WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Taman Hiburan


__ADS_3

Selepas mematikan ponselnya, tuan Rey memejamkan matanya sebentar, tangannya bertumpu di atas meja, sepertinya dirinya hari ini akan tidur di ruang kerjanya saja, dari pada suasana merasakan suasana hati yang kurang baik, takutnya nanti malah menyakiti Angel dan calon anaknya, pikirnya.


Malam ini pikirannya bercabang-cabang, dirinya sangat mencintai gadis kecil itu, tetapi juga sangan menyayangi cslon anaknya, tak ada alasan untuk meninggalkan Angel, apalagi Angel sedang mengandung buah hatinya saat ini.


"Adit, tambahkan orang-orangmu untuk mengikuti kemana pun Vio pergi." Setelah melakukan panggilan pada asistennya Adit.


"Baik tuan sesuai perintah anda."


Lalu sambungan telepon ditutup sepihak. Bosnya seharusnya bahagia memiliki dua istri yang sangat cantik-cantik. Tetapi kenapa malah bingung sendiri, batin Adit bermonolog. Adit bisa berpendapat seperti itu karena dirinya belum pernah memiliki pacar, walaupun hanya sebentar, tidak pernah di repotkan oleh seorang perempuan, mungkin jika pernah memiliki pacar dan melihat kerempongan seorang perempuan, dirinya akan pikir-pikir lagi untuk menikah muda.


Pada hal Adit bercita-cita menikah muda, satu pun tak ada perempuan yang tertarik padanya, bukan perempuan yang tak tertarik padanya, tetapi dirinyalah yang belum tertarik dengan perempuan.


Padahal banyak perempuan yang tergila-gila padanya, Adit tampan, memiliki tubuh yang peroposional, dan memiliki karir yang bagus, tetapi dirinya bukan bos utama di perusahaan. Tetapi Adit dan tuan Rey di anggap oleh kaum hawa sebelas dua belas karena bentuk tubuh dan ketampanan mereka.


Hari ini Vio akan menginap di rumah Fani, tempat tinggalnya dulu saat dirinya bersama dengan Fani. Hanya Fani lah teman satu-satunya yang saat dirinya menjadi gelandangan, karena di usir oleh keluarganya dari rumah, saat itu dirinya keluar rumah dengan tak membawa apa-apa, hanya pakaian saja yang ia bawa.


Vio pergi dari kotanya menuju ke kota sebelah, hanya bermodalkan tabungannya selama ia menjadi penjaga toko di kampungnya dulu. Vio dulu di temukan oleh sepasang wanita dan lelaki paruh baya di di pinggir jalan, saat ibu Indy akan pergi ke pesta bersama suaminya pak Edy.


Mereka merupakan pasangan suami istri yang tak di karuniai anak. Betapa senangnya mereka saat itu menemukan bayi dipinggir jalan, di semak-semak. Lalu ibu Indy dan pak Edy melapor pada warga, dan di sahkan oleh warga setempat untuk mengadopsi bayi yang ditemukan mereka.


Hingga Vio duduk di bangku sekolah menengah atas, usaha pak Edy bangkrut, dan ibu Indy terkena serangan Stroke. Semua keluarganya menyalahkan Vio. Karena kehadirannya membawa dampak buruk untuk keluarga mereka, terutama ayah dan ibunya Mia yang sangat serakah itu.


Sebenarnya bukan bangkrut usahanya pak Edy, tetapi hanya pengalihan beberapa persen saham atas nama ayahnya Mia, dengan kelicikan pria paruh baya itu.


Hingga suatu hari pak Edy dinyatakan oleh komisaris pemegang saham, jika dirinya tak layak lagi menjadi pimpinan perusahaan itu.Padahal saat itu Vio sedang akan lulus sekolah menengah atas.


Pupus sudah harapannya saat itu hingga saat acara perpisahan sekolah, Mia yang seumuran dengannya telah bersekongkol dengan pria tua, berencana akan menjual Vio saat itu, tetapi nasibnya masih baik walaupun apes.


Karena saat itu yang tidur dengannya bukannya pria tua, tetapi pria matang yang sangat tampan dan penuh kharisma. Itu semua terjadi akibat salah memasuki kamar karena nomor pada kamar itu terbalik.


Sebelum dirinya di usir dari keluarganya, Vio lebih dulu menyaksikan ibunya meninggal, tak ada yang tahu detik-detik meninggalnya ibu Indy, dam saat dirinya di usir oleh keluarganya Mia, saat itu juga ayahnya menyusul kepergian ibunya, bahkan dirinya mengetahui ini semua dari sekretaris papa angkatnya yang bernama Yudha.


Sejak saat itu dirinya tak punya siapa-siapa lagi, dan harus bekerja keras untuk memenuhi hidupnya, bahkan sempat menjadi wanita panggilan beberapa kali,namun sialnya malah tuan Rey lagi yang ia layani, tetapi mungkin dirinya melupakan malam pertama dengan tuan Rey saat dirinya di jebak oleh Mia pada saat itu.


Prinsip Vio hanya satu, bekerja keras dan tak menoleh kebelakang, hari esuk harus lebih baik dari pada hari ini. Sehingga pekerjaan apa saja dirinya ambil walaupun sempat terjerumus ke dalam lembah hitam.


Kehidupan Vio yang keras, membuat kepribadiannya sangat keras, dan tak suka di atur, dirinya tak mau di tindas oleh siapa saja, sekali pun itu bosnya sendiri, tetapi sialnya bosnya adalah suaminya.


"Hallo Fan, aku akan ke rumahmu, kamu di rumah kan malam ini?" Tanya Vio bertubi-tubi tanpa henti, bahkan tak memberikan ruang untuk Fani menjawab pertanyaannya. Saat mereka melakukan panggilan telepon.


"Hei kamu ini mau bertanya apa mau wawancara?" Kesal Fani pada Vio.


Yang ditanya balik malah menyengir kuda seperti tak ada salah saja.


"Baiklah dengarkan aku, aku ingin ke rumahmu sekarang, apa kamu ada dirumah?"


"Ehmmm iya, silahkan saja jika kamu mau kesini."

__ADS_1


"Aku tahu jika ada orang yang sedang kesepian dan butuh teman curhat."


"Hei kamu menyindirku iya." Suara kencang Vio sangat memekik telinga Fani, hingga terasa berdenging.


"Kamu ini bisa tidak bicara itu yang baik-baik, dan tak usah berteriak seperti ini." Fani.


"Sorry kalau aku membuat telingamu tak nyaman."


"Bukan hanya tak nyaman, tetapi suaramu lebih mirip seperti petir."


"Enak saja suaraku seperti petir, tidak tahu saja jika aku ini pandai bernyanyi."


"Ck...mana ada suara kayak panci di tabuh begitu dibilang pandai menyanyi."


"Baiklah terserah kamu saja mau percaya atau tidak, aku tutup dulu teleponnya, dan aku mau jalan sekarang."


Sambungan telepon di putus sepihak, padahal belum sempat Fani membalas Vio. Untung saja dirinya di rumah saat ini, jika tidak, sudah pasti akan kecele tak menemukan siapa-siapa.


Fani menggelengkan kepalannya melihat tingkah Vio ini, memang Vio yang tak suka di atur, tetapi ketika dirinya mendapatkan suami yang pengatur akan seperti ini jadinya.


Fani sedang rebahan di ranjang kamarnya, tak berapa lama Vio datang mengetuk pintu rumahnya.


"Fani buka pintunya Fan." Teriaknya dari luar rumah Fani.


"Ck...kamu ini selalu saja berteriak, ingin sekali aku menyumpal mulutmu itu dengan cabai. "


"Apa kamu kamu bilang, enak saja menyumpal mulut orang." Vio nyelonong masuk tanpa di persilahkan oleh si tuan rumahnya.


"Kamu ini baru datang, bukannya membawa oleh-oleh, malah mintak yang aneh-aneh saja."


"Aku tak mau tahu pokoknya aku ingin makan ayam geprek buatanmu dengan cabai yang banyak."


"Apa imbalannya jika aku memasak untukmu." Fani berjalan ke arah dapur, walaupun kesal dengan Vio tetapi dirinya tak tega, karena sepertinya suasana hati Vio sedang memburuk.


"Bilang saja apa yang kamu mau." Jawab Vio enteng, dirinya menscroll layar ponselnya, di sana melihat model tas dari merek terkenal dengan keluaran terbaru.


"Aku ingin pergi ke taman hiburan malam ini."


"Ck...seperti anak kecil saja, baiklah jika hanya itu, nanti aku akan membawamu kesana."


"Hei di sana ada banyak permainan seru tahu," kata Fani sambil membuka kulkasnya, dan mengeluarkan isinya.


Sedangkan Vio mengekor dari belakang, dan duduk di meja makan menunggu Fani memasak.


"Mainan apa yang kamu idam-idamkan?"


"Mainan bianglala yang seperti anak kecil itu." Vio mencibir Fani.

__ADS_1


"Sudahlah pokoknya aku ingin ke sana, ingin membeli permen kapas dan marsmallow."


Padahal Fani hanya memancing Vio saja, supaya dirinya terhibur dan melupakan kemarahannya, Fani juga tahu kalau permen kapas dan marsmallow adalah makanan kesukaan Vio. Sehingga saat Fani menyebutkan dua makanan manis yang lebih di sukai anak-anak itu, Vio langsung mendongak dan menyahut dengan antusias.


"Benarkah, baiklah aku mau." Ucap Vio, pikirannya menerawang membayangkan dua makanan manis itu.


"Katanya tadi mau, apa sekarang sudah berubah pikiran."


"Iya itu tadi, karena aku belum memutuskan saja, sekarang aku sudah memutuskan."


"Cielah alasan saja kamu ini."


Vio malah cuek dan membuka kembali layar ponselnya. Dirinya mendapatkan pesan yang membuat moodnya jadi berantakan.


"Jangan sembarang keluar dengan orang, jangan tidur terlalu malam," dan masih banyak lagi larangan untuk dirinya.Vio hanya membaca dan tak berniat membalas pesan singkat itu.


Beberapa menit kemudian makanan sudah tersaji di depannya, Vio makan seperti orang kesetanan saja,jika sedang kesal bahkan makam cabai ulek dalam porsi besar.


"Pelan-pelan saja kenapa makannya." Fani.


"Aku sedang ingin makan orang." Kata Vio judes.


"Dari pada aku makan orang, lebih baik aku makan saja cabai yang banyak."


Fani yang duduk di depannya baru melihatnya saja sudah terasa perih perutnya, apa lagi yang memakan segitu lahapnya.


"Aku tak punya obat sakit perut, jika terjadi sesuatu padamu."


"Aku tak peduli, biarkan saja aku mati sekalian, karena tak ada yang menyayangiku di dunia ini."


"Kamu jangan berbicara sembarangan, jika aku tak menyayangimu, aku tak akan mau kamu suruh masak begini."


"Hanya kamu yang menyayangiku." Lanjutnya.


"Kamu tak usah berputus asa seperti itu, aku tak mau kamu mati konyol di rumahku, lalu arwahmu gentayangan menghantui aku."


"Tak akan."


"Sudahlah habiskan, lalu kita pergi ke taman bermain setelah kamu makan."


Tak ada jawaban dari Vio, dirinya menghabiskan makannya yang tadi di request ke Fani, lalu bersiap akan pergi ke taman hiburan bersama Fani kali ini.


Tuan Rey yang merebahkan dirinya di sofa ruang kerja tak dapat memejamkan matanya, namun malah mendapatkan kiriman foto-foto Vio, jika Vio saat ini sedang keluar bersama Fani, dan di sana sempat di sapa oleh beberapa laki-laki, dan sepertinya sangat akrab.


Seketika itu tuan Rey seperti orang yang kebakaran jenggotnya, ingin marah juga tak bisa melampiaskan kemarahannya pada orangnya, sehingga dirinya lebih memilih menghubungi seseorang di sana yang bertugas mengawasi Vio, pokonya tidak boleh lengah barang sedikit pun.


dan

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa Like, Komen, dan share iya


__ADS_2