WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Tak Pulang-Pulang


__ADS_3

Vio seharian ini marah-marah tak jelas dirinya, hingga Fani sahabatnya kena sasaran kemarahannya.


"Kamu ini kenapa, dari tadi marah-marah saja seperti nenek lampir." Kesal Fani yang saat ini menemani dirinya jalan-jalan makan dil luar.


"Tak ada, pokoknya hari ini kita jalan-jalan sepuasnya, aku akan menghabiskan uangnya si tuan kaya itu." Vio sudah tak mempedulikan apa pun, yang dirinya pedulikan hanya dirinya sendiri dan juga Fani.


"Baiklah, terserah kamu saja."


Hari ini akhirnya mereka berdua melanjutkan jalan-jalannya dan berbelanja apa saja yang di inginkan, setelah itu mereka pergi ke salon perawatan diri. Siapa lagi jika bukan Vio yang akan mentraktir Fani.


Fani tentu saja mendapatkan traktiran macam-macam dari Vio. Rasanya juga tak merugikan sekali walaupun toh Vio menjadi istri simpanan.


"Vio.." Panggil Fani padanya.


"Hemmm."


"Seharusnya kamu bersyukur, walupun toh menjadi istri simpanan, tetapi juga hidupmu sangat mewah, dan kamu bisa kemana saja dan membeli apa saja, tak perlu bekerja keras lagi."


Vio melirik Fani malas, ini bocah asal bicara saja sepertinya. Apa tadi dia bilang, bahwa Vio tak perlu bekerja keras. Tidak tahu saja dirinya jika Vio selama ini bekerja keras menyenangkan tuan Rey di atas ranjangnya.


"Itu menurut sudut pandangmu, kamu kan tidak tahu dengan apa yang aku alami."


"Iya kami jangan mau rugi lah, sudah menjadi istri simpanan juga, kalau kamu membeli aset harus atas nama kamu, berjaga-jaga saja jika si tuan kaya raya itu membuang kamu, dan kamu tak akan menjadi gelandangan setelahnya."


"Hey jaga bicara kamu, kamu menyumpahiku iya."


"Bukan, bukan seperti itu maksud aku."


"Kamu jangan salah paham dulu soal ini, aku hanya mengajari kami saja bagaimana menjadi wanita cerdas."


"Benarkah," tanya Vio pada Fani.


Fani mengangguk pasti, tak ada keraguan di sana, dirinya sangat menyayangi Vio, tidak mungkin kan jika dirinya mengajari hal akan merugikan Vio. Hanya secara logika saja, salahnya saja si tuan kaya itu menjebak Vio. Ahh jika mengingatnya Vio jadi kesal sendiri.


"Iya aku serius, jika kamu menjadi gembel tak punya apa-apa, semua orang akan memandang kamu rendah, apa lagi si Mia sepupu kamu itu."


"Jangan membahas tentang dirinya, aku malas hanya mendengarkan namanya saja."


"Baiklah ayo sekarang kita mau kemana lagi?" Tanya Fani berjalan ke arah mobil Vio yang sedang terparkir di sana.


"Kita lanjut ke salon, hari ini aku ingin memanjakan diri." Kata Vio cuek.


"Baiklah, apa pun untukmu nyonya Rey."


"Jangan memanggilku seperti itu, aku tak ingin namaku di ganti, kesal Vio."


"Ck...sensi amat non, lagi dapat iya." Tanya Fani becanda.


"Tau ahh malas saka aku."


Fani terdiam, lalu dirinya mengambil alih kemudi Vio,karena sepertinya suasana hati Vio sedang tidak baik-baik saja.


"Hey kenapa jadi kamu yang menyetir mobilnya."


"Sudahlah, aku tak ingin mati konyol, bersamamu, hanya karena kamu sedang kesal saja, lalu kamu akan menyetir tanpa tau aturan."

__ADS_1


Vio terdiam, lalu duduk menurut saja di samping Fani, Fani mulai menjalankan mobilnya pelan, menuju ke salon yang tadi dimaksud oleh Vio.


Fani menebak, jika suasana hati Vio seperti ini pasti karena si tuan kaya itu, dan Fani akan menanyakan hal yang membuatnya menjadi seperti ini, tetapi jika suasana hati Vio sudah membaik.


Fani dan Vio sama-sama terdiam, mereka larut dalam pikirannya masing-masing, Vio yang sedang dalam kondisi mood kurang baik, karena tak sengaja dirinya sedang melihat tuan Rey bermesraan dengan istrinya, dan Fani yang menduga-duga hal yang terjadi pada Vio.


Hingga tak terasa, perjalanan mereka telah sampai di pelataran salon.


"Ayo...turunlah, jangan melamun saja." Suara Fani menginterupsi lamunan Vio saat ini.


Mereka memasuki salon itu, dan meminta pada pegawai salon untuk memberikan pelayanan eksklusif buat mereka berdua, jika soal harga jangan di tanya lagi, karena memang inilah tujuan Vio, membuat tuan Rey kesal setengah mati padanya.


Tring....


Sebuah notifikasi masuk di ponselnya tuan Rey, jika dirinya menerima laporan penarikan keuangan yang keluar begitu fantastis hari ini, dirinya yang saat ini habis menyuapi istrinya makan malam, lalu pamit pada istrinya, pergi ke ruang kerjanya.


Di sinilah tuan Rey saat ini, sedang berada di ruang kerja, seketika itu dirinya melakukan panggilan pada nomor Vio.


"Habis kemana saja?" Tanya tuan Rey pada istri mudanya ini, sepertinya Vio ini tipe orang yang tak bisa di keras, karena jika di keras, akan lepas dari genggaman, sehingga tuan Rey menekan rasa marahnya, agar tak mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya.


"Kenapa memangnya?" Tanya Vio balik, yang saat ini dirinya sedang santai sambil membolak-balikan majalahnya yang ada di pangkuannya.


Sebenarnya bukan masalah boros atau tidaknya soal Vio, hartanya tuan Rey jika di makan tujuh turunan juga tak akan habis, hanya saja dirinya ingin mengetes sejujur apa Vio istri mudanya itu dalam hal ini.


"Aku bertanya, lalu kenapa malah kamu bertanya balik Viona." Tuan Rey menekan kata namanya, jika dirinya membutuhkan penjelasan.


"Baiklah, aku habis berbelanja, menghabiskan uang kamu, untuk apa aku punya suami kaya, jika aku tak bisa menikmati fasilitasnya." Kata Vio tak mau kalah.


"Baiklah lakukan apa yang kamu inginkan, asal tak ada pertemuan dengan lelaki lain, atau jalan dengan lelaki lain." Kata tuan Rey mengalah.


"Kenapa, apa kamu sudah rindu?"


"Tidak, aku hanya bertanya saja."


"Benarkah, apa kamu tak pernah merindukanku walaupun hanya sebentar saja?"


"Aku tidak tahu, jawab Vio beralasan."


"Benarkah,"


"Iya."


Lalu mereka terdiam beberapa saat, sebenarnya Vio sangat kesepian tinggal di rumah besar ini, dirinya akan memberi tahu jika besuk Vio akan menginap saja dirumahnya Fani.


Dari pada kesepian seperti ini dan tak ada yang ia lakukan, sedangkan tuan Rey, dirinya akan memberitahu jika dirinya untuk beberapa bulan ke depan tidak bisa pulang ke Bali, karena kondisi Angel yang sedang hamil muda dan tak bisa ia tinggalkan.


"Vio.., Tuan." Ucap mereka bersamaan.


"Apa kamu bilang tadi?"


"Tidak ada, maksudku sayang."


"Kamu mau bicara apa tadi?" Tanya tuan Rey.


"Tidak kamu duluan."

__ADS_1


"Baiklah, Vio...untuk beberapa bulan ke depan, aku mintak maaf, karena aku tak bisa pulang ke Bali."


"Ehmmm kenapa." Suara Vio tercekat di tenggorokan, seolah sedang tertahan.


"Karena ada hal lain yang harus aku urusi di sini."


"Baiklah terserah kamu saja."


Vio tak jadi meminta ijin padanya untuk ke rumah Fani saat ini, sepertinya dirinya akan bebas selama beberapa bulan ke depan, hal itulah yang ia rindukan, dirinya bisa kemana saja tanpa ada yang melarang. Mendengarkan tuan Rey tak bisa pulang beberapa bulan ke depan bukannya sedih, hal itu malah membuatnya girang.


Baiklah, besuk sepertinya dirinya akan bersenang-senang dengan Fani, dan bebas seperti dulu lagi. Tidak tahu saja dirinya, bahkan setiap pergerakannya saja ada yang mengawasinya dan melaporkan pada tuan Rey.


"Kamu jangan senang dulu, walaupun begitu aku tak mengijinkan kamu keluar tanpa seijinku."


Baru saja dirinya akan senang, dan sudah ada rencana-rencana dalam otaknya, ehh sudah keluar aturan pada dirinya.


"Kamu jangan mengaturku, selama kamu tak ada di sini, aku akan bebas melakukan apa pun, seperti dirimu dengan istri kesayanganmu itu." Kata Vio telak.


"Itu berbeda kondisinya, akhir-akhir ini kondisinya menurun, jadi aku harus menemaninya untuk sementara."


"Sementara, apa beberapa bulan?"


"Jika beberapa bulan, aku tak bisa hanya berdiam diri saja di rumah sambil menunggu kamu, sedangkan kamu saja sedang bersenang-senang dengan istri tuamu."


"Viona.."Teriaknya di balik percakapan itu.


"Apa, memang benarkan dengan apa yang aku katakan ini." Kata Vio tak takut sedikit pun.


"Baiklah kami bisa di sana sepuasmu, dan aku akan melakukan apa yang menjadi kesenanganku, dan jangan kamu melarangku." Kata Vio menegaskan sekali lagi.


Memang benar apa kata Vio, tidak mungkin kan jika dirinya selama beberapa bulan ke depan hanya berdiam diri di rumah saja, dirinya akan mati kebosanan. Sedangkan tuan Rey di sana malah bersenang-senang dengan istri tuanya. Ini sangat tidak adil untuknya.


Tuan Rey mendengarkan keluh kesah istri simpanannya ini hingga selesai. Lalu setelah Vio berceloteh panjang lebar barulah giliran dirinya yang berbicara.


"Baiklah kami boleh kemana saja, dan melakukan apa saja, asalkan bersama Fani, jika selain bersama Fani, aku tak mengijikanmu keluar." Tegasnya.


"Tentu saja kamu harus menuruti aku, karena aku juga tak menuntut apa-apa darimu."


"Oh ya aku sudah mengantuk, dan ingin tidur, sampai jumpa." Lalu Vio mematikan panggilan itu sepihak, tanpa mau mendengarkan orang di seberang sana menjawabnya dulu.


Sedangkan tuan Rey yang berada di dalam ruangan itu di buat bingung oleh istri simpanannya yang sangat pembangkang dan susah di atur itu.


Dirinya sudah tahu, jika menikahi gadis muda, akan seperti apa kedepannya, tentu saja dirinya yang harus banyak bersabar dan mengalah.


Padahal tuan Rey juga tahu jika Vio mengantuk itu hanya alasannya saja, dirinya baru saja mendapatkan laporan dari anak buahnya jika Vio sedang bersantai di depan televisi sambil melihat-lihat majalahnya.


Tuan yang melihat foto Vio ini jadi tersenyum sendiri, dirinya padahal sudah sangat merindukan gadis kecilnya ini. Tetapi ada tanggung jawab lain saat ini yang harus di prioritaskan.


Apa lagi jika bukan karena Angel, dirinya juga menyayangi Angel dan calon anaknya. Setiap hari bahkan dirinya ingin melihat tumbuh kembang calon anaknya itu dengan sangat antusias.


Tuan Rey di buat kewalahan olehnya, menghadapi dua istri yang memiliki sifat yang berbeda pula.


Sepertinya dirinya harus menyiapkan stok kesabaran lebih.


dan

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2