
"Jam berapa ini?" Rey yang baru saja membuka matanya perlahan. Membawa tubuhnya untuk bersandar pada sandaran ranjang diruangan itu.
Dirinya belum menyadari jika disampingnya Vio masih terlelap di alam mimpinya.
Lalu menerbitkan senyum sekilas setelah tahu siapa yang berada disampingnya, meraih jam tangannya untuk melihat putaran waktu.
"Sepertinya aku tidur terlalu lama." gumamnya pelan.
Lalu turun dari tempat tidurnya, dan berjalan ke arah kamar mandi. Walaupun suasana kantor, tapi tak menghilangkan kesan kamar mandi mewahnya. Tetap saja kamar mandi yang ada di dalam kantornya ini di desain mewah dengan bath up yang dikirim dari luar luar negeri, dan bahan-bahannya berkualitas, semuanya pilihan khusus, khas sesuai karakter pemiliknya.
Mewah, elegan, minimalis dan modern tentunya. Itulah khas yang dia sukai. Serta dilengkapi beberapa almari dan berisi pakaian miliknya, namun di sana sayangnya tak ada satu pun pakaian milik wanita.
Ketika dirinya sedang berendam di dalam bath up, terdengar pintu ruangannya di buka, pertanda seseorang masuk ke dalam sana.
"Kenapa kamu mandi tak mengajakku?"
"Aku tak tega membangunkanmu."
"Lalu nanti aku disini sendirian, dan kau tinggal pulang begitu?" rajuk Vio mengerucutkan bibirnya, masih dengan berbalut selimut tebal yang melapisi seluruh tubuhnya.
Rey melirik dirinya, menarik selimut yang membalut tubuh rampingnya itu dan membuangnya asal, lalu tangannya ditarik hingga memasuki bath up yang penuh dengan busa dan aromaterapi.
"Aduh ..., kau ini selalu saja membuatku terkejut."
"Tapi kamu suka kan." Rey menyeringai, sepertinya ada maksud tertentu dibalik arti senyum manisnya ini.
"Kenapa aku merasa aneh, melihat senyummu yang seperti ini."
"Diamlah, wanita nakalku." mencium leher Vio dan memberikan stempel disana.
"Ahhh sakiit, kalau mau menggigit, gigit saja saja buah apel yang ada di meja tadi,"
"Aku ini bukan makanan," kesal Vio.
"Kau adalah makanan yang paling ku sukai," jawab random Rey.
"Mana ada seperti itu." Vio memicingkan matanya, akan berbalik dan ingin membalas perbuatan Rey. Namun malah terjadi hal lain disana. Hingga satu jam lamanya.
"Aku capek, apa kau tak berniat memberikan aku sebuah pijatan begitu." kesal Vio kala berjalan keluar dari kamar mandi yang di sana terdapat walk in closet, tempat barang-barang Rey disimpan, dan sudah menggunakan salah satu kemeja Rey yang kebesaran dan sangat kedodoran ketika dipakainya.
Vio berjalan keluar sambil menghentakkan kakinya,niatnya mandi biasa malah mandi plus-plus. "Kau ingin pijatan yang bagaimana?"
"Pijat seluruh tubuhku, aku sungguh sangat kelelahan." bagaimana tak kelelahan, berulang kali dirinya dikerjai oleh lelaki tampan yang sudah terlihat matang ini, tetapi masih tak melunturkan wajah tampan serta tubuh atletisnya.
"Kau jangan macam-macam lagi,"
"Mau pijat iya pijat saja."
__ADS_1
Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan, tetapi mereka masih belum keluar dari ruangan itu.
Berulang kali juga Angel menghubunginya, tapi ia lupa jika ponselnya sedang di silent, dan di letakkan di meja kerjanya tadi, sehingga sampai kapan pun Angel menghubunginya juga tak akan mendengarkan.
"Hah, ini sungguh membuatku seperti mendapatkan terapi kecapekkan." ucap Vio asal.
"Mana ada seperti itu?" Rey sambil memijat pelan dengan menggunakan minyak zaitun yang selalu Vio bawa kemana-mana.
"Ada lah, lha ini aku sedang mendapatkan pijatan terapi." Vio terkikik jahil. Namun tak bersuara, akhirnya dirinya bisa menyuruh dengan leluasa bos arogan ini. Begitulah pikir Vio.
"Benarkah, berarti aku ada bakat di sana ya?"
"Sepertinya, kau bisa membuka terapi pijat nanti, aku akan senang setiap hari mendapatkan terapi seperti ini."
"Benarkah?"
"Ehmm iya, kau tahu? kalau aku sangat suka dengan pijatan jika tubuhku sedang capek-capek begini."
"Siapa yang memijatmu?" tanya Rey terdengar tak suka mendengarkan curhatan Vio.
"Perempuan atau laki-laki?"
"Kalau laki-laki kenapa? kalau perempuan kenapa?"
"Aku akan membunuhnya memasukkan ke dalam kandang buayaku, jika itu laki-laki."
"Cieh mengerikan sekali,"
"Tak usah banyak ingin tahu, jika ingin hidupmu tentram." celetuknya, masih tak menghentikan pijatan tangannya di kaki Vio.
"Jawabanmu tadi terdengar mengerikan, aku sampai merasa bulu kudukku berdiri semua tahu."
"Hemmm, kau tahu, hanya aku saja lelaki yang boleh menyentuhmu."
"Sekali saja ada lelaki lain yang ingin menyakitimu, akan ku patahkan tangannya."
Seketika itu Vio jadi teringat tante dan juga omnya, waktu beberapa bulan lalu telah menyekapnya, dan setelah dia selamat dari penyekapan itu, kini tak ada lagi kabar tentang mereka, Vio jadi menduga yang tidak-tidak.
"Kalau Angel yang di sentuh lelaki lain, apa kamu juga akan semarah ini?" tanya Vio asal, ucapan yang keluar dari mulutnya, sambil merasakan sentuhan tangan Rey, yang semakin ke atas merasa semakin jahil.
"Hei, pijatlah dengan benar, aku ini sudah lelah."
"Apa seperti ini tidak benar nona?"
Tangannya merayap, pada benda kenyal yang bentuknya kembar itu.
"Turun ...., turun pindah sini,"
__ADS_1
"Ini yang yang capek, kenapa tanganmu merayap."
"Aduhhh, sudah ..., sudah pindah saja." sambil menunjuk pundaknya yang masih terasa pegal itu.
"Disuruh pijay malah merayap kemana-mana," rajuk Vio.
"Apa ini juga capek?"
"Tidak, kamu salah tempat, ihhh kamu ini ..."
Vio merasa kesal sendiri, beberapa kali mendapatkan kelakuan jahil dari Rey.
"Sudah ... sudah ..., aku mau pulang, aku sangat lapar."
"Aku pulang sendiri saja."
"Siapa yang mengijinkanmu pulang sendiri?"
"Aku antarkan." Rey yang hanya mengenakan kaos putih transparan, hingga menampilkan perut ratanya.
"Tidak, aku tidak mau." Vio sambil merapikan baju-bajunya dan baju Rey, memasukkan kedalam paper bag yang tadi ia temukan di dalam walk in closed tadi.
Lalu berjalan keluar menyambar rantang dan tasnya, berjalan ke arah pintu, membuka daun pintu yang padahal bisa dibuka otomatis dengan menekan tombol disampingnya atau dengan remot saja.
Tetapi belum juga Vio berhasil membuka daun pintu itu, tangannya sudah di tarik Rey, yang tadi mengejarnya.
"Siapa yang menyuruhmu pulang sendiri?" menatap tajam Vio, bagaikan menatap sebuah mangsa yang siap di terkam nya.
" Ehmm itu, anu." Vio menjadi salah tingkah sendiri karena mendapatkan tatapan tak biasa itu. Menggaruk kepalanya yang tak gatal, dengan pergelangan tangan yang ia selipi paper bag.
"Lihatlah pakaian yang kau gunakan."
"Apa kau akan memamerkan kaki jenjangmu itu?"
"Hemmm ..."
"Ehhh iii...iya, iya ayo, aku mau diantar pulang." Vio tergagap sendiri dan merasa jika salah.
Rey mengenakan kembali kemejanya dengan warna sama, merapikan lalu terakhir mengenakan jas mahalnya.
Mereka berjalan beriringan dengan susana kantor yang sudah sangat sepi dan hanya ada penjaga malam serta satpam sewaktu didepan, tapi mereka berjalan menggunakan lift yang terhubung langsung dengan basemen tempat parkiran dimana mobilnya berada.
Akhirnya Vio menuruti juga ucapan Rey, karena memang tadi dirinya berangkat menemui suaminya dengan menggunakan jasa taksi online.
"Apa kau akan mampir?" tanya Vio menoleh pada dirinya, tadi ia menggunakan mobil kantor, karena pas berangkat tadi diantar sopir pribadinya.
Rey masih diam, belum menjawab pertanyaan Vio.
__ADS_1
dan
Bersambung