WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Bertemu


__ADS_3

"Apa sudah ditangani dengan baik karyawan yang katanya pingsan tadi?" tanya Adit pada salah satu mandoran disana.


"Sudah tuan,"


"Berikan dia waktu cutinya selama kesehatannya belum pulih." perintah Adit.


"Tapi tuan, masalahnya dia karyawan baru disini."


"Tak peduli entah karyawan baru atau lama jika sedang sakit harus di istirahatkan hingga tubuhnya merasa baikkan lagi." bentak Adit pada mandoran yang ada di sebelahnya.


"Baik tuan."


Adit kembali lagi mengelilingi are perkebunan yang ada di bukit itu, di puncak perbukitan terdapat gazebo, yang sering dipakai para pekerja untuk berteduh atau hanya sekedar istirahat sejenak. Adit mendudukkan tubuhnya disana, melihat tadi kerumunan orang yang membawa Vio pingsan.


"Datang dari mana pekerja baru itu?" tanya Adit lagi pada salah satu pekerja yang sedang menyajikan minuman di depannya.


"Maaf tuan, yang saya tahu pekerja yang pingsan tadi datang dari luar negeri,"


"Apa dia datang kemari untuk merantau?" tanya Adit, biasanya dirinya tidak begitu ingin tahu urusan orang, namun entah mengapa kali ini dia merasa sangat penasaran.


"Sepertinya begitu tuan."


"Hemmm kau bisa kembali lagi bekerja." perintahnya, Adit mengamati buah anggur yang perkembangannya sangat signifikan itu, karena kebun anggur milik Rey ini adalah penghasil wine terbaik, dan di ekspor di beberapa negara tetangga.


Waktu menjelang sore hari, Adit mengumpulkan para pekerja, semuanya berkumpul di aula yang nampak seperti gazebo namun lebih besar bangunannya, dan terbuat dari kayu.


"Kalian semuanya yang sudah berkumpul disini, satu minggu lagi akan ada perayaan kebun anggur, oleh karenanya, tak boleh ada satu kesalahan sedikit pun, aku harap kalian memperhatikan setiap SOP disini." Adit terlihat kejam dimata para pekerja, padahal Adit hanya menjalankan perintah dari atasannya, para pekerja hanya belum tahu saja kejamnya seperti apa pemilik kebun anggur yang sesungguhnya.


Mereka semuanya mengangguk mengerti, dan setelahnya bubar kembali ke mesnya masing-masing.


***


.


"Yang sabar ya nak, walaupun perbuatan kalian salah, tapi tak di benarkan juga jika nak Vio melenyapkannya." ucap nenek Sam.


Vio yang mendengarnya sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakan oleh nenek Sam.


Sedangkan nenek Sam sendiri menyajikan berbagai makanan dan minuman di atas meja, serta beberapa vitamin yang tadi ia beli di apotik yang tak jauh dari perkebunan.


"Memangnya tadi dokter bilang aku sakit apa nek?" tanya Vio penasaran.

__ADS_1


"Kau harus menjaganya dengan baik nak, jika kau tak ingin memilikinya biar nenek saja yang mengurusnya, dan satu lagi, mulai sekarang kau tak boleh capek-capek." jelas nenek Sam pada Vio, tangannya terulur mengusap halus perut rata Vio.


"Apa yang nenek ini bicarakan, aku sama sekali tidak mengerti."


"Kamu saat ini sedang berbadan dua nak." akhirnya nenek Sam memperjelas omongannya.


"Apa... nek, aku hamil...?" Vio menutup mulutnya kaget.


"Masih sakit, berarti aku tidak sedang bermimpi." Ketika dirinya mencubit tangannya.


"Nek, apa dokter tadi tidak salah diagnosa nek?" tanya Vio memastikan kembali.


"Sepertinya tidak nak dari gejala yang nak Vio alami ini."


Vio terlihat muram, pasalnya dia masih belum siap memiliki anak dalam kondisi berpisah seperti ini, tangannya mencekram perutnya sendiri.


"Jangan pikirkan hal berat nak, mulai sekarang kamu harus banyak beristirahat, agar kamu bisa menjaga kandunganmu dengan baik,"


"Atau kamu berhenti saja sementara selama hamil nak, biar nenek saja yang bekerja."


"Tidak nek, aku hanya hamil saja tidak sakit, lalu aku harus makan apa jika tidak bekerja." keluh Vio memelas.


"Tapi kata dokter kamu sedang hamil nak, besuk nenek antar nak Vio periksa."


Vio kembali terdiam, kala nenek Sam sedang pergi kembali untuk mengikuti perkumpulan para karyawan.


Dirinya berjalan menuju kamarnya dengan langkahnya yang tertatih tatih, "Kenapa kamu hadir disaat tidak tepat." Vio memukul mukul perutnya sendiri, dia merasa down dan juga frustasi, dirinya tidak bisa berfikir jernih lagi.


Waktu malam hari, nenek Sam baru saja kembali dari perkebunan, meletakkan topinya peralatan yang lain, ia melihat tadi tempat Vio beristirahat, nenek Sam mengira jika Vio sedang beristirahat dikamar, namun kenyataannya bukan seperti itu.


Vio keluar ketika nenek Sam lama belum kembali, dirinya membeli sesuatu ditangannya, ketika dirinya kembali, ternyata bertepatan dengan nenek Sam yang telah menyiapkan makan malam untuk mereka.


"Nenek..." Vio kaget bukan maen.


"Nak Vio, nenek pikir nak Vio sedang beristirahat di kamarnya, kok malam-malam begini habis keluar tidak bilang nenek." tanya nenek Sam melihat kearah Vio.


Vio yang masih berdiri dibalik daun pintu itu wajahnya terlihat pucat ketakutan, "Jika nak Vio membutuhkan sesuatu bisa bilang dengan nenek saja iya,"


"Sekarang ayo kita makan, aku tidak tahu makanan apa yang disukai nak Vio, jadi hanya ini menu yang nenek masak."


"Ohh iya nek tidak apa-apa, aku semuanya suka kok." untuk saja obat itu ia masukkan ke dalam saku bajunya, langkahnya mendekat ke arah meja makan.

__ADS_1


Malam itu mereka makan dengan tenang, tak ada hal lain yang mencurigakan. Setelah Vio makan malam dirinya berpamitan untuk beristirahat ke dalam kamarnya.


"Sudah biar nenek saja yang membereskan ini semua, nak Vio beristirahat saja, jika butuh apa-apa panggil saja nenek iya." perintahnya pada Vio.


Setelah memasuki ruangan kamarnya yang tidak terlalu besar namun bisa dikatakan sempit itu Vio mengunci pintu kamarnya, dirinya memejamkan matanya bingung. "Sekarang..., apa yang harus aku lakukan?"


"Rasanya aku ingin mati saja, aku tak sanggup jika membesarkan dia seorang diri." Vio mengambil obat yang tadi ia beli dari saku bajunya.


"Haruskah aku melenyapkanmu, terus terang aku sangat membencimu, karena kalau pun kamu hidup, ayahmu tak akan pernah mau mengakuimu." Vio meneteskan bulir air matanya di pipi halusnya.


"Dan ketika kamu besar, pasti akan mendapatkan ejekan dari teman-temanmu, aku tak akan sanggup membayangkan itu semua."


Vio menjadi kuat hanya untuk melindungi dirinya saja, namun akan terlihat sisi lemahnya jika dirinya tidak mampu menampung masalahnya sendiri.


****


Waktu pagi hari, biasanya nenek Sam melihat Vio bangun pagi-pagi sekali, kalau pun tidak joging pagi tetapi akan bersantai meminum teh hangat atau sekedar mengobrol dengannya. Namun untuk kali ini ada yang berbeda dari Vio.


Tok...tok..


Suara ketukan pintu dari luar kamar Vio," Nak Vio, bangun nak." nenek Sam lama menunggu jawaban, namun tak kunjung juga ada sahutan dari dalam, padahal dirinya sudah beberapa kali mengetuk pintu itu.


Akhirnya nenek Sam berinisiatif mengambil kunci cadangan yang ia simpan, dan segera membuka daun pintu yang masih tertutup rapat itu.


"Nak Vio, kamu kenapa nak..."


Teriak nenek Sam di pagi-pagi buta itu membuat penjaga malam di area perkebunan mendekatinya, "Tolong pak, selamatkan dia."


Tubuh ringkih Vio yang semakin hari semakin kurus itu diangkat oleh lelaki penjaga malam berbadan kekar, dengan mengendarai mobil dinas yang dari perusahaan untuk perkebunan.


Vio dibawa di klinik terdekat, setelahnya penjaga malam berbadan kekar itu kembali lagi ke kebun,"Dari mana kamu?" tanya Adit yang kebetulan melihatnya.


"Maaf tuan, tadi saya habis mengantar nenek Sam ke klinik."


"Ada apa dengan tangan anda tuan?" belum sempat juga Adit menjawabnya membuat Akash nama penjaga malam itu melontarkan pertanyaannya kembali.


"Tolong bawa aku kerumah sakit terdekat."


"Sebaiknya jangan banyak tanya, karena aku akan kehabisan darah jika kau banyak tanya." sela Adit terlihat ketus.


"Ba... baik tuan." Akash menjadi tergagap sendiri, lalu berlalu kearah mobil Ranger Rover itu.

__ADS_1


"Maaf tuan disini jauh dari rumah sakit, sehingga saya membawa anda ke klinik terdekat saja." Akash.


"Terserah kau saja."


__ADS_2