnya ada yang lucu?" tanya Adit yang melihat ekspresi Vio diluar dugaannya.


"Kau tahu kan jika aku bukan wanita singel lagi, seandainya itu dulu sebelum aku hamil, mungkin aku akan mengiyakan tawaranmu, tapi."


"Aku akan menerima anak itu, aku menyayanginya bahkan sebelum dia lahir."


"Kau tahu, kalau selama ini akulah yang mencarikan keinginannya selama dia memiliki kemauan."


"Ck, percaya diri sekali kamu ini."


"Kau tahu, kalau wanita simpanan itu bahkan hampir tak diakui." Vio berujar dengan miris, mengingat siapa dirinya sendiri.


"Aku sudah tahu, dan aku mau menerimanya apa adanya."


"Tapi sayangnya aku tidak."


"Aku akan fokus pada anakku, dan kamu fokus carilah wanita singel yang jauh lebih baik dari pada aku."


"Sudahlah jangan paksa aku lagi, lebih baik kau makan saja buah pesananmu tadi pagi, aku akan pergi ke lantai atas." Adit pergi meninggalkan Vio sendirian diruang santai, saat ini Adit membuka usaha butik yang dikepalai oleh Vio baru saja.


Setelah Adit menawarinya dirinya untuk mengelola butik yang baru saja dibuka sekitar dua minggu itu. Butik yang dibangun Adit berdiri tidak jauh dari kebun anggur, namun jaraknya lumayan, sekitar setengah jam baru sampai.


Bangunan butik itu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, memiliki tiga lantai, lantai satu dan dua berisi berbagai jenis pakaian musim dingin dan panas, sedangkan lantai tiganya sebagai tempat tinggal. Tujuan Adit hanya untuk kalangan masyarakat dari menengah ke atas. Adit sendiri memilih Vio sebagai pengelola utamanya, karena memang Vio sudah memiliki pengalaman di bidangnya.


Namun untuk perancangnya dari orang yang berkompeten di bidangnya, "Usahanya memang tidak pernah gagal, bahkan dalam hal-hal seperti ini," gumam Vio dengan mulutnya yang penuh.


Pasalnya Vio sangat senang karena mendapatkan buah Plum warna kuning, namun Adit malah membelikannya berwarna hitam, merah dan juga kuning.


"Sudah kau makan?"


"Hemm ini enak sekali, kamu harus coba, ini yang warna kuning juicy banget tahu."


"Tidak, untukmu semua saja." wajah datar Adit kembali lagi dalam mode on.


"Baiklah kalau kau tak mau, jangan menyesal jika aku habiskan semua."


"Habiskan saja, jika ada akan aku belikan lagi."

__ADS_1


"Baiklah aku tagih janji kamu baru saja."


"Ck, menyebalkan sama saja dengan suaminya itu."


"Gemar sekali menyiksaku."


"Aku mendengarnya, jika mau mengumpat jangan di hadapanku."


"Hemm iyah, baiklah karena kamu sudah mendengarnya aku beritahu saja sekalian."


"Kau tahu kalau hari ini aku disiksa dua orang suami istri yang sedang mengidam."


Wajah kesal Adit malah membuat Vio tertawa semakin keras, bahkan terlihat punggungnya bergetar.


"Biasa saja tak usah menertawakanku seperti itu."


"Habisnya kamu lucu, memangnya disiksa bagaimana?"


"Ah sudahlah aku jadi malas jika membahasnya lagi."


"Yah..., padahal aku sudah siap mendengarkan."


Vio terlihat kecewa dengan Adit yang tidak jadi bercerita. "Jam berapa ini."


"Oh Tuhan aku lupa jika aku haru menjemput tuan kecil."


"Sebentar." Adit berjalan keluar ruangan dengan tergesa lalu pergi menjemput Chris.


"Semoga saja tuan kecil tidak mengomel karena terlalu lama menunggu."


Sepanjang perjalanan Adit merapalkan doa-doa yang dia bisa, tidak berapa lama sampai disekolah Chris.


"Silahkan tuan."


"Hah Om payah." cibir Chris mengerucutkan bibirnya lucu.


"Payah bagaimana?"


"Aku bahkan hampil dua jam menunggu Om Adit tau."


"Maafkan saya tuan kecil,"


"Besuk-besuk lagi tidak boleh telambat."


"Baik tuan maaf."


"Om tau calanya bial Chlis maafin?"


"Apa tuan?"


"Bawa aku ke tempat bunda."


"Hah baiklah, tapi tidak boleh lama-lama."


"Oke..."


Chris menyetujui dan akhirnya Adit membelokkan mobilnya menuju butiknya dimana Vio berada.


"Jika sudah waktunya pulang anda harus pulang tuan."

__ADS_1


"Sudah tahu." suara cemprengnya membuat sakit di gendang telinga Adit.


__ADS_2