
"Kau berbicara apa?" Rey meneruskan aksinya hingga sang target lemah dibuatnya.
Kegiatan bercinta itu berlangsung selama satu jam di dalam kamar mandi baru.
Keluar dari sana muka Vio terlihat masam, pasalnya dirinya telah diperdayai suaminya.
Rey baru saja menggunakan kaos santai pada tubuhnya dan celana pendek sebatas lutut. Hal itu malah menambah kesan seksi dimata Vio.
"Ini ponsel kamu, dari tadi berbunyi terus, membuat suasana sangat berisik saja." ketusnya.
Rey menerima ponsel dari tangan Vio, ternyata Angel istrinya yang baru saja melakukan panggilan.
"Ada apa?" tanya Rey dalam panggilan yang sedang berlangsung.
Sedangkan Vio duduk di sofa panjang dengan memanjangkan kakinya setelah menyisir rambut dan berganti pakaian tadi. Wajahnya terlihat lebih segar tanpa make up, namun tak mengurangi kecantikannya.
"Apa kamu hari ini tidak pulang lagi?" tanya Angel di seberang sana.
"Maafkan aku, aku lupa mengabarimu, jika aku berada diluar kota, kurang lebih satu minggu."
"Bagaimana kabar baby Chris?"
"Apa dia rewel, apakah makan dengan baik?" tanya Rey bertubi-tubi.
"Dia baik, makan dengan lahap dan tidur dengan nyenyak, tapi sering terbangun di tengah malam akhir-akhir ini."
"Bersabarlah, dia akan menjadi anak yang pintar nanti."
"Bagaimana dengan dengan dirimu, kamu harus menjaga pila makan dan tidurmu."
"Bagaimana aku bisa tidur dengan nyenyak, sedangkan ditengah malam saja baby Chris merengek ingin digendong." keluhnya.
Vio yang mendengarkan percakapan Rey dan istri pertamanya itu ada rasa iri dalam hatinya, mendapatkan perhatian lebih dan juga anak dari lelaki yang dicintainya.
Namun Vio sudah memutuskan jika ia tak ingin memiliki anak selama statusnya masih menjadi wanita simpanan.
"Oh Tuhan, romantis sekali dia." Vio menoleh sekilas pada lelaki bertubuh jangkung yang berdiri tak jauh darinya itu. Vio bahkan terkadang membayangkan jika kehidupannya seperti di novel-novel yang seperti ia pernah baca itu.
"Aku juga ingin hidup seperti di dunia Novel, memiliki suami Ceo,"
"Ehh dia juga Ceo sih, tapi statusnya aku hanya simpanan."
"Cih, murahan sekali aku ini." gumamnya pelan, bahkan Vio menertawakan dirinya sendiri mengenal hal ini.
"Baiklah, jika terjadi sesuatu maka kamu bisa menelponku." Lalu Rey memutuskan sambungan telepon itu.
Rey kemudian berbalik dan berjalan ke arah Vio, "Apa yang kalian bicarakan?" tanya Vio penasaran, padahal dirinya secara tak langsung juga menyimak pembicaraan mereka.
"Aku rasa kau sudah tahu tanpa aku menjelaskannya." menaruh ponselnya diatas meja, lalu duduk di samping Vio.
"Ini sangat sempit, tempat duduk masih banyak, kenapa kamu disini?" ketusnya.
"Apa kamu sedang mengalami cemburu?" tanya Rey jahil.
__ADS_1
"Si... siiiapa yanh cemburu."
"Terserah kamu saja, aku mah apa atuh cuman wanita simpanan."
"Mana ada artinya dimata kamu." Vio berucap sambil mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.
"Terlalu banyak bicara." Mencium bibir manis merah muda itu.
Vio yang mendapatkan serangan kali ini memukul dada Rey brutal. "Kau tahu, ini adalah sebuah pulau pribadi." disela-sela ciumannya Rey berujar.
"Iya lalu kenapa." setelah ciuman berakhir. Tapi Rey memagutnya lagi.
"Ini adalah hadiah yang tempo hari kau minta." Vio tidak begitu memperhatikan ucapan Rey.
🌷🌷🌷
"Hahh hah, kau ini bisa tidak tak mesum sehari saja." Vio mengusap bibirnya kasar dengan penggung tangannya.
"Tidak, karena setiap saat aku ingin memakanmu."
"Ck, apa kalau kamu sedang bersama Angel juga melakukan hal demikian?" tanya Vio polos.
"Kenapa memangnya?"
"Tak apa, aku hanya bertanya saja."
"Berarti dimana pun kamu, selalu mesum." Vio meneruskan membaca novel online di aplikasi ponselnya.
"Diamlah, dari pada meladenimu terus menerus aku sangat capek, aku akan merefresh otakku sebentar."
Vio mulai serius lagi membaca novelnya, "Apa yang kau lihat, hingga berani mengabaikanku." Rey merebut ponsel dari tangan Vio dan melihatnya sekilas, lalu aplikasi tersebut di uninstall.
"Hei kau menghapus aplikasi novel onlineku, keterlaluan iya."
"Sini ponselku, aku tak terima."
"Itu salahmu, karena sudah mengabaikanku."
"Kenapa menyalahkan aku, kamu juga tak menjawab pertanyaanku kan." Vio tak mau kalah, bahkan kini dirinya bangkit dari duduknya dan berkacak pinggang.
"Bagian mana aku mengabaikanmu?"
"Apa kamu juga sangat mesum jika bersama Angel?" tanya Vio sekali lagi.
"Tak ada, aku hanya melakukan hal ini denganmu saja."
"Ck buaya, mana bisa dipercaya." gumam Vio pelan, tetapi masih sangat jelas di indera pendengaran Rey.
"Kau mengataiku lagi?"
"Hah ti...tidak sayang mana ada." Vio reflek memeluk Rey mesra.
"Benarkah, padahal aku ingin memberikan hukuman untukmu karena telah berani melawanku dan mengataiku." ide jahil Rey muncul seketika.
__ADS_1
"Eh mana ada seperti itu, aku tak mau." Vio kembali berkacak pinggang. Alisnya bahkan terlihat menyatu tanda tak setuju.
"Kalau tidak mau mendapatkan hukuman, bilang maaf yang benar."
"Hemm baiklah suamiku yang tampan, aku minta maaf iya." memeluk pinggang Rey.
"Bukan seperti itu minta maaf yang benar."
"Lalu yang bagaimana?" tanya Vio mendongak. Karena saat ini posisi mereka sama-sama berdiri dan Vio tingginya hanya sebatas pundak Rey.
"Cium aku."
Vio melakukan apa yang diperintahkan oleh Rey, mencium pipinya sekilas.
"Bukan seperti itu."
"Ihhh kamu ini, lalu yang bagaimana lagi." Vio bahkan sudah terlihat sangat kesal.
"Begini cara yang benar." jurus modusnya keluar lagi.
Mencium bibir Vio dengan lembut. Tangan Rey menekan leher Vio dan yang satunya melingkar di pinggangnya.
Vio yang akan melepas diri malah terhanyut lagi, karena ciuman lembut itu sepertinya sudah membuatnya candu.
Tangannya diarahkan Rey untuk mengalungkan ke pundaknya. Ciuman yang awalnya biasa itu menjadi luar biasa.
Turun ke leher Vio hingga mengeluarkan suara aneh dari mulutnya," Keluarkan sayang, aku menyukainya." menuntun Vio ke arah ranjang king size miliknya.
Turun lagi ke puncak gunung kembar, memainkan pucuknya dan mengulum persis seperti bayi yang sedang minum.
Kegiatan yang tadi baru saja di lakukan di kamar mandi itu kini terulang kembali. Vio telah dibuat gila olehnya.
Detik berikutnya sudah terlepas semua kain yang menempel di tubuh mereka. "Aa...aku tak tahan." nafas Vio tersengal.
Adegan inti baru saja akan dimulai, tetapi Vio sudah dua kali mencapai puncaknya kala tangan lincah Rey bermain-main diarea intinya.
"Sabarlah sayang,"
"Kau membuatku gila."
Setelah Vio mengerang, barulah kegiatan inti dimulai, Vio merasakan benda keras itu sangat kokoh melewati inti tubuhnya, bergerak mengikuti irama.
"Lebih cepat lagi."
"Faster baby." menciumi pucuk benda kenyal yang ikut bergerak itu.
"Aku sudah akan..."
"Tunggulah aku, " Rey semakin cepat dengan gerakannya, dan merasakan miliknya di cengkram kuat oleh Vio. Hingga menyemburkan benih kualitas premiumnya disana.
Seketika tubuh Vio sangat lemas dibuatnya, begitupun Rey yang ambruk diatasnya, beberapa saat berguling kesamping.
dan memeluk tubuh ramping Vio.
__ADS_1