
Semalaman Adit mendapatkan teror dari istri pertama Rey, "Jika terus-terusan begini, lama-lama juga ketahuan belangnya bos." Adit berbicara pada dirinya sendiri. Mondar-mandir di dalam kamarnya yang terlihat minimalis itu.
"Aku harus menjawab apa jika nyonya besar bertanya padaku juga." Adit membayangkan jika ibunya Rey bertanya padanya.
Ini semua seharusnya permasalahan Rey dan ke dua istrinya, lalu kenapa dia di bikin pusing.
"Iya hallo nona!"
"Apa kau sedang bersama suamiku?" tanya Angel to the poin tanpa basa basi.
"Ehhhmmm itu nyonya, saya sedang berada di tempat lain, dan tuan Rey saat ini masih sibuk menemui kliennya." bohongnya.
"Apakah ada yang bisa saya bantu nyonya?" Adit berusaha menetralisir detak jantungnya, karena takut salah bicara.
"Malam-malam begini, dan dia tak mengabariku?"
"Itu nyonya, mungkin ponsel tuan sedang dalam keadaan kehabisan baterai."
"Itu tidak seperti dirinya, karena dia orangnya selalu tepat waktu, dan tak pernah menundanya seperti ini, apa lagi dalam urusan ponsel."
Adit bungkam dibuatnya, ia menjadi bingung harus menjawab apa sekarang," Mungkin sedang sibuk menemani klien nyonya, nanti saya akan mencoba membantu menghubunginya." hiburnya pada Angel.
"Baiklah, aku tunggu."
Telepon dimatikan oleh Angel, barulah Adit bisa bernafas lega, selanjutnya ia harus bisa menghubungi tuannya.
Adit fokus menekan angka dalam ponselnya, yang menjawab malah operator, mungkin panggilan sedang dialihkan atau sedang dalam mode pesawat.
"Apa sebaiknya aku mengirim pesan saja." setelah lama berperang untuk mencari ide. Adit akhirnya mengirimkan sebuah pesan singkat pada Rey.
Huhh seharusnya ini adalah hari tenangnya, tapi malah membuatnya tak bisa tenang.
***"
Pagi hari telah menyambut, dua orang yang saling dimabuk asmara itu masih terlelap di dalam satu selimut, saling berpelukan, padahal matahari sudah meninggi, padahal hari ini Rey ada pertemuan penting.
Adit yang sudah berada di area penthousnya tak bisa duduk dengan tenang, menunggu bosnya bangun. Beberapa kali pula ia memencet tombol bel pemilik unit itu, namun masih juga tak ada yang mendengarkan.
"Ini sudah jam setengah sembilan, bisa gawat nanti jika tuan Rey masih belum keluar juga." Adit kembali berjalan menghampiri tempat dimana tuannya berada.
"Huhhhh ..., semoga saja kali ini dibuka." baru saja mengangkat tangannya, pintu sudah dibuka dari dalam.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Rey menaikkan sebelah alisnya, memandang datar Adit.
"Ehhh, anda sudah bangun tuan."
"Kau tak lihat, aku sudah rapi begini, pertanyaanmu itu sangat konyol."
Adit menggaruk kepalanya yang tak gatal, padahal dirinya sudah berada di sana dari jam enam lewat. Tapi seolah-olah kali ini adalah dirinya yang bersalah.
"Mau sampai kapan kau disana." Rey yang sudah berjalan lebih dulu menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Ehh an... anda sudah jalan tuan."
"Ini semua kan juga karena dia yang kesiangan, lalu kenapa aku yang kena getahnya." batin Adit mengumpat.
"Kau jangan mengumpatiku."
"Ehh ti..tidak tuan, mana berani saya."
""Apa jadwalku hari ini?" sambil merapikan tatanan dasinya, yang sedikit miring, karena tadi Vio juga belajar menyimpulkan dasi.
Baru kali ini juga Vio belajar menyimpul dasinya, biasanya karena Vio bangun kesiangan, atau kalau pagi akan sibuk di dapur membuat sarapan.
"Anda ada janji temu dengan tuan Aldo tuan, untu pengembangan proyek baru."
"Proyek baru?" Rey berjalan cepat, sehingga Adit mak tak mau juga harus mengimbangi langkah lebar Rey, meskipun dirinya sendiri memiliki tinggi badan seratus delapan puluh empat, hanya beda tiga senti meter saja dari Rey.
"Iya tuan, tentang pembahasan pengembangan dari produk kemaren yang sangat laris di pasaran."
"Baiklah dimana?"
"Di restauran X tuan."
"Hemmm." jawab singkat Rey, dirinya sibuk mengotak atik MacBook ditangannya.
🌷🌷🌷
"Bagaimana orang yang kemaren mencelakai nona Vio tuan?"
"Biarkan saja dulu, aku ingin bermain-main dengannya dulu."
Rey membuka pintu mobilnya, memposisikan tubuhnya di dalam mobil Fortuner milik Adit. "Mereka paman dam juga bibi nona Vio tuan."
"Ternyata kedua orang tuanya sekretaris Mia."
Adit melajukan mobilnya perlahan, membelah jalanan yang siang itu terlihat tidak begitu ramai, karena jam ramai sudah lewat.
"Apa kamu tidak salah."
"Saya rasa penyelidikan saya tidak salah tuan."
"Kedua orang tua sekretaris Mia sangat membenci nona Vio tuan."
"Karena semua kekayaan miliknya diwariskan padanya."
"Tapi karena keserakahan mereka, sehingga nona Vio terusir, setelah kedua orang tuanya meninggal." Adit melanjutkan lagi ceritanya.
"Apa kau melihat ada yang aneh dengan mereka?" tanya Rey menoleh pada Adit, penuh teka teki pertanyaan yang diajukan bosnya ini.
"Seperti dugaan anda tuan, jika sekretaris Mia sangat membenci nona Vio."
"Ehmm kau awasi juga pergerakannya,"
__ADS_1
"Aku rasa dia sudah mengetahui semuanya,"
"Kau tahu, apa alasan dibalik dia memasuki perusahaanku?"
"Padahal kedua orang tuanya sudah merampas kekayaan milik kedua orang tua Vio."
"Mungkin dia sedang mengincar lelaki kaya." balas adit santai.
"Maksud kamu." Rey menoleh pada Adit, memandangnya tajam.
Adit menjadi gelagapan dibuatnya, padahal ia juga berbicara asal kali ini.
"Jangan sembarangan bicara jika tak ingin menerima gajimu bulan ini menjadi separuh." ketus Rey.
"Hahhh, ti...tidak tuan, saya hanya berbicara asal saja tadi."
Rey tak membalas ucapan Adit, hal itu membuat Adit tak visa berkonsentrasi menyetir, kawatir gajinya bulan ini akan terpotong beneran.
"Bisa membawa mobil yang benar atau tidak kau ini?"
Rey tahu jika Adit sedang ketakutan gajinya akan dipotong, sehingga membuat konsentrasinya pecah.
🌷🌷🌷
"Jangan lupa, kau tangani dengan benar sekretaris di depan sana, jika tak ingin gajimu bulan ini terpotong."
Rey berbicara demikian dengan isyarat matanya melirik kearah Mia yang tak mengetahui kedatangannya, "Baik tuan, sesuai permintaan anda."
Rey berlalu sari sana, berjalan dengan wibawanya sebagai pemimpin, yang terlihat bersinar.
"Selamat pagi tuan." sapa Mia ramah, berdiri dan memberikan senyum terbaiknya, serta pakaian seksi yang selalu memperlihatkan bentuk lekukan tubuhnya. Bahkan jika ia membungkuk sedikit saja akan terlihat bentuk belahan dadanya.
Rey hanya melirik sekilas menatap Mia sebagai balasan sapaannya. Melewati dengan pandangan tanpa ekspresi sedikit pun.
"Ck, menyebalkan sekali, kenapa aku yang sudah berpenampilan seksi begini tak pernah di liriknya sama sekali." gumam Mia pelan.
"Kemari." panggilan singkat dalam telepon yang ia sambungkan ke Adit.
"Anda memanggil saya tuan?" Adit yang setelah mengetok pintu, memasuki ruangan yang estetik itu.
"Duduklah,"
"Kau awasi pergerakan Angel dam seluruh pegawai dirumah utama, jangan sampai Angel datang kemari, tugaskan pada kepala pelayan itu untuk mengalihkan."
"Supaya Angel tidak ada keinginan untuk kemari."
"Baik tuan, apa ada lagi?"
"Aku rasa Mia memiliki rencana lain,"
Rey mendongak, menatap Adit, lalu meletakkan MacBook nya dimeja, dan
__ADS_1
Bersambung