
"Dimana aku?" kala Vio baru saja terbangun dari efek obat.
"Kamu sudah bangun?" suara yang tentu saja dia tahu, siapa pemiliknya, lantas Vio mengerjap, menyesuaikan pandangannya.
"Ka..kamu?" suara Vio tercekat hampir tidak mampu mengeluarkan suaranya.
"Kenapa?"
"Apa ada yang sakit?"
"Bagian mana yang sakit?"
Vio masih terdiam, Rey bangkit dari duduknya, lalu berjalan kearah Vio yang masih berbaring, kali ini perawatannya dipindahkan di rumah besar Rey. Dengan mengirim tim medis khusus yang ditugaskan merawat Vio.
"Apa aku sedang berada.." ucapan Vio menggantung, menoleh kearah lelaki berwajah tampan, dengan sorot mata yang tajam bagaikan elang.
"Yah kau berada dirumahmu."
"Apa maksudnya semua ini." Vio berusaha bangkit dari tempatnya berbaring.
"Kau masih istriku, jadi sudah sewajarnya aku memboyongmu kemari."
"Tapi aku lebih senang tinggal dirumahku, kau memindahkanku tanpa persetujuanku."
"Aku rasa aku tak perlu meminta persetujuanmu nyonya Rey," kali ini suaranya terdengar menakutkan, tak mau dibantah dan tak suka diatur.
"Itu hakku, hidup hidup aku, aku lebih senang hidup sendiri." suara Vio begitu lantang, tidak ada takut takutnya sama sekali.
"Jadi..." Rey mendekatkan wajahnya, memegang kedua bahu Vio yang ingin berontak.
"Kau sudah mulai berani membangkang nyonya." bisiknya pelan, namun ada tekanan di setiap kata-katanya.
Vio terdiam, membuang muka, "Apa kamu ingin memisahkan aku dengan putri kecilku?"
"Hemmm..."
"Dia anakku, bukan anakmu." kesal Vio.
Inilah ketakutannya selama ini, dia takut jika Rey menjauhkan dirinya dengan Revi, atau mengambil paksa Revi.
Tapi entah cepat atau lambat semuanya akan diketahui Rey, "Tapi aku ayahnya kalau kau lupa."
Seketika rencana licik Vio bekerja dengan cepat,"Baiklah terserah padamu, pulangkan aku jika sudah sembuh."
"Rumahmu disini bukan ditempat lain."
"Aku tak mau tinggal disini." teriak Vio begitu memekakkan telinga.
Melihat Vio yang mencak mencak begini membuat Rey terdiam sejenak. "Wanita ini akan semakin brutal jika keinginannya tidak dituruti." batin Rey memandang ke arah Vio lekat.
"Baiklah, tapi jangan harap kamu bisa pisah dariku."
__ADS_1
"Sekarang makanlah." ini sudah jam makan siang, Rey mengambil piring dimeja samping Vio berbaring, piring yang terisi beberapa makanan, disajikan khusus untuk Vio istri yang selama ini ia rindukan.
"Ayo buka mulutmu sekarang, atau mau aku suapi menggunakan mulutku."
Seketika otak Vio seperti berhenti berfungsi, membayangkan hal-hal mesum beberapa tahun yang lalu.
"Siniin aku mau makan sendiri." Vio merebut piring ditangan Rey.
Vio makan dengan lahap, tidak berapa lama tandas tak tersisa. "Begini lebih baik, jika sudah sembuh nanti kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau kan."
"Hemmm." jawaban Vio hanya gumaman saja.
"Sekarang minum obatmu," membuka obat dan menyodorkan air minum kepada Vio.
"Dia memang membuatku kesal, tapi kenapa jika begini sangat perhatian dan manis sekali." batin Vio meronta. mengambil air minum dengan kasar ditangan Rey.
"Aku akan meneruskan kembali pekerjaanku, kamu istirahatlah." mencium kening Vio tanpa ijin.
Sialnya Vio hanya terdiam pasrah saja. "Ahhh aku pasti sudah gila, kenapa aku diam saja dicium dia." batin Vio merasa sebal. Nyatanya kenyataan dan tak sesuai hatinya. Hatinya sudah mulai berkhianat dengan pemikirannya sendiri.
Vio setengah berbaring, melihat Rey duduk di sofa didalam ruangannya. "Dia begitu tampan jika sedang seperti ini."
Rey serius sedang mengerjakan sesuatu yang tadi sempat tertunda, walaupun dia dirumah merawat Vio, tetapi masih saja mengerjakan sesuatu. Melakukan Zoomeeting dengan karyawan di kantor cabangnya.
Vio begitu senang melihatnya jika Rey sedang serius, seolah terhipnotis, apa lagi dengan kaca mata yang bertengger, sungguh lelaki idaman banyak wanita, statusnya yang sebagai bos besar dan memiliki segalanya, ditambah fisik yang sangat mendukung.
Ini sudah satu jam lamanya, Vio berusaha memejamkan matanya, tetapi mendengarkan percakapan Rey membuatnya tak bisa tidur. Bukan karena berisik, tetapi pikirannya mulai ngawur kala melihat ketampanan suaminya.
Rey terdengar menutup laptopnya dan bangkit dari duduknya, terdengar derap langkah kaki itu semakin mendekat kearahnya. "Apa kamu sudah tidur?"
"Hemmm."
Rey melepas sandal rumahannya, laku menarik selimut, dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Vio.
"Aku sangat merindukanmu, cepatlah sembuh." memeluk erat dari arah samping, dan membenamkan bibirnya ke leher Vio, desiran nafasnya membuat Vio merinding.
Vio yang awalnya hanya pura-pura diam saja malah menjadikannya mengantuk dan tertidur pulas.
***
.
.
"Bunda mana kakak..., aku mau Bunda." Revi sedari tadi menangis begitu kencang. Bahkan Chris sudah lelah membujuknya.
Akhirnya menyerah juga, mengajaknya berkeliling untuk mencari keadaan Papanya.
"Baiklah jangan menangis, ayo kita cari Papa dulu."
Anak itu walaupun masih berusia dua tahun begitu cerewet, sudah memiliki kosa kata yang bagus, tidak sia sia Vio mengikuti parenting sana sini dan membaca buku cara mendidik anak agar lancar bicara, salah satunya membacakan buku cerita sebelum tidur.
__ADS_1
"Epi tidak mau jayan, Epi apek." katanya lagi.
"Ck, kamu begitu cerewet, tetapi memanggil nama kamu sendiri saja masih cadel begini." celetuk Chris tiba tiba.
"Ahhhh kakak...." terduduk tiba tiba dan menangis dengan kencang.
"Sstttttt."
"Jangan menangis, nanti ada Papa datang loh kalau kamu menangis." rupanya jurus ampuh itu mampu membungkam mulut rewel Revi.
"Ada apa Chris, kenapa dengan Revi?" tanya Rey yang tiba tida saja muncul. Dirinya sudah terbangun sejak dua jam yang lalu. Membantu Vio membersihkan diri dan mengganti pakaian.
"Tidak ada Papa, aku hanya mengajak Revi bermain saja." senyum manis terbit dari kedua sudut bibir Chris.
"Ahhhhh bunda mana, bunda mana." lagi lagi Revi mengulang kata katanya mencari ibunya.
"Ayo cari bunda, bunda ada didalam."
Tanpa diduga, Revi memegang erat kaos yang dikenakan Chris, dan berdiri dibelakangnya.
"Ini Papa nak, apa kamu tidak ingin melihat wajah Papamu." Rey yang memposisikan tubuhnya, berjongkok dihadapan Revi.
Revi membenamkan wajahnya terdiam, detik berikutnya menangis kencang.
"Aku tidak mau, aku tidak mau, bundaaaa."
"Apa benar Papa kalau bunda ada dirumah ini?" tanya Chris memastikan lagi, memandang ke arah ayahnya.
"Hemmm iya, masuklah ke kamar ujung sana."
"Antarkan Revi ke bundanya iya."
Chris begitu bahagia, tidak bisa lagi menyembunyikan kebahagiannya.
"Ayo kita kesana, bunda ada disana."
"Revi kamu kenapa?"
Tanya Vio kala berhadapan dengan Revi, melihat kearah wajah Chris dengan pandangan seperti meminta penjelasan.
"Bunda adik Revi takut melihat papaku."
"Padahal papa ingin sekali menggendongnya."
Mendengarkan hal demikian membuat Vio tertawa,"Iya mungkin belum terbiasa, kakak tahu kan kalau adik Revi itu takut sama orang baru."
"Iya juga, jadi papa harus bagaimana bunda?"
"Iya harus pendekatan dengan pelan pelan, supaya adik Revi tidak takut lagi."
Semua percakapan itu tidak lepas dari sorotan sepasang mata yang sejak tadi berdiri diambang pintu.
__ADS_1
dan
Bersambung