
Angel tak bisa memejamkan matanya, karena sejak terbangun ditengah malam dan tak mendapati suaminya berada disampingnya, ia menjadi gelisah sendiri.
Padahal jam sudah lewat tengah malam, kemana perginya dia. Begitulah pikiran Vio. Tetapi ia gengsi untuk menghubunginya lebih dulu. Tetapi alhasil dirinya yang tak bisa memejamkan matanya.
Hingga menjelang jam tiga dini hari lebih lima belas menit barulah ia memejamkan matanya. Selang dua jam Rey datang.
Datang diwaktu menjelang pagi, tetapi suasana rumahnya masih sepi, hanya ada satpam jaga saja yang masih on diluar rumah, dan beberapa penjaga malam.
Rey yang baru saja datang memarkirkan mobilnya dan berjalan perlahan memasuki rumah besarnya. Melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan. Pertama yang ia kunjungi adalah kamar Angel.
Rupanya Angel masih terlelap di alam mimpinya, perlahan ia melepas mantelnya dan masuk ke dalam selimut tebal Angel, tangannya meraba perut buncit istrinya.
Sungguh hatinya bingung saat ini, dirinya hanya mau menikmati saat-saat seperti. Hingga matahari sudah meninggi, Angel masih enggan membuka matanya.
Tuan Rey yang sudah rapi dengan setelan kerjanya, melihat jam yang melingkar ditangannya, jika beberapa jam lagi acara akan dimulai. Sebelum dirinya berangkat ia menitip pesan pada kepala pelayan dirumahnya.
"Pak Sun, jika Angel bangun tolong siapkan sarapan dan susu untuknya."
"Dan jangan lupa vitamin."
"Baik tuan." Pak Sun mengangguk hormat mengantarkan tuannya sampai di teras depan, tangan kananya membawa tas kerja tuan Rey.
"Anda tidur sangat nyenyak tuan semalam?" Sindir pelan Adit.
"Ehmmm."
"Ck jawaban macam apa itu, apa dia tidak merasa jika aku sedang menyindirnya, sungguh keterlaluan." Batin Adit.
"Apa Vio sudah bangun?"
"Belum tuan ketika saya pergi tadi."
Terlihat pintu kamar Vio, lebih tepatnya pintu kamar Adit yang ditempati Vio masih tertutup rapat ketika dirinya tadi tidur, itu menandakan jika Vio masih terlelap di alam mimpinya.
Adit yang duduk di kursi pengemudi depan mengarahkan kaca spionnya ke arah tuan Rey, melihat ekspresi wajah tuan Rey. Terbit senyum tipis disana. Bagaimana tidak, tadi waktu ketika dirinya kembali ke dalam apartemennya sudah seperti kapal pecah, sudah dapat di pastikan jika telah terjadi sesuatu semalam.
Sepertinya rapat hari ini akan berjalan lancar tanpa hambatan, karena melihat mood tuannya hari ini saja sudah sangat baik.
Lalu tuan Rey merogoh ponselnya yang berada di saku jasnya, dan mengetik sesuatu.
__ADS_1
"Jangan pergi kemana pun hari ini, dan jangan berani memasukkan orang asing ke dalam apartemen Adit." Isi pesan yang dikirimkan pada Vio. Melainkan sebuah perintah yang wajib di ikuti.
"Apa hadiahnya sudah kau siapkan."
"Sesuai permintaan anda tuan."
"Bagus,"
Tak ada lagi percakapan setelah itu, tuan Rey telah menyiapkan hadiah sebuah pulau pribadi yang tempo hari diminta Vio, rencananya pulau pribadi itu akan ia berikan ketika dirinya pulang dari Moscow, nyatanya Vio sedang mengalami musibah, sehingga ia tunda lebih dulu.
"Selamat pagi tuan." Sapa beberapa karyawan kantor yang sedang berpapasan dengannya dengan mengangguk hormat.
Beberapa dari mereka memberikan jalan pada Direktur perusahaan mereka. Melihat wajah dingin bosnya ketika berjalan dengan gagah dan penuh wibawa.
Siapa saja yang melihatnya pasti akan kagum dengan ketampanan tuan Rey, walaupun usianya sudah matang tetapi tak mengurangi ketampanannya dan wibawanya sebagai seorang pemimpin.
"Silahkan tuan, beberapa tamu undangan sudah hadir." Mia yang baru saja nongol dibalik pintu yang sedang terbuka.
"Hemmm." Jawab singkat Rey memasuki sebuah aula tpat berkumpulnya tamu undangan.
Tak lama setelah ia datang, Tuan Aldo dan istrinya datang dan menyapa tuan Rey.
"Sudah bisa anda mulai tuan." Aldo.
Sebelum pemotongan pita, tuan Rey lebih dulu mengucapkan rasa terimakasihnya pada seluruh karyawan dan kolega bisnisnya yang telah hadir di sana.
"Terimakasih pada para tamu undangan, seluruh karyawan kantor dan semua yang terlibat, inilah produk baru kita yang akan kita luncurkan."
Tepuk tangan riuh memenuhi seluruh aula ini, banyak karyawan yang memandang takjub cara bicara tuan Rey, baik karyawan laki-laki, maupun perempuan.
"Oh Tuhan dia sungguh calon suami impianku." Ucapan karyawan perempuan yang takjub melihatnya.
"Kau jangan banyak bermimpi , karena jatuh itu sakit." Sahut perempuan yang satunya.
"Tak apalah mimpi dulu,jatuh dari mimpi paling juga ke lantai."
"Iya ya terserah kamu aja lah, yang penting kamu bahagia." Begitulah bisik-bisik karyawan perempuan, tak henti-hentinya memandang penuh kekaguman wajah tuan Rey. Sungguh sempurna dari penglihatan dan dari segi material.
Di depan banyak tamu undangan itu nampak sebuah layar lebar, dan menampilkan produk baru merek.
__ADS_1
"Oh Tuhan, kenapa aku seperti melihat wajah perempuan itu." Istri tuan Aldo begitu terkejut, hingga menutup salah satu mulutnya dengan telapak tangannya.
"Pah lihatlah gambar itu, aku merasa tidak asing melihat wajahnya." Istri tuan Aldo.
Tuan Aldo mengikuti arah pandang istrinya, jika perempuan itu mirip sekali dengan seseorang, tetapi ia sendiri juga lupa.
" Itu model baru yang di pakai oleh produk kita ma." Aldo.
"Selamat atas peluncuran produk barunya tuan Rey, semoga produk ini laris di pasar nasional maupun internasional." Tuan Aldo menyalami Rey, memberikan ucapan selamat sebagai kolega bisnisnya.
Tanggapan Rey hanya mengangguk setuju, tak banyak kata yang Rey ucapkan, wajah datarnya menandakan jika dirinya pemimpin sejati yang mudah di runtuhkan.
"Terimakasih atas kedatangan tuan dan nyonya Aldo." Rey.
"Ehmm tuan Rey, maaf kalau pertanyaan saya menganggu, apa nyonya Angel baik-baik saja?" Tanya nyonya Aldo karena ia melihat Rey yang tanpa dihadiri salah satu istrinya Angel terutama sebagai istri pertamanya.
"Dia sedang istirahat dirumah nyonya."
"Baiklah jika sudah melahirkan kami akan berkunjung ke sana."
Rey mengangguk mengerti, dan dirinya melanjutkan menyalami para tamu undangan yang lainnya.
Acara peluncuran produk baru itu banyak diliput oleh media, baik media asing maupun lokal hingga ditayangkan live di beberapa acara stasiun televisi.
Angel yang baru bangun dari tidurnya tadi langsung membersihkan diri dan makan sarapan paginya, pagi setengah siang tepatnya. Ia telah menyaksikan acara televisi yang menayangkan suaminya.
"Betapa gagahnya dirimu, hingga banyak wanita yang menginginkanmu." Gumam Angel pelan sambil mengunyah salad buah yang tadi disajikan oleh koki.
"Aku saja selalu mengagumimu, lalu bagaimana dengan wanita yang lainnya."
Acara itu selesai hingga siang hari dilanjutkan makan siang disana dengan disajikan prasmanan untuk para tamu undangan dan juga karyawan.
Tuan Rey juga sibuk kesana kemari menemui basa basi mereka para penjilat dan juga para pengagumnya.
Siapa yang tahu dibalik kisah suksesnya ini ada seseorang yang tak suka melihatnya.
dan
Bersambung
__ADS_1