
"Apa kau tak sakit perut makan sambal sebanyak itu?" tanya Adit melihat ngeri ke arah mangkuk Vio yang berisi penuh sambal.
"Tidak, ini adalah salah satu cara untuk menghilangkan mood buruku."
"Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu nanti, jangan menyalahkanku." Adit menyendok makanan ke mulutnya.
"Tidak akan, kau tak usah khawatir."
"Aku hanya khawatir, kau akan keluar tandukmu setelah memakan semua ini." canda Adit garing.
"Kau yang akan terkena imbasnya, jika aku keluar tandukku beneran." Vio menimpali ulah konyol Adit.
"Terserah kau saja, aku hanya ngeri melihat mangkuk yang penuh dengan sambal."
Mereka melahap makanannya, Vio sampai menghabiskan dua mangkuk bakso berisi sambal, tidak hanya itu, bahkan kuah dari bakso itu berisi sambal dan juga daging tetelan, membuat siapa saja yang menyukai makanan pedas pasti keluar air liurnya.
"Kau ingin apa lagi?" tanya Adit yang sudah berjalan mengelilingi taman, di sekitar taman kota memang dipenuhi berbagai jajanan, mulai dari kudapan hingga makanan berat, dan juga berbagai aneka minuman.
"Aku ingin es krim gelato, yang ada disana." tunjuk Vio.
"Baiklah ayo." Vio membeli dua sekaligus.
"Ini buatmu,"
"Tidak, aku tak suka es krim." tolak Adit.
"Baiklah, akan aku makan sendiri kalau begitu."
Vio melahapnya hingga habis, "Tapi aku masih ingin beli minuman boba."
"Ck, kau ini, perutmu itu karet apa usus normal sih isinya, kenapa tak ada kenyang-kenyangnya." Adit berdecak kesal, namun tak urung juga dirinya menuruti permintaan Vio.
"Kau akan bangkrut jika menjadi pasanganku, karena jika aku sedang badmood aku akan banyak makan." celetuk Vio tiba-tiba.
"Tak apa aku bangkrut, aku akan membuka usaha seperti yang kau sukai, agar kau bisa makan sepuasnya."
"Baiklah, aku akan mendukungmu jika kau membuka usaha nanti."
Adit tak menanggapi ulah konyol Vio lagi, dirinya bagaikan bapak membuntuti anak kecilnya, yang sedang menginginkan ini dan itu.
"Mbk minuman boba dua, Bubble tea dan Tiger sugar." pinta Vio pada pemilik gerai itu.
Tak berapa lama Vio duduk dengan Adit, pesanannya datang, "Ayo kita jalan lagi,"
"Mau kemana?"
"Ketempat yang tadi, aku suka di tempat yang tadi,"
"Hemmm baiklah."
Adit kembali membuntuti Vio," Kemarilah, jangan di belakangku, kau akan kelihatan seperti bapak-bapak yang sedang momong anaknya."
"Kau itu perempuan, tapi kenapa tak ada anggun-anggunnya sedikit saja, jalanmu sangat cepat." gerutu Adit.
"Masak iya..." Vio malah terkekeh, memperlihatkan gigi putihnya.
"Hemmm iya, lihat saja ini, aku selalu ketinggalan jalan denganmu."
"Itu karena kamu yang sangat lelet kayak siput."
__ADS_1
"Kau menghinaku?"
"Tidak, siapa yang menghinamu." elak Vio kembali menyeruput minuman bobanya.
"Kau tahu, aku menyukai jenis minuman boba, dimana pun berada aku selalu mencarinya."
"Ck, minuman tidak sehat begitu kau sukai."
"Ini minuman sehat tahu, tanpa pemanis buatan, dan menggunakan brown sugar tahu." tunjuk Vio ke muka Adit.
"Terserah kau saja."
Mereka kembali duduk ke tempat yang tadi,"Ternyata kau kalau sedang badmood lumayan menguras kantong."
"Apa kau menyesal telah mentraktirku hari ini, karena makanku banyak."
"Aku tidak bilang begitu."
"Tapi kata-katamu mengarah kesana."
"Bukan begitu maksud aku, biasanya perempuan akan takut gendut jika makan terlalu banyak, apa lagi dimalam hari."
"Tapi tidak denganku, bagiku hidup itu harus dinikmati, ingin makan enak ya makan saja, tak usah berpikir panjang."
"Apa kau tak takut badanmu akan sebesar gajah?" tanya Adit menoleh pada Vio.
"Tidak, soal berat badan naik ya pikir belakangan saja."
"Ck, kau ini memang dasar lain dari pada yang lain."
"Cepat habiskan minumanmu, habis ini kita pulang." ajak Adit.
"Ini sudah malam, tidak baik terkena angin malam, dan nanti aku akan dibunuh suami kamu jika kamu tak mau pulang sekarang,"
"Apa pedulinya dia padaku." ucap Vio santai.
Adit kembali melihat jam yang melingkar di tangannya, "Ini sudan jam sembilan malam."
"Ayo, cepatlah sedikit, atau kau habiskan saja dimobilku." Adit berdiri dari duduknya, membawa minuman Vio yang satunya terlihat masih utuh.
Mau tak mau Vio mengikuti Adit dibelakangnya, pasalnya tasnya tadi juga tertinggal di jok mobil Adit.
"Ck kau ini, bisa santai sebentar tidak." kesal Vio.
"Aku tak bisa santai, karena aku terbiasa tepat waktu."
🌷🌷🌷
.
.
Adit membuka pintu mobilnya dan duduk di jok pengemudi, merogoh ponselnya. Ternyata ada dua puluh panggilan tak terjawab.
"Ada panggilan masuk." gumam Adit pelan.
"Siapa memangnya?" yang tak sengaja di dengar oleh Vio.
"Tidak siapa-siapa, sudahlah abaikan saja, lagian ini sudah malam, jamnya istirahat."
__ADS_1
Vio sendiri tidak mempedulikan ponselnya yang berada didalam tas, karena tak ada hal yang membuatnya istimewa.
"Apa ada lagi yang kau inginkan?" tanya Adit.
"Tidak, aku sudah kenyang." Vio menguap, menutup mulutnya.
"Bagaimana tidak kenyang, cara makanmu saja sudah seperti sapi yang tidak makan selama satu minggu." ledek Adit.
"Kau menyamakan aku dengan sapi?" sungut Vio.
"Bukan menyamakan, tapi mirip."
"Sama saja lah, apa bedanya."
Perdebatan mereka tak henti-hentinya, hingga sampailah pada penthouse tempat Vio tinggal.
"Sudah sampai, dia malah tertidur." gumam Adit, terpaksa Adit membangunkan Vio, karena tidak mungkin jika dirinya membopong Vio sampai lantai paling atas.
"Huahhh aku sangat mengantuk, kenapa kau menganggu tidurku."
"Turunlah, ayo aku antar sampai ke tempatmu."
Adit memutar tubuhnya, membukakan pintu mobilnya untuk Vio, dan membawakan tas serta barang-barang Vio yang tadi ia beli.
"Ck, rempong sekali jadi perempuan." kesal Adit berdecak, ketika dirinya kesusahan membawakan barang-barang Vio.
Ketika sampai dilantai paling atas, Vio memencet sandi pintu apartemennya dengan tanggal lahirnya.
"Jangan lupa kunci pintunya, aku akan kembali."
"Hemm pergilah, aku akan tidur kembali."
Vio menaruh tasnya asal, setelah sebelumnya mengunci pintu apartemennya. Lalu merebahkan dirinya asal.
Sedangkan ditempat lain, Rey ketika mencium istrinya entah kenapa ingatannya jadi muncul wajah Vio, dirinya jadi kurang bergairah.
Hingga membuat Angel marah,"Kenapa kamu tak seagresif biasanya?" tanya Angel.
"Tidak, aku menikmatinya. Hanya khawatir jika dirimu hamil lagi." Rey beralibi.
"Oh iya, aku kan belum menggunakan kontrasepsi," Angel menepuk jidatnya setelah selesai bercinta.
"Tapi hanya satu kali tak akan membuatku hamil lagi kan."
"Semoga saja tidak."
"Kembalilah ke kamar, aku akan menyelesaikan pekerjaanku."
"Baiklah, tapi jangan lama-lama." Angel mencium bibir suaminya sekilas, lalu berjalan keluar kamar dan merebahkan tubuhnya disana, tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Setelah kepergian Angel, Rey tertidur di sofa sebentar, dirinya bermimpi ditinggalkan oleh Vio, hingga membuatnya terbangun tiba-tiba.
"Ternyata hanya mimpi." Rey melihat jam ditangannya, menunjukkan pukul satu dini hari.
Rey bangkit dari tidurnya dan membersihkan dirinya di kamar mandi di dalam ruang kerjanya, lalu tanpa berganti pakaian dirinya berjalan menuju garasi mobil dan mengendarai mobilnya sendiri menuju penthouse Vio.
dan
Bersambung.
__ADS_1