
"Kemana perginya dia." Vio yang baru saja membuka matanya menjelang pagi setengah siang, berharap jika yang pertama ia lihat adalah suaminya, tetapi hal itu malah membuatnya kecewa.
"Oh iya istrinya kan ada di sini, mana ada dia mau menginap di sini semalaman." Vio.
Vio berjalan dengan langkah gontai menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Selesai dengan rutinitasnya merawat diri, keluar dari sana dan melihat meja makan. Di sana ada tudung saji diatas meja. Vio menghampiri dan membuka tudung saji diatas meja. Ternyata sudah ada aneka masakan di sana.
"Hah ternyata Adit pengertian juga, lebih pengertian dari si buaya darat itu." Yang ia sebut adalah tuan Rey.
"Sungguh tak dapat dipungkiri jika masakannya sangat enak, sayang sekali dia masih jomblo." Vio masih terus bergumam sendiri.
"Andai saja aku yang jadi istrinya, pasti bangun tidur sudah tersaji aneka menu di atas meja, oh bahagianya aku "
"Oh tidak, bagaimana bisa aku berpikiran konyol seperti ini," Vio menoyor kepalanya sendiri.
"Baiklah, nikmati saja jadi istri simpanan Vio, sampai kau merasa lelah dengan jalan hidupmu, lalu jika kau sudah bosan, kau bisa memintanya untuk berpisah." Vio bermonolog, sambil menyendok makanan yang sudah ia ambil diatas piring ke dalam mulutnya.
Kemana perginya tuan Rey, Vio tak mau pusing dengan hal itu, dia harus membentengi hatinya, agar tak jatuh cinta ke pelukan tuan Rey, walau kenyataanya saat ini dirinya sudah jatuh ke pelukannya, tetapi jangan menggunakan hati, hatinya hanya untuk istri pertamanya, dan Vio adalah pemuas nafsunya, begitulah kira-kira isi pikiran Vio saat ini.
***
Saat ini Angel sudah dipindahkan di ruang perawatan kelas vvip, selesai melakukan operasi, dan tuan Rey merawat bayinya dan juga Angel.
"Mana bayiku?" Tanya Angel memandang wajah suaminya iba, "Kau istirahatlah dulu, apa kau tak lelah, soal dia biar aku yang mengurus."
"Tapi aku ingin melihatnya."
Rey menoleh kearah istrinya dengan pandangan mengisyaratkan tak mau di bantah dan di ulangi lagi omongannya, hal itu membuat nyali Angel menciut.
"Baiklah aku akan istirahat dulu." Angel menciut sendiri melihat pandangan air muka tuan Rey yang tak biasa itu.
"Hemmm."
Angel berpura-pura memejamkan matanya, walau hatinya risau ingin melihat putranya, ahh bahkan dirinya sudah membayangkan akan setampan suaminya atau bahkan wajahnya mirip dengan dirinya.
Hal itu membuat Angel gelisah tak karuan. "Kenapa kau terus bergerak?" "Diamlah, itu tak baik untuk bekas operasi kamu."
"Maafkan aku, tapi aku tak bisa memejamkan matamu."
"Kau baru saja melakukan operasi, aku tak suka mengulangi kata-kataku."
__ADS_1
"Baiklah, baik." Angel akhirnya menurut, padahal dirinya berencana membangkang.
Tok....!!!! tok....
Terdengar suara ketukan pintu dari luar,"Masuk."
Ceklek...pintu terbuka dari luar, Adit masuk dengan membawa satu buah paper bag yang tadi di Minta oleh Rey. Dan juga setumpuk file yang memerlukan tanda tangan darinya.
"Ini baju ganti anda tuan." Adit sambil menyerahkan sebuah paper bag itu.
"Hemmm, duduklah, aku perlu bicara denganmu."
Adit mengikuti perintah Rey, duduk di sofa tunggal di dalam ruangan perawatan Angel.
"Ehmmm tuan." Tanya Adit ragu.
"Bicaralah, apa yang ingin kau katakan."
"Tadi ada telepon dari tuan Aldo, jika tuan Aldo dan istrinya ingin menjenguk nyonya tuan."
Rey hanya mengangguk tipis sebagai jawabannya, "Ehmm apa anda tak keberatan?"
"Sudahlah biarkan saja mereka kemari."
Tuan Rey masih tak memalingkan wajahnya dari setumpuk file yang ada di depannya, "Bagaimana dengan penjualan produk di hari pertama?"
"Sepertinya banyak yang tertarik tuan, setelah di lakukan promosi di beberapa titik di kota."
"Ehmm ya bisa perluas lagi mengenai ini, selanjutnya kita adakan pertemuan lanjutan dengan para petinggi perusahaan."
"Baiklah tuan."
"Apakah ada lagi tuan, karena jika tidak saya akan kembali ke kantor."
"Aku rasa tidak, kau bisa kembali sekarang."
Adit pamit undur diri dari sana, lalu berjalan keluar membawa kembali beberapa berkas yang sudah mendapatkan tanda pengesahan dari bosnya itu.
"Ck jika bersama nyonya saja ia pura-pura hilang ingatan mengenai nona Vio."
"Sungguh payah sekali, memiliki dua istri membuatnya bingung membagi waktu." Adit jadi nyinyir sendiri mengenai kehidupan tuan Rey. Jika ada orangnya mana berani dirinya berbicara sembarangan seperti ini, sudah pasti akan dimasukkan dikandang harimau dan akan menjadi incaran harimau kesayangan tuan Rey.
__ADS_1
Sore hari telah tiba, tetapi tak menyurutkan aktivitas di rumah sakit elit yang terletak di jantung kota, mereka melakukan kegiatan sesuai dengan tugasnya masing-masing.
Dihari yang itu juga tuan Aldo dan juga istrinya yaitu Via mengunjungi rumah sakit dimana Angel dirawat, karena tadi pagi Via sempat menelpon Angel, tetapi yang mengangkat malah pak Sun kepala pelayan dirumahnya.
Sehingga Via mendapatkan kabar kelahiran ini dari pak Sun, dan langsung memberikan kabar bahagia ini ke suaminya.
"Selamat sore nyonya Angel, bagaimana kabar anda dan anak anda?" Tanya Via setelah tadi sempat mengetuk pintu sebelum masuk, dan saat ini sudah berada di dalam ruangan.
"Wah nyonya Aldo dan tuan Aldo, kabar saya baik nyonya tuan."
"Mana putra kalian?"
"Masih di dalam ruang perawatan bersama suster." Jawab Rey datar.
"Baiklah, mari silahkan duduk." Rey.
Cara menyambut tamu tuan Rey saja sangat datar, sudah dapat dipastikan jika Rey orangnya tidak suka basa basi, dan langsung pada intinya.
"Mohon maaf merepotkan tuan, dengan datang kemari."
"Anda adalah orang yang sangat hebat tuan, memiliki kerajaan bisnis yang luar biasa dan juga putra yang akan menjadi masa depan anda dan keluarga anda."
"Ehmm iya kami sangat bersyukur mengenai hal itu."
"Oh iya tuan, berkat jasa model yang anda pilih itu sangat menguntungkan untuk produk baru kita."
"Terlihat dari statistik perhitungan, baru sehari saja sudah naik dengan signifikan, dan melebihi yang di targetkan."
Aldo sangat mengagumi dengan ketampanan dan juga kemapanan tuan Rey, bahkan dirinya saja sudah tampan, tetapi masih mengakui jika tuan Rey orang yang sangat ideal dalam hal apa pun.
"Mungkin itu sebuah anugerah."
Ketika orang lain dipuji mungkin akan sangat senang, berbeda dengan tuan Rey, ketika di puji seperti itu malah kelihatan tidak senang, hal ini lantaran Vio yang menjadi modelnya, bahkan jika bisa ia akan menghapus foto Vio dari semua sampul produknya.
Lantaran ia tak mau kecantikan Vio di lihat oleh banyak orang, dan hal itu membuatnya tak senang, bisa dibilang sangat cemburu.
"Bahkan aku tak setuju dengan model pilihan mereka." Tuan Rey tersenyum getir.
"Bagaimana mungkin tuan?" Tanya Aldo penasaran.
dan
__ADS_1
Bersambung