WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Suara Hatiku


__ADS_3

"Sudah sampai sini saja, kamu tak usah ikut naik ke atas."


Rey diam tak menjawab, dirinya sibuk mencari sebuah kain, karena tadi Vio hanya memakai kemejanya yang kebesaran dan celana pendek milik Rey.


"Ehhh..., kau mau apa?" tanya Vio yang melihat gerak gerik Rey.


Rey keluar mobil, dan berjalan memutar, membuka pintu sebelah, kemudian memakaikan kain yang menyerupai selendang, dan memakaikan di pinggang Vio.


"Ehh kenapa pakai beginian?" tanya Vio bingung.


"Diamlah, apa kau mau berjalan hanya menggunakan begini?" ketusnya.


"Ini sudah malam, mana ada orang berkeliaran jam segini?" bantah Vio tak mau kalah.


"Tetap saja aku tak rela jika bagian dari tubuhmu di lihat oleh orang lain."


"Begini lebih bagus."


"Sudah, kau bisa keluar sekarang."


"Ehmm, baiklah." menurut juga akhirnya.


Vio berdiri keluar dari mobilnya, ketika Rey selesai memakaikan kain di pinggangnya, entah dapat dari mana kain yang menyerupai selendang ini. Tapi pas juga ketika di pakaikan pada Vio.


"Ayo ...," Rey berjalan menggandeng tangan Vio.


Tak ada lagi pembicaraan, baru saja akan melayangkan protes pada Rey, namun juga sudah lebih dulu ditarik tangannya.


Vio memencet beberapa nomor sandi, dan terbukalah pintu dengan otomatis.


"Apa kau mau langsung pamit pulang?"


"Atau mau mampir dulu sebentar, akan aku buatkan kopi spesial untukmu."


Rey yang berjalan mendahului Vio itu tak begitu langsung menjawab ocehan Vio, namun dirinya mencari cermin, apakah penampilannya ini sudah rapi atau masih berantakan.


"Kenapa kamu berdiri disitu?" tanya Vio yang mengamati Rey berdiri didepan cermin.


"Apa penampilanku ini sudah rapi?"


"Atau masih ada yang kurang pas?"


"Kenapa memangnya, kau sudah pulang kerja, jadi tak akan ada yang melihatmu." ketus Vio merasa tak suka melihat Rey yang begitu memperhatikan penampilannya dengan detail.


"Aku akan pulang kerumah, nanti Angel akan curiga." pandangannya masih melihat ke arah cermin, tak sedikit pun menoleh ke arah Vio.


"Oh bodohnya kau Vio, dia kan sedang berpuasa dengan istri tuanya,seharusnya kau tak usah datang ke kantornya, sekalian saja mengerjai dia." ide konyolnya baru saja muncul dalam hati Vio.


"Sudah rapi tuan, sekarang pulanglah sana, sepertinya istri kesayangan kamu itu juga sudah menunggu." ketus Vio melempar tasnya asal. Berlalu melewati Rey dan memasuki kamar mandi, disana ia berganti pakaian tidur yang sangat tipis, berwarna hitam dengan model lingerie seksi.


Sangat menerawang, dan mengikuti bentuk tubuhnya, Vio tak menyadari jika disana masih ada Rey, dirinya berjalan santai mengambil sisir di cermin, melewati Rey, yang sedang memperhatikan gerak-geriknya.


"Kenapa?"


"Hemmmm ...., apa kau sedang marah denganku?"


Vio baru tersadar, jika suaminya masih berdiri ditempatnya semula, sambil terus memandang kearahnya dengan tatapan memuja, seolah ingin menerkamnya kembali.


"Katanya mau pulang, pulanglah sana, aku akan tidur dan bersantai." ucapnya random. Duduk di ranjang king size miliknya dan bersandar pada sandaran ranjang, membuka ponselnya dan menscroll tak jelas.


"Jika kau terus menggodaku, aku rasa akan terlambat pulang hari ini."


Vio masih saja cuek, tak menghiraukan Rey yang sudah mendekat, lalu merampas ponsel di tangannya.


"Kau mulai berani mengabaikan ku nona?"

__ADS_1


"Hemmmm ..."


"Apa-apaan sih kamu, sini balikin ponsel aku,"


"Ihhh kamu ini, katanya mau pulang, tapi kenapa juga masih disini."


"Aku kesal sama kamu?" Vio meraih tangan Rey untuk merebut ponselnya kembali.


"Benarkah kau sedang kesal denganku?"


"Katakan apa alasannya?" tanya Rey.


Tapi Vio hanya diam saja, dia sangat gengsi untuk mengakui jika Rey ingin menginap di tempatnya walau hanya malam ini saja, entahlah kenapa Vio sekarang jadi menginginkan Rey, bukankah dirinya sendiri yang tak mau Rey terus menerus berada di dekatnya.


"Katakan apa alasannya, maka akan aku kembalikan ponsel ini?"


"Atau, jangan ..., jangan ada sesuatu di dalam sini." Rey menjauhkan ponsel Vio, dan melihat isinya, padahal Rey juga membuka random, tapi ketemu juga sandinya.


"Tidak, tidak ada apa-apa, kenapa kamu sangat ingin tahu sekali?" Angel tak mau kalah, masih mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk meraih ponselnya kembali.


"Lalu kenapa kamu seperti ketakutan aku buka ponselmu?"


"Hahhhh ..., terserah kau saja, disana juga tak ada hal yang menarik, jika ingin memeriksa, periksa saja semuanya." Vio akhirnya duduk kembali ditempatnya tadi.


Sedangkan Rey berjalan mundur, duduk diatas meja kecil tak jauh dari ranjang king size miliknya, sambil membuka isi galeri ponsel milik istri nakalnya ini.


"Iyah kali ini aku percaya, tak ada yang menarik sejauh ini."


"Sudah ku bilang, mana pernah percaya kamu sama aku." ketus Vio lagi.


"Lalu kenapa wajahmu panik ketakutan,"


"Biasa saja, mana ada begitu."


"Sekarang ..." duduk di samping Vio, meminta jawaban dari Rey dari pertanyaannya tadi.


"Apa?" Vio menoleh, dan hidung Vio bertabrakan dengan hidung mancung Rey.


"Jawab pertanyaanku tadi?"


"Atau..."


"Pertanyaan yang man.."


Belum sempat juga Vio meneruskan percakapannya, Rey sudah membungkam mulut Vio dengan mulutnya, lalu menyesap kembali benda kenyal yang terasa manis itu. Vio yang awalnya menolak, mendapatkan sentuhan lembut itu menjadi terhanyut.


Rey membuka kembali kemeja yang sudah melekat rapi ditubuh atletisnya, membuangnya kasar, terakhir kain bagian bawah tubuhnya, cumbuan itu berlangsung lama kali ini.


Seperti ada magnet tersendiri dalam tubuh Vio,Vio merasakan sesuatu yang lain ditubuhnya, tangannya meremas rambut yang wanginya maskulin ketika sampai pada indera penciumannya.


Meremasnya lembut, dan di sela-sela ciumannya terdengar nafas yang memburu, diselingi *******.


Rey yang mendengarkan suara seksi Vio langsung bersemangat, melancarkan aksinya. Tangannya turun menjelajahi area favoritnya.


"Ahhhhh kau gila, aku tak tahhhaaan." teriak Vio meremas rambut suaminya.


"Lebih cepat lagi, "


"Aku ingin kamu terus berada di sisiku," disela-sela percintaan mereka Vio mengungkapkan isi hatinya.


Rey yang sudah berada di puncak ubun ...ubun hasratnya, tidak begitu mendengarkan rancauan istri nakalnya ini.


Ketika sampai pada puncaknya, mereka berteriak bersamaan, untung saja ruangan kamar Vio ini juga sudah dipasang peredam suara.


Rey seketika ambruk diatas tubuh istri mudanya, menggigit dengan gemas pucuk gunung yang indah ini.

__ADS_1


"Gigimu ini sudah seperti harimau, kenapa kau menggigitku." Vio merasa kesal bercampur senang.


"Istri cerewet dan bandel," setelah berguling ke samping dan memeluk Vio dengan erat, sepertinya malam ini ia tidak pulang, karena kelelahan bercinta sehari semalam seperti pengantin baru.


Rey meraih ponselnya yang tadi sengaja di taruh dimeja nakas, ketika dirinya sedang di mabuk asmara.


"Aku tidak bisa pulang malam ini, sedang keluar kota, ada pertemuan dengan klien." bohongnya, pesan yang dikirim pada Angel.


Ponselnya tadi dalam mode silent, sehingga tak ada yang bisa menghubunginya, kalaupun ada juga ia tak bisa mendengarnya.


"Jawab pertanyaanku tadi." sambil memeluk Vio yang membelakanginya.


"Ck, kau ini masih saja ingat, tak bisakah pertanyaanmu ini di simpan saja besuk, dan aku jawab langsung kalau besuk." Vio mengalihkan pembicaraan.


"Aku maunya sekarang, atau aku akan memakanmu lagi,"


Suara itu terdengar mengerikan di telinga Vio, sehingga Vio merasa begidik ngeri mendengarkan ucapan suaminya barusan.


"Katakan, atau ..."


"Iya, iya... aku jawab." potongnya.


"Aku mau kau berbuat adil pada ke dua istrimu, kau tahu kalau aku tak punya siapa-siapa lagi, selain kamu."


"Aku juga berhak atas dirimu,"


"Aku ingin kamu membagi waktumu, tak hanya condong pada istri pertama kamu saja,"


"Aku tahu dia melahirkan keturunanmu, tapi aku juga tak mau kau abaikan,"


"Karena yang aku lihat, kau akhir-akhir ini mengabaikan aku, aku merasa tak memiliki siapa pun yang berarti dalam hidupku." tak terasa Cristal bening telah mengiringi ucapan Vio yang terdengar seperti keluhan, bukan tuntutan.


"Kamu tak pernah memahami perasaanku, jika bahagiamu bersamanya, maka aku rela kau lepaskan aku."


"Jika kamu tidak sanggup berlaku adil, aku saja yang kau lepaskan."


"Kalau dia, itu tidak mungkin, karena sudah melahirkan anakmu."


"Sedangkan aku," suara Vio tersendat kala ia menyeka air mata yang tak bisa tertahan.


"Aku hanya pelampiasan hasratmu saja."


"Apa kau mendengarku, kenapa diam saja."


Rey tak berniat membalas keluhan Vio, ia malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku mendengarnya,"


"Apa sudah selesai bicaramu?" tak henti-hentinya menghujani ciuman di pundak halus Vio.


"Aku tak pernah melihatnya serapuh ini, sepertinya dia memang sedang dalam kondisi mentalnya yang sedang menurun," batin Rey.


"Baiklah, aku akan mengatur waktuku untukmu dan Angel."


"Kau jangan mengkhawatirkan ini lagi,"


"Aku rindu Vio yang suka membangkang perintahku."


Kepalanya ia benamkan di tengkuk leher belakang Vio, dan bersuara dengan sangat perlahan, seolah ia turut memahami perasaan Vio.


"Sekarang tidurlah, aku akan menemanimu."


dan


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2