
"Chris makanlah dulu, setelah itu baru bermain sama adik Revi."
Chris hanya mau menurut jika sedang bersama Vio, Chrish makan dalam diam dan setelah selesai barulah ia bermain dengan Revi.
"Bunda aku setiap hari kangen sama adik Revi, kapan iya bunda adik Revi boleh aku ajak jalan jalan ke rumah Chris?" tanya Chris pada Vio.
Vio yang sedang memegang pensil untuk meneruskan rancangannya begitu terkejut mendengar penuturan dari Chris.
"Belum saatnya sayang." tatapan mata Vio beralih pada Chris yang sedang memohon pada dirinya.
"Baiklah tak apa, Chris akan sabar menunggu."
Hari itu seperti hari biasanya Chris bermain dengan Revi hingga lupa waktu, "Chris ini sudah sore, pulanglah nak nanti ada yang nyari loh." suara Vio menginterupsi.
"Sebentar lagi bunda, Om Adit kan juga belum kesini." alasan Chris berkilah. Chris begitu menyayangi Revi gadis kecil yang memiliki pipi Chubby itu.
Vio hanya takut akan mencari Chris, ini tidak seperti biasanya hingga Adit terlambat mengantarkan Chris pulang, ah mungkin saja belum selesai dengan pertemuannya.
Ternyata benar dugaan Vio, sore itu Rey pulang lebih cepat dari biasanya, bahkan ini masih jam setengah lima. Suster Ana tergopoh gopoh, apa yang akan ia katakan jika putra tuannya itu belum sampai dirumah.
Dengan wajah lelahnya Rey berjalan memasuki rumah besarnya, mengendurkan dasi yang melilit dilehernya, tak ada yang ia pikirkan selain membersihkan diri dan memejamkan mata sejenak.
Untung saja Rey langsung berjalan menuju lantai dua, dan terlihat tidak keluar lagi, ah mungkin sedang sibuk pikir suster Ana.
"Kemana perginya Chris," gumam Rey kala dirinya selesai membersihkan diri dan pandangannya mengedarkan ke seluruh ruangan.
Berjalan ke kamar mandi dam balkon kamar, lalu berteriak nyaring dari depan kamar Chris. Rasanya ia sangat ingin meluapkan amarahnya saat ini juga. Namun bertepatan dengan itu ternyata Chris berlari memasuki rumah.
"Papa...," teriak nyaring Chris.
"Chris dari mana saja kamu?"
"Maaf Pa Chris telat pulang."
"Taruh tasmu, dan bersihkan dirimu." pinta Rey.
Chris begitu menurut apa kata Rey, Rey menunggu di balkon kamar Chris, hingga selesai Chris di dandani oleh suster Ana, bukan di dandani tapi lebih tepatnya diajari memakai baju sendiri dan tentang kebersihan diri.
"Sudah selesai?"
"Sudah Pa..." Chris mulai menunjukkan wajah memelasnya.
"Jangan tunjukkan wajah memelasmu, Papa sama sekali tidak suka, karena calon pemimpin harus memiliki wajah yang tegas,"
"Sekarang duduklah." tangan Rey menunjuk tempat duduk di depannya. Chris menurut dan duduk di depan Rey, saat ini mereka berada di sofa yang ada di dalam kamar Chris.
"Sekarang Papa tanya, kau tahu kan ini jam berapa?" Rey melihat jam dipergelangan tangannya.
__ADS_1
"Tahu Pa."
"Jam berapa?" tanya Rey memicingkan matanya ke arah putranya.
"Jam lima lebih Pa."
"Kau tahu sudah terlambat pulang berapa jam?"
Chris kembali menganggukkan kepalanya,"Dari mana saja kamu sampai terlambat pulang?"
"Chris habis main Pa."
"Main kemana?"
"Iya main kerumah teman Chris Pa."
"Setiap hari?"
"I...iya Pa." jawab Chris berusaha setenang mungkin.
"Katakan dengan jujur, selama ini Papa sangat percaya padamu, tapi sekalinya kamu bohong, kau tahu kan apa hukumannya yang pernah Papa sebutkan." suara datar Rey sama sekali tak gentar menggertak putranya, padahal Chris saat ini nyalinya sudah menciut.
"Papa tahu kalau kamu saat ini sedang berbohong, teman kamu tidak ada yang rumahnya berada dijalan X."
"Dari kamu Taman Kanak Kanak sampai sekarang mainmu disana, katakan dengan benar sebelum Papa sendiri yang turun tangan."
"Ba...baiklah Pa, tapi Papa harus janji jangan marah sama Chris."
"Main dimana?" Rey masih sabar menunggu jawaban dari Chris.
"Main dirumah bunda."
"Rumah bunda,"
"I...iya pa, tapi bunda yang waktu ketemu ditaman waktu bermain disana pa Chris."
"Baiklah, sekarang istirahatlah."
Yang menjadi pertanyaan Rey selama ini Chris selalu bermain di satu tempat, namun karena dirinya sangat sibuk sehingga tidak begitu mempedulikan atau lebih tepatnya belum sempat menyelidiki tempat bermain Chris.
Rey kembali keruang kerjanya, menatap inten foto Vio. "Sebenarnya kemana dirimu, ini bahkan sudah hampir tiga tahun, tapi aksesmu masih kau tutup." lirihnya.
***
.
.
__ADS_1
Weekend telah menyambut, namun janji Adit dengan Chris serta Revi harus tertunda, lantaran dirinya harus bertemu klien.
Pagi itu Adit selesai lebih cepat dari dugaannya, sehingga ia yang tadi meninggalkan Revi di Playground restauran itu kini bisa menemaninya, karena setelah ini akan menjemput Chris. Namun siapa sangka jika Rey menyusul dirinya.
"Dimana tuan Aldo."
"Anda kemari tuan."
"Ehmmm iya, aku rasa ada yang perlu diluruskan mengenai pembicaraan kemaren."
Keringat dingin sudah membasahi tangan Adit. "Sudah pulang tuan, tuan Aldo." jawab Adit berusaha setenang mungkin, dalam hati ia berdoa semoga saja Revi masih bisa anteng ditempat Playground.
"Ternyata lebih cepat dari yang ku perkirakan, baiklah aku akan kembali lagi."
Rey baru akan berdiri dari tempat duduknya, namun dikejutkan dengan suara anak kecil yang memanggil dirinya Papa begitu nyaring.
"Papa tanganku atu atit," suara bocah kecil itu menangis melengking memenuhi telinga.
"Hah mana mana yang sakit, coba sini Papa lihat." Adit berlari ke arah sumber suara, dan berusaha memberikan pertolongan pertamanya.
Apa yang dilakukan Adit itu tidak luput dari pengawasan Rey, kenapa dengan wajah bocah kecil itu, Rey bahkan seperti tidak asing.
"Sejak kapan kamu menikah?"
"Apa kamu menikah diam-diam? atau jangan jangan kamu membuat hamil anak orang lebih dulu?" tanya Rey yang sudah berdiri di samping mereka.
Adit baru menyadari jika tadi dirinya masih bersama Rey, "Maaf tuan." hanya kata itu yang keluar dari mulut Adit.
"Atau anak siapa ini, kau berhutang penjelasan padaku."
"Sayang, sekarang princessnya Papa bermain lagi iya, Papa mau berbicara sebentar bersama teman Papa."
Rey juga serta merta membawa Chris, Chris yang merasa jenuh dan begitu lama menunggu Rey tak kunjung kembali, berinisiatif menyusul Rey didalam.
"Papa... kenapa lama sekali."
Teriak Chris saat itu, hingga pandangannya mengedar ke arah Playground di restauran.
"Revi... ternyata kami disini juga," tidak jadi mendekat ke arah Rey.
Rey menyambungkan permasalahan cerita Chris yang dulu dengan yang sekarang. "Jadi...?" tanya Rey memandang wajah Adit tajam, siap memangsa lawannya.
"Jelaskan anak siapa itu?"
"Itu bukan anak kamu kan?"
Pembicaraan itu masih belum menemukan titik terang, Adit masih berhasil menutupi rahasia Vio. Hingga Rey kembali lagi pulang dan meninggalkan Chris bersama mereka.
__ADS_1
"Aku ingin meminta laporannya, kemana saja selama ini putraku pergi?" tanya Rey saat ini sudah berhadapan langsung dengan bodyguard yang diam diam membuntuti kemana perginya Chris.
Bodyguard itu mengangguk, lalu meninggalkan Rey yang duduk tenang di kursi dan kembali lagi setelah beberapa menit.