
Tidak terasa tuan Rey berada di kota Moscow sudah enam bulan lamanya, selama ini tak ada masalah apa pun. Tetapi makin ke sini Vio semakin tak pernah pulang, sering jalan-jalan dan shoping tidak jelas.
Rencananya hari ini tuan Rey ada rapat komisaris pemegang saham, tentu saja sebagai pemimpin dirinya di wajibkan hadir.
Tuan Rey sudah bersiap dengan setelan kerjanya, berdiri sekali lagi di depan cermin, memastikan penampilannya apakah sudah sempurna atau belum.
Dirinya menggunakan kemeja panjang bergaris, dengan warna maroon, di padukan dengan dasi polos dan motif transparan, tidak lupa menggunakan jam tangan yang limited edition, bahkan hanya keluaran terbatas, jam tangan seperti miliknya.
Rambutnya tertata sangat rapi dengan bantuan pomade, dan terakhir menyemprotkan parfum produknya sendiri, yang dinamai Roja Haute Luxe seharga satu botol berkisar enam puluh lima juta.
Dirasa penampilannya sudah sempurna, dirinya berjalan keluar melihat Angel yang sedang menyiram tanaman di halaman belakang.
Kandungan Angel sudah membesar, perkiraan calon anaknya nanti laki-laki. Dirinya juga tak pernah melewatkan saat pergi ke dokter menemani Angel memeriksakan kandungannya.
"Aku pamit pergi dulu son," Membungkuk mencium perut Angel tiba-tiba.
Angel yang mendapatkan perlakuan manis seperti itu tentu saja hatinya menghangat.
"Iya daddy." Angel menjawab dengan menirukan suara anak kecil.
"Jika kamu ingin sesuatu, bisa kirim pesan padaku."
Tuan Rey berjalan keluar rumah megahnya yang jika di lihat dari halaman depannya saja bagaikan kastil kerajaan.
Di ikuti Angel di belakangnya, membawakan jas dan tas kerja suaminya. Angel mengantarkan tuan Rey hingga sampai pintu depan.
Melepas kepergian suaminya, dengan perasaan bahagia. Adit yang melihatnya saja sungguh miris nasibnya sebagai seorang jomblo yang belum memiliki pasangan.
"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Tuan Rey pada Adit yang mengemudi di kursi depan.
"Sesuai permintaan anda tuan."
"Baiklah, jangan ada kesalahan. Aku tak menerima kesalahan." Bicaranya terdengar arogan, menggambarkan jika dirinya orang yang sempurna dan sangat perfek dalam hal apa pun.
"Akan saya usahakan tuan." Jawab Adit.
Jalanan di kota itu belum terlalu ramai, karena berangkat lebih pagi dari waktu biasannya. Sehingga masih terlihat beberapa kendaraan saja yang melintas di sana.
Tidak lama kemudian sampai pada halaman kantornya, terlihat satpam perusahaan itu berlari membuka pintu mobil bosnya sebelum Adit turun membukanya.
Tuan Rey keluar dari sana dan di ikuti oleh Adit di belakangnya, kunci mobilnya ia serahkan pada sekuriti yang bertugas menata mobilnya di parkiran basemen, area parkir khusus mobil pemilik gedung pencakar langit ini.
Mereka berjalan dengan elegan, jika di lihat sekilas terlihat sebelas dua belas antara Adit dan juga tuan Rey. Wajahnya terlihat datar dan dingin, tentu saja seluruh karyawan yang berpapasan dengannya menunduk hormat dan menyapanya.
Si tuan Rey hanya membalas mengangguk kecil, tanpa ekspresi tanpa senyuman. Lalu memasuki lift khusus presiden direktur.
"Pagi tuan," sapa sekretarisnya menunduk hormat.
__ADS_1
"Siapkan file untuk bahan yang akan di buat rapat nanti." Bukanya mendapatkan jawaban dari sapaannya, tetapi malah mendapatkan perintah.
Sungguh dengan cekatan sekretarisnya ini sigap menyiapkan bahan yang diminta oleh tuan Rey, dirinya tahu betul seperti apa watak bosnya ini, tak suka menunggu terlalu lama dan tidak suka dengan orang yang kerjanya lelet.
Sebelum memasuki ruang rapat dirinya perlu memeriksa beberapa file di dalam ruangannya. Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Ternyata Adit.
" Rapatnya sebentar lagi sudah siap tuan." Adit.
"Baiklah."
Dalam rapat kali ini membahas tentang perkembangan perusahaan anak cabang. Rencananya akan menambah cabang baru di kota paman Syam.
Tentu saja ini tak membutuhkan biaya sedikit, tetapi di dalam laporan itu terdapat proposal yang tertulis jika di sana di sebutkan jumlah uang dengan nominal yang sangat besar.
"Apa tidak salah proposal ini, dana ini sangat besar jika untuk ukuran pembangunan gedung baru." Tuan Rey.
"Saya itu tidak terlalu besar Rey, karena kita akan membangun gedung baru dengan fasilitas yang lengkap." Paman Rey.
"Apa dana ini termasuk upah pegawai dan juga asuransi tenaga kerja?"
"Belum, baru pembiayaan gedung saja."
"Tetapi nanti kita bisa menganggarkan dana untuk asuransi dan upah pegawai."
"Apa paman tidak salah hitung, ini untuk ukuran gedung yang memiliki fasilitas lengkap dan ketinggian maksimum."
"Ini tidak masuk akal jika belum termasuk asuransi dan upah pegawai."
Suara tuan Rey naik satu oktaf, pandangannya berubah tajam, jangan sampai orang satu ruangan ini terkena imbasnya akibat kemarahannya hari ini.
"Tidak Rey, aku bisa menanganinya. Kau percayakan saja padaku, aku jamin semuanya akan beres." Kata paman tuan Rey mengajukan dirinya.
Tuan Rey terdiam sejenak, paman dan keponakan itu bersitegang soal proyek baru pembangunan gedung. Seisi ruangan mendadak berubah menjadi hening, jam yang berputar itu terasa jalan di tempat. Mereka tentu saja ingin rapat ini segera berakhir.
"Baiklah, apa jaminan paman jika proyek ini berhenti di tengah jalan karena kekurangan dana?"
"Kau bisa memindahkan aku di perusahaan cabang yang baru merintis Rey."
"Benarkah."
Tuan Rey menyeringai mendengarkan jawaban pamannya ini, ini adalah kesempatan dirinya untuk mendepak pamannya yang sepertinya sudah saatnya untuk dipindahtugaskan.
"Baiklah, Adit buatkan surat penyataan kesepakatan proyek ini."
"Baik tuan,"
"Rapat ini saya tutup dan akan bertemu lagi jika gedung baru akan mulai berdiri."
__ADS_1
Suasana tegang itu belum kunjung usai jika pelaku utamanya masih berada di sana. Mereka belum ada yang berani keluar ruangan sebelum tuan Rey berdiri dan keluar lebih dulu.
Ketika tuan Rey berdiri, dengan otomatis seluruh orang yang berada di dalam ruangan ini mengikutinya berdiri. Memberikan salam hormat pada pemimpin mereka, termasuk pamannya juga, sangat segan dengan keponakannya ini.
Adit tak menanyakan apa pun, melihat gestur tuannya saja sudah tahu jika tuannya ini memiliki rencana lain.
"Apa anda berniat memindahkan paman anda tuan "
"Ehmm seperti dugaanmu." Tuan Rey menjawab dengan tenang, dan menyilangkan kakinya, matanya masih fokus memandang MacBook nya yang berada di tangannya.
"Baiklah terserah anda saja."
Detik berikutnya ponsel Adit berbunyi jika Vio beberapa hari ini tak ada di rumah Fani.
"Tuan." Setelah melihat chat yang ia baca beberapa detik yang lalu.
"Apa yang terjadi dengan Vio."
"Nona Vio tak ada di rumahnya nona Fani tuan."
"Bagaimana bisa orangmu lalai."
Seketika tuan Rey berdiri dari duduknya, mengambil jas yang tersampir di kursinya dan berjalan keluar dengan tergesa.
Adit tau apa yang ia lakukan, mengikuti bosnya untuk mengemudikan mobilnya.
"Apa kita akan terbang ke Bali hari ini juga tuan."
"Tentu saja, siapkan pilotmu untuk keberangkatanku sekarang."
"Baiklah tuan."
Tuan Rey menunggu Adit di luar mobilnya yang terlihat sedang menghubungi seseorang.
Lalu setelah menutup ponselnya memasuki mobilnya. "Lalu bagaimana dengan nyonya Angel tuan."
"Tentu saja akan ikut bersamaku."
Mendengarkan hal itu, Adit yang mendengarkan terlihat kaget dengan keputusan tuan Rey.
Tetapi dirinya masih mampu menguasai emosinya, sehingga terlihat biasa saja.
"Apa nyonya bisa terbang dengan jarak jauh tuan?"
"Aku akan membawa satu dokter pribadinya, untuk ikut bersama kami."
Jika sudah seperti ini, tak bisa berkata-kata lagi Adit dan tak mau menanyakan apa oun lagi.
__ADS_1
Udahlah, pokonya terserah tuannya saja mau melakukan apa saja, yang jelas tak ada larangan.
dan