
"Kau mengusirku?"
Vio pergi ke kamar utamanya, memindai barang-barangnya di sana. Rey mengikutinya dari belakang.
"Biarkan saja, nanti akan ada seseorang kemari membantumu." sergahnya.
"Terserah padaku mau aku apain, ini barang-barangku."
"Tapi nanti kau akan kelelahan."
"Tidak akan."
"Aku tak mau kau nanti kelihatan capek."
"Itu tugasmu untuk memijatku, jika aku kecapekan nanti."
"Hentikan atau...!" Rey menyeringai menatap istri bandelnya ini dengan ide jahilnya muncul seketika.
Tetapi sayangnya Vio tak melihatnya, ketika dirinya sedang memindai barang-barangnya ke dalam lemari, sebuah tangan melingkar di pinggangnya dari arah belakang.
Ciuman mendarat di tengkuk lehernya dengan eksotis, tangan itu tak bisa jika tinggal diam saja. Vio yang awalnya cuek saja jadi terbawa suasana romantis.
Sekuat tenaga Vio membungkam mulutnya, agar tak keluar suara dari mulutnya. Tapi Vio jadi masuk dalam jebakan batman.
"Ahhhh kau ..."
Tubuh Vio di balik, serangan tiba-tiba itu membungkam mulutnya, ketika sebuah benda kenyal sedang menyesapnya. Tangannya di arahkan ke leher suaminya. Vio membalas juga ciuman yang entah sejak kapan menjadi memabukkan dan sepertinya mulai candu bagi Rey.
Vio mundur beberapa langkah, dengan maksud menghindari ciuman panas ini, tetapi malah dirinya terjerembab di ranjang king size miliknya, Rey semakin memperdalam ciumannya, karena suasana sedang tenang.
Detik berikutnya terjadi pertempuran antara pedang yang gagah siap memasuki arena pertempurannya. Tetapi masih tertahan.
******* demi ******* sudah saling bersahut-sahutan. Padahal baru beberapa jam yang lalu jika Vio mengeluh merasa ngilu di bagian area sensitifnya, tetapi kini malah mengulanginya lagi.
Sentuhan Rey memang membuatnya gila, hingga tak bisa menolak dan dirinya selalu saja terhanyut olehnya. Tangannya mencengkram rambut suaminya, mulut suaminya itu bermain-main di area favoritnya dan tangan satunya lagi memainkan inti tubuhnya.
"Aa ... aaku, ..." Suara Vio tersengal merasakan inti tubuhnya bergetar.
Sepertinya Rey sangat ahli dalam bermain mengerjai dirinya. Rey tersenyum puas, melihat istrinya yang sudah mencapai puncaknya.
Tak sabar dirinya ingin merasakan dengan apa yang sudah di rasakan oleh Vio. Alat tempurnya sudah siap memasuki area pertempuran. Rasa hangat kembali lagi Rey rasakan. Ahh ini membuatnya gila, kenapa juga ia tak pernah puas mengerjai istri nakalnya ini.
Rey berpacu lebih cepat terkadang juga lambat. "Lebih cepat lagi." sesuai keinginanmu sayang.
Mulutnya tak bisa diam, meraih gunung kembar yang bisa ia jangkau, tangannya bertumpu di sisi kanan kiri wajah Vio.
"Rey ... aak .. aku."
"Tunggu aku sayang..!"
Suara teriakan keduanya saling meneriaki nama masing-masing tak dapat dikendalikan. Tubuh Rey ambruk di atas Vio. Vio memejamkan matanya kala rasa yang tak dapat ia jabarkan saat ini menyerangnya.
Rey menciumi seluruh tubuh istri kecilnya, tak ada yang ia lewatkan sedikit pun. Setelahnya ia bangun dan membenahi posisi Vio, lalu dirinya berjalan ke kamar mandi berendam air hangat.
__ADS_1
Vio sudah tak sanggup lagi berdiri dari tempat tidurnya, walaupun terasa ngilu dibuatnya, tetapi dirinya tak bisa menghindarinya.
***
.
Tring...
Sebuah notifikasi masuk di ponsel Rey, setelah tadi ada panggilan masuk tetapi tak di dengarnya. Lebih tepatnya ia abaikan.
Rey membukanya, masih dengan handuk yang menempel di pinggangnya.
Dari tadi pagi ketika membuka mata Angel menanyakan dirinya, Adit yang bingung di buatnya. Pasalnya dirinya diteror oleh Angel dengan melakukan panggilan masuk terus menerus.
Akhirnya Adit menjawab asal kalau Rey sedang menyelesaikan pekerjaannya di kantor dan masih tertidur.
Seketika itu pula Adit tak bisa lagi tenang, pikirannya bekerja keras untuk menutupi hal lain.
Rey bersiap pergi, seperti biasa dirinya meninggalkan memo dulu sebelum pergi, menaruhnya di atas meja nakas. Lalu mencium kening istrinya dan keluar melenggang dari sana.
Beberapa menit telah sampai di lobi rumah sakit, berjalan masuk melewati lorong rumah sakit setelah tadi memarkirkan mobilnya, Angel di rawat di ruangan Vvip dilantai delapan.
"Tuan anda ..."
Adit yang berada di depan pintu ruang perawatan Vio. "Kau mau kemana?" tanya Rey memandang Adit.
"Ehmm saya sedang menunggu kedatangan anda tuan." jawabnya.
"Menunggu kedatanganku." Rey membeo.
"Ehmm itu, tadi waktu dinihari nyonya menghubungi saya tuan."
"Kenapa?"
"Apa dia mencariku."
Mereka berjalan menjauh, menuju cafetaria yang berada di lantai delapan. Agar saat mereka bercakap-cakap tak ada yang mendengarnya, Lebih tepatnya agar tak terdengar oleh Angel istri pertamanya.
"Iya tua, nyonya terusa-terusan menghubungi ponsel saya."
"Lalu??"
"Saya sempat bingung akan menjawab apa, karena .." Adit menjeda ucapannya.
Memposisikan tubuhnya duduk di antara meja dan kursi, lalu memesan kopi dan cemilan kala pelayan datang menghampiri mereka.
"Saya sempat bingung tuan akan menjawab apa."
"Jawab saja jika aku sedang sibuk menangani peluncuran produk baru."
"Ehmm itu sudah saya jawab seperti itu tuan." Adit menggaruk kepalanya yang tak gatal. Oh Tuhan kenapa tersangkanya malah sesantai ini. Boleh tidak jika dirinya mencubit pangkal hidungnya.
Rey menaikkan sebelah alisnya. Memandang melirik ke arah asistennya.
__ADS_1
"Lalu apa ada lagi yang dia tanyakan?"
"Tidak tuan, nyonya hanya menanyakan keberadaan anda."
"Walaupun sempat meragukannya."
"Meragukan?" Ulang Rey.
"Ehmm iya tuan, nyonya Angel seperti tak mempercayainya."
"Tetapi saya sudah meyakinkannya jika anda sedang menangani pekerjaan."
Rey mengangguk mengerti, setelahnya pelayan datang dengan membawa dua cangkir kopi hitam dan makanan ringan yang dipesan mereka.
"Apa anda tak kawatir tentang hal ini tuan?"
"Tidak, karena setelahnya aku akan merawatnya dan merawat anakku."
"Lalu bagaimana dengan nona Vio,"
Rey mendongak, menatap tajam Adit, yang di tatap seperti itu merasa bahwa hawa dingin sedang menyerangnya.
"Ehmm maksud saya, bagaimana jika nona Vio mencari anda tuan?"
"Kami pikir aku akan lalai memperhatikannya, kau tak usah mengkhawatirkannya soal itu."
"Apa ada hal lain lagi yang ingin kau tanyakan?"
"Kau tau, jika Angel taunya menjadi adikmu."
"Maka sewaktu aku menginginkan kehadirannya, kau bisa membawa pada kami."
"Tapi ingat, kau tak boleh memandangnya terlalu lama, dan tak boleh berinteraksi lebih dari lima menit." Rey memberikan peringatan keras pada Adit.
"Baik tuan, tapi bagaimana jika nona Vio mengajak saya berbicara terus menerus, apa saya akan diam dan pura-pura tak mendengarnya."
"Itu tugasmu, kau pikirkan sendiri bagaimana caranya agar dia tak mengajakmu berbicara."
"Ck, mana bisa seperti itu, yang benar saja. Masak iya aku harus menjadi patung hidup yang akan menemani kemana saja nona Vio pergi." Adit meronta dalam hati.
"Saya tak bisa janji tuan, mengenai ini."
Pandangan Rey memicing menatap Adit horor, Adit berpura-pura saja tak tahu.
"Jangan harap kau akan menerima bonusmu bulan itu jika kau tak mematuhi aturanku."
Seketika nyali Adit menciut jika membicarakan soal bonus, karena Rey tak main-main memberikan bonus dalam jumlah besar diakhir bulan jika nilai kinerjanya dianggap baik.
"Ehh ja ... jangan tuan, saya akan menghindari berbincang dengan nona Vio, dan akan mengantarkan pada anda sesuai yang anda inginkan."
Ujung-ujungnya juga Adit lagi yang harus mengalah, karena lebih sayang bonusnya jika menguap begitu saja karena aturan yang tak ia patuhi.
"Bagaimana dengan nama baru tuan kecil tuan?" tanya Adit mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
dan
Jangan lupa like dan komen