WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Rumah Kaca


__ADS_3

"Resiko menjadi asisten yang selalu menemani istri bosnya kemana-mana nih, dikira orang istrinya lagi." Gumam Adit pelan.


"Kau ngomong apa?" Vio menatap Adit dengan tatapan menyelidik.


"Hah tidak ada nona,"


"Baiklah sekarang anda beristirahatlah." Adit berlalu keluar dari sana lalu mengirim pesan pada tuan Rey.


"Tuan nona Vio meminta operasinya dimajukan lebih cepat." Isi dari pada pesan Adit yang dikirimkan ke Rey.


Adit tak bisa menghubungi tuan Rey duluan jika ini menyangkut Vio, karena sudah pasti harus menjaga perasaan istri pertamanya.


"Oh Tuhan mudahkanlah semuanya." Lirih Adit mengucapkan doa.


Rey yang saat ini sedang berada di ruangan kerja sedang mengecek berkas-berkas laporan dan juga email masuk.


Terdapat bunyi notifikasi masuk di ponselnya, "Lakukan sesuai permintaannya." Balasnya.


***


.


.


Hari yang ditentukan telah tiba, hari ini adalah jadwalnya Vio operasi, setelah selesai operasi dirinya harus melakukan pemulihan selama tiga hari dirumah sakit, itu pun paling cepat dan lamanya sekitar satu minggu, tetapi masih dijadwalkan untuk kontrol ke dokter spesialis yang menanganinya, selama itu pula Adit terus berada disampingnya, sekuat tenaga ia menekan perasaan ingin merebut Vio dari tuan Rey.


"Apa yang kau pikirkan?" Setelah Vio keluar dari ruangan operasinya. Saat ini berbaring dibrankar rumah sakit, Vio menatap wajah Adit menyelidik.


"Ehmm tak ada nona, anda harus melakukan pemulihan selama tiga hari nona itu pun paling cepat, paling lama bisa satu minggu." Adit.


"Dan iya anda juga dijadwalkan kontrol di dokter yang sama."


"Ehmmm iya, tapi aku tidak tahan tinggal lama-lama disini, bisakah kau bawa aku pulang saja."


"Ehmm soal itu setelah tiga hari aku baru bisa membawa anda pulang nona."


"Itu pun juga atas persetujuan dari dokter."


"Karena nanti kita akan bolak balik pulang pergi kesini."


"Baiklah hanya tiga hari tidak boleh lebih." Vio.


Adit terdiam mendengarkan protes dari Vio, dirinya sibuk membetulkan selimut Vio dan kembali duduk di sofa di dalam ruangan perawatan Vio.


"Adit."


"Ya nona, apa ada hal lain yang anda butuhkan."


"Tidak, hanya saja setelah pulang dari sini aku ingin tinggal dengan Fani."


Seketika Adit baru ingat mengenai tempat tinggal Vio, jika rumah besar sedang dihuni oleh istri pertama.


"Anda jangan pikirkan itu dulu nona, fokuslah dengan pemulihan anda dulu baru memikirkan yang lainnya." Adit.


"Baiklah, karena aku sangat bosan tinggal dirumah besar itu, mereka semua membosankan."


"Apakah yang nona maksud para asisten?"


"Siapa lagi yang aku bicarakan, masak iya mbk kunti, kau ini yang benar saja." Vio menyahut ketus.


"Baiklah nona, nanti saya akan mencarikan tempat tinggal yang baru untuk anda tinggali, anda bisa memilihnya sendiri"


"Benarkah, kau memang yang paling mengerti." Perubahan mood swing Vio berubah seketika mendengarkan rumah baru, apa lagi dirinya sendiri yang disuruh memilihnya.

__ADS_1


"Segera kirimkan gambarnya padaku, kau tau aku sangat suka berkebun, maka aku akan memilih tempat tinggal yang nyaman."


Vio sudah membayangkan akan menempati rumah baru nanti, Adit yang melihatnya tentu saja ikut senang.


Adit tidak langsung menjawab permintaan Vio, dirinya merogoh ponselnya yang ada di saku celananya lalu menghubungi seseorang.


"Apa??"


Rey yang saat ini sedang duduk di teras belakang bersama Angel dikagetkan dengan pemintaan Vio, dirinya segera berdiri dan berjalan menjauh dari istrinya.


"Siapa yang menelponnya...?"


"Bahkan dia menjauh dariku." Angel bergumam pelan sambil memperhatikan gerak gerik suaminya, tetapi ia berusaha berfikir positif thinking.


Angel melanjutkan membaca buku seputar mengasuh anak dan berusaha cuek. Mungkin saja Adit asistennya sedang membahas soal bisnisnya pikir Angel.


"Jadi kau menurutinya?"


"Keputusan ada di tangan anda tuan, tetapi istri muda dan istri tua tinggal satu rumah, aku rasa itu bukan pilihan yang tepat tuan." Suara Adit di seberang telepon sana.


"Baiklah turuti saja apa maunya, selama tak ada yang di rugikan."


"Baik, kepulangan nona Vio kemungkinan tiga hari lagi tuan, itu paling yang cepat, tergantung bagaimana nanti perkembangannya."


"Ehmmm."


"Ck.. aku bicara panjang lebar hanya gumaman saja jawabannya." batin Adit kesal.


"Coba saja jika aku yang menjawab seperti dirinya, sudah pasti akan menceramahiku." Adit.


"Terus awasi perkembangannya, ohh iya bagaimana proses penyelidikan terkait penyiksaan Vio?"


"Mengenai itu sudah di markas biasa tuan."


"Hancurkan usahanya perlahan, dan kau bisa membeli sahamnya tujuh puluh lima persen, baru bisa mengakuisi perusahaannya."


"Bukankah usaha itu milik orang tua Vio."


"Anda benar tuan, bagaimana mungkin anda tahu lebih dulu mengenai hal ini, padahal saya belum memberikan informasinya pada anda sepenuhnya."


"Heh kau pikir aku selambat itu untuk bertindak, aku bisa melenyapkan mereka dalam satu malam jika mau."


"Tapi aku ingin bermain-main dengan mereka yang menyakiti Vio lebih dulu." Tuan Rey tertawa menakutkan.


Adit yang mendengarkan itu merasa tersindir, karena dinilai pergerakannya kalah start dengan tuan Rey.


"Kau masukkan seseorang di perusahaannya, dan kau bisa mengatur strategi lebih matang."


"Kau tau apa yang harus kau lakukan." Rey.


"Baik tuan, secepatnya perusahaan milik keluarga nona Vio akan bergabung menjadi milik kita.


Percakapan itu berakhir dengan rencana mereka, tetapi Angel tidak sengaja mendengar percakapan mereka yang kedua kalinya. Kali ini dirinya memberanikan diri bertanya pada suaminya.


"Siapa Vio?"


"Sejak kapan kau disini, hemm."


Berjalan ke arah Vio dan mencium keningnya, "Aku tidak sengaja tadi mau pindah ke kamar,"


"Apa kau tak ingin melihat-lihat sekitar rumah ini."


Bukannya menjawab tuan Rey malah mengalihkan pembicaraannya dengan Angel.

__ADS_1


"Ayo aku tunjukkan sesuatu yang indah padamu."


Tuan Rey menggandeng tangan Angel, berjalan ke teras belakang, disana terdapat rumah kaca yang ditanami anek sayuran hijau dan buah-buahan, seperti strawberry, pepaya dan masih banyak lagi.


"Wahhh ini sangat keren, kenapa selama aku tinggal di sini kau tak pernah menunjukkan tempat ini padaku?" Tanya Angel antusias.


"Ehmmm karena kau masih kelelahan, kau tau aku tak mau membuatmu kelelahan."


Angel berjalan mengamati banyak tanaman hijau dan buah-buahan itu dan terus bertanya padanya.


"Apa ini semua kau yang tanam dan merawatnya?" Tanya Angel memandang ke arah suaminya.


"Memangnya siapa lagi,"


Memang benar selama Angel tidak ada, dirinya yang terkadang merawat tanaman-tanaman itu di pagi hari, dibantu oleh beberapa pekerja dirumahnya.


"Rasanya aku seperti hidup di kebun buah dan sayur, sungguh menyenangkan." Angel menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Semua yang menanam ini adalah Vio, Vio suka berkebun menanam buah-buahan dan sayuran. Sehingga ketika ia tak dirumah oun tuan Rey sendiri yang merawatnya.


Sungguh saat ini dirinya jadi teringat Vio jika pagi hari dirinya ditinggalkan seorang diri hanya untuk merawat tanamannya.


"Tapi setahuku kau tak begitu suka dengan sayur." Angel bertanya menyelidik.


"Ehmm iya itu dulu,"


"Jika kau banyak menanam ini semua artinya kau suka."


"Apa itu benar?"


"Tidak juga, tergantung dimasak apa dan siapa yang masak."


Angel yang mendengarkan penjelasan suaminya ini menjadi ambigu dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Kau harus banyak makan makanan sayuran dan buah-buahan, supaya calon anak kita nanti sehat."


"Ehmm iya, tapi sayangnya selama aku mengandung sama sekali tak menyukainya,"


"Harus belajar." Perintahnya tak mau dibantah.


"Akan aku coba, tapi jangan paksakan aku."


"Ehmm." Jawab Rey.


Angel sore itu menghabiskan waktunya di rumah kaca bersama tuan Rey, memetik buah dan sayur di sana.


Rumah kaca ini juga terawat dengan sempurna, terlihat cantik seperti pemiliknya. Karena yang Angel tau Rey suaminya ini tipe lelaki yang kaku, tak ada waktu untuk mengurusi hal-hal seperti ini.


"Ehmmm pak Sun, boleh aku minta tolong."


"Iya nyonya, ada yang bisa kami bantu?"


Pak sun berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Angel dan membungkuk hormat,"Tolong buatkan aku salad dan jus buah ini ya pak."


"Baik nyonya, anda bisa menunggu sebentar."


Tuan Rey yang menemani dirinya terlihat senang, Angel dan calon anaknya bisa menikmati kebun hasil tanaman Vio. Senyum tipis terbit di kedua sudut bibirnya.


"Kenapa tersenyum?" Angel


dan


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2