WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Ketakutan


__ADS_3

Rey memberikan Adit banyak tugas dikantornya, sebagai gantiannya karena Adit walau bagaimana pun telah membantu merawat dan menjaga Revi hingga sebesar ini.


"Sekarang kau pergilah, untuk satu bulan ke depan, seharusnya itu tidak sulit kan, kau bukan hanya sekali dua kali menangani proyek dan memenangkan tender." Rey membesarkan hatinya.


"Baik tuan, saya permisi, saya harap anda menjaga nona kecil dengan baik."


Hari sudah siang, hampir setengah hari Revi tertidur pulas karena kelelahan menangis, "Papa mana papa..." terbangun dari tidurnya diwaktu siang hari.


"Nona anda sudah bangun?" tanya suster Ana mendekati Revi.


Namun Revi semakin merapatkan tubuhnya, memeluk bantal yang berbentuk hewan,"Jangan jangan aku tidak mau." rancaunya begitu ketakutan.


Padahal suster Ana hanya berniat menaruh botol Dot didekatnya, karena tadi Adit sebelum pergi sudah berpesan untuk memberikan susu Dot dan letakkan saja di atas meja nakas, namun apa yang terjadi ternyata Revi sangat ketakutan dengan orang baru.


"Tidak tidak..., mama mana papa mana."


"Huaaaaaaa....." menangis hingga membuat suster Ana kalang kabut dibuatnya.


"Nona kecil, kemarilah saya akan mengantarkan nona kecil pada papa nona." suster Ana menggendong paksa Revi walaupun Revi begitu berontak dan tidak mau disentuh oleh suster Ana sama sekali.


"Sssttttt diamlah nona, nanti papa nona akan mengira jika saya akan berbuat jahat pada nona."


Suster Ana berjalan setengah berlari keluar dari kamar Chris karena Rey menidurkan Revi dikamar Chris.


Rey yang sedang merawat tanaman dibelakang rumah sayup sayup mendengarkan suara tangisan anak kecil, semakin lama ia menajamkan pendengarannya, barulah dia mengingat jika tinggal seorang anak kecil yang baru saja ia boyong tadi pagi.


Tangannya yang tadinya memegang gunting tanaman, ia letakan asal dan langsung berlari memasuki rumah besarnya.


"Kau apakan dia?" Rey mengambil Alih Revi dan memicingkan matanya ke arah suster Ana.


"Ti..tidak tuan, tadi sewaktu saya mengecek kamar nona, saya sudah melihat nona terbangun, kemudian saya buatkan susu dan nona berteriak kencang."


Rey tidak lagi mempedulikan ucapan suster Ana, fokus menimang Revi, namun rupanya bocah berusia dua tahun itu begitu susah adaptasi dengan lingkungan yang baru.


Rey hampir saja putus asa, "Sayang diamlah, ayo kita mencari hewan piaraan kakak dibelakang, ayo." suaranya terdengar lembut ketika berbicara pada putri kecilnya.


"Oh Tuhan kenapa dia begitu sulit diam, ini papa sayang." bujuk Rey hampir menyerah.


"Mama..., mama mana, aku mau mama..."


Revi memukul brutal dada bidang Rey, menangis dengan posisi mata terpejam membuat Revi sulit di diamkan. Hingga nafasnya tersengal sengal masih saja betah dalam teriakannya.


Jika dalam situasi seperti ini, lebih baik Rey berhadapan dengan sepuluh orang kolega bisnisnya untuk memenangkan tender mengalahkan lawan, karena ini baru pertama kalinya bagi Rey.

__ADS_1


Seumur hidupnya baru kali ini yang menurutnya menemui kesulitan, kesulitan mendiamkan balita, karena dulu seingatnya sewaktu Chris kecil tidak begitu menyulitkannya.


"Dia sampai sesak nafas begini masih betah saja menangisnya." Rey sudah keluar keringat dingin.


"Ehmmm maaf tuan kalau saya lancang, apa tidak sebaiknya anda menghubungi tuan Adit?" tanya suster Ana takut-takut.


"Kenapa tidak dari tadi kau berbicara ini."


"Cepat hubungi Adit," perintahnya sangat arogan.


"Baik tuan, tunggu sebentar."


Suster Ana tergopoh-gopoh berjalan setengah berlari masuk mengambil ponselnya untuk menghubungi Adit.


Namun tidak berapa lama Ternyata Chris berjalan memasuki rumahnya, dengan jarak lumayan jauh di ikuti Adit dibelakang Chris.


"Om Adit, dengar tidak, seperti ada suara anak kecil menangis."


"Tuan Adit akhirnya datang juga," suara suster Ana begitu Adit datang menyambutnya dengan ekspresi panik.


"Ada apa? apa ada masalah?"


"Itu tuan nona kecil, dibelakang."


"Ada apa dengan Revi? apa dia sedang rewel?"


"Iya tuan kecil, aku akan belakang sekarang melihatnya."


Adit berlari melenggang meninggalkan Chris yang sedang melepas sepatunya, "Om Adit aku ikut, tunggu aku."


"Revi..." suara Adit menginterupsi, Revi mendongak menatap wajah Adit.


Begitu melihat wajah Adit langsung terdiam seketika. Mengangkat kedua tangannya dan membenamkan wajahnya dipundak Adit.


"Maaf tuan, jika Revi merepotkan."


"Dia putriku, aku tidak masalah jika dia merepotkanku."


"Kali ini kamu selamat, karena Revi begitu sulit diam dari nangisnya."


"Maaf tuan, dia memang sulit adaptasi dengan orang baru."


"Mungkin ini baru pertama kalinya nona Revi melihat anda, sehingga membuatnya ketakutan seperti ini."

__ADS_1


"Apa kamu mempunyai cara khusus untuk mendekatinya? atau kamu memiliki trik mungkin?" tanya Rey begitu konyol di pendengaran Adit.


"Saya rasa tidak tuan, mungkin sudah terbiasa sejak bayi kami sering bertemu dan sama-sama."


"Hah iya aku percaya soal itu, tapi aku rasa kau harus membayarnya soal waktuku yang hilang ketika bersamanya,"


"Jadi tugasmu sekarang, kau harus bisa mendekatkan aku dengannya." suara Rey begitu sangat menyebalkan.


"Bagaimana bisa seperti itu tuan?"


"Atau begini saja, anda membuatkan kamar khusus untuknya, agar dia betah tinggal kemari."


"Tapi anda juga harus bersabar untuk menunggunya ketika beradaptasi nanti."


"Revi... Revi..." teriak Chris berlari keluar dari dalam.


Revi menoleh, memutar tubuhnya melihat siapa yang memanggilnya, lalu berusaha turun dari gendongan Adit.


"Tatak..., Tatak." suara cadelnya khas jika didengarkan.


Kali ini Rey tidak begitu terkejut, karena sudah tahu dari orang suruhannya, jika sepulang sekolah Chris sering mampir kerumah Vio dan bermain bersama Revi.


"Apa anda masih kurang yakin tuan, jika kurang yakin anda bisa melakukan tes DNA sekarang." usul Adit.


"Tidak, aku hanya heran saja, kenapa ketika melihat wajah kecil Revi aku jadi seperti bercermin dalam diriku sewaktu masa kecil, tetapi ini versi perempuan."


"Hah iya anda benar tuan, dia memang fotocopyan anda."


"Bahkan nona Vio yang mengandung selama sembilan bulan saja tidak kebagian sama sekali."


"Ehh ngomong ngomong soal nona Vio apa anda sudah tahu kondisinya saat ini tuan?" tanya Adit.


"Hah iya, aku sudah mengeceknya lewat cctv yang terhubung langsung di ponselku," tadi pagi sewaktu dirinya membawa Revi, ia telah meminta seseorang untuk memasang cctv di area rawat inap Vio. Lantaran Rey ingin mengetahui kondisi istrinya dan bisa meluangkan waktunya untuk Revi.


"Hah lucu sekali, aku memiliki putri kecil yang sangat imut, hingga sebesar ini, tetapi aku tidak mengetahuinya, malah." Rey menatap tajam Adit.


"Hah iya tuan mohon ampun saya bersalah."


"Aku bahkan bingung harus menghukum kamu atau berterima kasih padamu."


Perasaan dilema begitu membuatnya gundah saat ini. Setelah bertemu soulmatenya Revi bisa bermain dan tertawa lepas.


Hati Rey terasa menghangat melihat keduanya begitu akur, tanpa harus dirinya mendekatkan mereka berdua.

__ADS_1


Namun ada yang ia pikirkan saat ini, yaitu Vio. "Pindahkan Vio dirumah saja."


"Apa anda akan merawatnya dirumah tuan?"


__ADS_2