WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Pergi


__ADS_3

Aldo berbincang banyak dengan Rey kala itu, berbeda dengan Angel dan istrinya Aldo, mereka membicarakan seputar kecantikan, mengasuh anak dan masih banyak lagi.


"Baiklah tuan Rey, karena saya rasa sudah terlalu lama mengganggu waktu anda dan istri anda, kami akan pamit pulang."


Rey mengangguk mengerti sebagai jawabannya, dan mengukir senyum tipis di kedua sudut bibirnya.


"Kami mohon undur diri nyonya Angel dan tuan Rey." Pamit istri tuan Aldo.


"Terimakasih juga atas kunjungan anda tuan dan nyonya Aldo." Rey menjawab dengan sepatah kata saja.


Lalu tuan dan nyonya Aldo bertautan tangan keluar dari ruangan mereka.


****


.


"Kenapa kamu tersenyum." Rey.


"Tidak, hanya mendapatkan tips saja dari nyonya Aldo bagaimana cara mengasuh anak."


"Kalau soal itu kau bisa belajar dari membaca buku."


"Dan aku sudah membelikanmu banyak buku,"


"Apa sudah kau selesaikan semuanya?" Tanya tuan Rey bertubi-tubi pada istri pertamanya itu. Angel menggelengkan kepalanya, lantaran hanya sekitar tiga buah buku saja yang baru ia selesaikan membacanya, yang lainnya masih terkemas rapi dari plastiknya. Itu semua karena tuan Rey sekali membeli sekitar sepuluh buku dan dia membeli tiga kali, gila saja jika dalam sebulan membaca tiga puluh buku. Dalam satu bukunya mencapai halaman seratusan paling sedikit.


Berbeda dengan dirinya, bahkan tuan Rey bisa menyelesaikan membaca buku sekitar lima puluhan dalam satu bulannya. Bahkan sekali duduk saja dirinya bisa selesai membaca satu buku.


Ia mengira jika Angel akan sama dengannya, bisa membaca cepat dan langsung masuk di ingatannya, padahal ingatan dan kemampuan orang berbeda-beda dan tidak sama.


"Belum, aku baru menyelesaikan tiga buah buku saja."


"Kau selesaikan semuanya nanti, agar mengerti cara mengasuh anak dengan baik."


Diam-diam dirinya juga membaca terkait parenting orang tua, cara mengasuh anak dan masih banyak lagi judul buku yang ia beli.


"Baiklah nanti akan aku selesaikan."


Angel mendongak menatap wajah suami datarnya ini, "Apa?"


"Katakan jika ada yang ingin kau sampaikan."


"Ehmmm itu, putra kita akan kau beri nama siapa?" Tanya Angel memberanikan diri bertanya.


"Arayi Regan Faras." Jawabnya singkat sambil menyuapkan buah untuk Angel.


"Kau curang."


"Apanya yang curang?"

__ADS_1


"Kenapa hanya nama kamu saja yang ada di belakangnya?" Angel tak terima dengan nama yang di berikan Rey.


"Itu sudah aku pilihkan, dan menurutku itu yang terbaik."


"Terbaik apanya, dia anakku juga, seharusnya ada namaku di sana." Angel masih melayangkan protesnya pada Rey.


Rey tak menjawab, tetapi menatap tajam muka Angel, seketika Angel terdiam di tatap menakutkan seperti itu.


Angel melengos menatap ke arah yang lain, lantaran dirinya sudah ketakutan dengan pandangan suaminya.


"Baiklah terserah kau saja mau di beri nama siapa."


"Hahhh....!!! menjengkelkan, padahal kan aku yang mengandung selama sembilan bulan lebih, kenapa dia yang mengatur dan menguasai, bahkan aku belum bisa melihat wajah putraku sendiri."


"Makanlah dengan baik, tak usah mengumpatiku seperti itu."


Angel mendengarkan suara itu menjadi gelagapan sendiri, menoleh ke arah suaminya,"Ti...tidak siapa yang mengumpatimu." Kilahnya


"Benar-benar seperti cenayang saja, tau apa yang aku pikirkan." Angel tak mengerti lagi kenapa suaminya ini bisa membaca pikirannya.


Dengan susah payah, buah yang ia kunyah seharusnya rasanya manis, tetapi karena rasa kesal bercampur tak bisa terpenuhi keinginannya sehingga menjadi hambar, walaupun susah payah tetap saja ia telan.


"Tinggal sedikit lagi, habis ini tidurlah."


Walaupun terpaksa menerima suapan dari suaminya, nyatanya tetap ia habiskan buah yang berada ditangan Rey.


Rey selesai menyuapi Angel akan pamit meneruskan kerjaannya, tetapi sebelum itu ia pergi ke ruangan khusus bayi untuk melihat anaknya. Didampingi oleh suster yang betugas.


"Saya akan konfirmasi dulu pada dokter anak tuan, mengenai hal itu."


Rey tak menjawab, ia menatap wajah putra tampannya, dan mengamati begitu lama. Rasa haru dan membuncah dihatinya tak bisa lagi ia gambarkan dalam kata-kata rasa bahagianya, kemaren ia sudah mengabari ibunya dan juga kakak perempuannya jika putranya sudah lahir.


Keluar dari ruangan anaknya Rey pergi ke cafe rumah sakit itu, untuk menenangkan pikirannya dan juga mencari udara segar.


Tangannya merogoh saku celananya, mencari benda persegi panjang dan menekan tombol dengan name Istri nakalku.


"Kau sedang apa?"


"Aku sedang rebahan." Vio menjawab telepon dari suaminya.


"Jangan membuat ulah selama aku tak ada."


"Apa yang kau bicarakan." Vio tak terima di nasehati seperti itu.


"Siapa yang tadi siang bertemu laki-laki di cafe mall?" Tanya tuan Rey tanpa basa basi.


"Kau mengawasiku?"


"Menurutmu?"

__ADS_1


"Menyebalkan, itu terserah aku, pokoknya selama kau tak ada aku bebas melakukan apa pun." Vio memberontak jika banyak diatur.


"Baiklah terserah kau saja, tetapi terima hukumanmu nanti." Rey niat hati ingin mencari hiburan dari rasa penat yang ia rasakan, tetapi kenyataannya malah membuat tensi darahnya naik.


"Oke aku tunggu hukumannya,"


"Kau memancingku." Rey sudah sangat ingin menghabisi Vio, dalam arti lain menghabisi di atas ranjang.


"Tunggu saja waktunya nona."


"Tetapi aku ingin sekarang," Vio menantang.


Telepon dimatikan sepihak, Rey segera meminta bill pembayaran kopi dan roti panggang yang ia pesan tadi, lalu berjalan keluar dengan cepat, sebelum dirinya pergi ia berpesan pada suster rumah sakit untuk menjaga istrinya selama tak ada dirinya.


Rey mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, rasanya sudah tidak sabar menghabisi istri kecilnya.


"Awas saja kau istri nakalku."


Perjalanan yang seharusnya di tempuh setengah jam itu menjadi singkat lima belas menit saja. Karena kecepatannya bagaikan angin menyambar.


Tring...suara bel apartemen, Selama Vio tinggal di apartemen Adit, Adit yang pindah dari sana, dirinya pindah ke unit sebelahnya, karena semua itu atas permintaan tuan Rey yang arogan, walau pun sebelumnya sempat adanya perdebatan panjang.


"Siapa sih malam-malam begini menganggu saja." Vio berjalan malas ke arah pintu, dengan hanya memakai baju tidur tipis berwarna hitam dan model lingeria yang panjangnya di atas lutut, bahkan sangat menerawang.


"Kamu," Vio tak bisa berkata-kata lagi, bahkan tadi dirinya hanya memancing emosi Rey saja, lalu kenapa kini malah datang beneran, benar benar petaka sedang menghampiri Vio.


"Terima hukumanmu sekarang nona." Tuan Rey menutup pintunya perlahan, dan menguncinya, lalu menyambar bibir manis Vio, bahkan Vio tak sempat protes karena tubuhnya sudah diangkat dan di bawa masuk ke dalam kamar.


Lalu dilempar di atas ranjang, Rey segera melepaskan pakaiannya satu persatu, melanjutkan ciumannya tadi.


"Aku hanya bercanda tadi." Panik Vio.


"Tetapi aku serius." Ditengah-tengah ciuman ganas Rey, ciuman yang awalnya biasa itu menjadi tak biasan. tangan Rey sudah traveling ke area favoritnya, berpindah ke area inti, dan bermain-main di sana.


Jari-jarinya tak bisa diam, ia gesekkan keatas dan bawah, hingga membuat sang empunya berteriang, meremas rambutnya, dan menggelinjang terengah-engah.


Dilanjutkan dirinya turun ke bawah seperti bayi yang baru lahir, Vio menekan kepalanya karena di dera rasa tak biasa. "Kau sungguh sangat hebat,"


"Ka...lau be...gini aku minta dihukum se...tiap hari saja." Suara Vio tersendat-sendat akibat nafasnya menderu di kuasai rasa nikmat yang mendera.


"Ahhhhhh....kau ini selalu bisa membuatku senang." Teriak Vio.


"Sesuai yang kau inginkan sayang." Ciuman itu terus saja berlanjut hingga kegiatan inti dan berulang kali mereka melakukannya.


dan


Bersambung


Maaf author habis sakit beberapa hari, sehingga belum bisa nulis, dan baru bisa jumpa sekarang.

__ADS_1


Semoga pembaca tuan Rey sabar menunggu dan sehat selalu


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen iya


__ADS_2