
"Aku tidak bisa mendampingi momen momen bahagia ketika putriku berada didalam kandungan." ucap Rey menekuk wajahnya.
"Lagian aku pikir kita sudah baikan waktu itu, tapi ternyata malah kamu meninggalkanku," ucap Rey lemah.
"Aku hanya merasa bersalah saja, kalau kata Netizen aku menjadi pelakor," ucap Vio.
"Istilah apa lagi itu? Kenapa aku tak pernah mendengarnya." kata Rey bingung.
"Jelas saja kamu tak pernah mendengarnya, itu memang istilah sebutan aku orang ketiga, pelakor atau perebut suami orang." Vio menjelaskan.
"Mana ada begitu, disini tidak ada yang direbut, akulah yang menangkapmu lebih dulu, menjeratmu, agar jatuh kedalam pelukanku, kau tahu itu," ucap Rey, lalu mencium pipi halus Vio.
"Oh jadi kau menjebakku waktu itu, sial sekali hidupku," Jawab Vio pura pura sedih.
"Tak usah mengerucutkan bibir kamu seperti itu jika tidak mau besuk tidak bisa jalan," ucap Rey.
"Siapa takut." kata Vio seolah menantang suaminya.
"Oh kamu sedang menantangku nyonya Rey, baiklah tunggu pembalasanku, hukumanmu aku rasa belum selesai, karena kamu telah lama pergi meninggalkanku."
Detik berikutnya Rey sudah engangkat tubuh ramping Vio dan membawanya ke kamar utama, untung saja kedua Kakak beradik itu sudah tertidur pulas, mungkin karena kelelahan sehabis melakukan perjalanan jauh.
"Sayang jangan balas dendam, please." ucap Vio memohon.
"Aku bukan tipe lelaki yang plin plan," ucap REy datar.
Menaruh tubuh Vio diatas ranjang king size miliknya, dan menindihnya,"Aku rasa malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita sayang," kata REy.
Belum sempat juga Vio melayangkan protesnya, mulutnya sudah dibungkam dengan ciuman memabukkan dari suaminya.
"Sayang apa kamu dulu juga pernah bercinta di ranjang ini dengan Angel," tanya Vio menjeda ciumannya dengan sebuah pertanyaan masa lalu.
"Aku tidak tahu aku lupa," jawab Rey. Lalu meneruskan kembali aksinya.
"Mana ada lupa begitu, masih muda juga sudah amnesia," kata Vio.
"Berapa kali dulu kamu bercinta di ranjang ini?" tanya Vio lagi.
Disela sela momen romantis begini malah Vio membuyarkan adegan mesra dengan pertanyaan pertanyaan yang menurut Rey tidak penting. Tapi sangat membuat Vio penasaran.
__ADS_1
"sayang jawab?" ungkap Vio.
Tangan Rey sudah traveling kemana mana, akal sehatnya sudah hilang berganti dengan hasrat yang kian menggelora.
Rey tidak mendengarnya lagi, ciumannya malah beralih ke pucuk g**** kem** hingga membuat Vio mendesah frustasi.
"Sayangggg ahhhhh," teriaknya, untung saja kamar mereka kedap suara, jika tidak sudah pasti kedua anak anaknya akan terbangun.
Sedangkan salah satu tangan Rey sudah bermain main diarea inti, terkadang gerakannya memutar dan terkadang pelan.
Vio tidak bisa berfikir dengan jernih lagi jika sudah begini, suaminya ini memang perkasa jika dalam urusan beginian, apa lagi dirinya lama tidak mendapatkan sentuhan.
HIngga membuat Vio berteriak menggelinjang dan kedua tangannya menekan kepala suaminya, terkadang juga meremas rambut kemerah merahan suaminya.
Belum puas sampai disitu saja, Rey telah membolak balikan tubuh Vio yang anehnya malah membuat Vio senang dan berteriak memanggil namanya.
"Ayolah sayang, panggil namaku," ucap Rey dengan suara yang parau menahan hasratnya yang menggelora.
Rey kau membuatku giii giillaaaa," teriak Vio, kali ini posisinya membelakangi Rey.
Teriakan saling bersahut sahutan hingga seluruh ruangan dengan udara dingin itu tidak mampu menembus kulit mereka, akibat olahraga yang tiada hentinya.
Vio begitu sangat kelelahan, hingga tidur menyamping dan membelakangi Rey, Rey menarik selimutnya sampai sebatas bahu lalu mengecup kening Vio dan memeluknya dari belakang.
***
.
.
Siang hari, mereka sudah ada janji untuk bertemu dengan ibu serta ayahnya Rey, kabar jika Rey membawa seorang perempuan dan juga putrinya terdengar sampai ketelinga kedua orang tuanya, pasti kakaknya Irene itu sudah bercerita banyak hal mengenai pertemuannya kemaren. Hingga pagi pagi buta, ponselnya tidak henti hentinya berdering.
"Kalian sudah siap?" tanya Rey pada kedua anaknya Kakak beradik itu.
"Iya Papa." jawab Chris.
"Kenapa adik Revi diam saja?" tanya Rey memandang intens wajah putrinya.
Revi tidak menjawab, tapi menggelengkan kepalanya,"Apa adik Revi tidak senang akan bertemu dengan Oma dan Opa disana?" tanya Rey lagi, kini dirinya berjongkok dihadapan Revi, agar tinggi tubuhnya sejajar.
__ADS_1
"Bolehkah aku tidak usah ikut Papa, aku dirumah saja bersama Bunda," kata Revi memelaskan wajahnya.
Putrinya yang satu ini sangat introvet, suka menyendiri, tidak mau bertemu orang baru. Sekalinya bertemu dengan orang yang bisa mengambil hatinya maka akan membuatnya menempel sepanjang hari, tetapi itu sangat jarang sekali.
"Sayang Oma dan Opa itu baik loh, mereka menantikan kedatangan Kakak dan juga Adik,"
"Apa adik tidak kasian membuat Oma dan Opa kecewa?karena ternyata cucunya perempuan satu satunya tidah datang," bujuk Rey berusaha mengambil hatisang putri.
"Papa janji, nanti setelah kalian bertemu dengan Oma dan Opa akan mengajak kalian ke tempat Playground dan membeli mainan yang banyak. "
Nampaknya Revi masih terdiam. Mikir miki dengan penawaran yang Papanya ajukan baru saja, Vio nampak sibuk mengemasi barang barang apa saja yang perlu dan tidak perlu dibawa, dan mengeluarkannya dari dalam kamar.
"Dimana mereka? Kenapa lama sekali iya," gumam Vio. Mencari keberadaan suami serta anak anaknya.
"Kakak dimana adik dan Papa? Kenapa lama sekali?" tanya Vio yang baru saja mengeluarkan barang barangnya.
"Mereka ada didalam kamar Bunda." jawab Chris yang sibuk dengan tas ranselnya.
Lalu Vio berjalan kearah kamar mereka, dan melihat interaksi keduanya, membuatnya terdiam dan merasa bersalah. Apakah didikannya selama ini salah pada putrinya.
Selama ini vio melarang putrinya keluar rumah,hanya boleh main ketika didalam rumah saja.
"Terlihat nampak Rey menggendong putrinya,"
Perjalanan dari Apartemennya menuju rumah utama sekitar satu jam kurang lebih, dengan kecepatan normal enam puluh kilo mete perjam.
"Sayang, apa kamu kesulitan membujuk Revi?" tanya Vio menoleh ke arah suaminya yang sedang mendekap tubuh Revi yang tertidur pulas.
Sedangkan Chris ada bersamanya,"Tidak, kenapa?" tanya Rey.
"Apa aku salah mendidik Revi selama ini, sehingga dia menjadi anak yang sangat introvet, bahkan tidak mau bergaul dengan teman teman sebayanya." tanya Vio menahan air matanya yang menggenang di pelupuk mata.
"Tidak, tidak ada yang salah, caramu sudah benar, setiap ibu mempunyai ciri khas sendiri untuk mendidik anak anaknya, termasuk istriku," jawab Rey berusaha membesarkan hati Vio.
"Kamu bicara begini hanya mau menyenangkan aku saja kan," jawab Vio protes.
"Tidak, aku tahu kamu mendidiknya dengan cara begitu karena ketakutanmu sendiri, ketakutan jika Revi aku ambil darimu." ungkap Rey akhirnya yang malah membuat Vio akhirnya merasa tersindir.
dan
__ADS_1
Bersambung