WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Bertemu


__ADS_3

"Mari tuan kecil kita pulang sekarang."


"Hemmm okey baiklah, tolong kamu bawakan mainanku ini." menyodorkan mainan yang baru saja dibelinya tadi.


"Anda membeli mainan lagi tuan kecil?"


"Ehmmm iya, kalena hari ini papa membeliku uang saku, aku lasa tak apa-apa kan jika aku membelikannya mainan, sisanya juga masih ada."


"Dia memang calon bos sejak dini." Adit bergumam pelan.


"Apa kamu mengatakan sesuatu balusan?"


"Tidak tuan."


"Dimana letak mobilnya?" tanya Chris yang menoleh kesana kemari tapi tak menemukan dimana letak mobilnya Adit.


"Diujung sana tuan, karena jika di depan sini akan sangat macet."


"Hemm baiklah ayo." menggandeng tangan Adit layaknya Adit yang anak kecil dan dia yang orang dewasa.


Adit berjalan menuju ke mobilnya, membukakan pintu depan, ia lupa jika dirinya tadi membawa Vio serta untuk menjemput Chris, namun ketika Adit membuka pintu ternyata Vio sudah berpindah di kursi belakang bagian penumpang.


"Silahkan masuk tuan kecil."


"Kamu jangan memanggilku sepelti itu kalau disekolah, aku kan jadi malu."


Adit berputar mengitari mobilnya, dan duduk di kursi pengemudi, dirinya melihat Vio dari kaca spion. "Lalu saya harus memanggil apa tuan?"


"Telselah kamu saja, tapi jangan panggil aku tuan kecil tahu."


Adit hanya melirik sekilas ke arah anak bosnya ini, lalu dirinya menggelengkan kepalanya pelan, dan mulai menjalankan mobilnya membelah jalanan yang masih sangat ramai itu, akibat orang tua yang pada menjemput anak-anaknya.


"Sepertinya tuan kecil belum menyadari jika ada nona Vio dibelakang." batin Adit.


"Gunakan sabuk pengaman anda tuan kecil."


"Iya aku sudah bisa sendili tahu."


"Selalu saja salah paham jika berbicara dengannya." gumam Adit lagi.


Vio yang menyimak percakapan dua orang itu ingin sekali dirinya menertawai Adit, pasalnya dia sering dibentak dengan mulut kecil Chris yang bahkan bicaranya saja masih cadel, tapi gayanya sudah seperti orang dewasa.


Adit kembali melihat ke arah spion, melihat Vio yang menahan tawa, sepertinya ini adalah perdebatan yang menyenangkan.


"Mau kemana kita?"


"Tentu saja pulang tuan,"


" Tapi aku masih ingin jalan-jalan."

__ADS_1


"Jalan-jalan kemana tuan? apa anda sudah menanyakan hal ini pada papa anda?"


"Tidak usah tanya, nanti kalau tanya dulu tidak boleh sama papa tahu." memelototkan mata kecilnya ke arah Adit.


"Lalu jika saya dimarahin papa anda bagaimana tuan?"


"Bilang saja jika kamu sedang mampil kemana begitu."


"Tapi mobil ini sudah dilengkapi Gps tuan, jadi pasti papa anda akan tahu kemana perginya kita, meskipun kita telah berbohong."


Jawaban Adit baru saja mampu membungkam mulut imutnya Chris. "Baiklah kita pulang saja." jawabnya lagi, nadanya bahkan berubah ketus pada Adit.


"Saya bisa saja mengantar anda kemana saja tuan, namun saya tidak berani melawan perintah dari papa anda, atau karir saya yang akan menjadi taruhannya."


"Huhhh rupanya kamu sangat takut sama papa saya iya?"


"Bukan takut tuan, tapi saya sangat menghormati keputusan yang papa anda buat."


"Itu sama saja tahu."


"Terserah anda mau menilai saya bagaimana tuan."


"Ohhh iya, kemalen aku menaluh mainanku di jok belakang." reflek Chris menoleh ke belakang, dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat wajah pulas Vio.


Seketika teriakan nyaring terjadi, "Bundaaaaa...." teriak Chris.


Adit yang melihat kaca spion ternyata Vio sedang terlelap di alam mimpinya seketika menghentikan aksi Chris untuk teriakan berikutnya.


"Kenapa kamu tidak bilang jika membawa bundaku, atau jangan-jangan selama ini kamu menyimpan bundaku iya?" tanya Chris menatap Adit curiga.


"Anda jangan salah paham dulu tuan."


Semula mobil Adit yang akan berjalan menuju jalan pulang kerumah, kini ia belokkan menuju sebuah taman di tengaj kota, untuk menjelaskan hal ini terlebih dahulu pada tuan kecilnya, toh niat Adit buka mempertemukan mereka.


Vio yang baru saja akan memejamkan matanya itu bahkan kini membukanya kembali. "Tuh kan, bunda jadi bangun, karena suara tuan kecil sangat berisik."


"Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku tadi." Chris bersedekap dada, gayanya layaknya bos yang sedang marah pada asistennya.


"Baiklah saya akan menjelaskan hal ini pada tuan kecil, saya akan mencari tempat untuk berbicara dulu."


Adit memelankan laju mobilnya lalu mencari parkiran, dan mereka keluar dari mobilnya. "Mau kemana kita?" tanya Vio.


"Sudahlah, ayo keluar, sudah terlanjur ketahuan juga."


"Itu gara-gara kamu tadi."


"Hemmm bisa dibicarakan lagi nanti, aku mohon kita akan membicarakan hal ini pada tuan kecil, untuk tetap menjaga rahasia kita, atau kalau tidak mau, rahasiamu akan terbongkar."


Mendengarkan hal itu Vio mau tak mau keluar dari mobil Adit dengan langkah gontai.

__ADS_1


"Kenapa tadi asisten Adit dam bunda bisik-bisik?" tanya Chris.


"Itu urusan orang dewasa tuan."


"Ayo kita mencari tempat duduk yang nyaman." menggandeng tangan mungil Chris yang baru saja keluar dari mobilnya, di ikuti langkah kaki Vio yang berjalan mengekor di belakang mereka.


"Aku tidak mau jalan denganmu, aku ingin jalan dengan bundaku." Chris melepaskan tautan tangannya, dan berpindah mensejajarkan langkah kakinya dengan Vio.


"Baiklah tuan kecil." gemas Adit pada Chris.


"Bunda gandeng aku."


Vio tersenyum sekilas pada Chris, pertemuan ini rasanya bercampur aduk, antara dirinya yang sangat kangen dengan Chris dan juga takut jika keberadaannya akan diketahui oleh Rey ayahnya.


"Baiklah ayo sini pegang tangan bunda."


"Bunda, kenapa pelut bunda sangat besal, apa bunda banyak makan?" tanya Chris yang mulai kritis pada pertanyaannya.


"Nanti akan bunda jelaskan, ayo kita cari tempat duduk dulu, disana."


"Baiklah ayo."


Saat ini mereka sedang duduk dibawah pohon Sakura dengan hawa dingin yang sangat sejuk, bahkan Vio mulai merapatkan Coat yang ia kenakan.


"Apa kamu masih kedinginan?"


"Tidak, aku kan sudah menggunakan mantelku."


"Hemm baiklah,"


Adit duduk di kursi yang bersebelahan dengan Vio, karena memang letaknya kursi di taman itu di setting memanjang.


"Aku kangen sekali dengan bunda, selama ini bunda kemana saja?" tanya Chris yang matanya mulai berkaca-kaca.


"Hey kenapa kamu menangis, anak laki-laki harus kuat, tidak boleh cengeng tahu." Vio mengusap air mata Chris.


"Benalkah?"


Vio mengangguk lagi, dan menebarkan senyuman termanisnya, "Ayo senyumlah, mana senyuman anak bunda yang sangat imut ini."


Chris tidak jadi menangis, kini berganti dengan wajah cerianya, ah anak kecil memang sering berubah-ubah suasana hatinya.


"Maafkan bunda sayang, bunda hanya sedang melakukan yang terbaik."


"Yang terbaik apanya bunda? bahkan saat mamaku meninggal bunda tidak ada disana."


Vio begitu terkejut mendengarkan pernyataan ini dari mulut kecil Chris, dirinya bahkan tidak begitu menyangka, dan tidak percaya. "Apa yang kamu bicarakan sayang?" membingkai wajah tampan yang memang fotocopy Rey dan seperempatnya lagi Angel itu.


dan

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2