WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Jalan-jalan Part 2


__ADS_3

Mereka menikmati suana jalan-jalan kali ini, sesekali Vio menjahilinya seperti saat ini.


"Tuan aku ada permintaan untukmu" kata Vio sudah merencanakan ide jahilnya.


"Apa" tuan Rey sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Belikan aku permen kapas, aku akan menunggu di sini" Vio memposisikan dirinya duduk di kursi dibawah pohon yang rindang itu.


"Dimana ada penjual permen kapas" tanya tuan Rey bingung, harus mencari kemana.


"Iya mana aku tahu, mungkin di sana ada, kan banyak penjual di sana" tunjuk Vio ke arah banyak penjual.


"Hemm tapi di sana sangat jauh, yang benar saja aku harus berjalan kaki sejauh itu"


"Kamu sayang aku tidak sih, kalau sayang itu apapun dilakukan untuk orang yang dicintainya" kata Vio beralasan dengan memasang muka sedihnya. Tuan Rey yang tak tega tentu saja menuruti apa kata Vio.


"Baiklah tunggu sini, akan ku belikan sebentar" tuan Rey berjalan ke arah pembeli permen kapas yang jaraknya sangat jauh jika berjalan kaki.


"Rasain, sekarang giliranku mengerjaimu, biar tahu rasa... kamu, enak saja sudah menyuruhku semaunya, hemm Vio dilawan" gumamnya pelan sambil bersorak senang.


Perjalanan menuju penjual permen kapas itu sangat panas dan ramai, sehingga perlu mengantri dengan antrian panjang. Disana rata-rata yang mengantri orang tua yang membawa anaknya. Tetapi tidak dengan dirinya, sehingga menjadi pusat perhatian para ibu-ibu dan orang tua lainnya. Bukan apa-apa hanya mengagumi ketampanan lelaki yang mengantri bersamanya ini.


Para ibu-ibu rela jika harus mengantri berlama-lama demi memandangi wajah tampan yang duduk di kursi plastik itu. Sehingga hal itu membuat tuan Rey canggung di kelilingi oleh ibu-ibu yang terus memandang ke arahnya, hingga tiba gilirannya.


"Permen kapas lima bungkus bu" penjualnya ibu-ibu.


"Banyak sekali tuan, apa anaknya banyak iya tuan" tanya penjual itu.


"Bukan untuk anak, tetapi untuk istri saya bu" jawab tuan Rey.


"Wahh pasti istrinya lagi ngidam iya tuan" jawab penjual itu sok tahu.


"Iya bu" jawab tuan Rey yang tak mau memperpanjang percakapan itu.


"Ini tuan semuanya lima puluh ribu" sambil menyerahkan uang dua lembar.


"Ini kebanyakan tuan" kata penjual.


"Tidak apa, sisanya untuk ibu saja" tuan Rey.


"Wahh terimakasih banyak tuan, semoga calon anak anda lahir dengan selamat" ucap penjual tadi memberikan doanya pada istrinya.


Tuan Rey tak menjawab hanya mengangguk pelan saja sambil berlalu dari sana. Dirinya kembali ke tempat tadi Vio berteduh sambil menenteng lima bungkus permen kapas.


"Ini pesananmu tadi" menyerahkan ke Vio.

__ADS_1


"Wahhh suamiku sangat baik hati hari ini" kata Vio sambil mengambil permen kapas dari tangan tuan Rey.


"Sekarang aku meminta upahku."


"Upah apa, aku kan tak bawa uang cash, tadi saja aku meminta darimu" ucap Vio polos.


" Aku tak meminta upah uang."


" Lalu mau meminta upah yang bagaimana lagi jika bukan uang" Vio membuka permen kapas dan langsung melahapnya.


"Cium aku" kata tuan Rey dengan percaya diri.


"Tapi ini ditempat umum, aku tak mau" Vio menolak.


"Kau menolakku, baiklah jika kau tak mau menciumku, aku akan meminta upahku nanti malam saja untuk melayaniku."


Vio mendongak menatap tuan Rey, sedangkan tuan Rey yang ditatap itu dengan santainya malah bermain ponsel, hal itu membuat dirinya ingin mencubit batang hidungnya saja.


"Baiklah aku akan menciummu, kemarilah" perintah Vio.


"Kan aku yang meminta upah, tentu saja kamu yang menghampiriku" tuan Rey dengan santainya, tak tahu jika istri simpanannya itu sudah sangat kesal dengan gigi gemlutuk dan meremas kedua tangannya.


"Baiklah" Vio maju lalu mencium pipi tuan Rey pelan.


"Bukan disitu, tetapi disini" menunjuk bibirnya.


"Ihhh apa-apan sih kamu ini, tidak tahu malu sekali" Vio menggerutu sambil mengusap bibirnya yang basah akibat ciuman panas kilat tadi.


Tetapi tuan Rey malah tersenyum bahagia seperti habis mendapatkan undian lotre saja.


"Kau juga coba permen ini, ini sangat enak."


"Tidak, aku tak suka yang manis-manis" kata tuan Rey.


"Tetapi kenapa kau malah membelikanku sebanyak ini" tunjuk Vio pada tuan Rey.


"Bukankah tadi kamu yang meminta, lalu salahku dimana" tanya tuan Rey.


Vio kesal bukan main, memang benar dirinya yang meminta permen kapas tetapi dirinya tak meminta sebanyak itu, hingga setiap kali ada anak kecil lewat Vio bagikan hingga sisa satu.


Perjalanan mereka dilanjutkan, saat ini berada didalam mobil, Vio meminta menghentikan mobil tuan Rey berhenti di warung tenda. Tentu saja berdebat lebih dulu untuk menghentikan mobilnya didekat warung tenda. Misi Vio belum selesai mengerjai suaminya itu. Kali ini harus berhasil pikirnya. Vio akan mengajak tuan Rey makan di warung tenda itu.


"Sayang ayo turun, aku ingin makan disitu" Vio menunjuk warung tenda didekat parkir mobilnya.


"Kau bilang apa tadi" tanya tuan Rey.

__ADS_1


"Aku ingin makan di warung itu" Vio.


"Tidak, bukan itu tadi kamu memanggilku apa."


"Sayang" Vio.


"Coba ulangi sekali lagi."


"Sayang aku ingin makan di situ, ayo" tuan Rey yang dipanggil dengan sebutan manis itu tentu saja menurut walaupun dirinya enggan turun dari mobil.


Baru melihat dari luar saja sudah membuatnya tak nafsu makan, apa lagi masuk didalamnya.


"Sayang tapi ini sangat jorok" tuan tanpa sadar memanggil Vio agar mau diajak pergi dari sana.


"Tidak kau harus coba jadi orang dengan kasta rendah" Vio memaksa.


"Tetapi sayang, aku bisa mengajakmu ke restauran mana saja yang kamu mau, dan aku masih kuat membayarnya."


Mereka berdebat dijalan dengan tangan saling tarik menarik.


"Sudahlah kamu ini menurut saja, makanan disini ini sangat enak, kamu harus mencobanya" Vio menarik tangan tuan Rey masuk kedalam warung tenda itu.


Warung ini sebenarnya warung langganan Vio ketika dirinya sepulang bekerja biasanya akan makan disini atau terkadang membungkusnya untuk dirinya dan Fani.


"Wahh ning Vio, bersama suaminya iya ning" tanya ibu penjual itu yang sudah hafal dengan pelanggannya.


"Ehh iya bu, ini kenalin suami saya" kata Vio.


"Ning Vio mah pandai, cari suami bisa cakep dan tajir begini, resepnya apa sih ning" kata penjual warung itu yang dibantu oleh anak gadisnya.


"Tidak tahu bu, mungkin hanya sebuah keberuntungan saja" jawab Vio seadanya.


"Wahh semoga keberuntungan ning Vio menular pada anak ibu ning."


"Mau pesan apa ning Vio dan suaminya" ibu itu terlihat genit jika Vio perhatikan tak seperti biasannya.


"Ayam bakar dua, bebek goreng dua dan minumnya air botol ini saja ya bu" sambil mengambil air botolan di depannya itu.


Vio sudah bisa menduga jika suaminya itu tak akan mau minuman buatan ibu penjual warung tenda itu.


dan


.


.

__ADS_1


.


Bersambung-


__ADS_2