
Vio sedang mengambil suapan berikutnya, "Jawab pertanyaanku dulu,"
"Apa kau tak melihat jika aku sedang sibuk ..."
"Biasanya kamu juga sibuk, tapi kamu masih sempat menyapaku,"
"Atau jangan-jangan, kamu sudah mulai bosan denganku?" selidik Vio, menaruh sendoknya setelah habis tak tersisa menyuapi suaminya ini. Menatap Rey intens.
Rey malah sibuk membuka email dilayar MacBook nya, "Kamu ini sebenarnya mendengarkan aku atau tidak sih?" keluh Vio sedikit merasa kesal, karena sudah diabaikan seperti ini.
"Sabarlah, aku sedang membalas email masuk." matanya masih fokus memandangi MacBook nya. Sedikit pun tak mengalihkan pandangannya ke arah Vio.
"Ya sudah, jika kedatanganku kemari mengganggu pekerjaan kamu, aku akan pulang saja." Vio sudah mulai bangkit berdiri membereskan sisa-sisa tadi selesai makan.
Tetapi Rey masih tak mendengarkan ocehan Vio, padahal harapannya Rey akan mencegah kepulangannya. Vio bangkit berdiri dari duduknya.
Berjalan melewati Rey, "Kau mau kemana?" meletakkan MacBook di tangannya, dan mencekal lengan Vio.
"Pulang, mau kemana lagi memangnya"
"Siapa yang mengijinkanmu pulang, hemmm" Rey menarik tangan Vio, hingga terjerambah masuk ke dalam pangkuannya.
"Itu karena aku sudah mengganggu orang yang sedang sibuk" ketus Vio.
"Tapi kamu sudah terlanjur masuk ke dalam ruangan ini,"
"Sialan, kenapa juga aku sudah seperti wanita yang haus belaian sih," dalam hati Vio.
"Itu artinya ...," Rey menyeringai menatap manik hitam yang menyala indah itu. Reflek Vio menaruh rantang makanan diatas meja, karena dirinya terasa melayang, yang ternyata sudah dalam dekapan Rey.
"Kau mau membawaku kemana?" panik Vio.
Tanpa bertanya dan menunggu persetujuan empunya, Vio sudah dibawa masuk ke ruangan pribadinya. Melempar tubuh ringkih Vio diatas ranjang king size tempat dirinya beristirahat di kala lelah, atau hanya ingin menenangkan pikiran saja.
"Kau jangan macam-macam, ini di kantor ..,"
"Tidak macam-macam, mungkin dua macam atau tiga macam saja sudah cukup" Rey tersenyum simpul memandang wajah pias Vio yang sudah panik itu.
"Aku tidak mau, bagaimana kalau nanti ada yang melihatnya,"
"Ehmmm maksud aku, bagaimana kalau nanti ada yang mengetuk pintu mencari keberadaanmu."
Tuutttt suara sambungan telepon...
__ADS_1
"Bilang pada sekretaris didepan, jika ada yang mencariku tidak ada"
"Dengar, dalam dua jam ke depan, aku tak mau di ganggu,"
"Baik tuan" Adit menjawab.
Lalu panggilan mendadak itu dimatikan sepihak, " Memang dasar bos lagi bucin, ehh salah lagi puber ke dua kali" gumam Adit ngedumel.
"Kamu gila, berbuat semaumu tak kenal waktu dan tempat .."
"Ahhh ... kam.. kamu." Vio tak jadi meneruskan omelannya pada tuan Rey yang sudah menyerangnya ini.
"Kamu sangat cerewet, apa benar kau tak mau melakukannya, hemm ..." mulutnya sudah menyesap benda kenyal yang banyak protes dan tangannya tak tinggal diam.
Vio yang tadinya akan lari dari genggamannya, tapi sudah kalah start, dirinya sudah masuk perangkap Rey. Kala tangannya sudah bermain-main di area favoritnya.
Vio tak bisa jika mulutnya tak bersuara, "Jangan ditahan sayang, ayo keluarkanlah suaramu, aku menyukainya,"
Vio yang memang sedang berada di puncak nafsunya kala itu juga ikut terbuai juga akhirnya, walaupun dirinya sempat bermain tarik ulur dengan Rey. Permainan mereka berjalan hingga dua jam barulah selesai.
"Ini orang seperti predator, selalu saja membuatku lelah berkali-kali" Vio berbicara pelan. Namun masih jelas di pendengaran REy.
"Kau sedang mengataiku predator, hemmm?"
..."Hahhh, tidak ..., tidak siapa yang mengataimu predator, aku sedang lelah saja,"...
"Hah, iya-iya aku mengaku, itu karena kamu sangat hebat di ranjang, tapi percayalah aku sudah lelah merasakan keperkasaanmu tadi." Vio tersenyum imut agar Rey tak jadi menyerangnya kembali.
"Itu karena kamu sedang menggodaku," menciumi cuping Vio yang posisi Vio saat ini membelakangi dirinya.
"Enak saja, siapa juga yang menggodamu."
"Kau datang kemari, itu artinya kau sudah menggodaku,"
"Ck, alasan saja kau ini." Vio mencebik.
"Aku kan kemari berniat mengantarkan makan siang untukmu saja."Vio tak terima.
"Walaupun sebenarnya juga ada niatan menggodamu sih." batin Vio tertawa dalam hati.
Vio merasa diabaikan lagi, lalu menoleh ke belakang sedikit, ternyata sudah terlelap di alam mimpinya,.
"Enak bener nih, aku ditinggal tidur." Vio yang tak bisa memejamkan matanya, entah dorongan darimana, menggerakkan tangannya untuk mengambil ponsel Rey, yang letaknya di meja disebelahnyaitu.
__ADS_1
Vio membuka random sandinya, tapi tak juga kunjung terbuka, ia mencoba-coba membuka dengan tanggal lahirnya Rey, tak terbuka,terakhir mencoba menggunakan tanggal lahirnya sendiri.
"Hah, kenapa dia menggunakan tanggal lahirku, gumam Vio.
Hal pertama yang ia tuju adalah membuka galeri Rey, entah kenapa membuatnya sangat ingin tahu isi galeri lelaki yang sedang mendekapnya ini.
"Hah, kapan lagi aku bisa memeriksa ponselmu ini kan," Vio tertawa sendiri.
"Tak ada yang menarik, hanya foto-foto beberapa dirinya ketika sedang meninjau proyek baru, terakhir ia melihat ada gambar bayi mungil. " Hah, si tampan, aku jadi ingin menggendongnya," disana terdapat banyak sekali gambar wajah Christ, dalam berbagai pose yang sangat lucu-lucu, hal itu mencuri perhatian Vio.
"Jika aku melihatnya seperti ini jadi ingin memiliki bayiku sendiri,"
"Oh tidak, bagaimana jika dia membuangku nanti, aku pasti akan hidup susah dan akan menderita bersama bayiku,"
"Tidak, tidak ..., aku tak ingin memiliki bayi dalam status pernikahan dan menjadi istri simpanan seperti ini." Vio berperang sendiri dengan batinnya.
"Jika aku ingin bayi, aku rasa bisa meminjam anaknya dia saja."
"Eh, ehh ada chat masuk dari istrinya, sudahlah tutup saja lagi," Vio mengembalikan ponsel Rey ke bentuk semula.
Lalu dirinya terdiam beberapa saat hingga ikut terlelap dalam pulau mimpi.
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, biasanya Rey akan pulang cepat, untuk sampai rumah dan melihat bagaiamana perkembangan baby Chris, tapi hari ini Angel merasa ada yang kurang, karena semenjak mereka memiliki bayi, Rey sering pulang lebih awal.
"Kemana dia, ini sudah jam lima sore, biasanya akan keliahatan tanda-tanda kepulangannya." gumam Angel sambil menyusui bayinya.
"Ana ...," panggil Angel pada suster anaknya itu.
"Iya, nyonya ...., ada yang bisa saya bantu?" kala suster Ana sedang membereskan tempat tidur baby Chris.
"Bisa minta tolong jagain baby Chris dulu, aku akan turun ke bawah sebentar."
"Baiklah nyonya," Ana mengambil baby Chris yang berada di dalam dekapan Angel sore itu, dirinya akan turun ke bawah untuk menyambut kedatangan suaminya, tapi sebelum itu dirinya telah mandi secepat kilat dan berdandan seindah mungkin, agar kelihatan lebih fresh walaupun sedang mengasuh bayi.
Angel mondar mandir di ruang tamu, sesekali menengok ke arah luar di balik kaca rumah besar itu, " Apa anda membutuhkan sesuatu nyonya?" tanya kepala pelayan yang sedari tadi mengamati nyonya nya itu yang berjalan terus dengan perasaan gelisah.
"tidak, kau bisa meninggalkanku sendirian," pintanya.
dan
bersambung
__ADS_1
Padahal yang ditunggu sedang ahemm... ahemmm
Oh yanasib jadi istri tua, hihi