WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Pindah


__ADS_3

"Papa temani aku tidul." pinta Chris.


"Apa kamu sudah mengantuk son."


"Iya papa."


"Baiklah ayo."


Rey menggiring putra semata wayangnya pergi ke kamarnya, jika ayahnya dirumah maka Chris minta ditemani untuk tidurnya, jika ayahnya sibuk, maka suster Ana yang menidurkannya.


"Papa bacakan aku buku cerita."


"Hemmm baiklah, buku cerita apa yang ingin kamu baca?" tanya Rey.


"Aku ingin dibacakan buku celita sayang adik."


Chris menyodorkan buku ceritanya pada Rey, "Sayang adik? apa papa tidak salah dengar?"


"Tidak papa, kalena Chlis pengen punya adik." katanya lagi.


"Ayo papa cepat bacakan sekalang."


Rey menuruti apa yang menjadi permintaan Chris, membacakan buku cerita sayang adik, entah dapat dari mana buku ini, tapi Chris bisa mendapatkannya.


"Cepat sekali dia tidurnya, ini bahkan baru beberapa lembar," Rey menengok Chris yang ternyata sudah terlelap di alam mimpinya. Lalu menyudahi membaca buku ceritanya, bangkit dari duduknya di tepi ranjang dan menyelimuti Chris hingga sebatas dadanya. Terakhir kali sebelum dirinya keluar dari kamar Chris adalah mencium puncak kepala Chris dengan penuh perasaan.


***


"Aku ingin tanya padamu?"


"Silahkan tuan?"


Setelah menidurkan putra semata wayangnya kini Rey kembali lagi ke ruang kerjanya, "Seharian tadi kamu bawa kemana saja Chris?"


Pertanyaan Rey seketika membuat tubuh Adit menegang, detak jantungnya berdetak lebih cepat. "Hanya membawa jalan-jalan tuan kecil tuan." jawab Adit setelah berhasil menguasai dirinya.


"Sampai sore?"


"Iya tuan,"


"Apa kamu sedang pendekatan dengan suster Ana?" tanya Rey menebak asal.


"Hah apa yang tuan bicarakan, saya hanya berdua saja dengan tuan kecil."


"Benarkah?"


"Tentu saja tuan, tuan kecil bilang jika dirinya ingin berjalan-jalan."


"Baiklah kali ini aku percaya padamu, tapi lain kali jangan membawa Chris keluar rumah terlalu lama."


"Baiklah tuan."


"Bagaimana proyek baru kerjasama dengan tuan Yamada?" tanya Rey lagi mengalihkan pembicaraan.


"Sejauh ini lancar tuan,"


"Apa ada kesulitan yang kamu alami?" tanya Rey matanya tetap fokus dengan tumpukan kertas di meja depannya, sedikit pun tak teralihkan.


"Belum tuan sejauh ini."


"Tapi tuan Yamada ingin kita melakukan pesta perayaan tuan di villa yang ada di dekat kebun anda."

__ADS_1


"Hemmm lakukan apa yang dia mau."


"Baiklah jika begitu akan saya atur ulang jadwalnya." Adit merasa was-was, takut jika Rey ikut pergi kesana, maka akan bertemu Vio, dan Vio entahlah apa yang akan terjadi nanti. Adit merasa jika keberadaan Vio yang tinggal disana tidak aman lagi, sehingga dirinya merasa perlu memindahkan Vio dari dalam komplek kebun anggur itu.


Di ruangan lain, setelah kepergian Rey, pintu ditutup dengan rapat, seketika saja Chris terbangun dari tidurnya, dan melihat kearah pintu, memastikan jika ayahnya sudah keluar.


"Aku akan menelpon bundaku." Chris mencari ponsel di lacinya dan menekan nomor yang sudah ia namai dengan sebutan bunda itu.


Rey memberikan ia pegangan ponsel bukan untuk bermain-main, melainkan jika Rey ingin berkomunikasi dengan anaknya, sehingga masih ada batasan yang harus dilalui oleh Chris.


"Hallo dengan siapa ini?" suara di seberang sana.


"Hallo bunda, ini aku Chlis." ucapnya to the point.


"Chris kamu, kenapa kamu bisa menelpon bunda malam-malam begini?" tanya Vio heran.


"Kalena aku kangen sama bunda tau."


"Hemmm besuk kan bisa bertemu lagi, ini sudah malam, ayo sekarang Chris tidurlah, besuk kita bisa bertemu lagi setelah Chris pulang sekolah." dengan melalui perdebatan panjang lebar, akhirnya Chris menurut apa kata Vio.


Sambungan telepon dimatikan, Chris segera meletakkan kembali ponselnya di laci kamarnya.


***


"Anak itu, masih kecil juga sudah pintar bermain gadget."


"Dasar memang anak jaman sekarang, susah juga menghindarkan dari barang-barang seperti itu." gumam Vio menggelengkan kepalanya.


"Aduhhh perutku, ada apa denganmu nak, bunda kesakitan kalau kamu seperti ini." Vio memegang perutnya sendiri, ternyata bayinya sangat aktif di dalam sana.


"Ada apa nak Vio?" tanya nenek Sam yang menghampiri sambil membawa kue Red Velvet kesukaan Vio selama dirinya hamil.


"Hemm kamu ini, ini nenek membawa kue, makanlah."


Meletakkan kue yang baru saja keluar dari oven itu diatas meja,"Terimakasih nek,"


"Jangan lupa dihabiskan."


"Aku tidak janji."


Nenek Sam ikut duduk di seberang kursi yang ditempati oleh Vio. "Besuk kan jadwalnya kamu periksa kandungan."


"Apa perlu nenek temani?"


"Jika iya nenek akan libur kerjanya."


"Hah tidak nek, aku akan berangkat sendiri, aku akan pergi naik taxi saja."


"Tapi nenek khawatir jika kamu pergi sendirian."


"Aku sudah mau punya anak loh, dan bisa kemana-mana sendirian, bahkan bisa sampai bertemu nenek disini." canda Vio dengan mulut penuh.


"Baiklah kalau begitu, tapi harus janji sama nenek, pulang pergi harus hati-hati, jaga cucu nenek dengan baik."


"Tentu saja nek." Vio mengangkat jempolnya pada nenek Sam.


"Siapa nek?" ketika terdengar suara ketukan pintu, bahkan ini sudah jam setengah sebelas, tapi malah sepertinya ada tamu.


"Nenek juga tidak tahu?"


"Kamu duduk saja, lanjutkan makanmu, biar nenek saja yang buka pintunya." nenek Sam berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Tuan anda?"


"Ehmm iya ini saya nek, apa saya bisa bertemu Vio sekarang?" tanya Adit.


"Bisa tuan silahkan masuk." nenek Sam memberi jalan pada Adit.


"Kamu..."


"Ada apa kamu malam-malam bertamu?" tanya Vio masih dengan kegiatan mengunyah kuenya.


"Tentu saja ingin bertemu kamu,"


"Ada apa? sepertinya ada hal penting yang perlu kamu sampaikan?"


"Kamu tepat sekali."


Adit mendudukkan tubuhnya di seberang Vio, nenek Sam pergi ke dapur untuk membuatkan minuman Adit.


"Kamu besuk pindah dari sini."


"Maksud kamu apa? aku tak mengerti."


"Kamu besuk akan saya pindahkan dari sini?"


"Pindah dari sini? kenapa?"


"Karena divilla sebelah akan diadakan pesta perayaan kebun, dan akan dihadiri banyak orang, tidak terkecuali juga tuan Rey."


"Atau kalau keberadaanmu ingin cepat ditemukan olehnya juga tak perlu pindah juga."


"Baiklah-baiklah aku mau pindah."


"Hemm bagus."


"Tapi aku akan pindah dimana?" tanya Vio bingung.


"Soal tempat kau tak usah mengkhawatirkannya, aku sudah menyiapkan tempat untukmu." ucap Adit datar.


"Baiklah aku akan menurut saja jika itu baik."


"Aku hanya ingin hidup dengan tenang bersama bayiku." membelai perutnya seolah takut kehilangannya.


"Tapi besuk jadwalnya aku periksa, aku harus pindah kapan?"


"Setelah kamu periksa kandungan."


"Baiklah,"


"Aku sebetulnya sangat bosan."


"Tak usah banyak mengeluh, aku sudah menyiapkan kegiatan untukmu nanti."


"Benarkah, kegiatan apa itu?" tanya Vio dengan mata berbinar.


"Adalah, nanti juga segera bereskan barang-barangmu."


"Aku akan kembali lagi, dan kamu jaga dirimu dengan baik."


"Baiklah"


Adit berdiri dari duduknya dan pergi dari sana, Vio mengantarnya hingga tidak terlihat lagi punggungnya.

__ADS_1


__ADS_2