
"Apa ini." Rey yang penasaran dengan amplop berwarna coklat itu akhirnya membukaknya.
"Akta Cerai."
Tanpa berpikir panjang Rey merogoh saku jasnya dan menghubungi seseorang.
"Cepat kau temukan perempuan itu, fotonya sudah ku kirimkan ke ponselmu."nafasnya memburu, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.
***
.
.
Hari ini tepat satu minggu kepergian Vio, datanya untuk terbang ke luar negeri telah dimanipulasi, sehingga orang suruhan Rey tidak bisa menemukan data milik Vio, jelas saja tidak menemukan seluruh identitasnya telah diganti. Tentu saja dengan bantuan orang dalam.
"Kau tidak becus, hanya mengurus proposal begini saja tidak benar."
"Bawa kembali dan betulkan, dalam waktu satu jam harus sudah selesai." Rey menggebrak meja dihadapan karyawannya, saat ini mereka sedang meeting.
Bahkan akibat dari kepergian Vio, seluruh karyawan yang tak memiliki masalah dengannya terkena imbas dari kemarahannya.
"Rapat di bubarkan, dilanjutkan lagi dua hari kedepan, tidak ada yang boleh melakukan kesalahan."
Bahkan ketika ada karyawan hanya melakukan sedikit kesalahan saja akan di pecat tanpa SP.
"Sepertinya ada masalah pribadi dengan tuan Rey," ucap salah seorang karyawan.
"Entahlah, apa mungkin dia tak mendapatkan jatah dari istrinya." ucap salah satunya lagi.
"Bisa jadi benar dengan apa yang kau katakan."
"Kalian kembalilah ke meja kalian masing-masing, sebelum bos melihat kalian." suara Adit menginterupsi dua karyawan laki-laki yang sedang berbincang-bincang itu.
"Maaf tuan, kami akan permisi dulu."
Dua orang karyawan itu lari terbirit-birit meninggalkan Adit.
"Benar-benar mantan mafia sangat berbahaya, jika kemaren keluarga angkat nona sudah habis tak tersisa, lalu siapa lagi kali ini yang bakal terkena." Adit bergumam pada dirinya sendiri.
"Duduklah." perintahnya pada Adit, saat ini mereka berada di balkon ruangan Rey.
__ADS_1
"Kenapa jalanmu lambat sekali untuk kali ini." tanya Rey menyesap rokoknya dalam-dalam.
"Kenapa anda sekarang menjadi perokok tuan?" tanya Adit mendongak menatap Rey yang berdiri tak jauh darinya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku." ketus Rey menatap garang Adit.
"Berdasarkan gps nona, terakhir kali nona Vio berada di tempat tinggal nona Fani tuan, kemudian pulang ke apartemen, setelahnya tak aktif lagi ponselnya."
"Apa sebaiknya kau ku kirim ke Afrika saja."
"Jangan tuan, saya masih bisa menyelesaikan tugas saya dengan baik." Adit kali ini sudah mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi kemarahan Rey.
"Sepertinya anda tidak baik-baik saja tuan, setelah ditinggal nona Vio." batin Adit kasihan dengan Rey.
"Kau tak usah merasa kasihan padaku, kau cari dia sampai ketemu, dan jangan harap bonusmu akan cair jika kau belum menemukan dia." Rey berucap dengan datar tanpa ekspresi, lalu mematikan putung rokoknya.
"Baik tuan,akan saya usahakan." suara Adit terdengar sangat merendah.
Terdengar ponsel menyala di ponsel Rey yang tergelak diatas meja. Adit yang melihatnya memanggil Rey.
"Tuan ponsel anda sedang ada yang menelpon."
Tanpa menjawab Adit Rey mengangkat panggilan telepon, Rey nampak tergesa memakai jasnya kembali dan keluar ruangan.
"Kau urus saja sisa pekerjaanku, aku sedang ada urusan yang lain."
Setelahnya Adit tak berani lagi untuk bertanya, lebih baik dirinya segera menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan juga sisa dari pekerjaan Rey yang di bebankan padanya.
"Papa..., papa... mama... tadi pingsan." teriak bocah berusia hampir lima tahun itu.
"Sekarang dimana mama?" tanya Rey pada putra semata wayangnya yang saat ini menahan tangisnya. Mengangkat tubuh mungil itu dan menciumi seluruh wajahnya.
"Mama ada di dalam papa..., tadi dia main sama Clis tapi tiba-tiba mama pingsan."
"Hemm anak Papa, menangislah jika ingin menangis."
Rey membiarkan putra semata wayangnya itu memeluknya dan mengeluarkan isi hatinya, Rey menepuk pundak Chris bocah kecil itu, lalu memberikan pada suster Ana kala melihat Chris sudah tertidur.
"Tolong bawa dia pulang saja." pintanya pada suster Ana.
"Baik tuan."
__ADS_1
Rey berjalan menemui dokter, "Bagaimana keadaan istri saya dokter?"
"Maaf tuan untuk dugaan saya, nyonya Angel sedang mengidap kanker otak, namun untuk lebih tepatnya lagi bisa anda periksakan saja pada dokter spesialis."
Brakk...
Rey menggebrak meja, lagi-lagi tersulut emosi. "Istri saya sangat baik-baik saja, apa kau tak salah mendiagnosa istri saya dengan penyakitnya itu." matanya berkilat merah.
Adit yang berada diluar ruangan seketika menerobos pintu yang tidak di tutup dengan rapat itu. "Tuan anda sebaiknya tenangkan dulu diri anda tuan."
"Lepaskan aku, kau tak usah ikut campur urusanku mengenai istriku."
Namun Adit membawa Rey keluar, untuk menenangkan emosi Rey yang sedang memuncak itu. "Katakan padanya, jika dia salah mendiagnosa istriku, jika benar maka aku akan meratakan rumah sakit ini." Rey berapi-api. Dokter yang mendengar percakapan jika rumah sakit tempatnya ia praktek ini akan diratakan seketika dibuat menciut.
"Aku rasa biar aku saja tuan yang mengurus nyonya Angel."
"Sekarang anda lebih baik masuk dan menemui nyonya Angel di dalam, karena nanti nyonya akan bersedih jika bangun tak menemukan siapa pun." Adit berusaha membujuk Rey dan merendahkan suaranya.
Adit baru bisa bernafas lega ketika melihat Rey sudah memasuki ruangan istrinya,"Dokter..., tadi apakah anda yang menangani nyonya Angel istrinya tuan Rey." tanya Adit kala dirinya memasuki ruangan dokter yang telah mendapatkan amukan Rey.
Semua orang juga tahu, jika Rey penguasa dikota itu, karen usahanya yang sedang melejit dan berkembang di daerah sana.
"Iya tuan. Ada hubungan apa anda dengan pasien tadi?"
"Maaf dokter sebelumnya, nama saya Adit, saya adalah asisten tuan Rey, yang mengurus segala keperluannya, termasuk keperluan istrinya juga." Adit menjelaskan seperlunya dengan wajah mengintimidasi.
"Katakan jika dokter salah mendiagnosa nyonya Angel."
"Maafkan saya tuan Adit, tetapi saya sudah bertahun-tahun mengabdi menjadi dokter, saya rasa berdasarkan pemeriksaan medis memang benar, jika nyonya Angel sedang ada gejala kanker otak,"
"Ini rekapan medisnya bisa anda lihat." Seorang dokter dengan menggunakan Sneli dokter itu terlihat berwibawa, melihat gelar di kartu namanya saja tak bisa di remehkan.
"Baiklah, saya akan membawa ini, dan tolong jadwalkan dengan dokter spesialis."
"Baiklah saya akan menjadwalkan dengan dokter bedah syaraf tuan."
Dokter itu segera membuat janji dengan dokter bedah syaraf, pemeriksaan akan dilakukan di waktu pukul siang dan akan di dampingi Adit sebagai perwakilan penanggung jawabnya.
Keluar dari ruangan dokter itu bukannya membuat Adit bernafas lega, tetapi malah bertambah beban hidupnya. "Sepertinya Tuhan sedang menghukum tuan." Adit berbivara pada dirinya sendiri, ia ikut prihatin dengan nasib yang menimpa Rey. Pasalnya Rey memiliki segalanya, tetapi tidak dengan kebahagiannya.
"Bagaimana aku akan menjelaskan pada tuan." melihat rekaman medis ditangannya membuatnya sesak.
__ADS_1
dan
jangan lupa tinggalkan jejak iya