WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Perjuangan Ibu


__ADS_3

"Tidak biasanya tuan kecil makan buah-buahan seperti itu."


"Mungkin kali ini penyajiannya berbeda." jawab Vio santai, sambil merapikan piring-piring bekas mereka makan.


"Masak iya mempengaruhi?" tanya Adit mengambil alih.


"Bisa jadi."


"Kau mau apa?"


"Sini biar aku saja yang mencuci piringnya, kamu temani saja tuan kecil."


"Bilang saja jika kamu kesal melihat tuan kecilmu berbuat ulah."


"Itu kamu tahu."


"Dasar asisten tidak punya akhlak." cibir Vio meletakkan gelas bekas minuman diatas wastafel.


"Aku tinggal dulu, kamu yang bersih iya cuci piringnya."


***


.


.


Waktu berlalu begitu cepat, hari-hari Adit ia habiskan dengan pekerjaannya, sementara Vio semenjak kejadian pesta kebun dirinya pindah di lantai tiga tempat usaha Adit, yaitu dimana lantai satu dan dua ditempati sebagai butik.


Berbeda dengan Rey, selama ini dirinya disibukkan dengan putra semata wayangnya Chris yang banyak membuat ulah hingga membuatnya kewalahan.


Seperti saat ini, "Papa... papa, sebental lagi Chlis akan punya adik."


Ini sudah memasuki bulan ke sembilan kehamilan Vio, itu artinya sebentar lagi Vio akan melahirkan. Dan disambut girang oleh Chris salah satunya.


"Apa yang kau bicarakan." Rey menutup kaca mata bacanya, meletakkan kembali buku diatas meja, dan menoleh ke arah Chris.


"Iya maaf Papa, maksudnya Chlis ingin punya adik, sepelti teman-teman Chlis." ketika tidak sengaja Chris keceplosan dengan ucapannya sendiri.


"Kalau kamu sudah bisa menjaga dirimu sendiri, dan memang sudah waktunya maka kamu akan memilikinya." ingatan Rey sekelebat mengingat wajah manis Vio, senyumnya, keras kepalanya bahkan saat ia bermanja dengannya, semuanya yang ada di dalam diri Vio membuatnya merindukannya.

__ADS_1


"Berdoalah yang sungguh-sungguh, agar suatu saat nanti dikabulkan."


"Baik Papa..."


"Ayo sekarang waktunya belajar, kita belajar dulu."


Chris menuruti kemauan ayahnya, pasalnya untuk menjadi seorang kakak itu harus pintar, agar bisa melindungi dirinya dan adiknya nanti, seperti itulah yang tertanam dalam diri Chris.


"Papa aku nanti kalau punya adik, ingin yang pelempuan, sepelti temanku disekolah adiknya pelempuan." disela-sela belajarnya Chris masih saja menceritakan keinginannya.


"Hemmm..." Rey tidak begitu mempedulikan cerita Chris, dirinya sibuk mengajari cara berhitung yang benar.


Setelah selesai belajar Rey menidurkan Chris di kamarnya, hingga membuatnya ketiduran begitu lelapnya, tadi karena Chris minta dibacakan buku cerita sebelum tidur.


Hingga waktu tengah malam membuatnya terbangun, "Jam berapa ini." Rey bergumam mengerjapkan matanya perlahan, menyesuaikan cahaya sinar lampu, dan bangun dari tempat tidur anaknya.


Rey bergegas menyiapkan besuk pagi apa saja yang perlu dibawa oleh putranya. Seperti baju ganti dan buku-buku belajar lainnya.


Walaupun ada suster Ana, Rey tetap menyempatkan menatanya sendiri untuk keperluan anaknya, bahkan untuk sarapan pagi dam bekal yang dibawa Chris terkadang dirinya yang menyiapkan sendiri.


Baginya pekerjaan di kantor adalah tugasnya, lain halnya dengan anak, anak adalah amanah dan tanggung jawabnya, sehingga ia harus pandai-pandai membagi waktu, karena menyadari Chris yang sudah tidak memiliki ibu, selain dirinya.


"Vio..." gumam Rey menatap layar ponselnya sendiri kala Vio tidur terlelap dengan wajah polosnya, diam-diam dirinya mengambil gambarnya.


"Apa kamu sedikit saja tidak mengingatku."


"Harus kemana lagi aku mencarimu, bahkan ini sudah beberapa bulan sejak kejadian yang aku pikir baik-baik saja."


"Haruskah aku menyerah." Rey sudah putus asa mengenai pencarian istri mudanya itu.


Namun orang detektif suruhannya tetap masih dalam pencariannya. Tapi sepertinya Vio sudah mengira-ngira akan terjadinya hal seperti ini, sehingga mampu membuatnya waspada.


Sedangkan dilain tempat, Seorang wanita duduk di sandaran dasboard tempat tidur, pasalnya sejak tadi sore Vio tidak bisa memejamkan matanya, lantaran bayinya terus menendang dan membuat perutnya begitu sakit, namun akan berhenti ketika dirinya meraba perut buncitnya.


"Ada denganmu nak, bahkan ini sudah malam, kamu tidak bisa diajak tidur." Vio mengajak bayinya berbincang-bincang.


"Kau tahu, kalau kita hanya hidup berdua, jadi harapan Bunda, jadilah anak yang mengerti kondisi Bunda iya nak."


"Dan satu lagi, jangan menyusahkan Bunda, kelak kamu akan menjadi anak kebanggaan Bunda."

__ADS_1


"Aduuhhh..., sepertinya kamu merespon dengan baik."


"Tapi kenapa suka sekali menendang begini." Vio meringis sendiri.


Ini waktu tengah malam lewat, tadi yang awalnya Vio perutnya merasa ditendang terus menerus oleh bayinya, kini sepertinya ia merasakan hal lain, bolak balik dirinya keluar masuk kamar mandi, lalu merasakan punggungnya begitu sakit, seperti terjadi kontraksi, Vio mengingat dengan jelas nasehat dokter bagaimana tanda-tandanya kontraksi terjadi.


Ketika memasuki kamar mandi untuk yang entah ke berapa kalinya, dirinya begitu tidak kuat menopang tubuhnya sendiri, alhasil Vio terduduk di dalam kamar mandi dengan memegang perutnya, dan keringat dingin terus bercucuran keluar dari pelipisnya dan seluruh tubuhnya. Matanya terpejam menahan sakit.


"Tolongggg..." rintihnya, bahkan mengeluarkan suaranya saja Vio merasa tak kuat.


"Adiittt..., dimana kamu."


"Bertahanlah nak, Bunda harus mencari bantuan."


Vio merangkak perlahan dari dalam kamar mandi, dan tangannya bersusah payah untuk menggapai gagang pintu, "Oh Tuhan sepertinya aku akan melahirkan." suara serak Vio, mau mengeluarkan air mata pun ia tak mampu.


Yang mampu ia lakukan hanya merangkak sedikit demi sedikit, agar dirinya bisa keluar kamar dan mencari pertolongan. Tapi sepertinya tenaga Vio sudah berada diujung kekuatannya, "Tuhan jika aku ditakdirkan mati dalam keadaan seperti ini, maka biarkan anakku lahir terlebih dahulu, jangan kau ambil keduanya."


Setetes buliran bening keluar dari mata indahnya, Vio menetralkan nafasnya yang tersengal, tidak ada yang ia pikirkan saat ini selain keselamatan anaknya.


Bahkan sepanjang ia merangkak, darah telah merembes di pakaian yang tadi ia kenakan.


Vio masih mengatur nafasnya perlahan, ia termotivasi karena anaknya, "Kamu harus kuat, bukankah selama ini kita berjuang sendirian."


"Kalau pun aku mati dan kamu selamat, semoga kamu dipertemukan dengan ayahmu nak."


"Sepertinya bunda tidak sanggup menahan beban hidup sendirian."


Vio sudah pasrah, pasalnya ini tengah malam, mungkin Adit yang berada dikamar seberang, sudah terlelap dalam mimpinya, suatu keajaiban jika dirinya mendapatkan pertolongan.


Vio tetap menguatkan sisa-sisa tenaganya agar mendapatkan pertolongan, entah bagaimana akhirnya.


"Aauuhhhh..." Vio menjengkit berteriak kesakitan hingga berulang kali.


Tok...tok


Suara ketukan pintu dan namanya dipanggil dari luar, lama tak ada sahutan hingga pintu dibuka dari luar.


"Vio kamu..."

__ADS_1


__ADS_2