
"Kau tahu, kalau dia belum pernah hamil,"
"Tentu saja saya tahu mengenai hal itu tuan."
"Karena itu, ... dia belum pernah merawat bayi, aku kawatir ketika dia menggendong Chris akan terjadi sesuatu dengannya."
"Dia adalah harapanku di masa depan."
"Aku harus menjaganya dua kali lebih ketat dari pada ini."
Bahkan didatangkan ahli gizi untuk mengurus makanan baby Chris, dan dokter Rica sudah kembali setelah persalinan Angel, dan kini berganti dengan chef khusus yang lebih profesional, yang bisa memasak makanan luar maupun dalam negeri.
Semua makanan mengenai baby Chris harus pas dan seimbang, sesuai kebutuhan pangan bayi, agar kedepannya tumbuh dengan sempurna, sesuai keinginannya.
"Tapi nyonya Angel juga baru pertama kali menggendong bayinya tuan." bantah Adit tak terima.
"Dia membutuhkan asi ibunya, wajar saja jika Angel yang menggendongnya."
"Cieh, suami macam apa ini, mempermalukan istri mudanya di depan istri tua, memangnya nyonya Angel juga langsing ahli begitu, aku rasa anda sangat tidak adil tuan." batin Adit sangat kesal.
"Tapi semuanya kan bisa belajar tuan."
"Aku tak yakin, dirinya bisa mengasuh bayi."
"Lalu, apakah anda tak berniat memiliki anak dengannya?"
"Aku rasa nona Vio juga ingin memiliki bayinya sendiri." usul Adit menyimpulkan sendiri.
Rey sambil membuka kembali MacBook nya yang berada di tangannya.
"Belum saatnya dia memiliki bayi, usianya masih sangat muda."
"Lalu ..., bagaimana jika nona Vio ingin memiliki bayinya sendiri?"
"Aku rasa belum sampai kesana pikirannya saat ini."
"Hah, susah memang berbicara padanya, sudahlah jadi malas aku." batin Adit kesal sendiri.
🌷🌷🌷
Pagi hari, hari ini berbeda dengan hari-hari biasanya yang Rey lalui, itu semua karena kehadiran baby Chris yang membawa cahaya dalam hidupnya, tidak terasa baby Chris sudah berusia satu bulan.
Dan kedua orang tuanya serta kakaknya baru saja pulang dari rumahnya, setelah dua minggu berada dirumah besar itu.
Sedangkan orang tua Angel satu minggu lebih dulu kembali ke negaranya. Pasalnya juga karena banyak kerjaan dan tak bisa di tunda.
"Apa kamu pulang sore nanti."
"Lihat saja nanti, aku belum bisa memastikan."
"Kenapa?" Rey berdiri didepan Angel, yang dasinya sedang disimpulkan oleh istri pertamanya ini.
"Aku hanya kelelahan saja, karena baby Chris tak mau tidur ditempatnya."
"Benarkah, "
Angel mengangguk, membenarkan ucapannya sendiri. "Kalau ada kamu dirumah saja dia mau tidur di box bayinya." adu Angel lagi.
"Hemm, ambilkan salah satu bajuku, lali letakkan disampingnya, supaya dia mau tidur di box bayinya."
"Kenapa bisa begitu."
__ADS_1
"Kau coba saja nanti,"
"Sudah, aku berangkat dulu."
"Hallo boy, kau jadilah anak yang pintar, jangan menyusahkan mom dan daddy, kau tau,"
"Kau adalah anak kebanggaan semua orang," mengecup pipi gembil itu berkali-kali, tapi si empunya malah terlelap dalam tidurnya.
Rey berjalan ke walk in closed, mengambil salah satu bajunya, dan ia letakkan di pinggir baby Chris. Lalau meninggalkannya.
"Berhati-hatilah."
"Hemmm."
Lalu Rey mengecup kening Angel sekilas, dan pergi sampai pintu depan diantar oleh kepala pelayan yang mengekorinya dari belakang, membawakan tas kerjanya.
"Tas anda tuan."
"Ehmm iya terimakasih."
"Oh iya, jangan lupa, jika baby Chris makan tepat waktu, tidur siang tak ada yang boleh mengganggunya, dan Angel jangan boleh telat makan."
"Baik tuan, akan saya ingat semua pesan anda."
Rey memasuki mobil mewahnya, yang sudah ditunggu oleh Adit, yang menjemputnya sejak tadi pagi.
"Bagaimana perkembangan baby Chris tuan?"
"Dia berkembang dengan sangat baik, berat badannya cukup naik signifikan."
"Wahh nona Vio pasti senang mendengarnya, apa boleh nona Vio berkunjung kemari tuan?"
"Baiklah, jika begitu besuk weekend saya akan mengajak nona Vio menjenguknya."
"Kemaren juga belum sempat memberikan hadiahnya."
"Tak usah membawa hadiah juga tak apa, Chris sudah memiliki banyak barang."
Adit terdiam, menyimak pembicaraan yang keluar dari mulut tuanya. Padahal niat hati Vio ingin membelikan ayunan bayi, tapi karena bapaknya bilang begini jadi mengurungkan niat Vio. Baiklah sepertinya Adit nanti harus memberikan pengertian pada Vio, agar dirinya nanti tak bersedih hati.
Sampai di kantor, Adit memasuki ruangan kerjanya, begitu juga dengan Rey, melepaskan jasnya dan menggantungkan di kursi kebesarannya.
Lalu membuat kopi sendiri di mesin penggilingan kopi yang sudah tersedia di dalam ruangannya itu.
Tok ..., tokk
"Masuklah."
"Permisi tuan, rapatnya sudah akan dimulai."
"Hemm," jawab Rey hanya deheman saja. Tapi tak urung juga dirinya berdiri dan kembali menyambar jas mahalnya itu. Padahal baru beberapa menit dirinya menempelkan tubuhnya di kursi putar itu.
Rey berjalan memasuki ruang rapat, divisi pemasaran yang bernama Andi sedang memimpin rapat, melaporkan hasil penjualan produk barunya yang satu bulan lalu diluncurkan.
"Telah terjadi kenaikan presentase tuan, pada penjualan produk baru kita, "
"Peminatnya sangat banyak, bahkan sampai membuat kewalahan."
"Apa tidak sebaiknya membuat inovasi baru tuan, dalam bentuk lainnya." ide Andi tiba-tiba.
"Ehmm maksud saya, mumpung penjualan produk sedang laku keras, akan ada peluang bagus untuk mengembangkan produk kita."
__ADS_1
"Biarkan yang lainnya berpendapat, Adit kau bersuaralah."
"Ehmm saya tuan, kalau itu juga bisa saja tuan, tapi masalahnya disini produk apa yang akan kita buat?" Adit memberikan tambahan idenya.
"Aku rasa akan sangat bagus jika membuat serangkaian make up kecantikan, dengan bahan dasar teh."
"Sabun juga bisa, kau tahu saat ini pasar sedang ramai memburu produk yang seperti ini." Rey menyahut.
"Baiklah, aku menyetujuinya, silahkan kita adakan rapat berikutnya, untuk membahas ini dengan bagian divisi bagian desain produk." ungkap Rey lagi.
"Baiklah tuan."
"Rapat ditutup, dan akan kita adakan pertemuan lagi berikutnya." Rey menutup laptopnya, dan berjalan keluar ruangan aula rapat itu. Kembali pada meja kerjanya.
Ketika membuka ruangan kerjanya, betapa dirinya dikejutkan oleh kehadiran Vio yang tiba-tiba.
"Kamu, sejak kapan berada disini?"
Tanya Rey berjalan menghampiri Vio, dan menutup pintu ruangannya kembali.
"Sejam yang lalu, sepertinya kamu begitu sibuk,"
Rapat tadi berlangsung hingga jam sebelas siang, saat Rey keluar ruangan. Cukup menyita waktu banyak dalam pembahasan produk barunya nanti.
"Aku kesini membawakan makan siang untukmu."
"Kemarilah,"
Vio mendekat dan mencium pipinya, lalu turun ke bibirnya. Ia telah menghilangkan rasa gengsinya sendiri.
"Apa ini semua kamu yang memasaknya?" tanya Rey kala melihat banyak sekali menu makanan yang terhidang didepannya.
"Tentu saja, siapa lagi."
"Aku telah berkebun sayuran kembali di balkon apartemen, dan ini hasilnya, setelah satu bulan tumbuh subur."
"Kau harus mencicipinya." tegas Vio.
"Tapi aku tak suka sayuran,"
"Tapi kau harus mencobanya."
Selama sebulan ini Rey begitu sibuk dengan pekerjaan dan juga bayinya dirumah, sehingga lupa berkunjung ke Penthouse Angel.
"Bukalah mulutmu, ayo aa... aaa."
Mau tak mau Rey membuka mulutnya kembali, ketika melihat sendok ditangan Vio yang sudah mendekat kemulutnya.
"Kenapa kau suka sekali memaksa,"
"Itu balasan, karena kamu sendiri juga suka memaksa." ketus Vio.
"Ohh, jadi kau sedang balas dendam ini." kata Rey sambil mengunyah makanan yang mulutnya sudah penuh itu.
"Iyah, bagaimana iya, anggap saja begitu."
"Aku mau nanya, kenapa kamu tak pernah lagi mengunjungiku?" tanya Angel sambil mengaduk makanan di tangannya untuk suapan berikutnya.
dan
bersambung
__ADS_1