WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Angel Mulai Curiga


__ADS_3

"Tidak, aku hanya senang saja kau bisa memetik buah sayuran ini." Detik berikutnya ekspresinya sudah kembali lagi seperti semula.


"Ck sungguh menyebalkan, hanya karena alasan itu, sepertinya ada sesuatu dibalik kebun ini." lirih Angel pelan, bahkan hampir tak terdengar.


Tuan Rey duduk di sofa ruang tengah tempat biasa dirinya dan Vio sedang bersantai, bercengkrama bahkan tak jarang pula perdebatan terjadi di sana.


Lain waktu lain halnya yang terjadi, jika kemaren ia sedang bersama dengan Vio di ruangan yang sama dan tata letak furniture yang sama, berbeda dengan hari ini, dirinya sedang bersama Angel. Tak ada yang mereka lakukan hanya menonton televisi sambil menunggu waktunya makan siang.


Angel melirik ke arah suaminya, terlihat wajah dinginnya tanpa ekspresi, bahkan tak ada sedikit pun senyum di sana, yang ada hanya ekspresi datar.


Dirinya yang mau menanyakan perihal yang mengganjal dihatinya jadi terasa maju mundur. "Huh kenapa dalam situasi santai seperti ini terasa menegangkan." Batin Angel, kedua tangannya meremas ujung bajunya yang ia kenakan.


Dokter Rica yang tidak sengaja melewati mereka mengamati dua orang yang duduk berdampingan di depan televisi itu. Dokter Rica berjalan sangat pelan dan berusaha tak menimbulkan bunyi langkah kaki. Agar tidak mengganggu ketenangan mereka. Sungguh senam jantung seatap dengan suami istri ini, tak tahu lagi harus berkata apa.


"Permisi tuan nyonya, makan siang sudah siap, mari silahkan." Ucap kepala pelayan dengan menunduk hormat pada mereka.


Tuan Rey hanya mengangguk tipis sebagai jawabannya, menoleh ke arah Angel pertanda ia sudah boleh makan siang. Angel yang mengerti bahasa tubuh suaminya tentu saja segera menghampiri meja makan, disana tersedia masakan sayuran khas jawa.


Vio merupakan turunan asli suku jawa, makanannya identik dengan masakan jawa, sehingga yang tersedia disana semua masakan khas jawa timuran. Angel menoleh kesana kemari mengamati masakan satu persatu.


Semua itu terasa asing dimatanya, hanya satu yang dia tahu, yaitu ayam bakar bumbu rujak.


"Apa semuanya akan kau amati saja."


Suara datar itu menginterupsi pendengaran Angel hingga membuat fokusnya pecah.


"Duduklah, kita makan bersama."


"Ehmm iya sebentar," Angel berjalan menjauh darinya. Ternyata sedang pergi ke teras belakang menyusul dokter Rica untuk mengajaknya makan siang bersama.


"Dokter Rica, maaf mengganggumu, aku kesini karena akan mengajakmu makan siang bersama."


"Ayo, suamiku sudah menunggu."


"Ehhh itu nyonya, saya belum lapar, anda dan tuan bisa makan siang lebih dulu."

__ADS_1


Dokter Rica sangat kaku bila berhadapan dengan suami istri ini, dirinya merasa canggung, bahkan untuk bergerak pun harus hati-hati karena takut salah dimata mereka, terutama tuan Rey.


"Kau tak usah sungkan begitu, ayo aku ingin makan bersama kamu." Angel menggandeng dan memaksa dokter Rica agar mau ikut bersamanya. Jika sudah begini rasanya mau menolak pun juga tak enak, mau tak mau dokter Rica mengikuti langkah kaki Angel menuju keruang makan.


"Duduklah, kau bisa memilih menu apa saja yang kau suka,"


"Ehmmm iya nyonya tuan, terimakasih, sepertinya aku baru pertama kali melihat masakan-masakan ini."


Dokter Rica tak kalah terkejut dengan ekspresi Angel sewaktu melihat masakan yang asing dimatanya ini. Di sana terlihat tumis bayam, sayur bening jagung dan bayam, cah kangkung, dan masih banyak lagi.


"Kau tau dokter Rica, ini semua hasil kebun milik suamiku." Angel membanggakan hasil kebun milik tuan Rey, padahal juga bukan suaminya yang menanam, tuan Rey hanya membantu merawatnya saja.


"Wah benarkah, anda sangat hebat tuan." Dokter Rica.


Sedangkan tuan Rey yang menjadi obyek pembicaraan dua orang perempuan di depannya ini hanya diam saja tanpa ekspresi.


"Ehmm ya makanlah, jangan banyak bicara jika sedang makan,"


Bicaranya sedikit tetapi seperti sebuah perintah yang membuat orang ingin menonjok wajahnya saja. Tak bisa dibantah dan menjadi sebuah perintah yang harus dituruti setiap perkataannya.


Setelah Rey mengeluarkan suaranya tadi, tak ada lagi pembicaraan di meja makan. Mereka makan hanya diam saja.


Apa lagi dokter Rica yang banyak bicara, mulutnya sudah sangat gatal ingin berpendapat. Tetapi sekuat tenaga ia tahan juga agar tak menimbulkan kegaduhan bagi tuan Rey terutama.


"Kembalilah ke kamar, aku masih ada hal lain masih perlu ku selesaikan."


Malam hari, sesuai dengan janji tuan Aldo dan juga istrinya, jika hari ini mereka akan di undang perjamuan makan malam di rumahnya.


Angel sudah rapi dengan gaun warna biru laut model A line Dress dengan potongan sebatas lutut, "Lepaskan sepatumu, ganti dengan yang ini."


"Tapi akan sangat jelek jika aku menggunakan ini." Protes Angel tak terima.


"Ganti atau kau tak akan ikut." Sorot mata tajamnya memandang ke arah Angel, hak itu mampu membuat nyali Angel menciut tak berani lagi membantahnya, dan segera menuruti kemauan suaminya.


Angel memanyunkan bibirnya tak suka dengan perintah Rey, "Menyebalkan, sukanya marah-marah saja." Dalam hati, tetapi mana berani ia berucap di depan tuan Rey langsung.

__ADS_1


"Rambutmu jangan di kuncir seperti itu, aku tak mau lehermu dilihat oleh semua orang."


Angel sudah mengepalkan tangannya kesal, dan giginya gemlutuk menahan kekesalan dihatinya.


Terlihat tak ada pergerakan dari Angel, tuan Rey menghampiri istrinya dan perlahan mengambil taki rambut, lalu menyisirnya.


"Seperti ini akan lebih bagus."


"Baiklah terserah kau saja." Angel malas meladeni suaminya yang banyak protes.


"Tak usah membawa tas yang itu, akan sangat tidak cocok dengan gaun yang kau gunakan."


Oh Tuhan, sepertinya Angel akan lebih baik tinggal dirumah saja dari pada banyak aturan dalam hidupnya.


"Iya, iya ambilkan tas untukku kalau begitu "


Tuan Rey menurut, mengambil Cluth bag yang warnanya senada dengan gaun yang dipakai Angel malam ini.


"Tas milik siapa ini?" Tanya Angel.


"Sudahlah jangan banyak tanya, tinggal kau pakai saja."


Angel tak jadi kepo menanyakan hal lain lebih lanjut, berbeda dengan Rey yang memakai pakaian semi formal dan ditambah jam tangan limited edition ditangannya serta sisiran rambut yang rapi, hal itu sukses membuat Angel hampir meneteskan air liurnya.


"Ayo....!!!"


Jika orang lain yang melihat mereka saat ini, sungguh pasangan yang serasi, cantik dan tampan. Tetapi mereka hanya melihat sampulnya saja.


"Jauh apa dekat tempatnya?" Angel yang memasuki mobilnya dan memposisikan tubuhnya duduk.


"Hanya lima belas menit dari rumah." Setelah menjawab pertanyaan Angel dirinya kembali sibuk dengan ponselnya, dan terlihat serius.


Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka, Rey sibuk berbalas pesan dengan Vio. Rupanya dirinya memberikan banyak perintah.


Mana mau Vio menurut dengan perintahnya, karena Vio suka membangkang hal itu sukses membuatnya geram.

__ADS_1


"Lagi berbalas pesan dengan siapa sih, dari tadi serius begitu."


Batin Angel sangat ingin tahu, rasanya hatinya ada yang mengganjal, tetapi ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.


__ADS_2