Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Tupperware


__ADS_3

"Loe gila, Ka? Ninggalin cewek loe di jalanan?" tanya salah satu kawan Kafka dari Alley Youth, ia menyeringai, tampak tak menyangka dengan tindakan Kafka.


"Kalo loe nggak mau sama dia, kasih gue aja, sih, Ka. Cantik, mayanlah!" sambung salah satunya lagi dan disambut anggukan setuju dari yang lain.


"Bacot loe semua!" kesal Kafka yang justru di tertawakan oleh mereka. Sepertinya semua kawan Kafka memang tidak ada yang benar. Sama sekali tidak ada yang bisa menenangkannya saat ia pun dihantui rasa bersalah karena sudah meninggalkan Yashinta di jalanan.


Kira-kira, apa yang terjadi dengan gadis itu? Apakah Yashinta pulang dengan selamat? Sejak tadi Kafka terus dihantui pertanyaan-pertanyaan seperti itu.


"Yang begini nih. Nir akhlak, nggak ada gentle-gentlenya loe, Ka. Jadi cowok banci banget!"


"Sekali-kali kek dengerin Yas!" Aris tiba-tiba saja merasa kesal. Sementara Sean memilih untuk tidak berkomentar apa-apa. Biarkan Aris yang mewakilinya, karena jika ia turun tangan, sepertinya akan sedikit runyam.


"Gue kasian sama Yashinta, rugi banget dia dapet banci kaya loe." imbuhnya. Kafka tak bereaksi apa-apa. Mungkin pemuda itu sadar, jika apa yang Aris katakan benar adanya, ia tidak bisa menyangkal.


"Jangan lama-lama, lah, maen-maennya, Ka. Kasian cewek loe," imbuh yang lain. Kafka masih diam, bukan tidak kesal dengan komentar teman-temannya. Tapi dirinya memanglah salah dan pantas dicaci maki.


"Kafka, sih, udah nggak normal gue rasa." Hafi yang sejak tadi hanya diam angkat bicara. Ia mengepulkan asap rokoknya ke udara dengan pandangan mata yang lekat menatap Kafka, namun Kafka sama sekali tidak bereaksi apa-apa


"Bukan cuma itu aja," Kafka melanjutkan cerita awal yang belum semua ia katakan pada kawan-kawannya. Ia harus melanjutkan karena sudah terlanjur memulai, berharap mendapat pencerahan dan jalan keluar.


"Dia juga marah karna gue buang tupperwarenya."


"Cuma gara-gara tupperware!" cibir Kafka dengan senyum penuh ledekan, entahlah dia meledek siapa. Hanya tupperware bukan? Kenapa gadis itu harus marah?


Sean menarik satu sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang tak bisa diartikan. Jujur ia tidak ingin ikut campur, tapi rasanya Kafka sudah sangat keterlaluan.


"Yashinta bilang apa tentang tupperware itu?" tanyanya kemudian. Kafka diam, mencerna pertanyaan Sean. Dan ia mengingat pernyataan Yashinta.


Ada rasa bersalah terbersit di hati Kafka mengingat fakta yang Yashinta katakan mengenai tupperware tersebut yang adalah kenang-kenangan dari mamanya yang sudah meninggal.


Tapi beberapa detik selanjutnya. "Cuma tupperware, 'kan." cibir Kafka, mengelak dari kesalahannya.


"Iya. Tupperware, kenangan dari nyokapnya yang udah nggak ada!"


Ungkap Sean yang tiba-tiba saja menarik kalung yang dikenakan Kafka, membuat Kafka sedikit mencondongkan tubuhnya pada Sean dengan raut wajah tidak terima.


"Loe apa-apaan, sih."


"Nyari mati!" Kafka menepis tangan Sean dan memasukan kalung itu kedalam kaosnya dengan raut kesal.


"Cuma kalung, 'kan?" cibir Sean, menirukan gaya Kafka tadi.


"Ini peninggakan bokap gue!"

__ADS_1


"Itu yang Yashinta rasain saat loe buang tupperware kesayangannya!"


Seketika suasana menjadi canggung, Aris dengan yang lainnya menjadi bingung dengan perdebatan halus Kafka dan Sean.


Kafka bangkit dari duduknya, berlalu begitu saja meninggalkan kawan-kawannya keluar dari club, Sean hanya menatap kepergian pria itu yang menembus kerumunan di dance floor.


"Kafka ngambek?" tanya Aris pada mereka yang sedari tadi hanya cengo melihat perdebatan tadi.


Sean mengangkat kedua bahunya, enggan berkomentar apa-apa.


"Yaudahlah, sekali-kali biar dia kapok!" ungkap Aris kemudian tanpa beban. Ia juga ingin temannya itu sadar dan tidak berlebihan dalam memperlakukan Yashinta.


**


Kafka melangkah ke arah parkiran setelah memarkirkan mobilnya di depan gerbang sekolah. Suasana sekolah begitu sepi dan senyap. Sangat menyeramkan namun Kafka tidak perduli. Kedatangannya hanya untuk satu hal, menemukan tupperware Yashinta yang sudah ia buang.


Ia yakin jika dirinya membuang tupperware Yashinta ke salah satu tong sampah yang ada di sana.


Terdapat tiga tong sampah yang berjejer tadi pagi, sekarang hanya ada satu. Kafka berusaha mencarinya. Jika menurut Yashinta itu berharga, maka Kafka akan mencari dan berusaha menemukannya.


Semata-mata karena ia menghargai Yashinta, ia tau bagaimana berharganya sebuah barang peninggalan orang tersayang yang sudah meninggal. Awalnya Kafka tidak perduli, tapi setelah dipikir-pikir, ia akan sangat jahat jika sampai benar-benar menghilangkan barang peninggalan orang tua Yashinta.


Kafka tidak ingin terus-menerus dihantui rasa bersalah nantinya.


"Siapa kamu?"


Kafka tertegun, ia memegang dadanya karena terkejut mendapat tepukan di bahu. Persis cerita horor. Kafka berbalik, ia mendapati seorang satpam di belakangnya.


"Pak Satpam," sahutnya lega. Karena sebelumnya ia tidak mendapatkan satpam berada di posnya. Setidaknya, yang menegurnya adalah manusia. Kafka sudah memastikannya sendiri saat melihat kaki sang satpam menyentuh tanah.


"Mas Kafka," sang satpam mengenali Kafka karena pria itu adalah pacar Yashinta, sedangkan Yashinta adalah siswi ramah yang sering menyapa satpam pagi saat masuk sekolah atau siang ketika meninggalkan sekolah, hingga mereka menjadi akrab.


"Tadi saya liat pos Bapak kosong, pintu gerbang juga tidak dikunci." sahut Kafka.


"Iya, Mas. Saya habis dari warung depan, makannya gerbang belum dikunci."


"Mas Kafka, ngapain malem-malem di sini?"


"Ini, Pak. Ada yang ketinggalan. Tadi pagi saya buang sesuatu di salah satu tong sampah, tapi sekarang tong sampahnya cuma satu." sesal Kafka melihat hanya ada satu tong sampah dan tampaknya apa yang ia cari benar-benar tidak ada.


"Ohh, itu Mas. Dipindahin ke depan, biar besok tukang sampah gampang ngambilnya."


"Isi sampahnya masih ada, 'kan, Pak?" tanya Kafka, cemas.

__ADS_1


Refleks Satpam itu mengangguk meski bingung. Kafka menepuk bahunya dan berlalu setelah mengucap terimakasih dengan wajah semringah.


"Ganteng-ganteng kok suka ngubek-ngubek sampah!" Satpam itu menggeleng tidak mengerti.


"Aneh pacarnya non Yas itu."


**


Tok, tok. tok.


Yashinta yang sedang bersiap untuk tidur setelah kepulangan Gibran beranjak dari ranjangnya, ia harus membuka pintu kamarnya yang diketuk dari luar.


"Ada apa Bi?" tanyanya mendapati si bibi berada di depan pintu kamar.


"Di depan ada pacarnya non Yas."


"Siapa?" tanya Yashinta dengan dahi berkerut.


"Itu loh, pacarnya non Yas."


"Kafka?"


"Mungkin!"


Mulut Yashinta menganga, Kafka? Untuk apa datang menemuinya?


"Oh, iya."


"Makasih yah, Bi."


"Iya non. Kalau begitu, Bibi pamit ke bawah!"


Yashinta mengangguk, kemudian menuruni anak tangga untuk ke lantai bawah, ia berjalan ke teras depan dan mendapati Kafka berdiri di sana.


Yashinta hanya diam di ambang pintu, menatap Kafka di hadapannya. Ada yang berbeda dengan Kafka. Apa dia ganti parfum? Yashinta merasa tidak menyukai aroma parfum baru Kafka.


Kafka yang hanya ditatap mendehem, diam-diam ia juga tidak nyaman dengan aroma tubuhnya yang bercampur dengan bau sampah.


"Yas—"


"Kafka,"


"Kafka ngapain disini?"

__ADS_1


TBC


__ADS_2