Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Rooftop Sekolah


__ADS_3

Aris dengan Hafi hanya bertukar pandang ketika melihat Kafka dengan wajah kusutnya tampak tidak semangat hidup, sama halnya dengan Sean yang baru saja tiba.


Aris tahu dua orang itu sudah adu jotos dan ribut besar, tapi sebelumnya, beberapa menit kemudian keadaan sudah kembali normal. Namun tampaknya kali ini sedikit sulit karena di antara keduanya sama sekali tidak ada yang mau bicara. Membuat keheningan di antara mereka kian larut lebih lama.


"Pada habis tauran sama anak sekolah mana?" tanya Hafi saat melihat wajah bonyok dua cowok tampan itu, Sean dan Kafka hanya saling bertukar pandang, kemudian memutar bola mata masing-masing. Tampak malas meski hanya melakukan kontak mata.


"Ada apaan l, dah, kalian bedua?" tanya Hafi lagi, merasa terganggu dengan tingkah dua manusia itu. Sikap keduanya mengubah atmosfer di sana dan membuat Hafi merasa gerah.


"Ngerusak suasana aja, sana pada pulang!" usirnya, sejurus kemudian dua orang itu kompak bangkit dari duduknya. Membuay Hafi terpaku dan menatap Aris, dia tidak sungguh-sungguh untuk mengusir Kafka dan Sean. Tapi tampaknya dua orang itu serius, karena setelahnya mereka keluar dari ruangan toko distro Hafi.


"Bercandaan gue yang kelewatan atau tuh, anak yang emang pada sinting, sih." decak Hafi, tidak habis pikir. Aris hanya terdiam dan menggeleng takjub setelahnya begitu Kafka dan Sean menghilang di antara mereka.


"Lu nggak salah, Fi. Mereka emang lagi pada sinting aja." ujar Aris. Membenarkan tindakan yang Hafi lakukan. Hafi mendesah, padahal niatnya berbicara seperti itu agar keduanya dapat berbaikan. Namun rupanya Sean dan Kafka terlalu kanak-kanak untuk memahami makna tersirat dari apa yang Hafi maksud.


Dua orang itu hanya bersandar pada body mobilnya masing-masing begitu keluar dari toko distro Hafi. Sean ingin pergi, namun Kafka sempat menahana meski pada akhirnya tidak ada yang pria itu lakukan.


Kafka berniat meminta maaf, namun ia masih belum tahu susunan kalimat yang tepat yang harus dikatakannya pada Sean. Sedangkan Sean juga sama dengannya. Ia ingin meminta maaf karena tidak memberitahu pria itu jika ia dan Yashinta akan menjadi saudara.


Sean tahu Kafka salah paham. Meski pada dasarnya, Sean tahu sebagaimna Kafka sangat plin plan pada perasaannya terhadap Yashinta.


"Sorry."


"Sorry."


Dua orang itu berbicara diwaktu bersamaan, sejurus kemudian membuat keduanya saling bertukar pandang dan kembali saling terdiam.


Sebagai orang yang lebih dulu memulai keributan dengan bermain tangan, Kafka berusaha memberanikan diri untuk berbicara lebih dulu. "Sorry, harusnya tadi siang gue tanya dulu ke loe alasan kenapa loe dateng sama Yashinta." ujarnya to the point.


"Gue juga minta maaf, harusnya gue bilang ke loe kalau nyokap gue bakal nikah sama bokapnya Yashinta dan kita bakal jadi sodara." Sean juga mengungkapkan apa yang ingin dikatakannya.


"Tapi sebagai calon sodara pacar loe, gue minta loe berhenti permainin perasaan Yashinta. Gue gak akan diem aja kalo loe nyakitin dia." ujarnya dengan tampang serius.


Kafka tak merespond, satu satunya hal yang ia lakukan hanya kembali berbicara. "Gue juga nitip pesan ke loe untuk nggak terlalu deket sama pacar gue. Biar gimanapun, kalian cuma sodara tiri yang ketemu gede. Gue nggak suka kalo loe terlalu deket sama Yashinta." panjang lebarnya, Sean tersenyum miring.


"Loe cemburu Ka?"


****


Malaikat


Cantik.


Spontan gadis itu berdecih setelah membaca balasan pesan dari Gibran usai ia mengirimkan fotonya dengan mengenakan gaun dari pria itu. Yashinta menatap pantulan dirinya di cermin, ia mengangguk-anggukan kepala. Tidak salah memang, ia pun membenarkannya jika dirinya memang terlihat cantik.


Setelahnya, gadis itu mengetikan balasan.


Ini udah cocok Mas, enggak perlu ganti.


Malaikat

__ADS_1


Okay kalau kamu nyaman.


Nyaman. Jadi kapan kita ketemu Bunda kamu?


Gadis itu tercengang sendiri sesaat setelah mengirim balasan tersebut pada Gibran. Kenapa ia terkesan tidak sabaran dan seolah adalah seorang pacar yang ingin segera dikenalkan pada calon mertuanya? Yashinta mengutuki dirinya sendiri.


Sementara itu, Gibran hanya menatap pesan yang gadis itu kirimkan. Dia masih berada di perusahaan, ia kembali ke sana usai mengantarkan Yashinta karena pekerjaannya memang belum selesai. Waktu yang ia korbankan untuk Yashinta tadi siang membuatnya harus menyelesaikan pekerjaan dengan waktu yang mendesak.


Tapi Gibran tidak mempermasalahkannya, karena waktu yang ia korbankan sangat sepadan dengan apa yang ia dapatkan.


Dimana dirinya dapat mengantarkan Yashinta pulang ke rumahnya bahkan mengambil pesanan gaunnya untuk gadis itu dan menentukan jadwal untuk bertemu dengan Bunda.


Gibran mencari kontak Bunda, begitu ketemu ia segera menekan ikon telepon dan menempelkan benda pipih itu di telinga. Begitu panggilan terhubung, Gibran segera bicara.


"Bunda, kita ketemu minggu depan."


****


Siang itu panas begitu terik, namun Yashinta tampak tidak masalah ketika Kafka mengajaknya untuk naik rooftop dengan satu plastik berisi camilan, juga minuman yang sudah pria itu bawa dari kantin.


Menurut Kafka, itu sebagai permintaan maafnya karena sudah mengahajar Sean tempo lalu, dia juga bilang jika dua hari yang lalu mereka sudah berbaikan.


Yashinta dan Kafka duduk pada sebuah bangku panjang yang ada di sana, dekat dengan toren air. Biasanya, di sana memang tempat nongkrong para siswa kalau meroko, salah satunya adalah Kafka.


Meski guru sudah melarang para siswa untuk naik ke rooftop, mereka rupanya menulikan pendengaran, sekalipun pintu masuk ditutup, salah satu dari mereka memiliki kunci cadangan dan rooftop tak pernah benar-benar kosong.


"Nanti loe sesek napas."


Yashinta mencebikan bibir. Beberapa kali Kafka pernah mengajaknya ke rooftop, dan ia selalu meroko, tak perduli sekalipun Yashinta melarang. Roko itu tidak sehat untuk Kafka dan Yashinta sangat tidak tahan dengan asap roko.


"Tumben perduli sama Yas." ledeknya yang membuat Kafka berdecak. "Kalau Kafka emang mau ngeroko yaudah, asal jangan deket-deker Yas." sambung gadis itu, jika Kafka sedang sangat baik padanya, maka Yashinta akan jadi jauh lebih baik.


"Dua hari ini Yas nggak liat Saras. Dia kemana, yah, Kafka?" tanya Yashinta, kali ini mengganti topik sembari menikmati camilan snack original yang Kafka suguhkan. Kafka di sampingnya menoleh kemudian mengangkat bahu. Sejujurnya Kafka khawatir setiap anak itu tidak masuk sekolah, ia takut Saras berada dalam ancaman Papanya.


Ia takut Papa Saras berbuat melewati batas.


"Saras datang ke acara ulang tahun perusahaan Papa waktu itu, dia datang sama Papanya." beritahu gadis itu, Kafka diam dengan pandangan lurus ke depan namun telinganya jelas saja mendengarkan.


"Papanya keliatan baik, tapi Saras kaya nggak nyaman gitu. Sebelum berangkatpun, Saras bilang Papanya nyekik dia." sambung Yashinta, kali ini Kafka terlihat kesal bahkan mengumpat pelan. Ia kira Papa Saras tidak akan lagi main tangan, rupanya tabiat itu memang sulit dihilangkan.


"Yas liat sendiri luka lebam di lehernya. Yas kasihan sama Saras, Kafka." wajah gadis itu terlihat sendu, kali ini Kafka menoleh dan melihat wajah cantik Yashinta diliputi kesedihan.


"Pasti nggak mudah jadi Saras." sambungnya, Kafka sama sekali tak merespond, hanya menatap Yashinta dan mungkin untuk pertama kali baginya menyadari jika ia menangkap kesan cantik di wajah sang pacar. Selama ini, Kafka sangat jarang memerhatikan gadis itu.


Yashinta menoleh, ia mendapati Kafka yang tengah menatapnya. Untuk beberapa saat, pandangan keduanya bertemu, Yashinta mengernyit mendapati Kafka tak berkedip.


"Kafka kenapa ngeliatin Yas kaya gitu?" tanya gadis itu yang membuat Kafka mengerjap, tersadar dari lamunannya.


"Yas cantik?" tanya gadis itu lagi seraya mengedip-ngedipkan matanya dengan tangan yang menangkup kedua sisi wajah.

__ADS_1


Kafka mengulurkan tangan, Yashinta pikir akan mengusap pipinya tapi pria itu justru mengacak poni Yashinta, membuatnya berantakan. Gadia itu jelas saja tidak terima, ia mengerucutkan bibir bahkan saat Kafka ikut membantu merapikan poninya.


"Tinggal bilang cantik aja, susah, banget kayaknya. Enggak bisa deh, Kafka, tuh muji- muji Yas."


"Ya emang loe nggak cantik."


"Kata siapa, banyak yang bilang Yas cantik, Kafka nggak tau aja."


"Siapa coba?"


"Ada–" sekilas pesan yang Gibran kirimkan usai ia mengirimkan fotonya pada pria itu melintas dipikiran Yashinta. Gadis itu hanya mengerjap pelan, Kafka menilik wajahnya. "Siapa?" tanya Kafka dengan kerutan di dahinya.


"Ada–pokoknya, ada." gadis itu menyahut gugup, membuat Kafka melipat tangan di dada dengan tatapan lekat. "Papa Yas juga sering muji-muji Yas cantik." ujarnya lagi, menatap Kafka tak kenal takut. Gugupnya sirna begitu saja.


"Gue nggak nanya."


"Ihh."


Percuma saja berdebat dengan Kafka, Yashinta tidak akan menang. Ia memilih mengambin kembali snack dan menikmatinya. Sementara Kafka di sampingnya tampak bermain ponsel. Cukup lama keduanya diselimuti hening, hingga kemudian Yashinta menoleh pada Kafka dan melihat jika sang pacar tengah melihat-lihat sebuah foto.


"Itu apaan Kafka?" Kafka menoleh, ia menunjukan ponsel pada Yashinta. Gadis itu meraihnya dan melihat slide demi slide foto yang menunjukan beberapa bagian tubuh seseorang dimana banyak terdapat bekas luka, hingga slide terakhir, Yashinta melihat foto Saras dengan luka di ujung bibirnya.


Gadis itu tampak terkejut, Kafka yang sudah memprediksi reaksi sang pacar hanya mengambil alih ponsel dari tangan Yashinta.


"Kafka, itu Saras?" tanya Yashinta, tidak percaya. Jika sampai separah itu, artinya Saras dalam bahaya. Dia tinggal di kandang serigala.


"Gue ambil foto ini buat jaga-jaga, sebagai bukti seandainya Saras mau bawa Papanya ke meja hijau."


"Terus?"


Kafka menggelengkan kepala, tampak kecewa.


"Saras nggak mau."


"Alasannya?" Kafka menatap sang pacar.


"Saras pasti punya alasan, Kafka." Yashinta menjawab keheranan di wajah sang pacar.


"Dia bilang dia nggak mau nempatin nyokapnya dalam bahaya kalau kasus ini dibawa ke jalur hukum."


"Ya nggak bisa gitu dong, Kafka. Saras nempatin dirinya dalam bahaya." Yashinta sewot dan merasa kesal.


"Saras bakalan baik-baik aja selama dia nurut sama bokapnya." Kafka menenangkan, tetapi tidak berpengaruh apa-apa terhadap Yashinta.


"Itu masalahnya Kafka, Saras kadang-kadang ngelawan. Dia bilang dia sering ngelanggar larangan Papanya buat ketemu sama Mamamnya. Itu yang buat Papanya selalu murka." Yashinta tampal frustrasi, sedangkan perhatian Kafka teralihkan sepenuhnya pada gadis itu.


Bagaimana mungkin selama ini Kafka menyakiti hati wanita selembut Yashinta?


TBC

__ADS_1


__ADS_2