WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Penthouse Baru


__ADS_3

"Sungguh tak ada habisnya tenaganya tadi, aku bahkan kewalahan mengimbanginya." Gumam Vio kala tuan Rey pergi ke kamar mandi.


Vio sudah menarik selimut sebatas leher, akibat kelelahan habis di gempur habis-habisan oleh suaminya, dan mulai memejamkan matanya perlahan.


Tuan Rey yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan celana boxer saja mulai merangkak naik ke atas ranjang king size milik Adit, "Aku sudah membelikanmu apartemen baru jika kau menyukai tinggal di apartemen." Bisiknya pelan di telinga Vio.


Semula Vio yang tadi akan memejamkan matanya kini sukses membuatnya terbuka kembali, " Kau jangan bercanda ini sudah melewati tengah malam."


"Hah, mana ada. Mulai besuk kau harus pindah dari sini."


"Jika kau lebih lama lagi tinggal di sini, kau akan menyiksa Adit, ini tempat tinggalnya, apa kau tak kasihan padanya." Sambil menarik kepala Vio agar tidur di dalam pelukannya.


Vio terdiam mendengarkan ucapan suaminya, benar juga dengan apa yang dikatakan suaminya, jika dia lebih lama tinggal disini maka akan semakin menyusahkan Adit saja, walaupun toh dirinya juga selalu membuat asisten suaminya ini susah.


"Baiklah kapan?" Vio mendongak menatap wajah Rey lekat-lekat.


"Besuk bereskan barangmu, akan ada seseorang yang membantumu nanti." Mencium kening Vio sekilas.


"Secepat itu?"


"Ehmm iya, kapan lagi, apa mau nunggu tahun depan."


"Aku sudah menawar apartemen ini, tapi Adit tak mau menjualnya, alasannya karena dia menyukai viuw nya."


"Ck, dasar pelit." Vio mencebik kesal.


"Sudahlah, lagian aku sudah membelikan yang baru untukmu, kau akan suka."


"Kenapa kau percaya diri sekali."


"Tentu saja, sekarang tidurlah, jangan banyak bicara." Menghujani Vio ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahnya.


"Iya, iya."


"Mulutnya dikondisikan jika tak ingin aku melakukannya lagi."


"Emang masih kuat?" Pancing Vio.


"Kau meragukanku nona?"


"Baiklah ayo sekarang aku mau buktikan." Rey sudah menyingkirkan selimutnya setengah. Vio dengan sigap memegangi tangan suaminya, "Tidak ... tidak, aku sudah mengantuk, baiklah aku akan tidur suamiku sayang." Gombalan jurus mautnya keluar seketika.


Karena jika tidak, sudah di pastikan Vio tak akan tidur sampai menjelang pagi, ini gila kenapa tenaganya selalu on tak ada habis-habisnya. Jika mengingat Vio jadi ngeri sendiri mendapatkan serangan dari suaminya.


Terkait Vio sudah mengantuk memang benar adanya, karena kelelahan dengan olahraga versi mereka, malam ini menjadi malam yang indah untuk sepasang suami istri yang saling berpelukan saat tidur.


***


.


.


Pagi menjelang, ketika Vio membuka matanya sudah tak ada siapa-siapa lagi di sampingnya, ia menolah kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu. Lalu pandangannya fokus pada tulisan memo yang berada di atas nakas.


"Jika sudah bangun, bersihkan dirimu, jangan lupa makan, bereskan barangmu, nanti akan ada seseorang yang menjemputmu."

__ADS_1


Kata itulah yang ada di dalam memo yang Vio baca, dengan malas kakinya ia turunkan perlahan dan berjalan tertatih-tatih memasuki kamar mandi.


"Oh Tuhan, bahkan aku sampai tak bisa jalan, dia memang lelaki yang gagah."


Vio sampai mencari pegangan untuk melangkah sampai ke kamar mandi. Lalu berendam dengan air hangat di sana, hingga satu jam lamanya.


Tak banyak Vio bawa, hanya pakaian saja, sehingga tak memerlukan waktu lama ketika sedang berkemas.


Tring....!!!


Suara bel pintu apartemen, Vio dengan malas berjalan keluar meskipun merasakan nyeri di bagian inti tubuhnya.


"Anda mencari siapa pak?" Vio menyembulkan kepalanya dari dalam.


"Apakah anda yang bernama nona Vio."


"Saya Aiman orang suruhan tuan Rey nona untuk menjemput anda ke apartemen barunya."


"Dimana barang anda nona biar saya bawakan."


"Ehmm tunggu disini sebentar saya ambilkan," Vio kembali lagi membawa kopernya dan satu buah tas tangannya.


"Ini bisa tolong bapak bawakan." Vio menyerahkan koper miliknya.


Pak Aiman orang suruhan Rey itu dengan cekatan mengambil koper Vio dan tas Vio satunya. "Apa pak Aiman juga yang akan mengantar saya?"


Pak Aiman mengangguk,"Iya nona."


"Mari silahkan masuk." Setelah sampai pada mobil yang siap mengantarkan Vio ke tempat tujuan. Pak Aiman sudah membukakan pintu mobilnya untuk Vio.


Lalu mematikan ponselnya dengan muka tak bersahabat,"Selalu saja otoriter, semua harus sesuai kemauannya, awas saja nanti." Gumam Vio pelan hampir tak terdengar. Tetapi masih terdengar di telinga pak Aiman karena jarak mereka yang hanya depan dan belakang saja.


***


.


.


"Ini di pasang di sebelah mana tuan?" Tanya pegawai yang menata furnitur di penthaouse yang baru saja Rey beli itu, masih ada beberapa bagian yang menurutnya di rapikan.


"Itu sebelah sana, ini pindah di sini,"


"Nanti supaya istri saya tak kerepotan menata barang-barangnya." Ujar Rey lagi. Dirinya hanya tinggal menunjuk sana sini saja.


Jasnya sudah ia letakkan sembarang di sofa barunya, kemejanya ia lipat sampai sebatas siku.


"Sudah selesai tuan."


"Apa ada lagi yang harus kami tata ulang."


"Tidak, sudah cukup, kalian bisa kembali, mengenai masalah gaji, nanti akan ada seseorang yang tf ke rekening kamu, dan bonus kamu."


"Baiklah, tuan terimakasih, kalau begitu kami permisi dulu."


Beberapa orang bagian penataan furnitur tadi membereskan alat-alatnya, dan membersihkan sisanya bagian yang belum bersih. Lalu berpamitan keluar dari penthouse nya.

__ADS_1


Tok ... tok, terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Yang benar saja mengetuk pintu, apa tak melihat ada bel nya." Rey bergumam kesal, dan berjalan ke arah daun pintu.


"Kalian sudah datang." Tanyanya datar dan sangat menjengkelkan.


"Sudah ada di depan kamu juga, berarti sudah datang." Vio menerobos masuk kedalam, pintu yang belum di buka sempurna itu, lalu merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah.


"Ini tuan barang nona Vio," menyerahkan koper dan tas Vio pada Rey.


"Apa kau sudah makan." Setelah kembali masuk dan berjalan mencari dimana keberadaan Vio.


"Aku belum sempat makan, pak Aiman sudah keburu menjemput aku tadi."


"Ck, kebiasaan."


Rey meletakkan tasnya, untung saja tadi dirinya sempat berbelanja di supermarket khusu buah dan sayur, karena untuk mengisi lemari esnya, apartemen baru tentu saja tidak ada apa-apanya di dalam lemari es nya.


Rey kembali dengan satu piring berisi omelette sayur dan potongan buah, dan sebuah jus lemon segar.


"Ini makanlah." Meletakkan piringnya di atas meja.


"Aku masih mengantuk."


"Makan sekarang, tak ada bantahan."


"Tidak, aku mau tidur dulu,"


"Aku hitung sampai tiga, jika tak bangun aku akan menghukummu lagi."


"Hah, tidak baiklah aku makan." Vio reflek membuka matanya terbangun dari tidurannya. Rupanya kata hukuman membuat Vio menurut untuk kali ini.


Lalu meraih piring di atas meja dan meminum jusnya, "Sungguh suami idaman, tetapi juga pemaksa." Melahap satu sendok makanan ke dalam mulutnya.


"Makanlah dengan benar, jangan sambil bicara."


"Kau tahu, aku tak bisa jalan dengan benar, itu karena dirimu." Vio meletakkan sendoknya setelah selesai menghabiskan makannya.


Rey melirik istri simpanannya ini, "Kenapa." Seperti orang yang tak punya salah.


"Kau pura-pura tak tahu apa memang tahu, setelah apa yang kau lakukan semalam." Vio mencebik kesal.


"Itu hukuman, bukankah kau sangat menyukainya?" Sergah Rey.


"Ehmm iya kau benar, tapi kenapa tenaga kamu tak ada habisnya?" Vio mengungkapkan apa yang ada dihatinya.


"Tentu saja, apa kau mau lagi."


Vio menatap tajam suaminya, matanya mendelik menandakan jika dia sedang akan memarahi suaminya.


"Tidak, pergilah sana bekerja, aku akan menikmati waktuku."


"Kau mengusirku?"


dan

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2