
Acara berlangsung meriah hingga selesai, Rey sendiri telah meminta Adit untuk membersihkan kamar-kamar Villa bagian atas agar jika ada tamu yang bermalam disana sudah siap.
"Apa anda ingin berkeliling sekarang tuan?" tanya Adit.
"Hemmm..., ayo."
"Baiklah, saya akan meminta Frans untuk membereskan sisa pesta tadi tuan."
"Cepatlah, aku sudah tidak punya waktu lagi." Rey melihat jam yang melingkar ditangannya, nampaknya ia sangat terburu-buru karena sesuatu.
Selang beberapa menit setelah Adit menjelaskan beberapa hal dirinya kembali lagi menghampiri Rey,"Mari tuan."
"Siapa dia?" Rey menunjuk seseorang yang nampaknya mengikuti kemana pun langkah mereka.
"Kenalkan tuan dia bernama Akash, nanti yang akan menemani kita dan menjelaskan beberapa hal mengenai tempat yang ada disini."
Rey mengangguk mengerti, sedangkan Akash mengangguk hormat pada orang nomor satu yang diketahui sebagai pemilik tempat ini, langkah mereka menuju komplek mes tempat para pekerja menginap disana.
"Silahkan tuan Adit dan tuan Rey mengikuti saya." Akash mempersilahkan mereka untuk mengikutinya.
"Ini adalah tempat mereka tinggal tuan, tempat para pekerja melepas penat dan juga beristirahat. "
"Semua orang juga sudah tahu kalau ini tempat tinggal." ketus Rey memotong pembicaraan Akash.
Setelah Adit menjelaskan panjang lebar pada Rey, mereka berdua menjadi pendengar yang baik dan mengangguk mengerti, walaupun terkadang Rey menjawab dengan ketus dan tak ayal pula memotong pembicaraan Akash.
"Tapi di ujung sana ada seorang nenek tinggal bersama cucunya yang sepertinya baru datang dari kota tuan."
Mendengar hal itu membuat tubuh Adit menegang, Rey tidak boleh mengetahui hal ini, ini gawat batin Adit. Dirinya harus segera mengambil tindakan.
"Baiklah ayo kita samperin nenek yang kau maksud baru saja."
Padahal langkah kaki mereka hanya tinggal beberapa lagi sudah nyampai di depan pintu nenek Sam. "Tuan kita sudah berkeliling dan menyapa penghuni para mes ini, apa tak sebaiknya kita kembali saja tuan."
Terlambat Rey tak begitu mendengarkan ucapan Adit baru saja. "Nenek..., dimana cucu nenek?" tanya Akash pada nenek Sam.
Adit merapalkan segala doa yang ia bisa agar nenek dan juga Akash tak menyebutkan nama Vio.
"Cucu nenek sedang keluar nak Akash." seketika nenek itu pamit undur diri mengetahui kode dari Adit lewat sorot matanya, dan menggelengkan kepalanya.
"Ada apa dengan nenek itu?" tanya Rey pada Akash.
"Mungkin sedang ingin mengerjakan sesuatu tuan."
"Baiklah ayo kita kembali,"
__ADS_1
"Oh Tuhan, kali aku masih bisa selamat, entahlah besuk atau lusa apakah aku masih bisa selamat atau tidak." batin Adit memegangi dadanya sendiri.
Akash pamit undur diri dari hadapan mereka, sedangkan Adit mengantarkan Rey hingga sampai diruang kerjanya. "Menurutmu penyakit apa yang aku derita selama ini?"
"Penyakit?" Adit membeo, dirinya lupa jika Rey menderita Sindrom Cauvade.
Setelah diam beberapa saat barulah Adit menyahut arti pembicaraan Rey. "Saya bukan dokter tuan, sehingga tidak bisa menyimpulkan dan mendiagnosa mengenai penyakit anda."
"Ck, ucapan dokter itu memang tidak masuk akal."
"Ehmmm mungkin dokter tadi hanya sekedar menebak saja tuan, tak usah anda masukkan dalam pikiran anda."
"Ehmm tapi aku setiap hari hampir tidak bisa bangun karena pusing dan mual, aku rasa lambungku bermasalah."
Adit bingung harus memberikan solusi bagaimana pada Rey, pasalnya dirinya sendiri ini juga pengalaman pertama melihat hal semacam ini.
***
Pagi-pagi sekali, mual dan pusing kembali menyerang Rey, bahkan kini lebih parah dari kemaren-kemaren. "Tolong panggilkan Adit." bentaknya pada salah satu karyawan yang bernama Akash itu, kebetulan sekali Akash sedang merapikan sesuatu disana.
"Baik tuan, apa anda baik-baik saja." Akash yang melihat Rey terlihat sangat payah.
"Jangan banyak bicara, cepat panggilkan Adit."
"Baik tuan tunggu sebentar." Akash berbalik dan segera mencari keberadaan Adit, bahkan langkahnya terlihat tergesa-gesa akibat mengingat kondisi Rey yang sepertinya membutuhkan pertolongan itu.
"Tuan... tuan, itu tuan Rey."
"Ada apa dengan tuan Rey?" tanya Adit begitu santai melihat kepanikan Akash.
"Tuan Adit sedang membutuhkan pertolongan tuan."
"Cepat katakan dimana dia sekarang?"
"Ada di lantai atas tuan, tadi saya melihatnya sepertinya tidak baik-baik saja keadaanya." jelasnya pada Adit.
Tanpa menjawab penjelasan dari Akash, Adit yang memang saat itu sedang berkeliling kebun, langsung berlari menerobos melewati Akash.
"Tuan anda,"
"Adit tolonglah aku, aku sepertinya sedang membutuhkan bantuanmu."
Saat Adit sudah berada di depan Rey, secepat kilat tadi Adit berlari bagaikan orang kesetanan bercampur panik.
"Pertolongan, pertolongan apa yang anda butuhkan tuan?"
__ADS_1
"Carikan aku mangga muda, sepertinya aku menginginkan mangga muda."
"Anda sedang mengidam tuan?" Adit keceplosan.
"Apa kamu bilang?"
"Tidak tuan, baik akan saya carikan di supermarket." Adit berbalik dan siap melangkah mencari apa kemauan Rey.
"Tidak, bukan di supermarket." Rey menghentikan langkah kaki Adit.
"Kalau tidak di supermarket lalu kemana saya harus mencarinya tuan?" Adit berbalik lagi dan berhenti ditempatnya berdiri.
"Memangnya di supermarket jualan mangga muda?" tanya Rey menaik turunkan alisnya.
Benar juga jika di supermarket pasti tidak ada mangga muda, yang ada mangga masak. Dalam hati Adit berpikir sejenak.
"Kemaren aku melihatnya sebelum memasuki kebun anggur ada petani yang menanam mangga, di ujung sebelum kawasan perkebunan."
"Ayo aku ikut." Rey bangkit dari duduknya, berjalan mendahului Adit, yang mana malah membuat Adit tak bisa lagi berkata-kata.
"Benar-benar mengidam, oh Tuhan lihatlah ini Vio suami kamu benar-benar disiksa oleh anakmu, aku tidak akan pernah lupa hari ini." gumam Adit menggelengkan kepalanya pelan.
"Dit kenapa kamu berhenti disitu, tidakkah kamu mendengarku."
"I...iya tuan saya jalan." ucap Adit gelagapan.
"Anda tahu tempatnya tuan?" saat ini mereka sudah memasuki mobil pick up.
"Kalau tidak tahu tempatnya tidak mungkin aku akan menunjukkan padamu,"
"Pertanyaanmu ini sangat konyol." ketus Rey.
Adit tidak lagi membuka suaranya, dirinya fokus menjalankan mobil pick up, dan mengikuti jalan yang ditunjuk oleh Rey.
"Nah berhenti itu pohonnya." benar saja disana terdapat pohon mangga yang lumayan banyak, dan buahnya lumayan lebat.
"Aku akan bilang pada yang punya, kamu naiklah."
"Saya...naik tuan." Adit menunjuk dirinya sendiri, begitu kaget dengan peryataan Rey baru saja.
"Tentu saja kamu, siapa lagi memangnya."
Rey sudah keluar dari mobil lebih dulu, Rey berniat membelinya, namun yang memiliki pohon mangga malah mempersilahkan mengambil semau mereka, yang mana hal itu malah membuat Rey semakin bersemangat.
Adit berjalan mendekati pohon mangga yang kelihatannya tidak terlalu tinggi itu, tapi jika dirinya memetik dengan hanya berdiri saja juga tidak sampai atas. Mau tak mau adit menaikkan celana panjangnya, untung saja tadi hanya menggunakan kaos.
__ADS_1
"Anak Vio benar-benar menyiksaku." gumam Adit menggerutu.