WANITA SIMPANAN TUAN REY

WANITA SIMPANAN TUAN REY
Hadiah Butik


__ADS_3

Siang ini tuan Rey menuju sebuah lokasi dimana tempat butik buat istri simpanannya ini didirikan. Saat mereka berada di dalam mobil menuju lokasi tersebut.


Tuan Rey diantar oleh asisten Adit, dirinya duduk dikursi penumpang belakang, sedangkan Adit hanya mengamati gerak-gerik bosnya itu dari kaca spion yang di arahkan ke wajah tuan Rey.


"Bagaimana, apa Vio sudah dalam perjalanan?" Tanya tuan Rey pada Adit.


"Sesuai yang anda perintahkan tuan, nona Vio saat ini menuju lokasi dengan menyetir sendiri." Adit.


Tak ada reaksi apapun di wajah tuannya itu. Entahlah wajah itu sulit terbaca. Mereka sama-sama terdiam didalam mobil ini. Hingga tidak terasa perjalanan mereka telah sampai di lokasi. Ternyata Vio sudah nyampai terlebih dahulu.


Tuan turun dari sana, dan Vio menyambut kedatangan suaminya itu dengan senyum merekah di bibirnya. Lalu mengecup bibir ranum itu sekilas.


"Apa kamu sudah dari tadi menungguku?" Tanya tuan Rey pada istrinya, lebih tepatnya istri simpanannya.


"Ehmm iya dan kau terlambat lima menit" tunjuknya di muka tuan Rey.


"Oh iya, kalau begitu kau boleh menghukumku." Tuan Rey.


"Baiklah, soal hukuman akan aku pikirkan lagi nanti, tetapi untuk apa sekarang kita kemari" tanya Vio yang masih belum paham maksud dari suaminya ini.


"Ayo masuklah dulu kedalam" sambil melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.


"Benar-benar bucin, aku bersumpah jika nanti menikah tak akan seperti mereka, terlalu kekanakan" Adit yang ada di belakang mereka itu berbicara pelan. Yang hanya di dengar oleh dirinya sendiri, lalu berjalan mengekor dibelakang mereka.


Adit berbicara seperti itu karena dirinya belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, sehingga dirinya mengejek tingkah kekanakan bosnya.


"Adit..." pangil tuan Rey, dirinya menengok ke belakang.


"Kamarilah, kumpulkan seluruh karyawan yang ada di dalam" perintahnya lagi.


"Baiklah tuan" Adit berlalu dari hadapan mereka, lalu berbicara pada salah satu staf manager butik itu.


Tak berselang lama, para karyawan telah berkumpul dengan barisan memanjang yang sangat rapi. Sementara Vio dibuat bingung olehnya. Memangnya ini acara siapa, dirinya masih tidak paham jika butik ini akan dihadiahkan kepadanya.


"Baiklah terimakasih pada seluruh staf pegawai di sini, karena semuanya sudah berkumpul maka, saya akan langsung saja mengumumkan jika pemilik butik ini adalah istri saya bernama nyonya Vio"


"Sebagai acara peresmian pengalihan kepemilikan ini maka akan dirayakan dengan makan-makan gratis bersama kalian semua, mari sayang sini, pitanya dipotong."


Tuang Rey menuntun istrinya yang begitu shock dengan hadiah yang luar biasa bagi dirinya, bagaimana tidak, padahal dirinya meminta butik segala macam waktu itu juga asal berbicara saja, karena dirinya sudah melampiaskan kekesalannya pada tuan Rey yang sudah dijebak.


Soal di wujudkan tidaknya itu dirinya tak pernah memikirkannya, karena semua itu hanya di anggap angin lalu saja bagi Vio.

__ADS_1


Vio memotong pita itu, lalu seluruh karyawan mengucapkan selamat padanya dan acara dilanjutkan makan-makan dengan hidangan yang sudah tersedia di tenda depan.


"Kau ini terlalu berlebihan tahu," bisiknya di telinga suaminya.


Bahkan Vio sendiri bingung mendeskripsikan hatinya, antara bahagia dan senang. Tetapi tetaplah posisinya saat ini adalah wanita simpanan. Tapi jika di pikir-pikir lagi bodoh amat soal itu. Yang terpenting dirinya saat ini hidup tenang dan tak ada yang mencemohnya.


"Ahh tau begini aku mengajak Fani tadi" kata Vio kesal pada suaminya.


"Besuk-besuk Fani bisa kau jadikan pegawaimu jika mau" kata tuan Rey.


"Benarkah?" Tanya Vio dengan muka berubah riang yang awalnya cemberut.


Tuan Rey hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Tak berselang lama dirinya mendapatkan telpon dari Angelica Sanan.


"Ya sayang, iya besuk aku akan pulang, tunggulah aku dirumah, jaga kesehatan dan jangan telat makan"


Telpon itu diangkat di depan istri simpanannya Vio. Vio hanya melirik sekilas dan mencuri-curi dengar.


" Pemain ulung tetap saja begitu" kesal Vio berbicara sendiri dan berjalan menjauh dari tuan Rey. Walaupun dirinya telah di bentengi tetapi mendengarkan pria yang bersanding dengannya memperhatikan perempuan lain akan membuat hatinya terbakar cemburu.


Tapi hebatnya seorang Vio bisa menutupi rasa cemburu itu. Sehingga tak nampak jika dirinya cemburu.


"Oh Tuhan aku ingin memakan semuanya, tetapi bagaimana jika perutku gendut" kesal Vio dilema.


"Sudahlah nona, makan saja semua, soal berat badan ma urusan belakang." Adit malah mengompori istri bosnya itu.


"Cek kau ini, tinggal bicara saja semua orang juga bisa, tetapi usaha menurunkan juga perlu perjuangan tahu."


Adit menggelengkan kepalannya heran, Kenapa setiap perempuan selalu pusing soal berat badan. Tinggal olahraga kan bisa turun lagi. Begitulah pemikiran Adit.


"Apakah semua wanita itu ribet, seperti nona Vio" gumamnya.


Vio mengambil ponselnya lalu memotret makanan-makanan yang terhidang di sana. Selang beberapa menit saja sudah di komentari oleh Fani.


"Dasar teman luknut, makan-makan tak ingat sahabat." Isi pesan dalam chat itu.


"Maafkan aku, aku juga tak tahu." Balasnya merasa bersalah.


"Baiklah sebagai gantinya besuk traktir aku makan sepuasku." Fani membalas lagi.


"Baiklah sesuai permintaanmu nona" Vio.

__ADS_1


Setelah membalas pesan terakhir itu, tiba-tiba saja tuan Rey muncul dari arah belakang.


"Berkirim pesan dengan siapa?" Tanyanya kepo.


"Bukan siapa-siapa." Ketusnya.


"Bawa sini ponselmu." Tangannya menengadah, meminta ponsel ditangan Vio itu. Tetapi Vio masih kekeuh tak mau memberikan ponselnya, hingga berbagai ancaman keluar dari mulut tuan Rey.


"Baiklah nona, jika kau tak memberikan ponselmu sekarang, maka" tuan Rey berjalan mendekat kearahnya. Vio mundur tetapi sama saja, langkah itu semakin mendekat lagi.


"Apa.." Tantangnya berani.


"Aku akan menciummu didepan orang-orang sekarang."


Dengan perasaan kesal, Vio menyerahkan ponsel itu ke tangan suaminya. Tuan Rey mengecek panggilan keluar dan masuk serta chat. Lalu tanpa Vio ketahui dirinya menyadap ponsel istrinya.


"Dasar lelaki laknat, ingin tahu saja urusan perempuan" Vio mengumpatinya.


"Kau mengumpatiku?" Tanya tuan Rey memandang ke arah istrinya.


"Siapa juga yang mengumpatimu." Ketusnya.


"Jika kau terus mengomel, aku akan mencium bibir manyunmu itu." Tuan Rey juga tak mau kalah dari istri simpananya itu. Sedangkan para karyawan sibuk sendiri-sendiri, begitu juga Adit hanya melihat-lihat keadaan saja di sana. Sepertinya dirinya merasa kenyang melihat banyak makanan seperti ini.


"Apa kau tak ingin makan." Tanya tuan Rey.


"Tidak, aku ingin jalan-jalan saja." Jawabnya random.


"Kemaren kan sudah, kenapa sekarang ingin jalan-jalan." Sambil memberikan ponsel ditangannya itu ke arah Vio.


"Iya kali ini berbeda sari yang kemaren, orang harinya saja juga berbeda." Bantahnya lagi.


"Baiklah kau boleh jalan-jalan kemana saja, tapi tak boleh sampai keluar kota."


"Apa kau mengerti." Tuan Rey


.


dan


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2