
Namun tak urung juga Adit menuruti permintaan Rey.
Anata wa setsubō shite imasu sā?(apa anda sedang mengidam tuan?"
Rey memicingkan matanya pada pemilik kebun mangga, "Sono imi wa?" (maksudnya?)
A, sumimasen, anata no okusan no kotodesu? (Ah maaf tuan maksud saya istri anda?" )
Tanya pemilik kebun tersebut, dari pada panjang urusannya Rey hanya mengangguk saja.
"Sukinadake totte kudasai." (Ambillah sepuas yang anda mau tuan." )
Kini sudah mendapatkan lampu hijau dari pemiliknya, maka Rey segera menyuruh Adit untuk mengambil sebisanya. Sementara Adit yang berada diatas sana hanya memilih random saja. Mana yang dekat dengan jangkauannya maka itulah yang ia petik.
Kemudian dirasa kantong plastiknya sudah penuh Adit segera turun, "Hey bahkan ini belum penuh kenapa kamu sudah turun saja." omel Rey melihat kantong plastik di tangan Adit.
"Apa segini masih kurang tuan?" tanya Adit shock.
"Ehmm iya, kamu penuhi saja kantong plastiknya, tadi kata pemiliknya begitu."
Adit menepuk jidatnya sendiri ketika membelakangi Rey posisi Adit, "Oh Tuhan kenapa tuan Rey yang sangat berwibawa menjadi tidak tahu malu begini." gumam Adit sangat pelan, dengan terpaksa dirinya menaiki pohon mangga untuk yang ke dua kalinya. Untuk memenuhi permintaan bosnya ini.
"Kamu memang hebat, bisa memanjat setinggi itu." Rey memberikan pujian dengan antusias.
"Ehmm iya tuan, jangan lupa berterimakasih pada pemiliknya," sergah Adit. Dirinya sudah begitu lelah pagi-pagi sudah mendapatkan pekerjaan yang melelahkan.
Setelah mereka berpamitan dan berterimakasih pada pemilik kebun, lalu kembali ke Villa utama.
Merek berjalan beriringan dengan Adit mengekor dibelakang Rey dan membawa kantong plastik berisi buah mangga muda.
"Anda habis dari mana tuan Adit dan tuan Rey?" tanya tuan Aldo yang nampaknya sedang santai di aula depan.
Adit hanya diam saja tak menjawab pertanyaan Aldo, dirinya terdiam sambil melirik ke arah Rey. "Saya tuan?" akhirnya Adit menunjuk dirinya sendiri.
"Habis mencari mangga muda tuan Aldo." sahut Rey akhirnya.
"Wahh siapa yang mengidam?" tanya tuan Aldo penasaran.
"Tidak ada, hanya ingin saja." jawab Rey datar.
"Wahh dulu istri saya ketika mengidam juga setiap hari saya memanjat pohon buah mangga milik tetangga saya tuan, saya jadi teringat ketika waktu muda saya." Aldo berasa masih muda kembali ketika membicarakan soal mangga muda.
"Benarkah?" apa hanya orang mengidam saja yang boleh makan mangga muda tuan?" celetuk Adit.
"Kalau setahu saya orang yang mengidam sukanya makan yang asam-asam tuan, seperti jeruk nipis, buah asam, dan salah satunya mangga muda ini, atau buah yang masih asam rasanya." jelas Aldo.
Aldo sendiri mengetahui jika istri Rey Angel sudah meninggal, sehingga dirinya tidak berani bertanya begitu jauh mengenai istri dan kehidupan Rey pribadi.
"Baiklah saya permisi tuan Aldo, silahkan anda bersantai dulu." pamit Rey.
__ADS_1
Aldo hanya mengangguk sopan, mempersilahkan Rey pergi dari sana dengan tanda lewat tangannya.
"Mau diapakan mangga sebanyak ini tuan?"
"Tentu saja dimakan, memangnya kamu pikir buat di sayur." ketus Rey.
"Ah saya pikir tuan..."
"Cepat kupas sekarang, aku tunggu diruanganku."
"Dan jangan lupa bawakan kecapnya."
"Baiklah tuan tunggu sebentar."
***
.
.
"Ah yang benar saja, aku seperti seorang suami yang sedang menuruti istrinya yang sedang mengidam saja." gerutu Adit, sambil tangannya mengupas mangga dan memotongnya dalam bentuk memanjang, karena nanti sepertinya akan dimakan dengan kecap manis.
"Bagaimana kabar anak itu, bahkan sejak semalam aku belum menghubunginya." Adit bergumam sendiri sambil menyelesaikan pekerjaannya.
"Adit cepatlah, kenapa kamu lama sekali."
Bahkan sejak tadi ketika dirinya baru sampai di kebun mangga sudah membuat air liur Rey rasanya ingin menetas. Namun masih bisa ia tahan, rasanya ia ingin menggigit saat itu juga jika tidak mengingat ada getahnya.
"Oh Tuhan, berilah hamba stok kesabaran yang banyak." gumam Adit lagi, berjalan keluar menuju dimana Rey berada.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Kenapa mengupas mangga saja begitu lama sekali?"
"Hampir satu jam lebih aku menunggumu."
"Ah yang benar saja tuan? ini silahkan tuan."
"Hemmm."
Rey hanya melihatnya saja membuatnya antusias, lalu melahapnya hingga tanda satu piring mangga muda penuh yang tadi di potong-potong bentuknya memanjang.
"Ambilakan lagi." mengangkat piringnya ke arah Adit, bahkan Adit sampai dibuat terkejut.
"Tuan ini satu piring lebih, dan berisi tiga buah mangga, nanti perut anda akan sakit tuan."
"Tidak aku masih menginginkannya lagi, jangan banyak bicara, aku tak mau lagi mengulangi kata-kataku." bentaknya pada Adit yang sejak tadi mengamati cara makannya membuat air liurnya ikut menetas karena rasa asamnya.
"Baiklah tuan, saya akan kembali beberapa menit lagi."
__ADS_1
Kali ini Adit tidak mengupasnya sendiri, melainkan meminta bantuan pada dua maid di Villa utama itu, agar Rey tak meneriakinya lagi dan membuatnya menunggu terlalu lama.
"Ini tuan." Adit sudah kembali lagi dengan satu piring penuh buah mangga.
"Untuk saat ini hanya makanan ini yang membuatku lebih baik." kata Rey, tangannya mengulur mengambil buah mangga potongan dan segera melahapnya lagi.
"Ah anda sangat kuat dengan makanan asam tuan."
"Cobalah jika kamu ingin." mulut Rey penuh seperti sedang makan piza yang rasanya lezat.
"Tidak tuan terimakasih."
"Kamu belum pernah mencicipinya, cobalah sedikit saja." Rey memaksa Adit, memakan buah mangga yang tersaji diatas piring itu, siapa saja yang melihatnya akan membuat air liurnya menetas hanya dengan melihatnya saja.
"Ah tidak tuan buat anda saja."
Namun terlambat, bukan Rey namanya jika tidak memaksa anak buahnya untuk menuruti kemauannya. "Ahh tuan ini menyiksa lidahku." Adit sangat tidak tahan asam.
"Menyiksa lidahmu bagaimana, ini sangat enak."
"Apa lidahmu itu kebalik,"
"Bukan lidahku yang kebalik tuan, tapi lidah anda." batin Adit menjerit.
Adit baru menjilatnya saja sudah tidak tahan dengan rasa asam, bagaimana dengan Rey yang bahkan hampir habis dua piring penuh. Itu artinya setara dengan enam buah, buah mangga muda ukuran sedang.
"Tuan saya pamit kebelakang sebentar tuan." Adit beralasan pamit dari hadapan Rey.
"Akhirnya bisa melarikan diri juag." memegangi dadanya yang berdebar di setiap dekat dengan Rey, takut jika Rey melakukan hal gila lebih dari ini.
"Ada apa tuan?" Akash yang tiba-tiba saja muncul.
"Tidak ada." wajah Adit kembali datar tanpa ekspresi.
"Apa pekerja hari ini masuk?"
"Iya tuan, sedang memupuk buah anggur yang berada dilereng bawah."
"Hemm baiklah pergi sana, lanjutkan lagi tugas kamu, nanti aku akan memanggilmu lagi jika ada perlu. "
"Baiklah tuan saya permisi dulu."
"Hemmm."
Adit berjalan menuju tengah-tengah perkebunan yang terdapat gazebo, "Disini akan lebih baik jika berhadapan di depan bos membuatku pening kepala."
Bagi Adit lebih baik dirinya diberi tugas segudang, atau menghadapi klien yang sulit ditaklukan dari pada harus berhadapan dengan sikap Rey yang aneh.
"Ah aku baru ingat dengan anak itu." Adit merogoh ponselnya dan menenangkan nomor ponsel Vio.
__ADS_1