
Disebuah ruangan minimalis, desainnya terlihat modern namun memiliki kesan yang mewah. Tertata beberapa tumpukan dokumen diatas meja, yang ke semuanya itu membutuhkan coretan tanda tangannya, jika semuanya mendapatkan tanda tangan darinya, sudah bisa dipastikan yang lainnya akan berjalan lancar.
Betapa pentingnya pengaruh dirinya sebagai seorang pemimpin perusahaan, yang sudah hampir dua puluh tahun ia geluti itu.
"Apa Adit belum datang?" tanya Rey yang sudah berada di dalam ruangannya sejak sejam yang lalu, lalu menekan tombol telepon.
"Belum tuan."
"Baiklah, jika sudah datang, suruh masuk ke ruanganku segera."
"Baik tuan." jawab seorang sekertaris diseberang telepon.
Rey kembali lagi duduk di kursi kebesarannya, membuka kembali tumpukan dokumen diatas meja. Hari ini jadwalnya memeriksa beberapa dokumen penting yang membutuhkan coretan tanda tangannya, lalu ada pertemuan dengan klien di hotel X, selanjutnya bertemu klien yang berasal dari Indonesia yang bernama tuan Aldo.
Malamnya ada acara perjamuan makan malam dengan kolega bisnisnya, malas sekali jika mengingat tentang basa basi seperti itu.
"Ini sudah jam sepuluh siang, kemana perginya bocah itu."
"Ck, menyebalkan." Rey merasa kesal sendiri, bahkan beberapa kali panggilannya dibiarkan begitu saja. Namun Rey tidak mengecek keberadaan Adit sedang dimana.
Karena dirinya sedang fokus memeriksa tumpukan dokumen. "Ada apa dengan diriku, aku seperti mencium bedak bayi."
Rey berdiri dari duduknya, berjalan keluar, dan menanyakan hal yang menurutnya aneh. "Sekertaris Li, apa ada yang membawa anak kecil di kantor?" tanya tuan Rey.
"Tidak ada tuan."
"Benarkah, lalu apakah kau mencium aroma bedak bayi?"
"Tidak juga tuan." sekertaris Li merasa bingung sendiri mendapatkan pertanyaan yang menurutnya ini sangat konyol bagi sekertaris bermata sipit, dengan tubuh semampai itu.
Tanpa meneruskan obrolannya, Rey pergi begitu saja dari hadapan sekertaris Li, bergegas menemui kliennya seorang diri di hotel X.
"Baiklah tuan, terimakasih atas kepercayaannya." begitu Rey menerima tender proyek kerjasama antar perusahaan yang bergerak di bidang teknologi penerbangan.
Mereka lalu saling berjabat tangan dan berpamitan. Rey bergegas menjemput Chris disekolahnya, karena semalam sudah berjanji.
"Jalan pak?"
"Kemana tuan?" tanya sang sopir melihat kearah spion.
"Ke sekolah Chris, seharusnya ini sudah waktunya pulang kan."
Melihat jam yang melingkar ditangannya, lalu pandangannya beralih menatap jendela kaca disampingnya, pikirannya entah kemana, ia seperti tidak memiliki jati dirinya.
__ADS_1
Semalam Chris bercerita banyak jika dirinya menginginkan seorang adik perempuan seperti temannya, ah sialnya kenapa malah sekelebat bayangan Vio yang terlintas dibenaknya.
Penyesalan seketika menyeruak menusuk sampai menembus hatinya, namun sebisa mungkin ia alihkan lewat bekerja dan bekerja sebagai pelampiasannya.
Ah sialnya kenapa dulu dia tidak membuat Vio hamil, hingga Vio tidak lagi bisa kabur darinya, seketika ingatannya kembali ke masa beberapa tahun lalu, saat dirinya membentak Vio kala Vio ingin menimang putranya.
Rasa bersalah terus saja berputar-putar dalam ingatannya, ia mencari kesalahannya sendiri, kesalahan apa yang telah melukai hati Vio hingga membuat Vio meninggalkan dirinya.
Namun ia tidak patah arang untuk melakukan pencarian. "Awas saja jika kau sudah bertemu," batin Rey bermonolog.
Entah hukuman apa yang akan ia berikan pada Vio. "Tuan sudah sampai."
"Tuan sudah sampai." sang sopir beberapa kali memanggil namanya, namun Rey rupanya asyik dalam lamunanya hingga tidak sadar jika mobil yang membawa mereka telah berhenti.
Untuk yang ketiga kalinya sang sopir memanggil namanya, hingga menyadarkan Rey dari lamunannya, "Hemmm." balasan Rey datar. Bahkan berulang kali dirinya dipanggil.
Pintu mobil terbuka, menampakkan wajah tampan, dengan rahang yang tegas, hidung mancung, lelaki khas keturunan Rusia, tinggi tubuhnya yang sangat di idolakan banyak kaum hawa, karena Rey bagaikan arti Hollywood, memiliki tubuh yang tingginya diatas rata, dan bentuknya proposional.
Perut ratanya menambahkan kesan seksi dalam dirinya, namun sayangnya tidak ada wanita mana pun yang mampu menaklukan hatinya, hanya ada satu wanita yang membuat hatinya terkunci rapat, tetapi sayangnya telah meninggalkannya.
Rey berdiri di samping mobil gilapnya menjadi pusat perhatian ibu-ibu wali murid kala itu, "Siapa lelaki tampan yang mirip arti Hollywood itu."
"Lelaki itu sangat tampan, ah bahkan aku lupa jika sudah menikah, jika melihat yang segar-segar seperti itu."
Begitulah bisik-bisik para ibu-ibu, seakan lupa dengan suaminya jika ada yang lebih tampan di depan matanya.
"Papaaaa...., tangkap aku." teriak bocah yang sebentar lagi akan naik ke kelas Besar Taman Kanak-Kanak itu.
"Jagoan Papa.." Rey mengangkat tubuh bocah yang sepertinya bobot tubuhnya bertambah naik itu.
"Bagaimana belajarnya hari ini?"
"Apa menyenangkan?"
"Papa tadi ad teman Chlis yang mengejek Chlis, kalau Chlis katanya tidak punya mama."
Cerita bocah itu menampakkan raut wajah sedihnya,"Lalu jawaban kamu apa?"
Bocah itu menggeleng sedih dengan menekuk wajahnya,"Jagoan Papa tidak boleh lemah, ingat suatu saat kau akan menjadi pemimpin besar penerus perusahaan Papa, jadilah anak Papa yang kuat."
"Kau mengerti?"
"Jika ada yang mengejekmu tidak punya mama, Chris jawab saja kalau mama Chris sudah berada di surga."
__ADS_1
"Mulai besuk, jagoan Papa harus menjadi anak yang percaya diri."
Rey berusaha membesarkan hati putra semata wayangnya ini, agar tidak berkecil hati. Sejak dini sudah ia latih untuk memiliki mental yang kuat, karena tidak selamanya juga dirinya bisa membela, Chris harus bisa menjadi anak yang mandiri, mampu membela dirinya sendiri, dan menyelesaikan masalahnya sendiri, seperti saat ini.
"Jadi kau tahu kan apa yang harus anak Papa lakukan nanti?" saat ini sudah dalam perjalanan pulang.
Chris mengangguk mengerti, "Papa aku kangen sama bunda."
"Uppsss." Chris menutup mulutnya sendiri.
"Kenapa, bunda siapa?" tanya Rey yang mendengarkan ocehan Chris.
"Tidak Papa, Chris kangen diajak jalan-jalan sama Om Adit."
"Hemmm Om Adit sedang tidak masuk kerja hari ini."
"Memangnya Om Adit kemana Papa?"
"Papa tidak tahu, nanti akan Papa tanyakan."
"Ayo sekarang kita makan siang dulu."
Chris hari ini begitu riang, lantaran Rey menepati janjinya, tidak seperti biasanya yang terlihat menahan diri tanpa ekspresi, bahkan Chris lebih dulu memasuki area restauran dan memilih tempat duduknya sendiri, sambil bersenandung.
Di ikuti Rey yang berjalan dibelakangnya, sesekali matanya fokus menatap layar ponselnya.
"Mau makan apa?"
"Chlis mau makan pizza Papa."
"Baiklah."
Rey meminta pada pelayan makanan yang dipesan anaknya, dan tidak berapa lama pesanan mereka datang, disela-sela makannya.
"Tuan Rey anda disini juga?" tanya tuan Aldo menyapa.
"Ah anda tuan Aldo,"
Mereka berjabat tangan sesama lelaki, lalu Rey mempersilahkan duduk, dan tuan Aldo hanya minum saja, sekalian membahas kerja sama proyek baru dikota Tokyo.
"Tuan Adit kemana tuan?"
"Dia tidak masuk hari ini,"
__ADS_1
"Tidak masuk, tadi malam saya bertemu dengannya."
Rey mendongak, menatap tuan Aldo meminta penjelasan. Lewat sorot matanya