
Hari penyambutan kepulangan Angel telah berjalan lancar. Semua orang tentu saja menyambut suka cita akan datangnya calon anggota baru di tengah-tengah keluarga besar mereka.
"Kamu tunggu aku di ruang kerja saja." Perintahnya pada asisten Adit.
Lalu dirinya berjalan memasuki lift yang terhubung ke kamarnya. Mengantarkan istrinya terlebih dahulu sebelum keluar menyusul Adit.
"Aku masih ada urusan pekerjaan."
"Jangan menungguku, jika sudah mengantuk tidurlah."
Setelah menyampaikan hal itu dirinya keluar dan turun lagi ke bawah menuju ruang kerja dimana Adit tadi telah menunggu dirinya.
Seluruh keluarga besar sudah kembali setelah acara selesai, seluruh pelayan sibuk membersihkan ruangan yang tadi menjadi tempat acara penyambutan.
Tuan Rey memasuki ruang kerjanya dan duduk di kursi sofa, menunggu hal apa yang akan di bicarakan oleh Adit.
"Katakan."
Perintahnya pada Adit yang kini sudah duduk berhadap-hadapan.
"Maafkan kelalaian kami tuan, sebagian data penting di kantor telah di retas oleh orang tak di kenal."
Seketika itu tuan Rey yang awalnya duduk santai, mendongak menatap tajam wajah Adit, seperti singa yang siap memangsa musuhnya. Wajahnya berubah merah padam dan mengepalkan buku jemarinya hingga memutih.
Tetapi hal itu masih mampu ia tahan. Biarlah Adit yang mengerjakan ini, nanti sisanya dirinya sendiri jika Adit sudah di ambang batas kemampuannya.
"Sejak kapan?"
"Baru tadi pagi tuan, seorang karyawan bagian administrasi telah melapor pada kami."
Tanpa banyak kata tuan Rey berdiri, membuka sendiri laptop yang ada di depannya dan mengecek yang ada di sana. Ternyata benar adanya jika sebagian data itu sudah tidak bisa lagi di tampilkan di layar komputer, karena sudah di masuki hacker.
"Kamu kenali dulu virus jenis ini, setelahnya kamu bisa mengembalikan data-data perusahaan." Tuan Rey.
"Baik tuan."
"Aku memberimu waktu satu kali dua puluh empat jam."
Adit mengangguk mengerti, "Kalau begitu ijinkan saya menginap di sini tuan, agar seperempat waktu saya tidak terbuang."
"Terserah kamu saja." Tuan Rey membebaskan Adit tidur di rumah besarnya jika dirinya dirumah dan menyangkut soal pekerjaan.
"Apa lagi?" Tanya tuan Rey ketika dirinya menoleh ke arah Adit, seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Apa anda tak ada rencana untuk kembali lagi ke Bali tuan."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Ehmmm tidak, hanya saja bagaimana dengan perusahaan anak cabang di sana?"
"Itu akan menjadi bagian dari tugasmu."
Berat sekali sepertinya tugas Adit ini, selain mengurus perusahaan tentu saja mengurus kedua istri bosnya.
"Baiklah, lalu bagaimana dengan nyonya muda Vio tuan?"
"Kalau itu tak usah kamu pikirkan," Menekankan kata-katanya di akhir kalimat.
Adit mengangguk dan kembali melanjutkan tugasnya, agar cepat selesai dan dirinya bisa beristirahat lebih cepat.
Tetapi itu hanya ekspektasinya saja, kenyataannya di dalam sana masih ada tuan Rey yang menyelesaikan sisa pekerjaannya.
Waktu memasuki dini hari, barulah tuan Rey keluar ruangan. Dirinya kembali ke kamar dan menyusul Angel yang sudah terlelap di alam mimpinya.
Begitu memasuki kamarnya dirinya tidak langsung tidur, tetapi membersihkan diri dulu, barulah dirinya bersiap memasuki alam mimpi.
Mungkin dirinya tidur hanya beberapa jam saja. Karena pagi sebelum Angel bangun dirinya sudah bersiap akan ke kantor.
Hari ini dirinya ada pertemuan dengan klien, sehingga tak boleh terlambat datang. Adit yang semalam menginap di rumahnya sudah menunggunya setengah jam yang lalu.
"Anda sudah siap tuan."
"Aku sudah di depanmu, tentu saja sudah siap." Jawab tuan Rey datar. Berjalan mendahului Adit.
Oh pertanyaan konyol apa tadi, batin Adit merasa dirinya bodoh. Hingga dirinya baru menyadari jika sudah tertinggal jauh jalannya dengan bosnya.
"Kopi anda tuan" Ucap sekretaris itu sambil menaruh di meja di depannya.
Dirinya hanya mengangguk mengisyaratkan untuk menaruh di mejanya.
"Permisi tuan, tuan Aldo sudah sampai di depan."
"Ehmm iya, baiklah." Belum sempat dirinya menyesap kopinya, tamunya sudah datang.
Dirinya berjalan keluar menyusul Adit, sepertinya meeting kali ini sangat penting hingga dirinya datang begitu pagi dan bahkan tak sempat sarapan terlebih dulu.
"Selamat pagi tuan Aldo." Sapanya berjabat tangan dan mempersilahkan duduk kolega bisnisnya ini.
"Pagi juga, senang bisa bertemu anda kembali tuan."
Lalu mereka duduk dan membahas persetujuan hasil akhir dari produk yang akan mereka keluarkan. Kali ini yang akan mereka luncurkan dari produk barunya adalah sampo dengan aroma campuran teh.
"Baiklah tuan, bolehkah kapan hari jika anda ke Bali, memberitahu kami, agar kami bisa mengundang anda makan malam."
"Semua bisa di atur, dalam waktu dekat ini saya belum bisa meninggalkan istri saya."
__ADS_1
"Baiklah jika begitu, saya pamit undur diri tuan."
Aldo kembali lagi bersama asistennya. Di dalam mobil dirinya masih memikirkan tuan Rey, betapa wibawanya dan sangat tampan lelaki itu, andai saja belum menikah sudah pasti akan menjodohkan dengan putrinya.
Sungguh menantu idaman para calon mertua, bagaimana tidak tuan Rey menjadi pemimpin yang loyal, dan memiliki resistensinya sendiri.
"Bagaimana menurutmu dengan tuan Rey?" Tanya tuan Aldo pada asistennya.
"Dia sangat ambisius dan sulit di tebak." Kata asisten tuan Aldo memberikan pendapatnya.
Sedangkan tuan Aldo menganggukkan kepalanya setuju dengan pendapat asistennya ini.
Walaupun usianya sudah matang tetapi tetap kelihatan tampan dan bijaksana. Semua itu terlihat dari aura yang terpancar dari dalam tuan Rey.
Ketika tuan Rey memasuki ruangannya, Adit mengikutinya dari belakang.
"Apa?"
Mendudukkan tubuhnya, sementara Adit berdiri di sampingnya.
"Apakah saya perlu mencari model untuk produk kita tuan?"
"Ehmm iya secepatnya kau cari kompeten dan berpengalaman dalam hal ini, karena minggu depan harus finished produksi kita.
"Baiklah tuan secepatnya anda akan mendapatkan hasilnya."
Sementara itu Adit membicarakan ini melalui zoomeeting dengan bawahannya yang berada di Bali.
Tentu saja staf bagian desain yang akan menyelesaikan ini, Adit hanya memimpin rapat selanjutnya setelah dapat kepercayaan dari tuan Rey.
Staf yang memegang bagian sampul produk masih bingung mencari model siapa, namun melihat temannya ada wallpaper seorang gadis cantik, langsung saja dirinya mengajukan sebuah pertanyaan.
"Siapa wanita yang ada di ponselmu itu?"
"Dia temanku masa kecil, kenapa?"
"Bisakah aku meminta tolong padamu, ini urgen untuk sebuah sampul produk kami,"
"Maksud kamu, aku ingin menghubungi teman wanitaku untuk menjadikan modelmu begitu?" Raga.
"Ehmm iya dugaan kamu tepat sekali." Rahsya.
"Ayolah hitung-hitung bantu aku, kalau aku tak berhasil menyelesaikan target bulan ini, maka bonusku tak akan cair," Rayunya.
"Baiklah apa kompensasi yang kau berikan padaku?"
"Apa saja yang kau minta." Rahsya.
__ADS_1
Lalu Raga me menghubungi Vio yang kemaren hari saat bertemu sudah bertukar nomor, tetapi dirinya masih sibuk sehingga belum sempat menghubungi Vio.
dan