
Malam hari, seluruh penghuni rumah sudah terlelap dialam mimpinya, tapi tidak dengan Vio, ia memikirkan bagaimana caranya lari dari genggaman Rey si tuan pemaksa.
Ia terbangun dari tidurnya, setelah beberapa saat lalu sempat terlelap dengan Revi berada di pelukannya. Hidup dengan Rey bagi Vio sama saja menyiksa dirinya sendiri, ia merasa berdosa pada Angel, karena telah membuatnya memendam sakitnya dan merebut kebahagiaan wanita lain.
Baiklah jika selama ini ia bergantung dengan Adit, kini saatnya ia berdiri dengan kakinya sendiri.
Menoleh pada Revi, anak selucu ini bagaimana mungkin dirinya bisa berpisah dan menyerahkan Revi begitu saja pada Rey jika dirinya bernekat ingin cerai.
Padahal selama ini ia merasa nyaman dengan kehifupannya tanpa Rey, dirinya tidak selalu diliputi bayang bayang wajah lembut nan baik Angel.
Ah jika mengingat wanita yang berhati malaikat sama seperti namanya itu membuat nafasnya begitu sesak. Jika waktu bisa diputar ia tidak ingin hidup dalam lingkaran mereka.
Tapi saat ini sudah tidak saatnya menyesali apa yang telah berlalu, hidupnya terasa sempurna dengan kehadiran Revi yang mungkin saja tidak di inginkan Rey.
***
.
.
.
Prang...prang....
"Suara apa itu?" para pelayan saling pandang satu sama lain.
"Sepertinya itu tidak benda jatuh, tetapi sengaja di jatuhkan." seru salah satu asisten rumah tangga.
"Apa tuan ada masalah dengan tuan Rey." suster Ana bergumam, detik berikutnya menaruh gelas ditangannya diatas meja, secepat kilat berlari ke lantai dua, dengan menaiki tangga.
"Tuan tuan apa anda baik baik saja tuan?" suster Ana mengetuk pintu kamar Vio.
Menunggu beberapa menit namun, suara suara itu tidak lagi terdengar. "Ada apa? apa ada masalah?" Adit yang baru saja datang membawa tas berisi dokumen ditangannya.
Melihat air muka suster Ana yang tidak baik baik saja sudah jelas, jika telah terjadi sesuatu didalam sana. "Tuan tuan..., saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi tadi saya mendengarkan telah terjadi sesuatu didalam,"
Adit tidak mendengarkan cerita suster Ana hingga selesai, lantas tangannya memegang gagang pintu, ternyata tidak dikunci.
"Tuan apa yang terjadi." bahkan Adit begitu shock melihat kamar yang ditempati Vio bagaikan kapal pecah. Seluruh isinya berserakan kemana-mana.
Benda benda diatas meja sudah tidak berbentuk lagi, bahkan sudah berada dilantai dengan kocar kacir. Pandangan mata Adit beralih melihat tempat tidur yang kosong tidak ada isinya.
"Panggilkan Keviiinnn." teriaknya yang begitu menggelegar. Matanya merah padam, kedua tangannya mengepal sampai terlihat memutih buku buku jari tangannya.
"Baik tuan."
Adit tak lagi bertanya, mengenai hal lebih lanjut lagi, pikiran pikiran buruk saat ini sedang bersarang didalam benaknya.
__ADS_1
"Cepat kau cari istri dan juga putriku."
"Jangan sampai mereka lolos kali ini." setelah Kevin berhadapan dengannya, kedua tangannya menggebrak meja hingga membuat orang-orang yang berada di dalam sana begitu kaget. Memegang kedua dadanya. Mungkin jika orang memiliki sakit jantung, bisa jadi langsung pingsan ditempat.
"Tuan, hari ini saya ijin cuti, untuk pekerjaan selanjutnya saya akan alihkan pada Tom."
Tak ada jawaban dari Rey. Menandakan bahwa Rey setuju dengan ijin cutinya.
"Baik tuan, perintah anda kami siap melaksanakan." Kevin menjawab dan akan berbalik badan.
"Tambahkan orang orangmu, kalau perlu sebar di beberapa titik."
"Dan kamu, cari dia ditempat biasanya dimana dia mengunjunginya." tunjuknya pada Adit.
"Baik tuan."
"Saya permisi, saya pastikan Vio kembali lagi kedalam rumah ini."
Adit dan Kevin berbalik, Kevin memilih jalurnya dan Adit memilih jalur tempat tempat yang biasanya dikunjungi oleh Vio bersamanya.
"Kenapa kamu nekat lagi." Adit mengendarai mobilnya bagaikan angin menyambar. Tempat pertama yang ia kunjungi adalah nenek Sam. Barangkali ia menenangkan diri disana.
Adit membayangkan wajah Rey saja sangat ngeri, "Kenapa aku merasa dejavu." gumam Adit. Dalam hitungan menit tidak sampai satu jam sudah sampai di rumah mes tempat tinggal nenek Sam.
"Nek apa Vio berkunjung kemari?"
"Apa tuan Adit sedang bercanda, bukankah Vio masih sakit dan dirawat dirumah sakit, lalu mana bisa Vio berkunjung kemari." nenek Sam malah membalikkan fakta yang terjadi. Memang sudah dua hari ini dirinya begitu sibuk, sehingga tidak sempat mengunjungi Vio di rumah sakit.
Bahkan sampai Vio dipindah pun, dirinya belum mengetahui tentang hal ini. "Jadi itu artinya," ucapan Adit menggantung.
"Nek berarti Vio sedang kabur lagi."
"Apa nenek tahu tempat mana saja yang biasa dikunjungi Vio selain di taman bermain dan di kebun?"
Reaksi nenek begitu shock mendengarkan hal ini, menutup kedua tangannya dengan mata melotot ingin marah tapi tidak bisa.
"Tuan Adit tolong carikan Vio sampai ketemu tuan, dia begitu berharga dalam hidupku tuan." nenek Sam malah menangis brutal.
"Nenek tenanglah, aku akan mencari Vio sampai ketemu."
"Baiklah aku pergi dulu, nanti jika sudah ketemu aku akan kabari nenek."
"Jangan terlalu dipikirkan."
Adit berinisiatif mengelilingi taman bermain, ia bingung dibuatnya, pasalnya Vio sendiri termasuk gadis yang tertutup. Tidak memiliki teman selama tinggal disana.
Hah masih ada teman satu lagi yang masih belum ia kunjungi, yaitu Fani teman dekat Vio.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang Adit memesan tiket kelas ekonomi, karena kepergiannya begitu mendadak.
"Ini salahku, kenapa aku tak memberikan penjagaan yang ketat, padahal dia sudah didepan mata."
Kepergiannya kali ini bersama tuan Rey, Adit tak mungkin menolak, ketika tuan Rey ingin mengikuti dirinya mencari Vio.
"Dia begitu pandai menyembunyikan identitasnya."
"Awas saja nanti jika sudah bertemu, jangan harap bisa lepas dari pandanganku." giginya terdengar gemelutuk, matanya menajam bagaikan Elang siap memangsa lawannya.
"Anda tidak bersalah tuan, saya yang bersalah, sudah lengah dalam hal ini."
"Sudah kau periksa semua seluruh bandara."
"Sudah tuan, saya melihat datanya di bandara, terakhir dia terbang menuju Indonesia."
Rey menegakkan punggungnya, menoleh pada Adit. "Tempat mana yang menjadi tujuannya?"
Ada harapan yang membuat hati Rey begitu lega. "Bali tuan.."
"Apa mungkin dia kerumah temannya? atau ke rumah utama?"
"Kalau kerumah utama itu bekas ditempati nyonya Angel, nona Vio tidak mungkin kesana tuan."
"Karena dia merasa bersalah telah merebut kebahagiaan nyonya Angel."
"Menurutmu apa yang menyebabkan dia ingin meninggalkanku?"
"Nyonya Angel tuan."
"Apa Angel pernah berbuat jahat padanya? dia sudah meninggal tidak mungkin aku membalasnya."
"Bukan tuan?"
"Lalu?"
"Masih saja tidak mengerti, selain nyonya Angel sebagai alasannya juga karena dirimu yang begitu kejam pada Vio tuan." batin Adit kesal sendiri.
"Selain itu juga karena anda tuan."
"Apa maksud kamu? katakan dengan jelas."
"Ehmmm."
Pesawat sebentar lagi akan landing, pastikan sabuk pengaman masih terpasang, dan jangan bergerak dari tempat. Suara pramugari memecah ketegangan diantara dua orang ini.
"Kau selamat Adit, dari pertanyaan laknat itu." memegang dadanya sendiri
__ADS_1