
Adit hanya terdiam saja mendengarkan ocehan Rey yang sepertinya sudah mulai menimbulkan kekawatiran.
"Berikan padaku, apa kartu asnya?"
"Di memiliki dendam pribadi dengan nona tuan,"
"Jangan basa basi katakan dengan jelas."
"Dia telah membantu kedua orang tuanya untuk mencapai ambisi, menguasai seluruh perusahaan yang seharusnya menjadi milik nona Vio tuan."
"Apa dia tidak mendapatkan bagiannya?"
"Sudah mendapatkan bagiannya sendiri bahkan tiga puluh lima persen dari saham yang dimiliki kedua orang tua angkat nona Vio, saya rasa jumlah segitu tidak sedikit tuan."
"Tetapi sekarang anda sudah berhasil mengakuisi sebesar tuju puluh lima persen,"
"Saya rasa anda lah bosnya di sana sekarang."
"Gantikan namanya dengan nama Vio."
"Tapi tuan..."
" Lakukan saja apa yang aku perintahkan."
Belum sempat juga Adit akan melontarkan ucapan protesnya namun Rey tak mau dibantah, sekali bicara harus segera dilaksanakan.
"Baik tuan, jika begitu."
"Apa ada hal lain tuan yang perlu anda bicarakan?"
"Nanti malam siapkan hadiah khusus untuk Vio, aku rasa sudah saatnya memberikan apa yang dia inginkan sekarang."
"Baik tuan, jika sudah tidak ada yang anda bicarakan, saya pamit undur diri."
Rey mengangguk, dan fokusnya kembali pada MacBook di tangannya.
🌷🌷🌷
Hari sudah menunjukkan pukul tiga sore, hari ini pekerjaan Rey ia selesaikan lebih cepat dari biasanya.
Rey pulang kerumah dengan sopir pribadinya, "Dimana baby Chris?" tanya Rey pada suster Ana yang tak sengaja berpapasan di ruang tamu. Tas kerjanya dan juga jasnya diambil alih oleh kepala pelayan.
"Anda sudah pulang tuan."
"Aku tak suka mengulangi ucapanku, apa kau bisa menjawab dengan baik."
"Oh itu, maa... maafkan saya tuan, tuan muda sedang berada di kamarnya tuan bersama nyonya." jawab suster Ana tergagap, melihat mata tajam Rey.
Rey segera melesat dari hadapan suster Ana, untuk melihat putra semata wayangnya ini.
Ceklekk...
terdengar suara pintu dibuka dari luar, "Aku memintamu membawakan minuman hangat, kenapa kamu kembali lebih cepat, apa kau tak mendengarku." bentak Angel yang dikira suster Ana.
"Suster Ana, kenapa kamu diam saja tak menjawab?"
__ADS_1
"Dia sedang berada di dapur, mana baby Chris." Rey yang baru saja tiba, berjalan menuju ranjang yang ditempati baby Chris dan juga Angel itu.
"Ehhh ka...kamu, kapan kamu tiba?"
"Aku baru saja tiba, bagaimana keadaan baby Chris, ketika tak ada diriku kemaren?" tanyanya pada Angel yang sok perhatian itu.
"Dia baik-baik saja, dan menjadi anak yang luar biasa pengertian ketika tak di dampingi daddynya."
Rey mendekat, dan mengangkat tubuh mungil yang masih lemah itu, menimang dengan penuh kasih sayang, layaknya seorang ayah pada anaknya.
"Apa kamu baik-baik saja?"
"Ehmmm iya, seperti yang kamu lihat."
Angel mencium bau parfum lain, parfum yang tidak biasa ketika dipake suaminya pergi ke kantor. Namun ia berusaha menepis hal-hal buruk yang bersarang dibenaknya.
"Apa kamu menginginkan sesuatu?"
"Jika iya aku akan turun kebawah."
"Tidak, kau istirahatlah, nanti aku bisa menyiapkan sendiri."
Bukan karena Rey tak mau di siapkan segala sesuatunya oleh Angel, namun ia berfikir jika Angel sangat kelelahan menjaga putranya itu.
"Aku nanti malam acara di luar, kamu hanya perlu menyiapkan baju yang akan aku pakai saja."
"Hemm baiklah, baju yang resmi apa semi formal?" tanya Angel yang mulai bangkit dari duduknya.
"Semi formal."
"Iya, karena disana akan ada banyak klien, ini pertemuan diluar kantor, jadi menggunakan pakaian santai."
Angel hanya ber oh saja, dan menganggukkan kepalanya. Berjalan menuju kamar utama dan menyiapkan segala sesuatu yang diminta oleh suaminya tadi. Belum ada sedikitpun rasa curiga.
"Kamulah harapan daddy, kau tau jika sudah besar nanti kamu harus tumbuh menjadi lelaki yang kuat,"
"Kelak kau akan meneruskan usaha daddy saat ini, anak emas daddy." ucapnya pada putra semata wayangnya yang pipinya terlihat chubby itu.
Angel yang tak sengaja mendengarnya tersenyum simpul, "Harapanmu terlalu besar padanya,"
"Memang harus begitu, bukankah wajar harapan orang tua pada anaknya." Rey menjawab dengan fokusnya masih tak teralihkan memandang wajah mungil di hadapannya.
"Ehmmm iya kau benar, ehh tapi ngomong-ngomong kenapa kamu menjadi sibuk, hingga tak bisa pulang."
"Ehhmm iya, karena memang banyak proyek baru yang harus di tangani."
"Kedepannya waktuku akan terbagi,"
"Jadi kamu harus terbiasa menangani baby Chris tanpaku."
"Apa ada yang kau butuhkan?" tanya Rey lagi.
"Aku rasa tidak, bawa sini baby Chris."
"Kau mandilah dulu sana."
__ADS_1
Entah kenapa perasaan Angel menjadi tidak enak, tetapi ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Angel berusaha menepisnya. Namun rasa gelisah masih saja menghinggapi dihatinya.
Rey menyerahkan baby Chris ke tangan Angel, mencium keningnya dengan sayang,"Hanya dia yang kau cium."
Tanpa menjawab protes Angel, Rey beralih mencium kening Angel juga, dan berlalu dari hadapan mereka.
"Oh Tuhan, kenapa perasaanku menjadi tak nyaman." gumam Angel.
🌷🌷🌷
"Aku pergi dulu, kalian jaga diri baik-baik, mungkin aku tak akan pulang malam ini."
"Tak pulang," ulang Angel, wajahnya berubah pias menahan rasa kesal dihatinya, namun ia tidak berani protes.
"Iya, aku harus menemani tamu untuk begadang malam ini."
Mendengarkan kata tamu Angel tak jadi berpikiran macam-macam, padahal tamunya istri mudanya.
Angel mencium kening baby Chris dan mengulangnya pada Angel. Lalu berlalu dari hadapan ibu dan anak itu.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya Adit yang malam ini menjemput dirinya untuk pergi ke suatu tempat yang sebelumnya sudah di reservasi.
"Kenapa memangnya?" tanya Rey memandang wajah Adit dibalik kaca spion.
"Tidak tuan, apa nyonya Angel dan tuan muda baik-baik saja?"
"Mereka baik-baik saja," Rey menjawab singkat lalu membuka benda persegi dibalik saku mantelnya. Karena malam ini udara mendadak sangat dingin, sehingga dirinya tadi menggunakan mantel.
"Kenapa kamu, aku kira siapa?" tanya Vio yang saat ini melihat suaminya yang baru saja tiba.
"Memangnya kau mengharapkan siapa yang datang?"
"Tentu saja aku, apa jangan-jangan..."
"Tidak, tidak begitu maksud aku, aku kira Fani atau siapa, kau jangan berfikiran macam-macam."
"Benarkah, kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan?" tanya Rey seperti mengintimidasi lawannya.
"Tentu saja tidak," reflek Vio memeluk erat tubuh atletis Rey dan mencium pipi, turun ke bibirnya.
"Aku tadi hanya tidak menyangka saja jika kau yang datang, biasanya kan kamu habiskan dengan Angel waktu kamu."
Seketika amarah Rey mereda, mendapatkan pelukan dan ciuman tidak terduga itu. "Sayang apa malam ini kita akan bersama lagi?" tanya Vio manja.
"Menurutmu?"
"Kamu hanya akan menemani makan malam saja, lalu setelahnya akan pulang."
"Iya kan..."
"Tidak, ayo sini duduklah."
Adit hanya akan menjadi nyamuk saja jika berlama-lama disana, maka dari itu dirinya pamit pada dua orang yang sedang dimabuk asmara, untuk pergi mengecek helikopter buat perjalanan mereka malam ini.
dan
__ADS_1
Bersambung