
Jam satu dini hari Rey mengendari mobilnya menuju penthouse Vio berada, tanpa mempedulikan satpam yang berjaga malam tadi memanggil namanya.
Dalam waktu kurang lebih dua puluh menit saja sudah sampai, karena jalanan tengah malam sepi di tambah Rey mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Rey sudah hafal dengan sandi apartemen Vio, hingga membuatnya masuk dengan mudah.
"Kau selalu saja membuatku khawatir kelinci kecilku." Rey masuk menelusup kedalam selimut Rey.
Vio yang sudah terlelap di alam mimpinya tidak begitu mempedulikan siapa yang telah menganggu tidurnya, pasalnya Rey telah menciumi seluruh wajahnya dan terakhir di bibir manisnya.
"Annnggh." Vio melenguh dalam tidurnya, pasalnya dirinya seperti sedang bermimpi di timpa sesuatu yang berat. Membuat tidurnya terganggu. Hingga tangannya memukul-mukul dada bidang Rey.
"Uhhh...uhhh akan kubalas kau." desis Vio masih dengan mata terpejam.
"Kau tidur tapi kenapa seperti sedang ingin meninju seseorang." kesal Rey memegang erat tangan Vio.
🌷🌷🌷
.
.
Pagi hari, Vio bangun terlambat, akibat kelelahan jalan-jalan semalam dengan Adit.
"Semalam kau pulang jam berapa?" saat Rey menyajikan segelas susu dan juga roti bakar isi coklat kesukaan Vio, dan menaruh di hadapan Vio.
"Aku lupa, karena aku tak melihat jam." jawab Vio santai.
"Tak seharusnya kau keluyuran malam-malam dengan lelaki yang bukan suami kamu." Rey berapi-api.
"Terserah kamu saja, kalau ingin marah, pulanglah jangan kemari dulu, aku tak mau menampung amarahmu disini." Vio mengambil segelas susu dan menyesapnya.
"Aku memberitahumu."
"Aku tak butuh ocehanmu." ketus Vio.
Vio malah berdiri mengambil segelas susunya dan juga rotinya, membawanya masuk kedalam kamar lalu menguncinya dari dalam.
"Kau mau kemana, aku belum selesai bicara?" teriak Rey sayangnya tak di indahkan oleh Vio.
"Biarkan saja dia marah-marah tak jelas, aku akan membalasnya." Vio kembali memakan roti bakarnya cuek dan meminum susunya. Lalu mencari keberadaan ponselnya.
Rey yang sangat kesal karena diabaikan, menggedor pintu tak sabaran. "Vio sayang bukaklah pintunya."
"Aku ingin bicara." bujuk Rey.
"Aku tak ingin bicara padamu, pulanglah." jawab Vio dari dalam.
"Biarkan saja dia mengomel sendirian, aku tak sudi mendengarkan omelannya."
"Salah siapa, ketika dia bersama Angel saja sangat membuatku kesal, dam tak menganggapku ada."
__ADS_1
🌷🌷🌷
.
.
Setelah kejadian itu, Vio menjauhi Rey, dirinya sering menginap dirumah Fani sahabatnya yang selalu ada untuknya.
"Lalu apa keputusanmu selanjutnya?" tanya Fani ketika mereka sedang bersantai.
"Aku akan bercerai dengannya."
"Mana bisa kau menceraikan dia, secara dia sangat kaya."
"Tapi aku tak bisa terus-terusan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka."
"Apa lagi kini sudah ada Chris ditengah-tengah mereka."
"Lalu..., alasan apa lagi aku mempertahankan rumah tangga yang dari awal sudah salah."
"Bahkan beberapa kali aku berkunjung kerumahnya saja, dia terlihat sangat mencintai Angel, dan membentakku di depan Angel."
"Apa dia berani membentakmu? didepan Angel."
"Dasar laki-laki pengecut, sudahlah kalau begitu aku setuju jika kau berpisah dengannya." kesal Fani.
Fani bertekad akan membantu Vio mengurus surat perceraiannya. "Ini sudah tahun ke empat berjalan kelima, kenapa semakin lama bukan semakin membaik, tapi malah kau yang tersiksa." kesal Fani berapi-api.
"Bahkan anaknya saja tak boleh ku pegang, beberapa kali aku mencuri waktu main kerumah utama, hanya kangen dengan Chris, ingin menggendongnya." Vio menahan rasa sesak didadanya.
"Baiklah, aku tak akan menghalangi jalanmu lagi, jika ini keputusan yang kau ambil,"
"Bantuan apa yang kau inginkan dariku?" tanya Fani.
"Tidak ada, aku hanya ingin bantuan doa saja darimu."
"Nanti aku akan ke penthouse."
"Kau mau kembali lagi kesana?" tanya Fani.
"Ehmm iya, Penthouse itu sudah menjadi milikku, walaupun dia sudah tak menjadi suamiku, setidaknya dia meninggalkan tempat tinggal untukku."
Sore hari Vio berpamitan pada Fani, dirinya mengendarai mobil pajero miliknya menuju tempat tinggalnya. "Memang sudah saatnya aku mengalah, demi keutuhan rumah tangga mereka."
"Tak sepantasnya aku berada ditengah-tengah kebahagiaan keluarga kecil mereka." gumam Vio mengusap bulir air matanya yang turun tanpa permisi itu.
Sampai pada apartemennya Vio membersihkan diri, kemudian dirinya menghubungi Rey agar datang ke tempatnya malam ini, ia ingin membicarakan sesuatu.
Vio berhias secantik mungkin, bukan untuk menyenangkan suaminya, melainkan agar tak terlihat kusut didepan Rey.
"Kau memanggilku kemari?" tanya Rey datar. Mendengarkan hal itu membuat Vio mantap untuk mengajukan perceraiannya.
__ADS_1
"Ehmmm iya," jawab Vio terdengar canggung.
"Apa artinya kau sudah menyerah." ketus Rey.
"Tidak, aku hanya..aku.." ucapan Vio terputus-putus, hingga Rey berdiri dari tempat duduknya, menghampiri dirinya yang sedang berdiri diambang pintu kamarnya.
"Apa kau tak kangen denganku?" bisik Rey ditelinga Vio terdengar sangat aneh, hingga membuat seluruh tubuhnya meremang.
Rey menyambar mulut manis Vio, dan membawanya menuju tempat tidur, belum sempat dirinya berontak sudah lebih dulu Rey melucuti seluruh kain yang menempel padanya.
"Bukan ini yang aku harapkan kedatanganmu," batin Vio menangis.
"Biarlah ini menjadi kenangan terakhir aku dengannya, karena setelah ini mungkin kita tak dipertemukan lagi."
Malam ini mereka bercinta semalaman, hingga membuat Vio kelelahan, Rey mengira jika hubungannya dengan Vio sudah membaik. Bahkan hari ini ketika berada dikantor membuatnya tersenyum dan tak ada korban dari amarahnya.
Berbeda dengan Vio yang telah bersiap-siap dengan kopernya, sebagian bajunya ia bawa, dan barang-barang penting lainnya, terakhir dirinya meletakkan surat perceraian di atas nakas di samping tempat tidur mereka.
Vio berjalan keluar menyeret kopernya turun ke lantai dasar, dirinya sudah memesan taksi untuk pergi kesuatu tempat.
"Selamat tinggal kota kenangan." Vio tak kuasa untuk tak menahan air matanya.
"Pak jalan." perintahnya pada sopir taksi.
Ditempat lain, Rey melakukan meeting dengan tuan Aldo rekam kerjanya, "Tuan saya punya usul."
"Silahkan.." Rey.
"Bagaimana kalau kita memggunakan model seperti diawal produk kita diluncurkan?" tanya Aldo pada Rey.
"Nona yang sangat cantik itu,"
"Aku tak menyetujuinya." jawab Rey tegas.
"Tapi penjualan kita lumayan banyak peminatnya, jika menggunakan model yang diawal tuan."
Akhirnya Adit berusaha menengahi permasalahan mengenai model produk baru mereka, dan berhasil membujuk Rey."Baiklah akan aku coba." jawab Rey akhirnya.
Recananya Rey malam nanti akan pulang ke apartemen Vio untuk menawarkan dirinya menjadi model utama.
Sore hari tiba, ini baru jam empat, tapi Rey sudah pulang lebih awal dari biasannya. Sewaktu dirinya konflik dengan Vio, seringkali pulang larut malam. Tapi kali ini merasa hubungannya baik-baik saja dengan Vio. Rey bersemangat ketika membuka pintu apartemen menggunakan sandi.
"Sayang...sayang.. aku datang." namun beberapa kali tak ada sahutan dari pemiliknya.
"Dimana dia." Rey membuka pintu kamarnya, lalu mencarinya dikamar mandi, terakhir berjalan ke balkon kamarnya, tak ada juga. Tetapi perhatiannya tertuju pada map coklat yang terletak di atas nakas.
"Apa ini?"
dan
Bersambung
__ADS_1